Senin, 06 Oktober 2008

Global Financial Crisis: Global Stock Market Ambruk

Krisis keuangan Amerika kini confirmed telah meluas menjadi krisis keuangan global. Program bailout sebesar USD 700 billion tidak bermakna apa-apa. Program itu gagal meningkatkan kepercayaan para pelaku pasar pada upaya stabilisasi. Hal ini juga merupakan sinyal yang sangat jelas bahwa krisis belum mencapai dasarnya (bottom), artinya krisis ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Beberapa bulan lalu ekonom Amerika ada yang mengatakan bahwa krisis keuangan Amerika akan mengantarkan perekonomian Amerika pada situasi resesi atau bahkan depresi yang diikuti oleh kondisi hiperinflasi seperti yang pernah dialami jerman sebelum perang dunia kedua. Dan sepertinya perkiraan itu sangat terbuka kemungkinannya dengan perkembangan perekonomian Amerika saat ini.

Tanda-tanda kekacauan keuangan dunia mulai membayangi ketika pada hari pertama pekan ini semua pasar modal di Amerika, Eropa, asia dan beberapa emerging market countries di Amerika Selatan rontok, dimana kejatuhan pasar mencatatkan rekor yang fantastis. Dow Jones sebagai episentrum pasar modal dunia jatuh mencapai 800,06 poin, meskipun kemudian ditutup dengan kejatuhan akhir 350 poin. Namun angka indeks Dow Jones menunjukkan angka terburuknya dalam 4 tahun terakhir yaitu berada di bawah angka 10.000.

Sementara itu di Eropa, pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk dalam sehari yang mencapai penurunan 8%. Sedangkan german dan Prancis masing-masing ditampar dengan kejatuhan pasar modal sebesar 7% dan 9%. Pasar modal Emerging market seperti Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat buruk yaitu 15%, 11% dan 15%.
Pada tingkat kebijakan Jerman melakukan “u-turn” setelah bersama pemimpin Eropa lainnya menyepakati tidak akan mengikuti style Amerika yang melakukan bailout terhadap industry keuangannya yang jatuh. Jerman terkesan “berkhianat” terhadap kesepakatan itu dengan melakukan bailout terhadap perusahaan mortgage terbesar kedua-nya yaitu Hypo Real Estate sebesar € 50 billion. Di Prancis sendiri BNP Paribas berkomitmen untuk mengambil 75% stake salah satu bank bermasalah Eropa yaitu Bank Fortis NV.

Sedangkan Swedia dan Denmark mengikuti langkah Irlandia dan Inggris untuk meningkatkan jumlah saver’s deposits yang dijamin oleh pemerintah, yang notabene merupakan style Amerika dalam menanggulangi krisis keuangannya. Peningkatan jumlah simpanan yang dijamin pemerintah Amerika dari USD 100,000 menjadi USD 250,000 merupakan salah satu klausul yang direvisi dari program bailout USD 700 billion. Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh Negara-negara Eropa tersebut rapuh, bahkan kondisi perbedaan kebijakan yang diambil masing-masing otoritas menimbulkan rasa saling tidak percaya diantara pemimpin Eropa menyikapi keterpurukan industry keuangan mereka.

Bagaimana dengan Asia? Bahwa krisis sudah menjalar dan menjadi cancer di Eropa itu sudah sangat jelas terlihat, tetapi sangat besar kemungkinan cancer krisis keuangan tersebut merambat ke pasar Asia. Mengikuti kecenderungan global pasar Asia juga mengalami “tamparan yang sama, Jepang turun 4,25%, Korea 4,3%, Hong Kong 5% dan Australia 3,4%. Sementara di Indonesia IHSG pada senin (6 Sept 2008) kemarin terjun bebas 10,03%.
Dengan fakta ini jelas sekali bahwa drama krisis keuangan memasuki tingkat keterpurukan yang lebih dalam, yaitu berubahnya infeksi pada pasar diluar US menjadi krisis keuangan sesungguhnya di pasar-pasar keuangan global.

Berdasarkan perspektif ekonomi Islam, seberapa buruk krisis ini menghancurkan perekonomian sebuah Negara, tergantung pada struktur ekonominya masing-masing, khususnya sejauh mana perkembangan dua sektoral besar ekonomi, yaitu keuangan dan riil. Dikotomi keduanyalah yang menjadi awal indikasi krisis keuangan akan selalu menerpa perekonomian. Semakin besar industry keuangan menyedot uang beredar dan meninggalkan sector riilnya pada kondisi yang minimum, maka diyakini perekonomian tersebut akan merasakan krisis keuangan lebih besar.

Menyikapi kondisi krisis keuangan ini, ada satu isu yang mungkin ringan namun terlalu berharga untuk dilewatkan yaitu kerancuan menggunakan istilah investor dalam dunia keuangan. Banyak kalangan sudah menisbahkan sesiapa, baik individu maupun unit bisnis, yang “bermain” di pasar keuangan adalah investor. Padahal harus dibedakan siapa genuine investor dan siapa speculator berdasarkan motif mereka terjun di pasar. Karena efek aktifitas investor dan speculator pada akhirnya akan berefek beda terhadap pasar. Investor akan lebih berefek pada pengembangan volume ekonomi yang mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara speculator yang menggelembungkan pasar keuangan lebih berpengaruh positif dengan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kondisi perekonomian sebuah Negara, tidak pada perekonomian riilnya.

Kenyataannya prilaku dominan dari pelaku pasar di sector keuangan ini bukanlah berinvestasi dalam definisi genuine-nya. Prilaku yang jelas terlihat adalah aktifitas berspekulasi untuk mencari monetary gain dari pergerakan harga produk-produk keuangan, stocks, bonds dan derivatives. Oleh sebab itu sejak awal saya menekankan penempatan istilah-istilah ekonomi berdasarkan kaidah, definisi, aplikasi dan konsepsi ekonomi yang dianut terlebih dahulu dalam pembangunan ekonomi, khususnya Ekonomi Islam.

Kronologi Krisis Keuangan Dunia Abad 20 (Roy & Glyn Davies, 1996 & Francisco LR dan Luis R Batiz,1985)

1860-1921 Peningkatan Jumlah Bank di amerika s/d 19 Kali Lipat

1907 Krisis Perbankan Internasional dimulai di New York

1913 US Federal Reserve Sistem (Fedres didirikan)

1914 – 1918 Perang Dunia I

1920 Depresi Ekonomi di Jepang

1922 – 23 German mengalami hyper inflasi. Karena takut mata uang menurun nlainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. 1927 Krisis Keuangan di Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan1981 – 1901 Jumlah Bank bertambah 20 kali lipat

1929 – 30 The Great Crash (di pasar modal NY) & Great Depression (Kegagalan Perbankan); di US, hingga net national product-nya terbangkas lebih dari setengahnya.

1931 Austria mengalami krisis perbankan, akibatnya kejatuhan perbankan di German, yang kemudian mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional. Hal ini membuat UK meninggalkan standard emas.

1944 – 66 Prancis mengalami hyper inflasi akibat dari kebijakan yang mulai meliberalkan perekonomiannya.

1944 – 46 Hungaria mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis terburuk eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12000 million (11 digits) hingga 27 digits.

1945 – 48 Jerman mengalami hyper inflasi akibat perang dunia kedua.

1945 – 55 Krisis Perbankan di NigeriaAkibat pertumbuhan bank yang tidak teregulasi dengan baik pada tahun 1945

(1950-1972) Periode tidak terjadi krisisLebih kurang akibat Bretton Woods Agreements, yang mengeluarkan regulasi disektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange Rate Regime). Disamping itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di sektor keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor keuangan dunia (untuk sementara) “tenang”. 1971 Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme bunganya tak dapat dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate.

1971-73 Kesepakatan Smithsonian(1 Ons emas = 38 USD). Dicoba untuk menenangkan kembali sektor keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja.

1973 Amerika meninggalkan standar emas. Akibat hukum “uang buruk (foreign exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law)”.

1973 -... mengglobalnya aktifitas spekulasi sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat penerapan floating exchange rate sistem. Periode Spekulasi; di pasar modal, uang, obligasi dan derivative. 1973 – 74 Krisis Perbankan kedua di Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply of credit.

1974 Krisis pada Eurodollar Market; akibat west German Bankhaus ID Herstatt gagal mengantisipasi international crisis.

1978-80 Deep recession di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung tingginya interest rate negara-negara industri.

1980 Krisis Dunia ketiga; banyaknya hutang dari negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th 1974, tapi ketika negara maju meningkatkan interest rate untuk menekan inflasi, hutang negara ketiga meningkat melebihi kemampuan bayarnya.

1980 Krisis Hutang di Polandia; akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga. Banyak bank di eropa barat yang menarik dananya dari bank di eropa timur.

1982 Krisis Hutang di Mexico; disebabkan outflow kapital yang massive ke US, kemudian di-treatments dengan hutang dari US, IMF, BIS. Krisis ini juga menarik Argentina, Brazil dan Venezuela untuk masuk dalam lingkaran krisis.

1987 The Great Crash (Stock Exchange), 16 Oct 1987 di pasar modal US & UK. Mengakibatkan otoritas moneter dunia meningkatkan money supply.

1994 Krisis di Mexico; kembali akibat kebijakan finansial yang tidak tepat.

1997 Krisis Keuangan di Asia Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand, Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan utang yang tidak transparan. Krisis Keuangan di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asteng.

1998 Krisis Keuangan di Rusia; jatuhnya nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi)

1998 Krisis Keuangan di Brazil

1999 Krisis Keuangan di Argentina

Hmm... something wrong with the system, right?

Minggu, 05 Oktober 2008

Bailout Plan

Bailout plan

The US treasury will borrow $700bn from the international money markets by selling bonds to foreign countries.

The treasury will then use the money to buy back mortgage backed-securities from US banks and institutions.

It can use only $250bn immediately, although it does have access to another $100bn if required.

Access the final $350bn is subject to congressional approval.

The treasury can also use that money to save those banks on the verge of collapsing – although it would be entitled to a majority stake in the bank.

If the government takes on a debt and it's still making a loss after five years – the bank will have to pay compensation.

There plan also includes tighter controls over large payments to bank executives.

source: Aljazeera.net/English

Sabtu, 04 Oktober 2008

Mengapa Krisis Keuangan Amerika Berbahaya?

Ulasan berikut ini singkatnya untuk menjawab pertanyaan pada judul diatas; Mengapa Krisis Keuangan Amerika Berbahaya? Mengapa? Sampai-sampai Bush sendiri mengingatkan para anggota Kongres bahwa jika bailout program tidak disetujui, maka perekonomian Amerika diambang kehancuran. Bukankah krisis itu sepatutnya terisolasi di lingkungan keuangan? Mengapa harus mengancam seluruh system perekonomian?

Runtuhnya system keuangan betul akan menghancurkan perekonomian raksasa Amerika, tak peduli seberapa besar perekonomian itu. Kata kuncinya ada pada gurita credit system di perekonomian Amerika (ingat kasus awal krisis ini, sub-prime mortgage). Aplikasi keuangan; perbankan, mortgage, asuransi, reksadana, pasar modal, pasar komoditi, pasar derivative, berikut dengan baragam variatifnya produk masing-masing aplikasi telah menghubungkaitkan semua unit usaha di Amerika. Hubungan itu bukan lagi hubungan transaksi dan relasi bisnis tetapi sudah menjelma menjadi hubungan saling bergantung. Sentiment negative pada satu aplikasi keuangan tentu akan memberikan pengaruh pada semua aplikasi.

Prinsip bahwa sejumlah uang pasti akan memberikan keuntungan telah menghantarkan setiap unit bisnis Amerika pada manajemen likuiditas yang membuat mereka memandang industri keuangan sebagai alat; how makemoney more money. Dengan demikian atas alasan pengelolaan likuiditas, pengelolaan risiko dan tentu saja alas an orientasi profit, hampir semua unit bisnis melakukan “penempatan” di sector keuangan. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang beredar yang akhirnya terkonsentrasi dalam sector keuangan. Ketimpangan sector riil dan keuangan menjadi konsekwensi logis.

Sejatinya return yang dijanjikan dalam sector keuangan berhulu pada aktifitas produktif sector riil, seperti misalnya return bagi bank berasal dari margin bunga dan pendapatan jasa yang berasal dari sector riil. Namun apa yang terjadi jika uang beredar yang semakin terkonsentrasi (money whirlpool) dijanjikan bunga sementara sector riilnya semakin kerdil akibat uang beredar yang menetes ke sector ini semakin menyusut. Rasio volume transaksi keuangan dan riil jika semakin besar, maka akan tiba pada tingkat tertentu yang mengakibatkan ekonomi guncang. Guncang yang pada dasarnya karena margin bunga dan pendapatan jasa (sector riil) semakin dilampaui oleh kewajibannya di sector keuangan.

Ketika krisis tersebut belangsung kuat dan lama, tentu saja akan mempengaruhi kemampuan produksi unit bisnis yang meletakkan likuiditasnya di lembaga-lembaga keuangan. Ketika lembaga keuangan banyak yang failure, maka nasabah mereka dari kalangan unit bisnis akan terkendala operasionalnya, karena lembaga keuangan tidak mampu melayani kewajibannya menyediakan likuiditas yang cukup, sesuai dengan kesepakatan.Dan program bailout, hakikatnya menambal ketidakmampuan lembaga keuangan.

Banyak ekonom Amerika sendiri menyangsikan apakan program bailout ini mampu mengembalikan performa ekonomi Amerika seperti sedia kala atau bahkan menghentikan laju krisis menuju resesi ekonomi. Meskipun mayoritas ekonom tersebut menyetujui bahwa pemerintah memang tidak memiliki pilihan apapun kecuali menghadang krisis ini dengan bailout. Keyakinan pada satu system yang memang harus dibayar mahal…

Krisis Ekonomi: Kekacauan Sistem dan Kerakusan Manusia

US Financial Crisis telah memberikan wajah lain dari ekonomi modern konvensional. Wajah yang dalam beberapa decade terakhir mulai menyita waktu para ekonom-nya untuk menganalisa apa yang salah dalam system ekonomi yang mereka anut dan kembangkan. Krisis yang menghantam kemapanan ekonomi Amerika dan menjalar pula ke Eropa ternyata membuat para ekonom terjaga. Sebelum ini mereka berfikir krisis hanyalah anomaly wajar ekonomi, karena mungkin selalunya krisis ini jarang “mampir” di Amerika dan Eropa. Krisis ini secara regular bergantian menampar ekonomi emerging market di Amerika Selatan dan Asia (Afrika hamper tak pernah mengalami hal ini karena relative pasar keuangannya tidak berkembang).

System ekonomi selalu mendorong ketimpangan (gap) antara ekonomi riil dan keuangan selalu ada dan semakin dalam jurangnya. Systemlah yang selalu mem-bubble-kan sector keuangan melalui instrument interest rate dan pembolehan aplikasi spekulatif. System membuat fungsi-fungsi alat transaksi seperti uang tidak menjalankan fungsinya secara utuh. Dalam dunia keuangan, uang akhirnya lebih dominan dimainkan dalam aplikasi-aplikasi judi karena ia sendiri menjadi komoditi dalam men-generate monetary gain. Sebelumnya system juga yang memaksa aktifitas ekonomi terbelah menjadi dua jenis transaksi; transaksi keuangan dan riil (barang dan jasa), maka kita kenallah ia menjadi sector moneter dan riil. Dengan karakteristik keuntungan yang fixed dan relative cepat didapatkan, sector keuangan kemudian tentu memilihi gaya gravitasi yang kuat bagi pemilik modal. Dan inilah yang membuat secara nature bubble selalu terjadi dan terpelihara.

Jika dilihat sepintas krisis yang terjadi sejak berakhirnya Breton Woods Agreement di dunia ini selalu berpangkal pada kerumitan aplikasi dan instrument dalam credit system. Krisis-krisis yang terjadi kemudian semakin diperparah dengan misbehave dari para pelakunya. Prilaku rakus dan orientasi pada pengejaran keuntungan maksimal individual dengan mengabaikan rambu-rambu penjagaan stabilitas, membuat anomaly masalah ekonomi semakin tak terbendung untuk pecah, bahkan kekerapan pecahnya kini semakin sering terjadi. Kekacauan system dan kerakusan manusia saling dukung mendukung dalam menghancurkan ekonomi. Artinya kesalahan system dan amoral manusia inilah sebenarnya yang akan menghantarkan ekonomi konvensional modern pada ujung usianya.

Mengapa Krisis Keuangan Amerika Berbahaya?

Akhirnya Senat US mengabulkan proposal bailout (yang sebelumnya direvisi dan ditambahkan sweeteners) setelah 2 hari yang lalu ditolak oleh mereka. Sampai-sampai 2 kandidat presiden US; Obama & McCain, harus ikut dalam voting tersebut. Hasil ini merupakan kerja keras Bush yang bukan hanya meyakinkan anggota Senat dari kubu Demokrat tetapi juga kubunya sendiri di Republik.

Sementara itu, hari sebelumnya Dow Jones mengalami rebound sebesar 480 poin atau lebih dari setengah penurunan fenomenal sesaat penolakan bailout program oleh Senat. Pengamat meyakini bahwa itu sinyal positif pasar yang menunggu negosiasi ulang pemerintahan Bush dengan Senat yang didukung oleh beberapa politisi baik partai Republik maupun partai Demokrat. Tetapi tetap saja situasi itu (rebound-nya Dow Jones) dapat saja diartikan sebuah akibat wajar dari pasar saham setelah penurunan indeks yang terlalu tajam pada waktu sebelumnya, dimana para spekulan merasa bahwa transaksi telah mencapai dasar harga dan mayoritas berpersepsi sudah saatnyalah mengkoleksi saham-saham ketika harganya murah. Namun yang menjadi pertanyaan; apakah kepercayaan ini akan terus berlangsung? Apakah bailout cukup sakti menahan laju krisis?

Pada sadarnya bailout USD 700 biliion ini berfungsi untuk membeli/membersihkan asset-asset bermasalah di lembaga keuangan Amerika, sehingga lembaga-lembaga tadi dapat kembali menjalankan mesin usahanya. Meskipun begitu, jikapun program ini mampu menggerakkan kembali industry keuangan Amerika, sampai kembali pada tingkat normal sekalipun, tetap saja krisis ini terlalu mahal meminta tumbal. Proposal sebesar USD 700 billion merupakan rekor sejarah yang melebihi apa yang pernah dilakukan untuk mengatasi Great Depression, satu krisis fenomenal yang kemudian merubah secara signifikan wajah ekonomi dan konsepsi-konsepsinya.

Dan dana bailout itu sudah pasti dominan berasal dari taxpayers, dari masyarakat Amerika. Itu mengapa muncul kemarahan disebagian masyarakat Amerika sebagai respon terhadap rencana pemerintah ini. Kenapa mereka yang harus membayar dan menanggung beban dari krisis yang dilakukan oleh segelintir orang di lembaga-lembaga keuangan. Sedangkan segelintir orang itu ada yang bisa “lenggang-kangkung” keluar dari lembaga tersebut dengan mengantongi pesangon ratusan miliar rupiah. Artinya, kalaupun program ini bekerja baik, system keuangan Amerika sudah terkapar kalah dengan beban yang harus ditanggung berupa dana public USD 700 billion, kerugian industry yang lebih dari USD 20 triliion, tanggulangan ekstra dari Fedres untuk beberapa lembaga keuangan, baik bank, asuransi dan mortgage, serta perubahan struktur industry keuangan US yang kini bernuansa nasionalisasi.

Jika kita ingin melihat berapa signifikannya angka kerugian, bailout dan dana tanggulangan ini, bisa kita bandingkan dengan size perbankan nasional kita. Asset perbankan nasional Indonesia mencapai sekitar Rp 2.000 triliun, sedangkan program bailout US mencapai sekitar Rp 6.500 triliun! Meskipun jika dibandingkan dengan GDP US, program bailout ini hanya mencapai 5,1% saja dari GDP yang mencapai USD 13 trillion. Tapi jika juga dikalkulasi kerugian industry dan dana-dana tanggulangan diluar program bailout, bisa dibayangkan bahwa krisis ini sebenarnya sudah membuat perekonomian Amerika berantakan.

Persetujuan atas program bailout bukanlah sinyal final krisis sudah ketemu obatnya. Tetapi bailout ini hanya upaya membersihkan atmosfer industry keuangan, agar program-program perbaikan selanjutnya dapat dengan lebih lancar dilakukan. Artinya bailout pada tingkat awal berfungsi mencegah krisis semakin memburuk menjalar kesemua sendi ekonomi. Akankah bailout ini berhasil? Kita akan lihat respon pasar selanjutnya. Pasar keuangan sangat sensitive dengan informasi, disamping informasi bailout, informasi lain yang tersembunyi masih belum terungkap di pasar. Padahal informasi itulah yang seringkali menentukan kecenderungan pasar. Jadi saat ini, boleh jadi yang menentukan keberhasilan pemerintah Amerika adalah kelihaiannya dalam mengelola informasi di pasar keuangan. Pemerintahan Bush harus menjaga dan memelihara momentum informasi positif.

Diluar upaya jangka pendek itu, sejatinya system keuangan konvensional modern ini sekali lagi menunjukkan kerapuhannya. Dengan keyakinan bahwa ada yang salah dalam paradigma dan aplikasi system keuangan, maka saya percaya akan ada momen nanti yang menandai selesainya usia system ini. Kapan itu? Kita lihat saja apakah momen itu datang bersama dengan momen krisis ini.

How Much is $700 Billion?

How Much is $700 Billion?
Jeanna BrynerSenior WriterLiveScience.com Tue Sep 30, 5:55 PM ET

The short answer: a lot.
The long answer: depends on how you look at it.

Whatever your viewpoint, here's how $700 billion - the figure inked inthe initial dead-in-the-water government bailout bill for Wall Street- compares to other vast sums.

NASA in fiscal year 2009 will launch several missions into space andpay for hundreds of people to operate a host of space telescopes andeven remote robots on Mars and run a PR and media department that putsmost large corporations to shame. The agency's budget: $17.6 billion,or 2.5 percent of the bailout sum.

The National Science Foundation (NSF) has an annual budget of $6.06billion to support research and education on astronomy, chemistry,materials science, computing, engineering, earth sciences, nanoscienceand physics (among others) at more than 1,900 universities andinstitutions across the United States.

You have to turn to much bigger initiatives, like war and defense, toget beyond this chump change and approach the bailout figure.

From 2003 through the end of fiscal year 2009, Congress hasappropriated $606 billion for military operations and other activitiesassociated with the war in Iraq, according to the Congressional BudgetOffice (CBO). The entire military budget for fiscal 2008 is $481.4billion.

Social Security is a $608 billion annual program.Many analysts fear the bailout because the cost must ultimately beborne by taxpayers.

Based on the U.S. Census Bureau's estimate of the current populationof about 305 million people, each person would have to pay $2,300 tofund the $700,000,000,000. If each American (including children) paida dollar a day, it would take more than six years to pay the money infull. One might argue, however, that this $700 billion would be amodest splash in the bucket of national debt, which already stands atwell over $9 trillion (which means you already owe $31,642 each).

Even the New York Yankees third baseman Alex Rodriguez would losesleep over all those zeros. Currently the top paid major leaguebaseball player, Rodriguez takes home $28 million a year, meaning itwould take 25,000 A-Rod salaries to carry the $700 billion.

Nobody is rich enough to pay back this $700 billion by himself. Infact, the Forbes 400 richest list recently came out. It would takemost of what these 400 people collectively have - a combined net worthof $1.57 trillion - to dig out of this mess.