Minggu, 06 Desember 2009

Puncak Emosi dan Rasa

Memuncak perasaan dan emosiku di hari kemenangan (Aidil Fitri 1430 H) kali ini. Aku banyak lihat orang bicara tentang kebaikan hanya dalam kemasan-kemasan dunia bukan lagi tuntutan hati. Aku lihat dicermin diriku pun masih melakukan hal yang tidak berbeda. Lihatlah kita yang ada di majelis-majelis kebaikan, diatas-atas mimbar dan di acara-acara televisi, bicara tentang kemiskinan dan kedermawanan sementara tangan mereka bergelimang harta dan kemegahan. Mereka bicara tentang kezuhudan dan qona’ah sementara mulutnya juga masih penuh dengan makanan dan minuman yang belum terkunyah.

Aku lihat kehancuran ummat ini perlahan-lahan. Bahkan aku lihat kehancuran itu seiring dengan tawa dan canda mereka. Ya mereka tidak menyadari kalau diri mereka tengah menghancur. Sendi-sendi kehidupan mereka semakin rapuh tak memiliki tenaga. Karena mereka semakin jauh dari Tuhan mereka. Mereka terlena dengan hasutan syetan dan bala tentaranya, mereka fikir mereka sedang berdoa, padahal sedang bersidekap dengan dosa. Mereka fikir amal mereka sudah menggunung, padahal dosa sudah meliputi alam semesta.

Saat-saat seperti inilah kita semua memerlukan akal sehat yang lebih dari biasanya. Akal sehat yang sekedar membuat kita tidak larut dalam kepalsuan masal. Diluar sana, banyak orang yang telah menyerah dengan keadaan. Mereka fikir arus kehancuran adalah kebaikan bagi mereka. Kalaupun ada yang mampu melihat hakikat kerusakannya arus ini terlalu deras untuk mereka bendung. Dan akhirnya kepalsuan menjadi nilai dan keyakinan. Kepalsuan menjadi gaya hidup yang secara perlahan semakin susah dikenali keburukannya. Karena semakin masif semakin berubah ia menjadi kebenaran.

Bentuk keburukan inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi dakwah ekonomi Islam. Perjuangan menegakkan islam dalam aktifitas ekonomi harus berhadapan dengan masalah terbesarnya, yaitu prilaku manusia itu sendiri. Mendidik dan membina manusia menjadi kerja-kerja awal dalam pembangunan system ekonomi. Sementara itu pengorbanan menjadi konsekwensi yang wajib bagi para pejuang-pejuangnya. Hal inilah yang kemudian membuat perjuangan penegakkan atau sekedar melambatkan arus kehancuran semakin berat. Perjuangan berhadapan dengan ketidaksadaran mayoritas manusia, sikap artificial mereka, kondisi mabuk dunia dan kerikil-kerikil jalan bagi pejuang-pejuang dakwah.

Jumat, 04 Desember 2009

Kemiskinan




Kali ini saya ingin bicara sedikit tentang kemiskinan. Data kemiskinan terakhir menyebutkan ada kurang lebih 45 juta orang dari populasi bangsa ini yang hidup dalam kemiskinan. Pemerintah sendiri tahun ini mengalokasikan sekitar Rp60-an triliun sebagai anggaran untuk mengatasi masalah kemiskinan. Angka total bagi kemiskinan tentu jauh lebih besar jika dihitung pula angka pengeluaran sector swasta dan program pemerintah lain yang terkait masalah kemiskinan.

Tetapi mengapa kemiskinan belum juga berubah posisinya, misalnya sedikit lebih sejahtera gitu? Kualitas dan kuantitas orang kaya semakin-hari semakin meningkat. Gaya-gaya hidup mereka yang kaya disekitar saya menunjukkan gejala itu. Symbol-simbol gaya hidup kaya semakin bervariatif dan cenderung meninggi. Sementara manusia miskin, tetap seperti itu, tak punya apa-apa. Definisi kaya semakin hari semakin mewah dan megah, sementara definisi miskin tidak mengalami perbaikan.

Ditulisan ini saya tidak ingin memecahkan semua masalah kemiskinan, dan tidak juga ingin memberikan gambaran utuh peta kemiskinan yang ada, sehingga rekomendasinya akan valid bagi upaya-upaya pengentasannya. Saya hanya ingin menulis fenomena kontras yang saya bias tangkap melalui mata dan rasa.

Kemiskinan saat ini pada saya tidak lagi hanya sekedar fenomena akibat dari sebuah dinamika dan interaksi kehidupan, Tetapi telah ada kecenderungan secara perlahan yang disengaja, bahwa kemiskinan telah menjadi salah satu sector ekonomi. Kemiskinan telah berubah menjadi industri utuh, dimana elemen-elemen industri telah lengkap dalam sebuah industri yang kita sebut dengan kemiskinan.

Dalam industri ini, mekanisme demand dan supply sudah terbentuk dan berlangsung secara sempurna. Ya betul, kemiskinan telah membentuk pasarnya sendiri. Permintaannya dipenuhi oleh orang-orang mampu yang memiliki belas kasihan, sementara orang-orang miskin dan orang mengaku miskin menjadi kekuatan supply yang berusaha keras me-utilisasi rasa belas kasihan orang-orang mampu. Dalam pasar kemiskinan produk kemiskinan semakin bervariatif. Bahkan kemasannya semakin canggih, dari kemasan tradisional seperti pengemis pinggir jalan sampai kemasan rumit seperti makelar anak yatim-piatu, yang menyediakan bagi siapa saja anak-anak yatim-piatu untuk memeriahkan hari ulang tahun dan acara hari-hari besar Islam, agar acara mereka menjadi lebih terlihat shalehnya.

Duh, tulisan saya ini memiliki kesan su’udzan yang sangat kental, wallahu a’lam. Maafkan saya jika ini terbaca kasar. Tetapi saya ingin bilang apa yang saya tulis di atas, karena gemas ketika melihat itu di sekitar lingkungan saya.

Kembali pada kemiskinan, bahwa kemiskinan tidak lagi menjadi sebuah kehinaan yang dihindari oleh semua manusia yang ingin hidupnya terhormat, baik di mata manusia lain maupun di hadapan Tuhan. Kemiskinan telah menjadi jalan keluar bagi mereka untuk mendapatkan income. Logika manusia kemudian menjadi begitu sederhana. Orientasi hidup manusia cenderung tunggal, yaitu orientasi kekayaan materi, tidak peduli caranya baik, buruk atau bahkan bermaksiat dihadapan Tuhan.

Ironisnya, semua manusia seakan menutup mata dengan apa yang saat ini tengah berlangsung. Yang miskin semakin asyik dengan kemiskinannya. Mereka malah semakin sibuk dengan upaya-upaya bagaimana melakukan inovasi-inovasi produk kemiskinan yang semakin canggih. Semakin bagus kemasan kemiskinan, maka akan semakin tinggi rasa iba dan semakin banyak returnnya. Dalam cost-benefit analysis, investasi di sector kemiskinan ini rasio biaya dan pendapatannya sangat menggiurkan. Biaya mengemas kemiskinan cenderung kecil, sementara profitnya bias sangat tinggi.

Sedangkan yang kaya juga semakin asyik dengan kekayaannya. Mereka tidak peduli dengan hal ini, sepanjang keadaan ini tidak mengganggu aktifitas mereka menumpuk keserakahan dan menikmatinya. Mereka cukup nyaman, setelah memberikan seribu perak dari bermiliar-miliar hartanya.

Hasil perenungan di atas inilah yang semakin menguatkan saya untuk menyimpulkan bahwa sentral masalah ekonomi adalah kualitas manusia. Manusia shaleh menjadi solusi yang sangat ampuh untuk menyelesaikan persoalan ekonomi melalui dua golongan manusia dalam masyarakat, yaitu masyarakat miskin dan masyarakat kaya. Bayangkan, begitu indahnya jika diantara kita masyarakat kaya dan masyarakat miskinnya shaleh-shaleh.

Sibuk


Kalau kita tidak sibuk dengan masalah-masalah dakwah, tentu kita akan sibuk dengan urusan dunia yang lain. Seperti inilah hikmah yang akhirnya saya maklumi ketika menyadari bahwa saya tidak jarang susah mendapatkan waktu untuk dinikmati sendiri.

Ikhwatifillah, mungkin diantara kita sudah ada yang telah lama mengambil jalan dakwah ini, mewakafkan diri, waktu, tenaga dan hartanya bagi kerja-kerja dakwah. Atau anda yang baru saja mengenali dan baru bergabung dalam jalan kebaikan ini, tentu akan menghadapi momen-momen dimana diri sedikit menuntut untuk dapat menikmati dunia dengan semua fasilitas kenikmatan yang ada. Tetapi selalu saja ada rasa hati dan jiwa yang tak nyaman. Dan pertentangan itu selalu mengisi waktu-waktu hidup secara rutin. Kadang kita bisa atasi dengan memutuskan pilihan secara tepat, tetapi tak jarang kita salah dan lebur dalam arus keburukan baik sadar maupun tidak.

Itu mengapa, ikhwatifillah, selain membutuhkan kekuatan jiwa dan ruhani agar mampu bertahan pada idealisme dan kita juga membutuhkan belas kasihan Tuhan, kasih sayang-Nya yang luas dan total yang tak tergantung pada dekatnya kita pada-Nya, agar Tuhan tidak pernah memberikan ujian jiwa dan ruhani yang membuat kita asyik pada kesibukan lain selain dakwah dan kebaikan.

Jika kita tidak sibuk dengan masalah dakwah dan kebaikan lainnya, kita akan sibuk dengan harta-harta kita, kita akan sibuk dengan anak-anak dan keluarga kita, kita akan sibuk dengan apa-apa yang diinginkan oleh perut dan lidah, kita akan sibuk dengan nafsu dan keinginan yang batasnya tak terhingga.

Seorang teman pernah mengingatkan, kesibukan kita menunaikan amanah dakwah tak jarang korelasinya kuat dengan terpeliharanya kesehatan dan kenyamanan keluarga. Ketika kita sibuk menegakkan agama Allah ini yang kemudian menyita waktu-waktu yang kita punya, maka Allah-lah yang dengan kasih-sayang-Nya menjaga dan memelihara anak-istri kita.

Sebaliknya ketika amanah (baca juga sebagai kemuliaan) itu kita abaikan, maka tentu kita akan sibuk dengan urusan-urusan dan masalah-masalah keluarga, ekonomi, pergaulan dan lain sebagainya. Misalnya kita akan sibuk dengan kesehatan anak memburuk, harta yang hilang, handphone yang rusak, tetangga yang tidak ramah, kerabat yang bermasalah, tugas kantor yang menumpuk atau sekedar sibuk dengan keinginan-keinginan yang terpendam.

Ikhwatifillah, mari ingatkan diri kita masing-masing, bahwa kemuliaan yang sudah Tuhan amanahkan pada kita ini berupa tugas-tugas dakwah, akan menyelamatkan diri kita, anak-anak kita, istri-istri kita (sengaja saya tulis plural ) dan semua yang ada disekitar kita. Kita Bantu tegakkan agama Allah, maka tentu Allah akan Bantu dan mudahkan semua urusan kita.

syair tentang aku..

siapa aku

mau tahu berapa banyak kebaikanku?
ia laksana telaga yang merasa seperti samudra
mau tahu seperti apa keburukanku?
ia mengira seperti setetes embun padahal seluas alam semesta

bianglala di cakrawala hidupku, tapi tak kulihat warnanya
air telah melepaskan dahagaku, tapi tak kurasa segarnya

mau tahu siapa aku?
aku yang tahu syurga diujung jalan
tapi dengan sadar melangkah mundur ke neraka

13 Oktober 2007, 22:15 WITA, Balikpapan

siapa aku (2)

Ingin kubelah langit dengan kata-kata
kuaduk-aduk bintang dengan kalimat-kalimat sastra
Tidak ada yang kucari kecuali satu saja
Sekedar takdir masa depan yang tak kutahu apa

Aku ini pelamun bukan pujangga
Tapal batas pelamun sejauh batas yang pernah ada
Sementara batas pujangga sepanjang goresan pena pada kata
Sehingga pelamun bukanlah pujangga

Beda pelamun dan pujangga laksana imajinasi dan sastra
Tetapi dunia mereka sama, dunia para perenung dan penyendiri
Aku bukan pujangga karena aku tidak suka mempermainkan kata
Aku hanya pelamun yang mencari kata untuk diri dan sepi

14 Oktober 2007, 12:00 WITA, Balikpapan

siapa aku (3)

Hening di sana sepi di sini
Seluas-luas bumi ingin kucari
Karena dengan hening kunikmati dunia
Oleh sebab sepi kudapatkan bahagia

Aku tidak pernah bermimpi
Semua mimpiku sudah menjadi imajinasi
Aku pun tak memiliki cinta untuk dijadikan obsesi
Karena kutahu bersama takdir selalunya ia pergi

Yang kupahami aku hanya seorang pelamun pencari sepi
Yang selalu mencari inti dari semua peristiwa dan rasa
Senyap-senyap pula kutemukan siapa diriku ini
Manusia yang penuh dengan tipu daya dan dosa

Duhai Tuhan pemilik segala-gala
Inilah aku makhluk kreasi-Mu
Menyelam disamudra dunia mencari makna
Berdiri disini mencari hakikat cinta-Mu

14 Oktober 2007, 16:18 WITA, Balikpapan

bukan siapa-siapa

terlalu banyak manusia di dunia ini yang tidak dikenali sejarah tetapi kemuliaannya laksana nabi dan para aulia. jangankan sejarah dunia, sejarah bertetangga saja ia tidak dikenali. ia hanya dikenali oleh malaikat setia karena sepanjang hidupnya ia menyibukkan malaikat-malaikat itu untuk mencatat amal kebaikannya berbuku-buku. tinta harus berganti untuk terus menuliskan kebaikan pada lembar demi lembar... siapa dia? dia bukan siapa-siapa, dia boleh jadi kita. karena kita bisa melakukan kemuliaan itu semua, langkah demi langkah dihiasi dengan kebaikan yang terjaga ketekunannya, terpelihara kualitasnya. menyingkirkan batu dari jalan, ramah pada sesama, ringan membatu pada siapa saja, jauh dari rasa prasangka, menyambung silaturahim kepada saudara dan siapapun yang dikenalinya... ringan bukan? ujian dan cobaan dihadapinya dengan sabar dan rasa cinta. harapnya hanya satu... bila tiba masa berjumpa dengan kekasihnya di Syurga...

14 Oktober 2007, 07:45 WITA, Balikpapan

Kerja Nafkah Vs Kerja Dakwah




Saudaraku, jika saat ini kita terjebak pada angan-angan panjang tentang kerja dan karir, jika saat ini kita terobsesi dan menghabiskan energi untuk kerja-kerja bermotivasi nafkah, yang akhirnya ia mengurangi waktu kita “bersama” Allah, maka berhentilah sejenak. Fikirkan kembali apa hakikat dunia ini, renungkan kembali hakikat diri kita ini.

Kita memang butuh nafkah, untuk melangsungkan kehidupan, untuk memelihara kehormatan dan harga diri, untuk mewujudkan semua harapan atau bahkan angan-angan. Tetapi tidak jarang kerja nafkah terasing dari orientasi hidup yang sejati, mengganggu konsentrasi kehidupan yang hakiki, yaitu orientasi dan konsentrasi penghambaan kepada Tuhan.

Kita sudah diajarkan oleh para ustadz kita, bahwa kerja adalah salah satu bentuk ibadah terbaik. Menyediakan penghidupan bagi anak dan istri atau siapapun yang ada di bawah tanggung-jawab kita, merupakan kemuliaan yang sangat tinggi. Sampai-sampai Nabi mengutamakan tangan-tangan kasar akibat kerja daripada tangan lainnya.

Oleh sebab itu, pertentangan kerja nafkah dan kerja ibadah atau dakwah sepatutnya tidak ada. Kerja nafkah yang halal akan menjadi mulia dia ketika dimulai dengan niat yang mulia. Bahkan kemuliaannya bertambah-tambah ketika proses dan hasilnya bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan tetapi juga mampu mengajak lingkungan disekitar kita mendekat kepada Tuhan bersama-sama.

Saudaraku, orientasi hidup harus selalu ada dalam hati dan ingatan. Orientasi penghambaan harus senantiasa mengisi ruang dan waktu dari hidup dan kehidupan. Itu mengapa kerja dakwah menjadi kerja utama yang didalamnya terdapat kerja-kerja nafkah. Keduanya tidak dipisahkan, tidak bisa didikotomikan. Keduanya memiliki fungsi yang saling bergantung, baik dalam definisi dan fungsi.

Kerja nafkah tanpa orientasi kerja dakwah, menjadi kerja-kerja para zombie dunia. Sedangkan kerja dakwah tanpa nafkah adalah kerja tanpa kehormatan yang tak akan memberikan hasil yang optimal. Hasil dari kerja kombinasi keduanya akan memberikan kemuliaan puncak, memberikan makna dan semangat yang tepat dari semua aktifitas hidup. Dan keduanya harus menjadi kerja-kerja kita sebagai seorang individu dan sebagai jamaah manusia Islam. Wallahu a’lam.

Rabu, 02 Desember 2009

Kemegahan Dubai dan Cita-Cita Ekonomi Islam



Kehancuran ekonomi Dubai, menjadi buah bibir banyak orang saat ini. Kekhawatiran pada nasib ekonomi Islam muncul di permukaan, mengingat dubai menjadi kompetitor penting dalam pasar sukuk bagi negara terkemuka di daerah Timur Tengah yaitu Bahrain. Sentimen negatif dicemaskan akan muncul terhadap perkembangan keuangan Islam yang saat ini sudah mengemuka sebagai salah satu alternatif solusi kekacauan sistem keuangan global.

Sebelum ini kemegahan Dubai seakan-akan menjadi simbol dari ketangguhan dan kedigdayaan ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi masa depan. Bahkan Dubai perlaan-lahan menjadi landmark dunia atas semua devinisi agung peradaban manusia modern. Gedung yang megah dan mewah, fasilitas hidup yang lengkap dan canggih dan tata kehidupan kelas atas yang hampir dinikmati semua penghuni kota, menjadi indikator utama dari kemegahan Dubai sebagai kota maha karya manusia.

Pada satu kesempatan, saya sempat mengunjungi Dubai dan mendapat cerita bagaimana ambisi, obsesi dan usaha keras penguasa Dubai untuk menjadikan kota itu, kota terkemuka dunia. Menyadari ketidakmampuan Dubai dalam sumberdaya alam kecuali tanah kosongnya, membuat penguasa Dubai mengambil strategi utama pembangunan ekonominya melalui pembukaan free trade zone dan free tax area. Singkat cerita, menjelmalah Dubai sebagai kota tujuan imigrasi utama pengusaha, pekerja dan perusahaan asing khususnya Eropa dan Asia, sampai-sampai penduduk asli Dubai hanya 18% dari populasi Dubai saat ini.

Mungkin mengacu pada tingginya imigrasi dan melesatnya aktifitas bisnis-ekonominya, Dubai percaya diri membangun kotanya dengan infrastruktur, real estate dan mega property lainnya. Tapi apa dinyana, badai krisis ekonomi global melumerkan hingar-bingar bisnis diseluruh pelosok bumi, termasuk Dubai. Krisis keuangan global telah berubah menjadi krisis ekonomi (riil).

Negara dengan populasi kecil yang merefleksikan tingkat demand (konsumsi) yang kecil dan tergantung pada aktifitas ekonomi internasional akan merasakan hantaman ini. Dan Dubai sebagai negara berkarakteristik seperti itu ditengarai menjadi korban akibat krisis ekonomi yang cenderung berlarut-larut. Dan kini kemegahannya mulai dicibir.

Pelajaran yang sangat mahal! Ini komentar spontan yang saya punya. Saya jadi menerawang dalam dunia idealisme saya. Cita-cita ekonomi Islam bukanlah tergambar oleh kemegahan gedung dan kemewahan hidup. Cita-cita ekonomi Islam adalah kemegahan manusianya, manusia-manusia Islam yang shaleh, manusia Islam yang “kekayaan”nya dihitung dari amalnya, bukan dari harta dan kemuliaan status sosialnya.

Boleh jadi keterpurukan Dubai ini belum seberapa. Mungkin ini baru permulaan dari kehancuran yang lebih buruk. Karena jika ini sebuah kehendak Tuhan, maka kehancuran bukan hanya akibat keserakahan Dubai tetapi juga karena ketidakpedulian mereka dengan saudara mereka beberapa ratus kilometer dari Dubai, Palestina!