Senin, 23 Juli 2012

Financial Inclusion atau Economic Inclusion?

Financial inclusion kini menjadi trending topic dalam dunia keuangan, baik di sektor syariah maupun konvensional. Arah angin dalam dunia keuangan kini sedang berhembus pada dimensi kualitas dari industri keuangan, seiring dengan perkembangan kuantitasnya yang babak belur dihantam krisis. Selain memang industri ini mulai dipertanyakan esensi kemanfaatannya daripada sekedar prestasi mencetak profit.

Ide financial inclusion pada dasarnya adalah membuka seluasnya akses terhadap jasa keuangan bagi masyarakat khususnya masyarakat golongan bawah yang punya preseden sebagai golongan unbank atau juga unbankable. Melihat rendahnya tingkat akses jasa keuangan Indonesia, maka isu financial inclusion menjadi sangat relevan untuk dimunculkan dan dioptimalkan. Dengan struktur pelaku usaha dalam perekonomian Indonesia yang didominasi oleh unit usaha mikro dan kecil yang mencapai 51,2 juta unit atau mencapai 99,91% dari pelaku usaha di Indonesia (data Kemenkop-UMKM), maka tentu saja dengan isu financial inclusion ini diharapkan sektor keuangan mampu menjawab dan melayani kebutuhan akses jasa keuangan segmen raksasa (dominan) sektor usaha Indonesia ini.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh World Bank, 60% penduduk Indonesia meminjam uang, namun hanya 26% yang meminjam dari bank atau Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Secara spesifik hanya 17% yang dilayani oleh perbankan, sisanya dilayani oleh lembaga keuangan semi-formal (9%). Selebihnya pinjaman yang didapatkan oleh penduduk Indonesia berasal dari sektor informal (34%), yaitu dari tetangga, teman dan keluarga. Sementara penduduk yang belum terlayani masih juga relatif besar yaitu 40%, dimana 60% dari kelompok ini dinilai tidak layak mendapatkan pinjaman karena tergolong miskin dan sangat miskin.

Khusus untuk lembaga keuangan sebagai lembaga intermediary, kemanfaatannya masih dirasakan oleh 26% penduduk Indonesia pada semua segmen usaha yang ada (usaha besar, menengah, kecil dan mikro). Kondisi ini tentu jauh dari ideal. Sebagai lembaga intermediary lembaga keuangan belum mampu menjalankan fungsinya dalam mendorong optimalisasi potensi ekonomi bangsa. Boleh jadi hal ini akibat infrastruktur yang belum lengkap, industri yang belum mapan atau sekedar karena preferensi komersial yang memusatkan pelayanan jasa keuangan terbatas pada kelompok masyarakat tertentu.

Data dan kondisi diatas semakin menguatkan alasan mengapa financial inclusion dibutuhkan. Namun pertanyaannya siapa yang sepatutnya melakukan dan bagaimana caranya? Bank atau lembaga keuangan non-bank atau kembali menjadi tugas pemerintah? Jika dimintakan kepada lembaga keuangan komersial, baik bank maupun non-bank, apa mungkin, mengingat financial inclusion akan menyasar masyarakat usaha kecil yang notabene berisiko tinggi secara komersial atau bahkan masyarakat miskin yang membutuhkan akses keuangan relatif untuk start-up business.

Ini masalah besar yang tidak sendirian harus dijawab oleh lembaga keuangan komersial, tetapi bersama pihak lain khususnya pemerintah. Dengan nature kelompok masyarakat unbankable itu tentu dibutuhkan pemerintah dalam men-support program pendukung seperti program jaminan atau subsidy bunga. Tanpa mengurangi penghargaan atas upaya meningkatkan kualitas sektor keuangan melalui program financial inclusion ini, namun akan sangat berguna jika masalah ini juga dipahami menggunakan perspektif ekonomi Islam.

Dalam ekonomi Islam secara garis besar menggunakan konsep zakat, masyarakat dibagi dalam dua kelompok berdasarkan kemampuan zakatnya, yaitu masyarakat muzakki (kaya) dan masyarakat mustahik (fakir-miskin). Khusus bagi masyarakat (ekonomi) miskin, treatments yang diberlakukan (masih berdasarkan pada konsep zakat) relatif lengkap, yaitu penyediaan kebutuhan pokok mereka dan kebutuhan berusaha. Masyarakat miskin tidak hanya memiliki masalah akses modal untuk usaha, tetapi cenderung kompleks pada masalah lain seperti masalah kebutuhan pokok (basic necesities), integritas dan kompetensi, masalah keluarga dan bentuk masalah lainnya.

Konsep zakat Islam menyadari itu dan kemudian ia terjawab secara baik, karena konsep zakat secara prinsip mengakomodasi treatments untuk kebutuhan tersebut. Secara build-in, treatments itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam konsep zakat. Oleh karena itu, istilah economic inclusion akan relatif lebih cocok digunakan dibandingkan dengan financial inclusion. Bersandar pada konsep zakat masyarakat miskin yang tidak punya apa-apa tidak hanya di berdayakan sebagai pelaku usaha dengan disediakan akses permodalan (financial), tetapi juga diberikan solusi dalam menjawab kebutuhan dasar mereka seperti makanan, pakaian, rumah atau pendidikan.

Konsep Islam bukan hanya ingin memposisikan masyarakat usaha mikro dan miskin sebagai aktif dalam industri keuangan dengan membuka akses bagi mereka memperoleh modal, tetapi lebih luas ingin memposisikan mereka aktif secara ekonomi, baik di sisi demand maupun di sisi supply dari ekonomi. Itu mengapa tolak ukur kemajuan ekonomi bukan hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi tetapi juga dari tingkat partisipasi masyarakat dalam ekonomi atau tingkat keikutsertaan ekonomi (economic involvement level).

Pilar utama untuk memastikan masyarakat aktif secara ekonomi dalam Islam adalah zakat. Keberadaan zakat yang diwajibkan (dengan derajad kewajiban setara dengan shalat), pada dasarnya akan selalu memelihara kemampuan atau daya beli (purchasing power) dari kelompok masyarakat paling bawah dalam piramida ekonomi. Sehingga, dengan kondisi masyarakat indonesia yang masih besar kelompok masyarakat miskinnya, mungkin lebih tepat bagi pemerintah untuk menggulirkan program economic inclusion. Dengan program ini dipastikan tidak ada seorangpun warga fakir miskin indonesia yang terabaikan secara ekonomi.

Isu sentral dari logika ini sebenarnya berasal dari prinsip ekonomi islam yang ingin memelihara proses distribusi kekayaan dan pendapatan (wealth and income distribution) berjalan dengan maksimal. Tidak heran jika Ibnu Khaldun berpendapat bahwa sebuah wilayah yang penduduknya banyak akan memberikan kemakmuran yang lebih baik, sepanjang proses distribusi kekayaan dan pendapatan berlangsung dengan baik (anti teori dari Robert Malthus).

Logika Ibnu Khaldun sangat sederhana, sepanjang economic inclusion berjalan dengan maksimal, tentu sektor demand ekonomi akan tetap terjaga pada level yang baik, dengan tingkat purchasing power dari masyarakat mustahik sebagai level minimum dari demand ekonomi, maka diharapkan sektor supply akan dapat juga terpelihara. Dengan begitu interaksi dasar ekonomi dapat terjaga untuk selalu berjalan, sepanjang tidak terjadi pengacauan sistem melalui aktifitas keuangan menggunakan riba dan spekulasi. Praktek Riba dan spekulasi cenderung mengganggu putaran ekonomi melalui misalokasi produksi dalam ekonomi, akibat uang beredar (potensi modal) tidak sepenuhnya bergerak menghasilkan barang dan jasa (economic value added).

Minggu, 22 Juli 2012

Satu Lagi Tentang Optimisme

Satu lagi tentang optimisme, ditengah preseden opini yang selalu ada pada lisan kita sebagai seorang muslim. Opini lazim yang biasa keluar dari kita adalah pesimisme pada Islam dan ummatnya. Memandang skeptik terhadap apa-apa yang berkaitan dengan perkembangan ke-Islaman dan keummatan. Islam yang terpecah-belah, saling menuding keburukan, menepuk dada menunjuk diri yang paling benar, budaya berhalaisme, ummat pemalas atau ummat yang kacau balu tidak tahu skala prioritas, tidak paham prinsip dan idealisme, tidak menjunjung harga diri dan kehormatan, baik pada dimensi akidah, akhlak maupun syariah.

Rasanya anda semua familiar dengan maksud saya ini. preseden dan opini lazim ini tidak jarang mematikan semangat untuk bergerak maju dan sibuk dengan kerja-kerja kebaikan atau perbaikan. Tapi sebentar dulu, saya termasuk orang yang tidak serta-merta mengamini kelayakan apalagi kebenaran preseden ini. saya merasa selalu ada sudut pandang yang berbeda, dan boleh jadi sudut pandang itu yang nyaman untuk digunakan dalam memandang segala hal. Salah satunya adalah sudut pandang optimisme.

Jangan lihat terlalu jauh kalau ingin menilai ummat Islam akhir zaman ini. Sekali Tuhan sudah nobatkan kita sebagai ummat terbaik dengan kalimat “pelantikan” yang terkenal itu; “kuntum khairu ummah...”, maka tak elok kita menjelek-jelekkan diri sendiri. Terlebih lagi ketika diakhir zaman ini ummat butuh sekali manusia-manusia Islam yang bersemangat dalam berjuang, berkorban dan terus bergerak mengabarkan serta mencontohkan kebaikan-kebaikan.

Mari lihat saja apa yang ada disekitar kita, semakin burukkah Islam itu. Jangan jauh-jauh. Lihat anak-anak kita, bandingkan dengan kita dahulu ketika seusia dengan mereka. Saya yakin banyak anak-anak kita kondisi ke-Islamannya jauh lebih baik dari kita dahulu. Dengan membandingkan usia yang sama, mereka lebih dulu bisa baca atau bahkan tulis Al Qur’an, lebih banyak hafalan surah-surah, aktif di TPA/TPQ. Anak-anak kita lebih mengenal akhlak dan akidah lebih baik, mendapatkan wawasan ke-Islaman lebih banyak karena saat ini lebih banyak sekolah-sekolah Islam untuk dijadikan pilihan, dari PAUD, TK, SD, SMP sampai SMA. Bahkan tidak sedikit dari kita yang memasukkan anak-anak kita ke pesantren sehingga saat ini santri jauh lebih banyak dari masa-masa terdahulu.

Selain itu, lihat rak-rak buku yang ada di ruang kerja atau ruang tamu, saya kok yakin lebih banyak buku-buku agama kini yang tersedia dirumah anda dibandingkan rumah ayah anda dahulu. Meskipun akan ada yang mengatakan; “banyak buku Islam, bukan berarti dibaca kan?!” Ya betul, tetapi lebih ga jelas dibaca kalo dahulu di rak tak ada buku Islam kan?! Itu mengapa sudah lebih dari 10 tahun ini, buku Islam menjadi buku terlaris di negeri ini. lihat istri dan kaum wanita di sekitar kita, mulai lebih banyak yang menggunakan kerudung bukan? Dan hiduplah industri-industri pakaian muslim-muslimah. Lihat dompet anda, sudah mulai ada kartu ATM bank syariah ya? bank-bank pun mulai berdandan syariah akibat tuntutan anda, teman anda, tetangga anda yang ingin kebutuhan jasa keuangannya sesuai tuntunan Islam. Efeknya, sekolah, universitas, kurikulum dan silabus mata kuliah sekarang akrab dengan syariah, sehingga akhirnya Islam menjadi familiar pada semua hal, langkah men-syaamil mutakammil-kan Islam sudah mulai diayunkan. Begitu juga dengan upaya-upaya me-rahmatan lil alamin-kan Islam.

Sekarang lihat jumlah jamaah haji Indonesia, mulai banyak kaum muda yang berangkat ke tanah suci, nyadar ga sih? Shaf-shaf shalat wajib berjamaah di masjid pun dibanyaki oleh orang-orang muda. Memang iman tidak otomatis berkorelasi positif dengan angka dan jumlah-jumlah itu, tetapi tentu akan sangat tidak beralasan keimanan yang baik dikaitkan dengan variabel-variabel diatas dengan jumlah yang kosong bukan? Numbers and figures tell a thousand words.

Nah hal-hal kecil yang dekat dengan saya itulah yang membuat saya tetap optimis, dan saya berusaha tidak keluar dari gerbong optimisme itu, semoga begitu juga dengan Anda. Mari sebarkan otimisme ini, mari tetap menjaga motivasi, atau bahkan membangkitkan inspirasi untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik. Meski akhirnya itu hanya berguna untuk diri kita sendiri, kerana kerja kebaikan dan perbaikan setidaknya menghentikan diri kita dari kesibukan pada keburukan dan memburukkan. Bismillah..

Kamis, 19 Juli 2012

Selamat Datang Ramadhan..

Bulan itu sedang berkunjung, bulan suci bak samudera atau badai kesejukan yang yang mampu menelan semua dosa. Jangan sia-siakan setiap detik penggalan waktunya. Semoga Ramadhan kali ini menjadi ramadhan yang terbaik yang pernah hadir dalam hidup kita.

Maaf Lahir Bathin

Ali Sakti & Keluarga

Rabu, 18 Juli 2012

Alam Semesta yang Kutelan

Kutimang-timang dunia dengan seluruh isinya

Sesekali kupeluk dan rasakan kelembutannya dengan pipiku

Tapi setiap kali pula ada rasa tak nyaman di dada ini

Akhirnya, kutelan ia sekaligus dengan jagat raya



Kutelan alam semesta berikut ruang-ruang tak terhingganya

Kutelan dunia agar tak ada lagi yang ditimang dan mengganggu

Kutelan ia agar tak ada ingin dan mau yang tersisa



Karena kutahu hanya dunia yang membuatku memiliki ingin dan mau

Akhirnya aku menjadi makhluk tunggal dihadapan Tuhanku

Menjadi satu-satunya dzat yang diperhatikan dan disayangi

Rabu, 27 Juni 2012

Kematian


Kematian, satu hal yang mungkin banyak dihindari untuk didiskusikan, diingat-ingat atau bahkan direnungkan. Kematian menjadi satu topic yang hanya menarik jika menyangkut sejarah, dongeng suatu ketika atau menyangkut orang yang jauh dari kita. Kematian menjadi sangat tidak menarik ketika ia menjadi peristiwa yang berkaitan dengan orang-orang disekitar kita, mereka yang kita kenal, saudara, bagian keluarga, apalagi diri kita. Tapi siapa saja akan sangat menyetujui, kalau kematian memiliki kekuatan untuk merubah keadaan, membuat perbedaan antara sebelum dan setelahnya, khususnya bagi mereka yang masih hidup.

Kematian menjadi satu kepastian bagi semua mereka yang hidup, dari tumbuhan, hewan hingga manusia. Kematian menjadi siklus akhir yang harus dihadapi oleh semua mereka yang hidup. Bagi manusia kematian bukan hanya sekedar peristiwa dunia terakhir yang harus dihadapi di penghujung cerita hidup mereka, tetapi kematian juga menjadi kejadian tunggal yang memberikan banyak sekali pelajaran dan hikmah bagi mereka yang hidup.

Bagi anda yang memang tidak suka memikirkan kematian, maaf kalau dua paragraph diatas sudah membuat anda berfikir tentang itu. Tapi seperti itulah, uniknya membaca salah satunya adalah memang membuat anda mau tak mau harus melakukan satu kerja lagi (sekaligus), yaitu berfikir. Membaca dan berfikir jadi satu paket yang tidak terpisahkan. Nah ketika anda membaca artikel tentang kematian maka otomatis anda akan berfikir tentang kematian siapa saja dan kematian diri anda nanti.

Coba diingat-ingat, kematian siapa yang sangat mempengaruhi anda. Mungkin saja bukan hanya sekali tetapi sudah beberapa kali. Karena peristiwa kematian itu, entah siapa, hidup anda menjadi berbeda, pandangan hidup anda menjadi berubah. Dunia anda terasa lain dan menjadi tidak sama dengan sebelumnya. Atau boleh jadi belum ada, karena semua yang anda kenal, anda sayangi masih hidup dan kematian masih menjadi berita-berita dari drama didepan mata tapi tidak berada di dunia anda.

Namun tidak ada salahnya sedikit berimaginasi cerita soneta hidup anda, bagaimana jika tiba-tiba orang yang paling dekat dengan hidup mati, pagi ini orang tua anda meninggal karena stroke, siang nanti anak tewas karena kecelakaan di sekolah, sore nanti istri atau suami anda mati karena tabrakan kendaraan. Mereka meninggal dan kemudian tidak lagi ada dalam sisa hidup anda. Pertanyaan yang mungkin paling menggoda untuk diketahui jawabannya adalah apakah setelah itu anda akan berjalan dengan langkah yang ayunan kakinya sama, arahnya tidak berubah? Atau kematian mereka membuat anda terduduk dan kemudian bangkit melangkah ke arah yang berbeda dengan ayunan kaki lebih cepat?

Atau mungkin sebaiknya anda sedikit masuk dalam lingkaran lamunan yang lebih dalam, melamunkan andalah yang mati. Melamunkan bagaimana dan seperti apa proses kematian anda, menerka-nerka peristiwa terakhir hidup anda. Jika sudah bisa di khayalkan, kini pertanyaannya; apakah lamunan-lamunan itu bisa sering beredar di benak dan rasa, sehingga kematian mampu mendesak perbaikan anda saat ini, saat ketika kematian dan tanda-tandanya belum sampai pada keseharian anda. Ya kemampuan untuk dapat menghadirkan atmosfer kematian itulah mungkin titik penting untuk diperhatikan. Karena jika tidak bisa, maka tulisan ini boleh jadi kemanfaatannya hanya berusia sampai noktah “titik” setelah kalimat akhir ini ditulis.

Kita Ini Pekerja Dakwah Bukan Penikmat Dakwah

Judul diatas itu ingin langsung menyampaikan apa tujuan tulisan kali ini. Judul itu ingin menjawab kegelisahan banyak aktifis dakwah yang muncul dalam kerja-kerja mereka. Entah gelisah itu muncul karena begitu lamanya kerja dakwah yang dilakukan atau karena belum tercapainya harapan-harapan dakwah. Bagi saya ini penting dan inilah logika saya dalam mencerna dan mencari akar masalah mengapa banyak sekali kekecewaan terhadap aplikasi Islam khususnya ekonomi.


Kegelisahan itulah yang mendorong para pekerja dakwah menetapkan ukuran-ukuran pragmatis atas kerja-kerja dakwah. Dan ketika ukuran pragmatis itu muncul dari ketidaksabaran, keterburu-buruan dan kegelisahan lainnya, maka ukuran itu malah membuat kerja dakwah kehilangan substansi fungsinya. Dengan ukuran-ukuran pragmatis itu orientasi pekerja dakwah relative berubah; dari orientasi proses kerja menjadi orientasi hasil kerja, dari orientasi pekerja menjadi orientasi penikmat dan dari orientasi pencapaian sistematik menjadi orientasi pencapaian instan.

Dengan strategi yang optimal, konsistensi kerja harusnya ada pada proses kerja berdasarkan prinsip dan substansi Islam bukan pada konsistensi pencapaian hasil tertentu. Untuk kesekian kali, ingin saya tegaskan kepada para pekerja dakwah, bahwa hasil kerja itu hak Tuhan. Yang dituntut dari pendakwah hanyalah proses kerja yang maksimal, berhasil atau tidak itu hak tuhan.

Memang sudah menjadi hukum Tuhan kalau kerja yang keras memiliki korelasi kuat dengan hasil yang diharapkan. Tetapi akan menjadi tidak benar jika orientasi langsung melompat pada hasil kerja dengan mengabaikan proses kerja yang benar. Orientasi hasil kerja bahkan akhirnya mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran dalam proses kerjanya. Apa saja dilakukan yang penting hasil kerja memberikan apa yang diharapkan.

Sepatutnya yang dilakukan adalah orientasi pada proses kerja, dengan menggunakan tingkat inovasi yang maksimal, strategi yang tepat, dan mengerahkan semua kemampuan. Hasilnya bagaimana? Dengan orientasi ini hasil kerja diserahkan menjadi domain Tuhan, kita mungkin tidak perlu care dengan hasil itu, kita serahkan saja kepada Tuhan. Sepanjang proses kerja sudah dilakukan dengan maksimal kita sudah memenuhi prinsip umum Tuhan, bahwa kerja maksimal menjadi prasyarat memperoleh hasil kerja yang baik.

Tetapi dengan menyerahkan sepenuhnya hasil kerja kepada Tuhan, kita membuka diri untuk semua bentuk hasil terutama hasil yang mungkin tidak diharapkan. Namun, jika memang kita yakini hasil itu dari Tuhan, boleh jadi hasil yang tidak baik itu adalah yang terbaik bagi dakwah. Jadi hasil apapun dari kerja dakwah, berhasil atau tidak, itu semua adalah anugerah terbaik dari Tuhan. Nah, kalau seperti ini logikanya kenapa harus gelisah dengan hasil, kenapa harus menghabiskan energy lebih banyak akibat hasil yang tidak memuaskan. Kenapa tidak konsentrasi saja pada proses, dan jika gelisah atau kecewa, gelisah dan kecewalah jika kita tidak maksimal dalam berproses. Gelisah dan kecewa tidak ada hubungannya dengan hasil.

Diluar itu semua, orientasi ini pada akhirnya akan menjaga kesadaran bahwa tujuan utama kerja dakwah terletak pada proses-proses kerja dakwah itu sendiri, bukan pada hasil kerja. Pekerja dakwah sampai pada kepuasannya cukup jika ia sudah melakukan kerja dakwah dengan maksimal. Kepuasan bukan pada hasil kerja dan saat-saat menikmatinya. Inilah yang saya maksud dengan judul di atas, kita ini pekerja dakwah bukan penikmat dakwah.

Rabu, 13 Juni 2012

saya sedang tidak ingin menulis atau menyampaikan apa-apa, saya hanya ingin membaca apa saja dan menerima nasehat dari siapa saja. termasuk dari diri saya sendiri. dan saya sedang membaca nasehat dari diri saya tiga tahun yang lalu, yang pernah menulis nasehat dibawah ini.

Diam Sejenak




Ikhwatifillah, melihat kemarau yang berkepanjangan dalam kehidupan manusia, dimana perbuatan baik dan ketauladanan semakin hari semakin kering dan hampir-hampir tidak ada, seharus membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan kita saat ini. Letakan pena, tutup laptop, kantongkan blackberry, matikan komputer, sisihkan perkakas anda dan diamlah.



Mari renungkan, sudah berapa lama wajah tak tersentuh air wudhu, berapa lama dahi tak menyentuh ujung sajadah, berapa lama buku-buku tarbiyah teronggok berdebu di sudut ruang, berapa lama kaki tak melangkah ke majelis-majelis ilmu dan hikmah, berapa lama bibir tidak khusyuk berdzikir dan berapa lama dakwah sudah kita tidak serius tekuni.



Ikhwatifillah, manusia disekitar kita butuh hujan amal shaleh dan ketauladanannya. Sudah lama rasanya keshalehan tidak menjadi denyut peradaban. Ia butuh dihidupkan. Dan kita, putra-putra Islam yang tersisa di akhir zaman ini, yang paling berhak sekaligus wajib menunaikan tugas kehidupan, tugas mulia yang telah menjadi garis sejarah, yaitu menjadi penyeru dan pejuang.



Mari ingatkan diri untuk sadar pada amanah, untuk kembali merapat pada barisan, untuk kembali melakukan perbaikan dan penyelamatan. Banyak amanah yang sudah menunggu, menunggu putra-putra Islam akhir zaman, yang bisa menghantarkan manusia dan seluruh dzat alam semesta pada fitrahnya yang sejati, yaitu menghamba dengan sepenuh kehambaan pada Tuhan.


Diam sejenak (2)


Ketika kita letih dengan semua dosa, apa yang paling ingin kita lakukan? Atau ketika kita letih dengan semua kerja amal shaleh, apa yang paling ingin kita lakukan? Penat dengan dosa karena apa? Karena sadar, menyesal atau hanya sekedar letih saja? Atau penat dengan amal shaleh karena monoton, tidak nikmat atau sekedar bosan? Apapun itu, sebaiknya yang kemudian anda lakukan adalah diam sejenak. Dengan diam, kumpulkan tenaga melalui mencermati alam semesta, mencari hikmah dari embun dan hujan, dari pesona keindahan alam dan dahsyatnya bencana-bencana, dari disiplinnya benda-benda langit serta tertatanya penghuni-penghuni bumi. Himpun kebijaksanaan dengan memahami manusia di hidup dan kematiannya, merenungi kemuliaan dan kehinaan mereka. Jika belum anda dapatkan tenaga dan kebijaksanaan itu, tetaplah diam setidaknya anda tidak menambah dosa. Wallahu a’lam.