Jumat, 30 Oktober 2009

Frustasi


Frustrasi terkadang muncul ketika melihat keseharian banyak orang di luar sana, nampak tidak ada sentuhan nilai-nilai ekonomi Islam dalam aktivitas ekonomi mereka. Gaya hidup yang menuntut orang menampilkan kemampanan ekonomi membuat semuanya terlihat asyik dengan dunianya masing-masing.

Pada saat-saat tertentu, akupun seringkali sangat tertarik untuk ikut dalam irama hidup seperti itu. Dengan dalih; sedikit ingin menikmati apa yang sebenarnya mampu aku nikmati, aku ingin merasakan apa yang mereka dengan suka-ria rasakan dan nikmati.

Sekali lagi perjuangan, pengorbanan dan kesabaran, semakin dalam maknanya aku rasakan, ketika semua peristiwa yang ada disekitarku tak pernah melayani idealismeku. Fenomena dunia semakin hari, semakin memposisikan hipotesaku tentang ekonomi Islam sekedar menjadi mimpi dan angan-angan, argumen-argumen kebajikan yang aku coba yakinkan pada orang lain sekedar menjadi seruan-seruan yang hanya manis untuk didengar, bukan untuk diikuti dan diamalkan.

Ya frustasi, kata yang paling tepat menggambarkan perasaan hampa saat ini.

Kamis, 29 Oktober 2009

salam :-)

tidak jarang saya suka mengecek clustermaps blog ini, ingin tahu saja saudara-saudara yang ikut membaca blog ini dari mana saja. dan yang menarik bagi saya ada saudara dari Norwegia yang aktif membaca blog kami ini. apakah di Norwegia banyak student Indonesia? saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.

selain itu tentu saya juga ingin menyapa teman-teman di malaysia, US dan Brunei, sebagai teman-teman yang paling banyak berkunjung. semoga silaturahim ini tetap terjaga. dan budaya saling menasehati semakin lazim diantara kita.

Salam Kenal
Ali Sakti

Rabu, 28 Oktober 2009

In Memoriam Munti binti Bani

Duh pemimpinku yang baik, apa yang membuat dirimu dan semua orang yang mengaku pemimpin harus berhenti dari kesibukan untuk sekedar rapat mendiskusikan permasalahan manusia yang kau pimpin? Yang aku lihat waktu dan energimu habis untuk mengurusi jeritan orang-orang kaya yang panik hanya karena kekayaannya berkurang. Atau kalian ikut pusing karena “sekedar” persoalan rekayasa politik, hukum dan kekuasaan diantara pejabat-pejabatmu. Atau bikin sibuk semua orang karena gajimu kurang.

Padahal, sekali lagi Tuhan ingatkan kembali, bahwa rakyatmu pada kasta ekonomi terendah telah terjepit pada persoalan yang sederhana tapi tak kunjung kau rapatkan, yaitu masalah sesuap nasi. Hanya karena sesuap nasi, ada seorang ibu yang harus meninggalkan anak dan suaminya merantau ke negeri orang hanya untuk menjadi pembantu, yang akhirnya kita saksikan setiap tahunnya selalu ada mereka yang disiksa sampai cacat atau bahkan mati.

Juga karena sesuap nasi, ada orang tua yang tega menjual anaknya, kakak beradik yang saling bunuh berebut lahan parkir, suami yang rela memelacurkan istrinya. Duh pemimpinku, letih rasanya melihat ini semua di depan mata...

pertanyaan pagi ini...

Pertanyaan pagi ini: Sedang ada dimana hati kita saat ini?; ditengah rimba kebimbangankah, atau masih mantap ada dijalan kebaikan? jikapun sedang bimbang, bersyukurlah karena fitrah kebaikan masih ada di hati. sehingga keburukan tidak begitu mudah menguasai hati dan jiwa. keburukan harus berperang dengan fitrah baik yang disebut dengan bimbang. lihatlah diluar sana, sudah terlalu banyak manusia yang merasa mantap ada di jalan keburukan... mari saling menasehati... mari saling berdoa... karena jika kita sendiri... kehancuran sudah nyata ada di ubun-ubun kita...

Selasa, 27 Oktober 2009

Seruan pada Pemuda: Shaleh atau Menyesal


Semangat yang tinggi, jiwa yang bersih, idealisme yang murni dan fisik yang kuat, merupakan kelebihan yang dimiliki pemuda. Mereka memiliki semua kriteria untuk tampil menjadi penggerak kebaikan. Sejarah telah memberikan pelajaran, bahwa perubahan-perubahan wajah peradaban selalunya dilakukan oleh pemuda.

Itu mengapa saya ingin mengikuti “pemimpi-pemimpi” terdahulu, yaitu menyeru kepada para pemuda dimana saja mereka ada, pada zaman kapan saja, bahwa anda dinanti untuk mengukir sejarah. Pengukiran sejarah akan menjadi sangat luar biasa jika anda, pemuda, melakukannya dengan pena-pena kebaikan, dengan pahat-pahat kebenaran.

Bangunan peradaban yang ingin dibangun haruslah bangunan yang kuat dan bersih, oleh sebab itu ia membutuhkan pekerja-pekerja yang bersih, pejuang-pejuang yang tangguh, merekalah pemuda-pemuda yang kuat lahir dan bathinnya.

Oleh karena itu, sangat penting bagi anda, pemuda, untuk memutuskan posisi anda saat ini, menentukan arah melangkah dan memulai jalan hidup yang akan menentukan status keduniaan anda juga setelah kematian.

Mari hadapkan wajah pada arah yang benar. Arah yang tidak ada penyesalan diujung jalannya. Yaitu menghadapkan wajah pada kebaikan dan kebenaran Tuhan, Islam. Jadikan Islam sebagai pedoman melangkah, referensi utama untuk semua aksi, dan tujuan tunggal dari semua kesibukan dunia.

Pemuda, jadilah pejuang Islam dimanapun anda berada. Jadilah punggawanya yang sejati, agar alam raya kembali menikmati haknya, yaitu dipimpin oleh manusia-manusia bersih, khalifah-khalifah di muka bumi. Harapan ini diletakkan di pundak-pundak anda, pemuda.

Mari, putuskan jalan hidup anda. Jalan dihadapan anda hanya dua; jalan menuju keshalehan yang total atau ketidakmenentuan yang berujung pada kehancuran dan penyesalan.

Senin, 26 Oktober 2009

Orientasi dan Disorientasi Hidup


Duhai diri, tahukah kamu, seringkali dinamika dunia mengaburkan arah dan fokus hidup. Atau keakraban pada kemegahan membuat konsentrasi pelaksanaan visi hidup menjadi terganggu. Bahkan tidak jarang kesibukan yang mengatasnamakan misi kehidupan memutuskan kaitan misi dengan visi dan tujuannya. Tidak heran akhirnya banyak orang ditengah proses kehidupannya kemudian kehilangan arah, orientasi atau bahkan kesadaran.

Oleh sebab itu, mempertanyakan kembali pada diri, apa fungsi hidup ini? Kalau sudah sukses dapatkan semua kemudahan hidup, lantas apa? Kalau sudah dapatkan pengakuan, status sosial tertinggi dan kehormatan, lantas apa? atau sekedar bertanya; siapkah saya dengan kematian? Siap dengan konsekwensi setelahnya? Bagaimana jika saat ini malaikat pencabut nyawa, Izrail sudah ada di hadapan kita?

Bukankah hidup sepatutnya tidak menjadi rutinitas yang monoton? Ritual-ritual yang tak memiliki nilai terlebih makna? Prosesi-prosesi yang tak ada padanya arah dan arti? Hidup seharusnya menjadi waktu-waktu yang bermakna dan berarti. Semuanya berjalan dengan alasan yang kuat, arah visi yang jelas, misi yang terukur dan konsisten dilakukan. Namun memang pada akhirnya dibutuhkan kesabaran yang dalam juga luas.

Saya menuliskan ini, sekedar ingin menasehati diri sendiri, karena kehampaan mulai muncul kembali. Emosi dan situasi ini boleh jadi karena ketidakberdayaan jiwa untuk mengambil keputusan akibat kekuatan tarik menarik antara kemalasan dan semangat.

Tetapi bagi siapa saja diluar sana yang mungkin memiliki kondisi yang sama, semoga Allah mudahkan segala urusannya. Karena cinta Allah dan kasih sayang-Nya adalah sandaran terakhir yang diharapkan teranugerah kepada kita, ketika ketidakberdayaan sudah menguasai jiwa.

Pertanyaan-pertanyaan diatas pada sisi lain mungkin saja berguna untuk memulai “mutaba’ah” kehidupan kita yang telah puluhan tahun berjalan ini. mencoba mengaudit sejauh mana kita telah melangkah atau bahkan tersesat.

Saya pun tidak bosan-bosan mengingatkan cara-cara audit diri ini:

1. Sudahkah pujian-pujian pagi kita persembahkan pada Allah SWT? Agar orientasi selalu disadarkan arahnya.

2. Sudahkan ada salam yang keluar dari lisan untuk menyapa manusia? Agar diri tahu betul fungsi keberadaannya, yaitu membahagiakan manusia lain sekalipun hanya dengan doa.

3. Senyumkah yang memulai kehidupan kita hari ini? Agar optimisme dan prasangka baik menjadi modal menjalani siang, sore dan malam.

4. Sudahkan kita sedekah pagi ini? Agar pada waktunya nanti kita dapatkan belas kasihan Allah

Wallahu a’lam

Sabtu, 24 Oktober 2009

Validitas Ekonomi Islam sebagai Ilmu

Beberapa catatan dari diskusi klasik tentang validitas ekonomi Islam sebagai ilmu atau sciences:


1. Ekonomi Islam pada dasarnya relative tidak memiliki kepentingan untuk diakui sebagai science (mengikuti definisi yang dimiliki dunia ilmu pengetahuan) modern, karena:


a. Induk ilmu ekonomi Islam adalah Islam itu sendiri, Islam sebagai sebuah pedoman hidup manusia, kebenaran mutlak dari Tuhan, agama yang menyelaraskan manusia dengan alam dalam pengabdiannya kepada Tuhan.


b. Ekonomi Islam harus tunduk pada kaidah Islam yang baku, berlaku pada semua ruang dan waktu dunia


c. Ekonomi Islam konsisten dengan prinsip unity of science, dimana ekonomi memiliki benang merah yang sama dengan disiplin ilmu lain terkait dengan tujuan (penghambaan kepada Tuhan), kaidah dan prinsip (tidak bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan, selaras dengan kemampuan manusia.


d. Ilmu akan memiliki keabsahannya ketika ilmu telah mampu menghantarkan manusia semakin dekat dengan Tuhan, bukan sebaliknya, dimana ilmu semakin membuat pemiliknya takabur dan sombong


2. Penafsiran manusia terhadap Islam hanyalah sebuah upaya untuk menerjemahkan atau mengejawantahkan Islam dalam semua aspek kehidupan manusia. Dan ekonomi Islam merupakan perwujudan dari salah satu upaya itu. Upaya manusia dalam menafsirkan sepatutnya tidak kemudian membuat Islam, dalam hal ini Ekonomi Islam, menjadi hilang keabsahannya. Karena tentu saja penafsiran akan mengikuti kaidah-kaidah baku yang diyakini menjaga kesakralan Islam sebagai ajaran, kehendak dan kebenaran Tuhan


3. Karakteristik ekonomi Islam yang tidak hanya mengakomodasi kepentingan dunia tetapi juga kepentingan akhirat, membuat ekonomi Islam memiliki ruang lingkup dan pondasi keilmuan yang unik dan relative lebih kompleks/luas.


4. Ukuran-ukuran utility, happiness atau welfare ekonomi modern, banyak coba disepadankan dengan nilai/value added yang dibawa ekonomi Islam hingga Ekonomi Islam dinilai merupakan bagian atau cabang dari ilmu ekonomi modern yang telah ada, atau ekonomi Islam sering dihakimi sekedar menjadi upaya sia-sia, karena pada hakekatnya upaya itu hanya reinventing the wheel. Ukuran utility, happiness dan welfare dalam Islam memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh ekonomi modern:


a. Ruang lingkup atau kepentingan akhirat (hereafter), sehingga utility, happiness dan welfare harus mengacu pada definisi yang tepat/betul sesuai dengan ukuran-ukuran Islam dimana akhirat memiliki peran yang sangat krusial.


b. Keyakinan bahwa dunia hanyalah sementara dan menjadi tempat transit membuat ukuran-ukuran utility, happiness dan welfare memiliki kedalaman makna yang tidak sama dengan ukuran ekonomi modern.


Utility, happiness dan welfare tidak menjadi tujuan akhir dari usaha-usaha ekonomi, mengingat ekonomi telah dikurung dalam ruang keduniaan saja. Misalnya utility sepatutnya menjadi ukuran kepantasan untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi setelah mati. Atau happiness dan welfare hanya akan memiliki makna ketika ditujukan pada kondisi kehidupan setelah mati. Sehingga dunia diposisikan bukan sebagai tempat penikmatan, tetapi tempat usaha untuk melayakkan diri pada anugerah bahagia setelah mati. Dengan kata lain, didunia ekonomi tidak focus pada posisi penikmatan tetapi lebih concern dengan proses-proses usaha.


5. Ukuran-ukuran sciences dalam Islam seharusnya mempertimbangkan tujuan keilmuan yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sebagai agama, dimana unsure akidah, akhlak dan syariah menjadi tiga elemen mutlak yang harus terangkum dalam keilmuan Islam.


6. Scientific methodology yang selama ini menjadi filter tunggal untuk menyaring segala pengetahuan agar dinobatkan sebagai science, menjadi tidak fair untuk dijadikan alat mengukur tingkat scientific ekonomi Islam, ketika landasan, filosofi dan logika dalam membangun scientific methodology itu tidak sesuai dengan Islam. Scientific methodology relative lebih sesuai dengan keilmuan alam bukan ilmu tentang prilaku manusia. Prilaku manusia sangat tergantung pada paradigma berfikir, keyakinan dan karakter dasar/alami manusia. Contohnya, prilaku manusia terdidik berbeda dengan manusia tak terdidik, manusia beriman tidak sama dengan manusia yang tidak beriman, sehingga sebuah bentuk pengujian tertentu terhadap prilaku manusia akan memberikan hasil yang berbeda, jika model pengujian tertentu itu ditujukan pada dua kelompok manusia yang memiliki karakter berbeda.