Assalamualaykum...
Lama dan sudah jarang saya membuka blog ini. Tetapi Insya Allah komitmen untuk terus berbagi ilmu dan hikmah tetap akan saya lakukan. Terkadang saya ingin tahu apakah blog ini bermanfaat bagi pembaca di luar sana atau setidaknya masih dibaca oleh para pemerhati ekonomi Islam. Namun jika saya memikirkan itu, selalu saja ada lintasan fikiran yang mengingatkan saya untuk tidak terpengaruh dengan pertimbangan hasil, tetapi terus saja berkontribusi, bukankah ini menjadi "ladang" amal bagiku karena Allah mampukan. So, Bismillah...
Ali Sakti
Bogor, 5 April 2016
Selasa, 05 April 2016
Rabu, 24 Juni 2015
Tantangan Industri Keuangan Syariah Oleh Pakar Internasional
Prof. Dr. Volker
Nienhaus[1]
Dari krisis global yang terjadi, banyak pihak berharap
bahwa penerapan Islamic Finance dapat mencegah terjadinya krisis, karena dalam
operasional Islamic Financial Institution (IFI): (i) tidak ada interest-bearing debt contract; (ii) ada real asset
backing of finance; (iii) ada risk sharing antara financier dan entrepreneur serta; (iv) tidak ada debt
trading. Sehingga secara keseluruhan dalam Islamic Finance tidak ditemui
excessive leverage dan risk accumulation, melainkan superior systemic stability
(yg meliputi efficiency, stability dan justice). Dengan demikian melalui
Islamic Finance diharapkan akan terjadi peningkatan wealth. Pada praktek Islamic
Finance banyak ditemui structure products yang diklaim telah sharia compliance, namun pada dasarnya produk-produk tersebut tidak dapat
diterima secara umum. Tetapi beberapa Sharia Board dan Sharia Scholar mengakui ke shariahan produk
tersebut. Diantara produk-produk tersebut adalah: Tawarruq and Comodity
Murabahah, Collateralized Debt Obligations, Short Selling, Profit Rate Swaps
dan Total Return Swaps.
Pada kenyataannya ketika produk-produk Islamic Finance
tersebut diterapkan akan mengakibatkan terjadinya unrestricted liquidity
(Tawarruq and Comodity Murabahah), speculation (Collateralized Debt Obligations
dan Short Selling) dan sharia conversion (Profit Rate Swaps dan Total Return
Swaps), sehingga pada gilirannya tidak memberikan peningkatan wealth dan juga
dapat mengakibatkan systemic anomalies dan systemic vulnerability.
Implikasi dari kondisi di atas
dapat mengakibatkan arah perkembangan keuangan syariah tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Pada tahap awal akan terjadi Systemic Commingling, dimana Islamic
Finance berinteraksi dengan Conventional Finance, yang dilanjutkan dengan
Islamic Finance melakukan emulation (mimic / peniruan) akan produk-produk yang
ada di Conventional Finance. Pada tahap selanjutnya akan terjadi Systemic
Inclusion, dimana Islamic Finance berintegrasi dengan Conventional Finance,
sehingga terjadi absorption Islamic Finance dalam operasi Conventional Finance,
yang pada akhirnya sulit untuk membedakan antara produk Islamic Finance dan
produk Conventional Finance. Hal ini terjadi karena beberapa hal, seperti: (i) adanya
kompetisi dari bank-bank konvensional; dan (ii) adanya demand akan emulated
products, lebih tingginya profit dari structure products, sharia scholar yang
mengutamakan legalistic approach dari pada substansi ekonomi Islam dan
unfavouravble regulatory environment.
Sehubungan dengan hal tersebut
diatas untuk menjaga Islamic Finance tetap sesuai dengan butir 1, maka kedepan
perlu di pertahankan Systemic Coexistence dimana Islamic Finance tetap dapat
berinteraksi dengan Conventional Finance, namun dengan tetap menjaga perbedaan
yang ada (distinction). Systemic Coexistence dapat berlangsung dengan baik bila
adanya global liquidity management infrastucture, adanya non-discriminatory
regulations and tax rules dan corporate governance structure. Hal-hal yang
dapat mendorong dipertahankannya Systemic Coexistence adalah: comparative
disadvantage of emulation, demand for genuine Islamic financial innovations,
higher risk of leverage products, nilai-nilai syariah dan substansi ekonomi
Islam serta improved market and regulatory environment.
Dr. Muhammad
Nejatullah Siddiqi[2]
Siddiqi menyebutkan pandangannya
terhadap perkembangan industri keuangan syariah dunia sebagai berikut:
“Most of us have been busy
competing with conventional economics on its own terms, demonstrating how Islam
favors creation of more wealth, etc. We have had enough of that. It is time to
demonstrate how modern man can live a peaceful, satisfying life by shifting to
the Islamic paradigm that values human relations above material possessions”
Opini Siddiqi ini dengan sangat
jelas mengharapkan agar integrasi nilai-nilai syariah berupa akhlak Islami
cukup terlihat dalam praktek-praktek ekonomi syariah. Pertimbangan komersial
yang focus pada orientasi profit yang secara materi tidak mendominasi motivasi
aktifitas ekonomi syariah.
Dr. Mohammad Omar
Faruuq
Koreksi orientasi aktifitas
ekonomi, keuangan dan perbankan syariah dengan lebih rinci dikemukakan oleh
Faruuq. Faruuq menjelaskan sekaligus merekomendasikan peralihan orientasi
aktifitas ekonomi syariah:
1.
Dari legalism ke value orientation;
maksudnya orientasi nilai-nilai moral lebih dikedepankan dibandingkan orientasi
legalisasi hukum.
2.
Dari prohibition ke maqhasid orientation;
maksudnya orientasi atau pendekatan kemanfaatan ekonomi (maqhasid) lebih
diperhatikan dibandingkan pendekatan pelarangan.
3.
Dari form ke substance orientation;
maksudnya lebih mengutamakan substansi dibandingkan bentuk atau symbol-simbol.
4.
Dari micro-juristic ke holistic; maksudnya lebih
mengedepankan pendekatan menyeluruh daripada pendekatan parsial.
5.
Dari financialisation ke real economy orientation;
maksudnya mengutamakan orientasi aktifitas produktif ekonomi riil daripada
terbatas pada orientasi sektor keuangan semata.
6.
Dari risk avoidance ke risk sharing; maksudnya
industri harus menggunakan konsep berbagi risiko daripada konsep menghindari
risiko yang selama ini menjadi cirri kuat dari system konvensional, yaitu risk
transfer.
7.
Dari development neutral ke development relevant;
maksudnya pengembangan ekonomi syariah harus memperhatikan implikasi positif
pada pembangunan ekonomi dibandingkan mengabaikan pembangunan ekonomi karena
berorientasi pada sektor keuangan saja.
8.
Dari poverty neutral ke poverty sensitive;
maksudnya aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah harus memiliki
implikasi dalam pengentasan kemiskinan dibandingkan selama ini mengabaikan isu
pengentasan kemiskinan akibat orientasi hanya pada aktifitas keuangan
komersial.
9.
Dari debt ke equity orientation;
maksudnya aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah harus mengedepankan
orientasi bagi-hasil daripada orientasi aplikasi yang berbasis utang.
10.
Dari parochialism ke universalism; maksudnya
aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah jangan bersifat ekslusif hanya
terbatas untuk kalangan tertentu tetapi bersifat inklusif yaitu dapat
dimanfaatkan semua pihak.
[1] Prof. DR. Volker Nienhaus,
Islamic Finance and Financial Crisis: Implications for
Islamic Banking, International Seminar “Changing Landscape of Islamic Finance: Eminent
Challenges and Future Directions”, Khartoum, Sudan 5 April 2010.
[2] Muhammad Nejatullah Siddiqi dalam artikelnya Muhammad Fahim Khan, Islamic Science of
Economics: to be or not to be
Masih Layakkah Bank Syariah Untuk Diperjuangkan?
Saya tidak ingin memanjangkan argumentasi untuk menjawab pertanyaan pada judul diatas. Bagi saya memperjuangkan syariah bukan layak atau tidak layak, ini bukan masalah kita manusia begitu mulianya sehingga harus memilih-milah apa yang pantas atau tidak pantas untuk kita lakukan. Ini masalah kita manusia yang harus membuktikan diri pada Tuhan bahwa kita berusaha hadir pada setiap perbuatan baik, karena sejatinya kita sedang mencari posisi apakah kita layak untuk dicintai oleh Tuhan.
Jika Tuhan punya aturan pada semua sudut kehidupan, pada semua seluk beluk kejadian dan pada semua ruang dan waktu dimana kita ada di dalamnya, maka memperjuangkan tegaknya aturan itu bukan masalah apakah yang diperjuangkan itu layak atau tidak layak. Karena sesungguhnya yang benar adalah apakah kita layak terlibat dalam proses perjuangan itu.
Jadi, kembali pada pertanyaan di atas, pertanyaan itu menjadi keliru meski terlihat wajar. Bank syariah merupakan kemustian, perjuangan yang wajib dilakukan untuk memberikan jalan bagi manusia untuk bebas dari dosa pada urusan harta dan keuangan mereka.
Kekecewaan pada prakteknya saat ini bukanlah alasan bahkan sedikitpun tak pantas untuk dijadikan alasan. Kekurangan bukanlah kekeliruan yang kemudian membenarkan tindakan mengabaikan usaha perjuangan. Itu semua adalah peluang yang terbuka bagi mereka yang sudah bersedia mengorbankan semua yang dia punya untuk kerja-kerja kebaikan.
Jadi jika Bank syariah belum betul, maka betulkanlah. Jika belum besar, maka besarkanlah. Jika belum sempurna, maka sempurnakanlah. Saya tidak menulis untuk mereka yang manja, yang berdiri menunggu dipinggir medan kehidupan dimana sesekali mereka masuk ke medan hanya untuk menikmati fasilitas-fasilitas kehidupan. Saya sedang menulis untuk pejuang kehidupan, pejuang kebaikan, yang setiap waktunya sibuk melayani manusia lain. jika ia selesai pada satu projek kebaikan ia beralih pada projek kebaikan selanjutnya. Ia bahkan seringkali tidak pernah sempat menikmati hasil kerjanya.
wallahu a'lam..
Senin, 08 Desember 2014
Ekonomi Islam Sejauh Ini
di Indonesia ekonomi Islam masih belum menemukan redaksionalnya yang lebih "ilmiah", masih belum menemukan komunitasnya yang mampu memadukan militansi dan kedalaman ilmu, masih belum mampu memiliki metodologi yang mapan untuk menggali potensinya sebagai ilmu, sistem dan ideologi. dengan kondisi itu, ekonomi Islam masih berada di langit puja-puji karena kesakralan Islam-nya. ekonomi Islam belum mampu membusungkan dada karena logika-logika rasionalnya, manunjukkan dominannya sebagai paradigma ekonomi yang sangat masuk akal, menampilkan teori-teori yang kuat dan dalam menjawab kebingungan manusia dalam berekonomi, menyediakan model yang lengkap sebagai rujukan dalam membangun spot-spot aktifitas muamalah manusia dengan manusia dan komunitas dengan komunitas.
ekonomi Islam masih ada dalam hegemoni para followers yang belum cukup memiliki kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan pada ekonomi. para followers masih terpaku pada simbol-simbol Islam dalam ekonomi, yang seringkali mengantarkan mereka pada konflik saling mendebat simbol-simbol tersebut. pengusung perbankan syariah meremehkan aktifis zakat, pengusung dinar meremehkan perbankan syariah, aktifis zakat mengabaikan kampanye dinar, begitu seterusnya. mereka lebih nyaman meninggi-ninggikan panji-panji simbol itu daripada mencoba merangkai semua simbol menjadi suatu sistem terintegrasi yang mengantarkan mereka pada gambaran menyeluruh tentang ekonomi Islam.akibatnya para pakar yang terbentuk juga terbawa dalam lingkaran-lingkaran yang terpisah, menjadi pakar parsial ekonomi Islam.
metodologi mengeksplorasi keilmuan Islam pun masih kikuk antara tuntutan kemapanan metodologi ilmu modern dan nostalgia keagungan sejarah masa lampau. akibatnya hasil eksplorasi terlihat seperti tambal sulam sekedar menjawab masalah yang mengemuka tanpa memiliki pijakan pada filosofi yang mapan dan benar. dari pendekatan sejarah, logika matematis, sampai dengan pendekatan firman Tuhan, belum tertata dan disepakati dalam sebuah prosedur standard yang teruji.
tapi jangan khawatir, setidaknya masih ada yang bisa mengidentifikasi kelemahan ini, dan pasti akan ada golongan yang tampil untuk memperbaiki. evaluasi - perbaiki - evaluasi - perbaiki...
ekonomi Islam masih ada dalam hegemoni para followers yang belum cukup memiliki kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan pada ekonomi. para followers masih terpaku pada simbol-simbol Islam dalam ekonomi, yang seringkali mengantarkan mereka pada konflik saling mendebat simbol-simbol tersebut. pengusung perbankan syariah meremehkan aktifis zakat, pengusung dinar meremehkan perbankan syariah, aktifis zakat mengabaikan kampanye dinar, begitu seterusnya. mereka lebih nyaman meninggi-ninggikan panji-panji simbol itu daripada mencoba merangkai semua simbol menjadi suatu sistem terintegrasi yang mengantarkan mereka pada gambaran menyeluruh tentang ekonomi Islam.akibatnya para pakar yang terbentuk juga terbawa dalam lingkaran-lingkaran yang terpisah, menjadi pakar parsial ekonomi Islam.
metodologi mengeksplorasi keilmuan Islam pun masih kikuk antara tuntutan kemapanan metodologi ilmu modern dan nostalgia keagungan sejarah masa lampau. akibatnya hasil eksplorasi terlihat seperti tambal sulam sekedar menjawab masalah yang mengemuka tanpa memiliki pijakan pada filosofi yang mapan dan benar. dari pendekatan sejarah, logika matematis, sampai dengan pendekatan firman Tuhan, belum tertata dan disepakati dalam sebuah prosedur standard yang teruji.
tapi jangan khawatir, setidaknya masih ada yang bisa mengidentifikasi kelemahan ini, dan pasti akan ada golongan yang tampil untuk memperbaiki. evaluasi - perbaiki - evaluasi - perbaiki...
Minggu, 05 Oktober 2014
new episode of my only son
anak sulungku sudah tidak ada di rumah, dia sudah jauh di kediri sana. mencoba mencari ilmu di pondok pesantren yang hemat kami orang tuanya bermanfaat bagi pembentukan karakter dirinya. kami lakukan ini bukan karena tidak sayang padanya, justru karena kami sayang maka jalan ini harus dilakukan.
terlebih lagi saatnya menjadi tepat, ketika sesaat sebelum ia akil baligh, ia sudah berada ditempat yang akan mengajarkan bagaimana memahami Tuhan, perangkat-perangkat mengenal Tuhan, pelatihan ketaatan pada Tuhan dan lain sebagainya.
sehingga selepas sempurna akalnya (akil baligh) dia tahu harus bagaimana, memilih jalan untuk menjadi apa, bagaimana jalan itu ditempuh, dan yang terpenting ia sudah memiliki bekal yang cukup untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan terus dekat pada Tuhan.
ke pesantren bukan ingin membentuk dia menjadi ustadz, karena pendidikan disana bukan untuk itu. pesantren menjadi tempat yang tepat karena tempat itu ibarat "kepompong" bagi perubahan menuju kedewasaan dirinya.
tiap hari selalu basah lisan saya untuk mendoakan semua kebaikan, kemudahan dan kelancaran baginya, serta perlindungan yang sempurna dari Tuhan. semoga Allah jaga dia di ujung timur pulau Jawa sana.
terlebih lagi saatnya menjadi tepat, ketika sesaat sebelum ia akil baligh, ia sudah berada ditempat yang akan mengajarkan bagaimana memahami Tuhan, perangkat-perangkat mengenal Tuhan, pelatihan ketaatan pada Tuhan dan lain sebagainya.
sehingga selepas sempurna akalnya (akil baligh) dia tahu harus bagaimana, memilih jalan untuk menjadi apa, bagaimana jalan itu ditempuh, dan yang terpenting ia sudah memiliki bekal yang cukup untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan terus dekat pada Tuhan.
ke pesantren bukan ingin membentuk dia menjadi ustadz, karena pendidikan disana bukan untuk itu. pesantren menjadi tempat yang tepat karena tempat itu ibarat "kepompong" bagi perubahan menuju kedewasaan dirinya.
tiap hari selalu basah lisan saya untuk mendoakan semua kebaikan, kemudahan dan kelancaran baginya, serta perlindungan yang sempurna dari Tuhan. semoga Allah jaga dia di ujung timur pulau Jawa sana.
alhamdulillah, akhirnya...
alhamdulillah, akhirnya saya bisa lagi akses blog ini. sebelumnya berbulan-bulan tidak bisa akses karena terlupa passwords. semoga bisa maksimal kembali menuangkan ide dan sharing pemikiran.
Senin, 06 Januari 2014
kejujuran dalam ilmu
kejujuran ilmu, itu pokok ide tulisan ini. kejujuran ilmu bukan hanya jujur menyampaikan fakta pengetahuan tetapi secara mendasar ilmu yang baik akan menjaga pemiliknya untuk selalu jujur. ilmu dan kejujuran dengan begitu menjadi dua entitas yang saling menjaga. seperti saling menjaganya gunung dan lembah, kata dan makna, malam dan siang, cinta dan kasih sayang.
tulisan ini memang diinspirasi oleh film inside job yang saya lihat di youtube. mengejutkan bagi saya, ketika melihat professor-professor universitas terkenal larut dalam keserakahan industri keuangan yang meraksasa tanpa kendali. gelimang komisi yang melangit membutakan mata para guru besar itu, sampai-sampai mengangkangi kemahfumannya tentang apa itu ilmu ekonomi. buat anda yang belum pernah melihat film itu, selamat menikmatinya di youtube. akan anda lihat bagaimana laporan para guru besar itu tentang negara islandia yang mereka laporkan sehat namun beberapa hari setelahnya jatuh bankrut. ketika amerika bersiap terjun bebas dalam krisis keuangan terbesar setelah great depression, beberapa hari sebelumnya seorang guru besar yang dipercaya menjadi pembantu gubernur federal reserve, mengundurkan diri hanya karena alasan ingin merevisi buku ekonominya!!!
kejujuran untuk berkata benar dari ilmu yang benar, ilmu yang benar sepatutnya menjaga pemiliknya dalam kejujuran, semua itu tidak terlihat. yang disuguhkan malah sebuah fakta yang sangat pantas untuk dicibir. menyedihkan. pada saya, pertanyaan yang tak kalah pantas untuk disampaikan adalah, apakah ilmu yang mereka dapatkan itu benar? jika benar, kemana ilmu itu pergi?
sekali lagi ilmu dan kejujuran adalah dua entitas yang saling menjaga, mereka bersanding dan mengangkat pemiliknya pada derajad kemuliaan yang lebih tinggi. saya camkan kembali semua hikmah ini untuk diri saya. dan tentu untuk anda semua pencari ilmu dan yang sedang belajar jujur. ahlan.
tulisan ini memang diinspirasi oleh film inside job yang saya lihat di youtube. mengejutkan bagi saya, ketika melihat professor-professor universitas terkenal larut dalam keserakahan industri keuangan yang meraksasa tanpa kendali. gelimang komisi yang melangit membutakan mata para guru besar itu, sampai-sampai mengangkangi kemahfumannya tentang apa itu ilmu ekonomi. buat anda yang belum pernah melihat film itu, selamat menikmatinya di youtube. akan anda lihat bagaimana laporan para guru besar itu tentang negara islandia yang mereka laporkan sehat namun beberapa hari setelahnya jatuh bankrut. ketika amerika bersiap terjun bebas dalam krisis keuangan terbesar setelah great depression, beberapa hari sebelumnya seorang guru besar yang dipercaya menjadi pembantu gubernur federal reserve, mengundurkan diri hanya karena alasan ingin merevisi buku ekonominya!!!
kejujuran untuk berkata benar dari ilmu yang benar, ilmu yang benar sepatutnya menjaga pemiliknya dalam kejujuran, semua itu tidak terlihat. yang disuguhkan malah sebuah fakta yang sangat pantas untuk dicibir. menyedihkan. pada saya, pertanyaan yang tak kalah pantas untuk disampaikan adalah, apakah ilmu yang mereka dapatkan itu benar? jika benar, kemana ilmu itu pergi?
sekali lagi ilmu dan kejujuran adalah dua entitas yang saling menjaga, mereka bersanding dan mengangkat pemiliknya pada derajad kemuliaan yang lebih tinggi. saya camkan kembali semua hikmah ini untuk diri saya. dan tentu untuk anda semua pencari ilmu dan yang sedang belajar jujur. ahlan.
Langganan:
Postingan (Atom)