Senin, 03 Oktober 2011

Belajar Kebijakan Ekonomi dari Zakat

Ada satu pelajaran baik yang saya dapat dari Ustad Prof. Sanusi Uweis, ketika beliau menyampaikan khutbah Idul Fitri lalu di Masjid Istiqamah Balikpapan. Beliau menasehati pemimpin-pemimpin masyarakat pada semua tingkatan, kalau mengelola ummat itu seperti aturan dalam mengelola zakat.

Pengelolaan zakat itu distribusinya mendahulukan kepentingan pemberdayaan ekonomi dimana 50% distribusi zakat ditujukan untuk golongan ekonomi tidak mampu (fakir, miskin, gharimin dan budak). Setelah itu untuk kepentingan pemberdayaan sosial-budaya tercermin dari 37,5% distribusi zakat diperuntukkan bagi muallaf, fisabilillah dan ibnussabil. Dan yang terakhir, baru ditujukan untuk kepentingan manajemen para pemimpin, terlihat dari 12,5% distribusi zakat ditujukan untuk amil zakat.

Bagaimana dengan pemimpin-pemimpin bangsa ini? pemerintah saja mengakui, hampir 80% dari dari kebanyakan APBD di daerah-daerah ternyata terserap untuk gaji pegawai.

Menarik memang analogi yang dilakukan oleh Prof. Uweis ini, apalagi jika pelajarannya juga sampai pada spesifikasi pemberdayaan ekonomi ummat yang menyasar khusus dan definitif bagi kelompok masyarakat tidak mampu. Karena zakat substansinya menjadi alat utama agar masyarakat tak mampu tetap bisa ikut dalam aktifitas ekonomi. Ekonomi sebaiknya lebih memperhatikan kelompok masyarakat tersebut. Belajar dari ilmu kimia, dimana kecepatan reaksi kimia bergantung pada unsur yang paling lambat. Sehingga perubahan ekonomi pun begitu, kecepatan perubahannya bergantung pada kelompok masyarakat yang paling lambat “jalannya”.

Dakwah dan Nafkah

Ada seorang bapak yang bertanya bagaimana hukumnya zakat dari penghasilan dia yang didapatkannya dari bekerja di bank konvensional. Saya tidak bisa tersenyum mendengar pertanyaan ini, seperti respon saya pada pertanyaan-pertanyaan lain pada satu seminar beberapa waktu lalu. Saya tahu pertanyaan ini begitu sederhananya, tetapi jawabannya membuat orang yang ditanya berpikir panjang agar jawaban tidak “mengakali” kebenaran sekaligus tidak mengecewakan penanya.

Terlebih lagi bekerja di bank (konvensional) menjadi pekerjaan mayoritas bankir di negeri ini, bahkan ada kesan dari masyarakat pekerjaan ini prestisius, bonafid dan “mentereng”. Mau tidak mau jawaban diatas tadi harus disikapi dengan sangat berhati-hati. Jawaban tidak sepatutnya mematikan semangat mencari kebenaran dan melaksanakan kebenaran, tetapi tidak pula mengaburkannya atau malah membingungkan penanya.

Dengan harap-harap Allah bantu saya dalam menemukan urutan kalimat yang baik, menemukan rangkaian kata yang juga tepat, saya menjawab seperti kurang lebih seperti ini; jika Bapak sepakat dengan saya bahwa bunga bank itu sama dengan riba, maka yang penting untuk dilakukan pertama kali tentu adalah memastikan dulu nafkah bebas dari riba baru kemudian kita membahas tentang zakat.

Ya sulit bagi saya membahas zakat diatas sesuatu yang tidak dibenarkan oleh agama. Menjadi tidak elok jika nafkah riba dianggap sebagai rizki yang patut dikeluarkan zakatnya. Zakat hanya melekat pada harta yang baik. Untuk harta yang tidak baik maka lebih utama memastikan harta itu menjadi baik lebih dahulu.

Memang ajakan-jakan dakwah tidak sesederhana mengucapkannya, praktek amalnya tentu akan lebih susah dan terkadang membingungkan. Itulah mengapa amal menjadi penyempurna ilmu. Jika pemilik ilmu menjadi pelaku amal maka berkumpullah kebaikan pada orang itu. berkumpullah padanya komitmen, karakter dan kemauan yang kuat.

Saya pernah diundang untuk memberikan ceramah subuh di sebuah masjid di kompleks perumahan karyawan sebuah bank konvensional. Tentu materi yang saya sampaikan tidak jauh dari materi tentang praktek ekonomi dan keuangan dalam Islam. Dan ketika sesi tanya jawab ada jamaah yang bertanya tentang riba, ketika itu seingat saya, saya mencoba jawab dengan bahasa semoderat dan sesantun mungkin. Akhirnya pembahasan cukup dalam pada topik riba. Padahal diawal saya dengan sengaja menghindari topik yang sensitif itu mengingat karakter jamaah.

Selepas acara respon jamaah begitu positif, banyak jamaah yang masih berkonsultasi dan pengurus masjid meminta komitmen saya untuk bersedia diundang kembali dan mengisi sesi-sesi pengajian rutin di masjid tersebut. Tetapi saya yakin akan banyak pemikiran yang harus dipertimbangkan pengurus, mengingat materi saya yang secara eksplisit “menggoyang” keabsahan kerja nafkah para jamaah di kompleks itu. Dengan segala kelemahan yang saya punya dan kelemahan yang jamaah juga punya, interaksi itu terjadi pasti atas kehendak Allah SWT. Dan setelah beberapa tahun setelah pengajian itu, saya tidak pernah mendapat undangan dari pengurus Masjid kompleks itu. semoga ada hikmah.

Jumat, 30 September 2011

Sudah Sampai Dimana…

Setelah ini mau kemana lagi jalan perjuangan ini menuju? Cukupkah energy-ku menggerakkan perjuangan ini, mencapai harapan-harapannya, mewujudkan peristiwa dan takdir-takdir kejayaannya? Bukankah pejuang juga manusia yang seringkali berhenti bergerak karena kemalasan dan keletihan, karena ujian dan godaan, atau karena kecemasan dan kebingungan.

Kemalasan dan keletihan; energy boleh saja besar atau semangat boleh saja tinggi tetapi kemalasan seringkali mematikan kemauan dan keletihan membuat tambahan energy menjadi tidak bermanfaat. Sementara, ujian dan godaan tak jarang melupakan visi mengaburkan arah perjuangan. Sedangkan, kecemasan dan kebingungan menghilangkan keberanian, dan membuat gelap pandangan mata juga hati.

Oleh karenanya, modal besar lain yang sepatutnya dimiliki oleh seorang pejuang adalah kesabaran. Kesabaran itu kekuatan terdahsyat di alam semesta yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Kesabaran merupakan penyempurna kekuatan ilmu dan kekuatan iman (keyakinan). Sabar menjadi syarat pengunci dari criteria sukses untuk setiap usaha.

Mungkin kini sudah saatnya perjuangan Islam dipenuhi dan diisi oleh pejuang-pejuang yang sabar, bukan hanya pejuang-pejuang yang bersemangat tinggi dan berkompetensi tinggi. Perjuangan ekonomi Islam pun tidak luput dari kebutuhan itu. Terlebih lagi, karena pembangunan ekonomi Islam bukan hanya pembangunan fisik ekonomi tetapi juga pembangunan manusianya.

Menguji Keabsahan Pemikiran Ekonomi

Krisis keuangan global sejak bergulir tahun 2007-2008, terlepas dari kekacauan yang telah disebabkannya, cukup menarik untuk mencermati langkah-langkah penanggulangan dan mengamati respon ekonomi terhadap langkah-langkah tersebut. Karena pada dasarnya krisis ini menjadi wahana yang baik untuk menguji keabsahan dan keshahihan aliran-aliran pemikiran atau madzhab ekonomi yang ada.

Selama ini keabsahan dan keshahihan sebuah teori dalam ekonomi, umumnya di-challenge dengan hipotesa, baik menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan data masa lampau dengan rekayasa model yang bersandar pada parameter-parameter tertentu maupun menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan logika atau transmisi rasional yang bersandar pada fakta masa lalu dan perkiraan masa depan.

Hampir semua pemikiran atau madzhab ekonomi berusia pendek. Karena umumnya madzhab ekonomi muncul dan hidup karena satu anomaly, fenomena atau masalah ekonomi pada satu masa atau periode tertentu. Atau setidaknya madzhab akan berusia selama belum ada anomaly ekonomi baru yang mementahkannya, yang membuktikan bahwa madzhab tersebut keliru. Lihatlah bagaimana madzhab awal ekonomi hidup, diyakini dan diadopsi, madzhab klasik ekonomi. dengan punggawanya sang bapak ekonomi dunia, Adam Smith dengan ungkapan termasyurnya “invisible hand”.

Ide pokok madzhab klasik adalah keyakinan pada keampuhan market mechanism, dimana mekanisme invisible hand-nya dipercaya akan menyelesaikan gangguan-gangguan ekonomi dengan sendirinya. Bersandar pada keyakinan itu, maka konsekwensinya adalah kebijakan ekonomi sepatutnya dilakukan dengan tidak mengintervensi pasar. Biarkan pasar bekerja dan membenarkan apa yang salah, jika ada ketidakseimbangan maka dalam jangka panjang semuanya akan kembali seimbang.

Madzhab klasik seakan menjadi titik tolak munculnya madzhab yang lain. Madzhab klasik dinilai sebagai dasar pemikiran awal dari ekonomi modern yang memberikan gambaran besar lebih menyeluruh tentang mekanisme, hubungan sebab akibat, interaksi dan konsekwensi-konsekwensi ekonomi. Pemikiran yang menggambarkan ekonomi dengan transmisi sebab akibat pada berbagai aspeknya. Sehingga terlihat pola dan konsep ekonomi yang lebih tertata.

Tetapi ternyata kepercayaan pada madzhab klasik goyah atau bahkan hilang, dengan munculnya anomaly dahsyat yang bersifat massif terhadap ekonomi dunia, yaitu saat dunia mengalami depresi hebat pada tahun 1929-1930 (great depression). Ketika itu madzhab klasik tidak mampu memberikan solusi atas keterpurukan dunia. Klasik menganggap kondisi depresi sebuah keniscayaan system, pada waktunya (jangka panjang?) nanti ekonomi akan membaik kembali. Tetapi mungkin banyak yang tidak sabar dengan janji “jangka panjang” itu, sehingga akhirnya muncullah madzhab baru.

Muncullah madzhab baru yaitu madzhab Keynesian yang berawal dari pemikiran John Maynard Keynes. Madzhab ini muncul karena klasik gagal dan diperlukan logika berfikir baru. Dan memang madzhab baru ini (dianggap) berhasil memecahkan masalah depresi ekonomi hebat yang tidak bisa dijawab oleh klasik. Madzhab baru ini memiliki pendekatan yang berbeda atau bahkan cenderung bertolak belakang dengan keyakinan klasik. Keynesian berkeyakinan pemerintah harus intervensi pada pasar dalam rangka menjaga stabilitas, pasar tidak bisa dibiarkan sendirian, jangka waktu menuju seimbang tidak jelas berapa lamanya, oleh sebab itu madzhab Keynesian terkenal dengan ungkapan: “in the long-run we are all dead”. Begitulah selanjutnya madzhab baru ekonomi muncul sebagai respon atas kegagalan madzhab-madzhab sebelumnya dalam merespon masalah-masalah besar dari jalannya ekonomi.

Dari dua madzhab inilah kemudian muncul madzhab-madzhab turunan yang semakin memperkaya logika berfikir ekonomi konvensional modern. Meskipun mulai banyak madzhab baru tetapi pada dasarnya madzhab-madzhab tersebut dapat dikatakan memiliki inspirasi utama dari dua madzhab dasarnya, yaitu klasik dan Keynesian.jika ingin menyederhanakan dua madzhab itu menawarkan dua logika berfikir yang berbeda; klasik mengandalkan kekuatan pasar dimana kebijakan ekonomi bersandar pada kebijakan no intervention/no discretion, sedangkan Keynesian mengandalkan kebijakan intervensi/discretion.

Menariknya, setiap krisis ekonomi muncul maka krisis tersebut menjadi panggung bagi dua faksi besar madzhab itu untuk mengaku-aku bahwa madzhabnyalah yang benar. Dahulu masa pasca great depression seiring dengan rezim moneter bretton woods, madzhab Keynesian mengaku kejayaan madzhabnya dan menuding klasik sudah kadaluarsa. Sementara ketika dimulai liberalisasi perdagangan di bawah payung WTO, madzhab klasik mengatakan madzhabnyalah yang valid dan mendeklarasi kematian madzhab Keynesian.

Nah, krisis kali ini yang muncul secara marathon sejak tahun 2008, sepertinya berhasil melucuti keyakinan kita pada aliran-aliran pemikiran atau madzhab yang ada, krisis juga berhasil membingungkan pola-pola yang selama ini menjadi keyakinan banyak pakar. Pilihan pada pemikiran moneterist, keyakinan pada market mechanism-nya classic dan neo-classic, discretion-nya Keynesian dan new-keynesian, semuanya tidak mampu menjawab dengan baik masalah yang ada. Jikapun diterapkan, ekonomi merespon tidak seperti yang diharapkan. Jangan-jangan krisis kali ini menyerang pondasi logika ekonomi konvensional yang paling dasar, dimana pondasi itu menjadi landasan dan filosofi bersama dua faksi besar madzhab pemikiran ekonomi; klasik dan Keynesian. Jika memang begitu, tidak heran kalau kedua madzhab besar tadi tidak memiliki jawaban atas anomaly ekonomi kali ini.

Selasa, 27 September 2011

Proses Pembusukan Ekonomi Barat

Inikah akhir dari hegemoni ekonomi barat? Kekacauan ekonomi kini mampu mencapai jantung ekonomi dunia, memporak-porandakan Amerika Serikat dengan krisis keuangan yang berlarut-larut, melompat dari satu rekor keterpurukan yang satu keterpurukan berikutnya. Krisis ketidakpercayaan akibat kecurangan demi kecurangan pelaku ekonomi terhormat mereka, dari rating agency, akuntan public sampai fund manager.

Sementara itu, ketidakefektifan program-program penanggulangannya terus menambah kerumunan pengangguran dan semakin tersebar di penjuru negeri. Uang yang dihabiskan untuk program penanggulangan krisis dan kekacauan ekonomi terus mencetak rekor tersendiri dan semakin menguras uang rakyat, mengangkangi hak-hak wajib pajak khususnya kelompok masyarakat kelas menengah. Bank dan lembaga keuangan jumlahnya semakin menyusut, seperti pula kecenderungan susutnya size dan kontribusi pertumbuhan ekonomi Amerika.

Tidak heran selanjutnya akan dilihat dan dirasakan, pemerintah Amerika termasuk penduduknya semakin sensitive dengan isu-isu guncangnya ekonomi. Pemerintah tidak segan-segan mengeluarkan dana sebesar apapun demi mencegah semakin buruknya kepercayaan dunia pada peran Amerika sebagai mesin ekonomi dunia. Tetapi kemungkinan besar penduduknya akan semakin kritis dalam merespon langkah-langkah pemerintah, kerena sudah pasti mereka tidak ingin dikorbankan dalam situasi sulit seperti ini.

Pada tingkatan selanjutnya kekacauan ekonomi mau-tidak-mau akan memiliki wajah pada berbagai aspek kehidupan Amerika. Kekacauan ekonomi telah menyulut konflik di beberapa sisi Negara dan bangsa Amerika. Sehingga, pasarpun akhirnya akan mencermati apa yang terjadi pada semua aspek Amerika, khususnya kegaduhan politiknya, kepekaan social-budayanya serta fleksibilitas system hukum mereka. Yang jelas kekacauan ekonomi Amerika kini perlahan mampu mengendurkan tekanan politik-militer mereka terhadap dinamika dunia. Kini terlihat jelas beberapa negara sudah mulai berani secara terang-terangan tidak bersahabat dengan kemauan Amerika. Mungkin karena Amerika yang semakin “melemah” atau Negara mereka yang semakin “menguat” posisinya.

Pada saat yang sama organ vital lainnya dari hegemoni ekonomi barat adalah Eropa, dimana kini kawasan itu tengah meradang, “demam tinggi”, akibat krisis utang yang diyakini lebih parah dari yang saat ini Nampak di permukaan. Krisis utang menyebabkan beberapa Negara raksasa ekonomi Eropa ada pada posisi illiquid dan insolvent, dengan rasio utang mereka yang begitu mencengangkan: umumnya melebihi atau mendekati 100%!

Krisis utang Eropa kini betul-betul menguji kesolidan Eropa sebagai kawasan yang berkomitmen menjadi masyarakat ekonomi terkemuka dan paling sejahtera di muka bumi. Namun tanda-tanda kesolidan masih samar-samar terlihat, kesetiakawanan yang diharapkan ada dalam mengatasi krisis utang anggota Negara-negara kawasan ekonomi Eropa sebanyak 17 negara itu ternyata sulit didapatkan. Kecenderungan ini entah karena memang kemampuan yang tidak ada karena mungkin hamper semua Negara anggota menutupi kegentingan ekonomi yang serupa atau memang mereka lebih focus pada ekonomi nasional mereka masing-masing. Alasan kedua saja sudah menjadi nilai yang negative bagi pasar apalagi jika memang alasan pertama yang lebih shahih.

Wajar jika Negara Eropa lain tidak ingin senasib dengan Islandia dan Yunani yang kini bangkrut secara ekonomi. Tetapi kecemasan yang amat sangat sudah menghinggapi Portugal, Spanyol dan Italia, sementara selevel ekonomi Prancis saja, tiga bank besarnya telah di-downgrade credit rating-nya. Betul-betul awan hitam sedang menggelayuti langit Eropa, dan awannya semakin menghitam, membuat kawasan itu semakin gelap suasana dan atmosfer ekonominya.

IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang dahulu didirikan untuk menjaga krisis keuangan tahun 1915-1944 tak berulang di Eropa, tampaknya seperti lumpuh tak berdaya. Setelah menangani Yunani, IMF terkuras “energy”-nya. Bahkan kini China yang pendapatan per-kapitanya jauh-jauh dibawah negara-negara kawasan Eropa, terlihat berperan sebagai Negara “donor’ dengan membeli surat utang negara-negara Eropa, mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek mereka.

Keterpurukan ekonomi Amerika dan Eropa yang kini masih mendominasi ekonomi-politik dunia, jika tak mampu diatasi tentu diyakini banyak kalangan akan menyeret ekonomi dunia dalam jurang krisis yang lebih dalam. Tidak ada perekonomian yang terisolasi atau imun terhadap krisis. Wajah ekonomi setelah itu tentu tidak akan sama lagi seperti dulu. Sekali lagi, kini menjadi pertanyaan klasik adalah; apakah krisis utang Eropa yang ada lebih buruk dari yang terlihat. Jika iya, rasanya tidak ada resep yang manjur menuju pada perbaikan ekonomi, kecuali menunggu saja kebusukan menyeluruh dan sempurna dari ekonomi ini. Harapannya, dari kebusukan itu akan muncul organisma baru ekonomi, yang lebih berhati-hati, lebih sehat dan kuat.ekonomi seperti apa itu?

Jika masih mungkin diperbaiki, tentu ada biaya yang harus ditanggung, relakah Negara-negara terlanjur kaya itu menerima konsesinya? Seberapa besar pengorbanan yang mereka dapat berikan? Sebelum sampai ke pertanyaan itu saja, kita harus melalui satu pertanyaan sederhana yang maha sulit, yaitu; bagaimana memperbaiki kekacauan ini? Perbaiki sistemnyakah, instrument kebijakan, regulasi, infrastruktur, atau moral pelakunya? Artikel ini tidak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Artikel ini hanya ingin menyampaikan sebuah awareness, bahwa we are in a big trouble!

Saya jadi ingat buku Paul Kennedy; “raise and fall of world’s emporium” yang menjabarkan data sejarah dari berbagai kerajaan/negara terkemuka dunia yang kemudian tersimpulkan bahwa keruntuhan hegemoni mereka diawali oleh kehancuran ekonominya. Jika pun apa yang terjadi saat ini adalah sebuah tahapan awal kehancuran hegemoni barat, mungkin kita harus mulai belajar untuk bersabar dan ikhlas membiarkan proses pembusukan ekonomi barat berlangsung sempurna.

Kamis, 22 September 2011

apa bedanya dengan lotere?

saat menerima email seorang sahabat yang begitu bersemangat mengomentari prospektifnya produk berkebun emas, terlontar celetukan saya seperti ini:

"kalo berkebun emas terus berharap panen rupiah, apa bedanya dengan lotere?"

baru saja saya terima kabar harga emas cenderung menurun, teman-teman mulai ribut; apakah saatnya ambil posisi beli, atau menunggu dulu berita selanjutnya?

ah temen saya sudah nasehatin; woy kalo mau beli emas buat simpenan anak sekolah ato buat jaga-jaga naik haji gih dah beli. tapi kalo mo beli karena ngarep dapet durian montong jatuh sebab ngarep harganya naek lagi biar bisa panen rupiah entar-entaran, baekan kagak beli dah, mending ente sedekah tauan. hahaha.. tapi saya jadi mikir lama karena nasehat itu, substansinya tidak sesederhana kalimatnya.

...mikir

eh kalo nih, tiba-tiba ada khabar dari langit entah dengan cara bagaimana, bahwa dalam 2 jam kedepan "harga" syurga jatuh murah, apa manusia juga seribut merespon fluktuasi harga emas ya?

Ramadhan kemarin "harga" syurga jatuh murah loh, ga cuma 2 jam, tapi satu bulan penuh. apa ada yang ribut dan berbondong-bondong ke "outlet penjualannya"? ternyata masjid cuma 2-3 malam saja padatnya setelah itu sepi "customer". apalagi 10 malam terakhir, padahal saat itu harganya sudah pake harga cuci gudang. DING!

...tambah mikir

Rabu, 21 September 2011

empati..

Buat saudara-saudara yang peduli dengan kondisi orang lain dan masih memiliki ruang pemakluman yang lebih luas, mohon tidak menelepon pada jam-jam shalat fardhu. Saat 20-30 menit setelah adzan shalat fardhu. Karena boleh jadi saat itu orang yang ditelepon mungkin sedang shalat berjamaah di masjid atau tempat-tempat shalat lainnya.

Jikalau beliau terlupa mematikan HP-nya, maka panggilan telepon pasti mengganggu shalat beliau atau mungkin orang-orang disekitar beliau. Panggilan telepon itu mengganggu kekhusyu'an, membuyarkan konsentrasi karena mungkin menimbulkan penasaran, kejengkelan dan gangguan lainnya.

Tidak menelepon pada saat-saat shalat fardhu, mudah2an menjadi amal shaleh ringan kita yang bernilai besar dihadapan Allah SWT, karena dengannya kita membuat orang lain dapat beribadah dengan lebih baik kepada Allah SWT. Syukron.