
Rabu, 07 Oktober 2009
Jumat, 02 Oktober 2009
Gerakan Batik Nasional

Hari ini hari bersejarah, batik telah membangkitkan semangat nasionalisme bangsa yang sudah lama jarang dirasakan bersama. Sentimen nasionalisme akibat "dilecehkan" negara jiran pada beberapa isu, membuat gerakan batik nasional sebagai respon dari pengakuan dunia, menjadi sebuah even show off yang sangat diidamkan semua warga bangsa.
Batik juga menjadi ikon pemersatu yang efisien memadukan isu nasionalisme dan pembangunan ekonomi domestik. Gerakan batik nasional telah menghidupkan industri tekstil khas nasional yang dominan diisi oleh pelaku usaha mikro-kecil. gerakan inipun kemudian membuat bola salju membangkitkan sentimen setiap daerah untuk memunculkan motif-motif dan versi batiknya masing-masing.
Batik juga menjadi simbol pemersatu bangsa, karena ia kemudian memutuskan sekat-sekat kesukuan, agama, bahasa, kelompok dan golongan. Batik menjadi gerakan masal yang diterima semua lapisan warga bangsa, sehingga semangat nasionalisme begitu genuine dan bersih muncul dipermukaan. Dan ini menjadi modal besar bagi kita untuk lebih care pada sesama warga bangsa, terlebih dalam keadaan seperti ini. Keadaan negara yang selalu ditimpa musibah dan bencana.
inilah Indonesia yang sedang bangkit! Mari teruskan! Terus berdiri, agar kita semakin tinggi dan dilihat dunia. Kita beritahu dunia bahwa Indonesia adalah negara yang pantas dipandang dan ditauladani. Atau mungkin memimpin dunia.
Kamis, 01 Oktober 2009
amal shaleh apa pagi ini...
Duhai diri dan saudara yang dikasihi Allah, amal shaleh apa yang sudah kau rencanakan pagi ini? hari ini? sudahkah kita bisa melihat dari semua peristiwa pagi dan hari ini peluang-peluang amal shaleh yang telah Allah tawarkan pada kita? ada korban gempa di sumatera, ada pengemis di sepanjang jalan, ada saudara yang kekurangan biaya, ada sahabat yang membutuhkan nasehat, ada anak yang minta sedikit perhatian, ada istri/suami yang mengharap bisikan sayang, ada urusan ummat yang harus dimudahkan...
atau saat ini kita masih sibuk dengan semua urusan pribadi, karir, sarapan dan makan siang, utak-utik handphone, browsing internet yang ga jelas, sedang mempercantik motor atau mobil...
keluarlah dari jebakan autisme terhadap dunia, dari perangkap-perangkap hedonisme, dari epilepsi terhadap hakikat manusia dan dari gejala-gejala penyakit akhir zaman, WAHN.
Ekonomi Islam dalam Risalah Taklim: Pendahuluan
Pada pendahuluan pembahasan sistem ekonomi di buku Risalah Taklim, Imam Syahid Hasan Al Banna lebih memfokuskan pada dua urgensi, yaitu posisi sentral negara (pemerintah) sebagai jantung sebuah komunitas bangsa yang beraktifitas ekonomi dan hakikat ekonomi sebagai induk permasalahan manusia.Menurut Al Banna, kebijakan negara yang tepat dalam mengambil paradigma pembangunan menjadi titik krusial bagi upaya-upaya pemakmuran ekonomi secara kolektif. Perspektif ini menggambarkan pemahaman bahwa ekonomi akan efektif memberikan kemanfaatan maksimal ketika negara memiliki filosofi pembangunan sesuai dengan “sumber kebenaran/pedoman hidup” yang melingkupi semua aspek kehidupan, yaitu Islam.
Tetapi pemaparan Al Banna tentang urgensi peran negara, dapat juga diinterpretasikan sebagai pembahasan awalan yang ingin memberikan gambaran abstrak dari keseluruhan pemikirannya tentang ekonomi. Karena setelah pembahasan pendahuluan, Al Banna seakan-akan mundur kebelakan dengan membahas hakikat harta dalam Islam.
Selanjutnya dalam kategori pendahuluan ini, layaknya banyak literatur konsep ekonomi, Al Banna memaparkan realitas-realitas ekonomi sebagai sebuah akibat dari aplikasi sistem yang ia yakini penuh dengan kesalahan. Al Banna cerita kemakmuran negara Mesir namun sistem ekonomi telah mengeksploitasinya melalui negara-negara impirialis.
Disamping itu, Al Banna juga memaparkan realita kesenjangan golongan masyarakat kaya dan miskin sebagai sebuah fakta hasil ketidakbecusan ekonomi saat itu, hasil dari eksploitasi bangsa asing atau refleksi ketidakmampuan negara dengan konsep ekonominya dalam membangun kemakmuran ekonomi. Fakta-fakta ini menyajikan bukti yang harusnya sudah cukup menjadi alasan pentingnya negara beralih pada konsep pembangunan ekonomi yang menuju pada kemakmuran. Negara sebaiknya tidak terjebak pada status quo, terjebak pada kenyamanan (confort zone) sistem atau terkurung dalam ketakutan akan perubahan.
Oleh sebab itu, kemudian Al Banna memberikan pemahaman pentingnya memilih ideologi yang tepat sebagai pedoman pembangunan ekonomi. Ideologi akan menjadi panduan dalam menentukan arah, kebijakan, regulasi pembangunan ekonomi, dimana selanjutnya ideologi tersebut akan mempengaruhi pembentukan lingkungan ekonomi, seperti pembinaan preferensi masyarakat, bentuk struktur bangunan ekonomi dan kelengkapan infrastruktur ekonomi . ideologi menjadi pelita penerang dan tongkat penopang untuk meniti jalan yang benar. Ideologi juga menjadi panduan yang lengkap dalam berfikir dan bertindak dalam rangka mengaplikasikan dan mengembangkan ekonomi.
Selanjutnya setelah memaparkan pentingnya sebuah ideologi, Al banna menawarkan ideologi yang diyakininya menjadi satu-satunya ideologi yang mampu memberikan kemanfaatan bagi ekonomi dan para pelakunya.
Secara umum pembahasan pendahuluan Ekonomi Islam Al Banna ini sangat general dan plain. Tetapi sangat kental nuansa kepercayaan diri pada kebenaran Islam sebagai sebuah ideologi. Hal ini menunjukkan sebuah modal ruhiyah maknawiyah yang menjadi keniscayaan dalam membangun manusia berikut sistem pengaturan hidup dan kehidupan.
Mengulang-Ulang Istighfar
Selepas shalat tadi saya tertegun, ada pertanyaan dalam benak saya; apa yang saya mau minta dalam doa? Semakin saya tertunduk saya pada Allah yang baru saja saya sembah dalam shalat.Saya ingin minta kesehatan, khawatir seakan-akan saya sangat mencintai dunia ini
Saya ingin minta rizki, takut kalau saya tidak bersyukur dengan apa yang sudah dianugerahkan
Saya ingin minta kekuatan iman, saya tidak ingin dipandang sebagai pemalas oleh-Nya karena tak berusaha mendapatkan iman dengan dekat pada Allah
Saya ingin minta kemudahan segala urusan, saya takut dinilai berlepas tangan tidak berikhtiar pada semua urusan yang Allah sudah pilihkan
Akhirnya, lisanku hanya mengulang-ulang istighfar...
Langganan:
Postingan (Atom)
