Selasa, 27 Maret 2012

Kehormatan dan Jalan Hidup

Satu kali sempat saya lihat mantan pejabat penting lewat tak jauh dari saya. Beliau menggunakan batik, masih gagah seperti dulu tetapi nampak ada yang “berbeda” dari penampilannya. Beliau tidak lagi selalu didampingi asisten pribadi dan satu satuan pengamanan. Dengan tas “pasar” yang dikaitkan ke bahu dan dikepit diketiaknya, beliau menjadi sangat tidak “beliau.” Ada yang tak manis dilihat (saudara malaysian mungkin akan mengatakan, “macam ada yang tak kena la”). Sempurna kesan itu ketika saya memperhatikan beliau berjalan kaki sendirian ke samping gedung menuju gerbang.

Ya, saya terbiasa melihat beliau dengan kelengkapan fasilitas sebagai seorang pejabat penting. Memiliki lift kantor pribadi, dikerubuti bawahan-bawahannya, pengawalan setiap saat, sampai-sampai mungkin beliau tidak pernah menyentuh knop pintu mobilnya, karena akan selalu ada orang yang melakukan itu. Begitu tidak lazim melihat penampakan beliau ketika itu. seakan-akan kehormatan dan kewibawaannya sirna dihapus oleh tampilan yang tidak biasa seperti itu. Hal inilah yang membuat saya memikirkan lebih lama. Apa yang salah? Siapa yang salah?

Mungkin saya yang salah sampai berfikir seperti itu, atau mungkin hanya saat itu saja penampilan beliau tidak tepat untuk dimaklumi. Tetapi yang menarik hati saya untuk tenggelam lebih dalam bersama aliran fikir dibenak dan rasa adalah mungkin karena memang kehormatan dan kewibawaan beliau hanya direpresentasikan oleh kelengkapan fasilitas sebagai seorang pejabat. Kehormatan dan kewibawaan beliau ada hanya karena jabatan dan seremoni-seremoni protokoler yang memang sudah dikondisikan untuk memposisikan beliau sebagai manusia terhormat. Ya kehormatan dan kewibawaan hanya melekat pada jabatan bukan pada manusianya.

Namun kalau dilihat dan difikirkan lebih luas, fenomena ini lazim saja sepertinya. Skenario karir hidup formal kebanyakan orang baik yang tengah berlangsung maupun yang dicita-citakan, ya seperti inilah umumnya. Skenario hidup yang diawali mampu kuliah di perguruan tinggi ternama, bekerja di perusahaan bonafid dan menduduki jabatan puncak, atau menjadi pengusaha sukses dan menjadi boss dimana-mana. Tetapi setelah itu pensiun and suddenly you become nobody.

Seperti itukah jalur hidup yang akan menjadi sejarah kehidupan saya? Ditengah keasyikan saya merenung dan berimajinasi, kalimat tanya inilah yang muncul. Kebingungan saya tidak lama kok untuk menjawab pertanyaan ini. karena memang saya sangat tahu jawabannya. Tulisan saya yang secara paralel sedang saya susun rasanya tepat menjawab pertanyaan ini. Saya tegaskan di tulisan itu, saya ini aktifis, kerja-kerja saya yang utama adalah menegakkan nilai-nilai dengan amal-amal yang memposisikan diri sebagai “pelayan” manusia lain (kerja dakwah). Sehingga karir formal (kerja nafkah) saya hanya menjadi salah satu kerja dalam kerja utama itu. Dan yang terpenting karir hidup yang saya pilih ini tidak mengenal pensiun!

Bagaimana dengan kehormatan dan kewibawaan? Duh maaf, saya sangat sadar “karir hidup” ini tidak menyediakan itu. Tetapi jikapun memang ada saya akan minta kehormatan itu bukan datang dari penduduk bumi (manusia) tetapi dari penduduk langit. Namun sebenarnya berlebihan pula kalau kehormatan menjadi motivasi karir hidup ini atau menjadi sangat tak elok jika saya menuntut-nuntut mendapatkan itu. Biarlah itu menjadi ranah dan wewenang Pemiliki Segala Kehormatan. Saya lakukan karir hidup ini karena Tuhan yang perintahkan dan jika ada yang lebih dari itu, saya lakukan ini karena saya tidak ingin sekejap pun merasakan dahsyatnya siksa neraka (maafkan saya bunda Rabi’ah Al Adawiyah, saya tak bisa mulia seperti bunda).

Nah, kini yang sulit adalah bagaimana menjaga diri untuk fokus pada orientasi dan konsentrasi pada visi karir hidup ini. Ditengah gelombang cobaan dan badai ujian hidup yang datang bertubi-tubi disertai dengan angin sepoi-sepoi nafsu yang terus menggoda, tentu penjagaan diri untuk fokus dan konsentrasi begitu luar biasa susahnya. Dan salah satu jalan untuk fokus dan konsentrasi adalah membebaskan diri dari kelaziman skenario hidup formal yang ada, membebaskan diri dari parameter-parameter kenyamanan hidup yang artificial, tidak terikat dan bergantung pada fasilitas hidup yang memabukkan serta keluar dari rutinitas seremoni dan protokoler materialistik.

Loh, kalau seperti itu, gaya hidup yang bagaimana itu? Ya ga tau, saya belum memiliki bayangan seperti apa, saya jalani saja dengan pedoman nilai-nilai yang saya yakini. Dengan nilai-nilai itu sebagai karir hidup saya, mungkin saya berharap akan ada kelaziman baru dalam menjalani hidup. Tapi mungkin ada baiknya tidak perlu terlalu banyak bertanya, mari kita bereksperimen saja. Just do it! Wallahu a’lam..

Senin, 26 Maret 2012

Gundah..

Masih belum ikhlas dengan keputusan yang sudah anda ambil, karena anda masih terbayang-bayang pilihan lain yang terus menari di benak anda? Masih belum terima dengan kejadian baru lalu, meski sudah diingatkan itu takdir Tuhan yang ketentuannya telah ditetapkan sebelum anda lahir? Masih berandai-andai, kalau anda sepatutnya bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik, kalau saja anda tidak memilih apa yang sudah dipilih dan melakukan apa yang tidak pernah anda lakukan?

Entah yang menjadi objek kebimbangan serta kegundahan anda itu adalah karir, harta, jabatan, jalan dan gaya hidup, atau mungkin jodoh. Intinya kebimbangan dan kegelisahan itu mengganggu maju dan lajunya jalan hidup anda saat ini. Gangguan itu menghabiskan energy yang seharusnya dapat digunakan untuk mencapai hal lain. Gangguan itu dapat membuat kerja-kerja yang ada didepan mata menjadi tak maksimal, baik proses maupun orientasinya. Dan pada akhirnya gangguan ini akan menghasilkan kebimbangan dan kegelisahan baru, memunculkan gangguan-gangguan selanjutnya.

Saya tidak ingin menggurui anda, tidak juga ingin memberikan resep jitu agar kebimbangan dan kegundahan itu hilang. Karena saya menulis ini sebenarnya mungkin sedang ingin membagi kebimbangan dan kegundahan versi saya atas apa yang saya alami. Saya ungkapkan ini dalam rangka mendapatkan visi lain atau perspektif yang berbeda. Karena kok lama-lama semakin mengganggu ya, kok hal yang seperti ini selalu ada dan muncul ya? Jangan-jangan, ada yang salah dengan cara saya hidup? Masa sih saya selalu melakukan kesalahan yang sama?

Sesuatu yang selalu muncul itu biasanya masalah hidup, ujian, cobaan atau bala penggugur dosa. Ups interupsi, saat paragraf ini belum selesai saya tulis, tadi saya shalat dzuhur di satu masjid, dan subhanallah, sepatu saya hilang. Sambil duduk lama di tempat penyimpanan sepatu itu saya tersenyum. Sungguh sangat banyak alasan yang membenarkan Tuhan memberikan musibah ini, apalagi jika dilihat dari beberapa dosa yang sudah saya lakukan. Saya sangat berharap, dosa saya gugur karena kehilangan ini. Tapi sempat nakal juga fikiran saya tadi, karena di benak saya sampai keluar kalimat; “iya mau banget gugurin dosa, tapi jangan dengan sepatu itu.”

Hhh.. kalau saja saya tidak pakai sepatu yang itu, seandainya saya titipkan ke tukang semir sepatu, jika saja saya tidak terlalu lama di masjid. Hey, hati-hati fikiran ini kalau diteruskan bisa-bisa bermuara pada penyesalan takdir, mengeluh pada kehendak Tuhan atau bahkan menyalahkan apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Padahal (untuk kesekian kalinya) gelisah, gundah, khawatir, sakit, musibah dan bencana itu menggugurkan dosa. Dan ketetapan-ketetapan itu sudah merupakan skenario terbaik Tuhan untuk kebaikan diri kita sendiri. Semua ini ada dalam remote-Nya. Kadang kita bisa terima ketetapan itu, tetapi seringkali kita tidak mampu mengikhlaskannya.

Well, seperti itulah hari-hari, berganti dari satu cobaan ke cobaan yang lain, berganti dari satu gundah ke gundahan yang lain. Mudah-mudahan pergantian itu hikmahnya adalah bergugurnya dosa yang satu ke dosa yang lain. Dan semoga kecepatan pengguguran dosa lebih cepat dari penumpukan dosa baru.

Jadi, mulailah belajar untuk siap menerima apa yang tidak kita harapkan. Luaskan ruang pemakluman di serambi hati untuk peristiwa-peristiwa yang tidak indah untuk dinikmati. Selanjutnya belajarlah untuk tidak panik dan cepat menikmati apa-apa yang memang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Minggu, 25 Maret 2012

Tidur..

Tuhan sediakan malam memang untuk mengumpulkan energy. Energy yang kemudian berharga bagi aktifitas selanjutnya disiang hari. Tapi yang ingin saya soroti dan renungkan lebih lama bukanlah malam, namun aktifitan rutin malam, yaitu tidur. Pernah memikirkan tentang tidur sedikit lebih dalam? Atau selama ini kita lewati saja sebagai sebuah rutinitas? Sampai mungkin suatu saat nanti kita akan lebih memahami tidur ketika kita sudah tak mampu tidur karena sakit tertentu.

Coba sedikit fikirkan, tidur adalah tempat dimana pelakunya lepas dari semua tata-tertib dan hukum. Bahkan Tuhan mengakui itu, sampai-sampai Beliau tidak berikan dosa bagi orang tidur yang melewatkan ibadah-ibadah wajib-Nya (asalkan setelah bangun ia tunaikan kewajiban itu). Mungkin hak istimewa itu merefleksikan kondisi pelakunya, dimana dirinya saat tidur tidak memiliki kendali penuh atas dirinya, sehingga tidak layaklah ia dibebani sesuatu semacam dosa atas sesuatu yang ia tidak bisa control.

Begitulah tidur, disediakan Tuhan bagi manusia untuk sedikit rehat. Sehingga, tidur ternyata juga menjadi wahana anugerah untuk manusia dari Tuhan. Tidur merupakan bentuk nyata kasih sayang yang tak putus-putus dari Tuhan, tidak terikat dan tergantung apakah manusia itu bersyukur atau bermaksiat, mengenal dan tahu siapa Tuhannya atau tak kenal dan tak mau tahu. Kenikmatan tidur akan diberikan baik bagi yang beriman maupun yang bajingan.

Rabu, 21 Maret 2012

perang yang selalu ada

Pagi ini saya ingin melankolis. Melihat keluar jendela ruang kerja saya, nampak gedung pencakar langit yang berjejal mencoba menutupi pandangan saya pada gunung salak di ujung cakrawala sana. Langit nampak sangat biru meski awan berlapis dengan berbagai macam jenis berusaha menggenapkan panorama. Apa yang indah? Pemandangannyakah? Atau sesuatu dibalik itu?

Ya, saya merasa bukan apa yang tanpak itu indah, tetapi sesuatu dibalik itu yang membuat hati tertunduk dan bergumam pujian. Gunung dan lembah diatur sedemikian rupa, pohon dan awan ditata dengan variasi warna dan bentuknya, tak lupa matahari memberikan komposisi cahaya secukupnya, maka indahlah apa yang nampak dimata kita. Tetapi siapa yang mengatur? Siapa yang menata? Siapa pula mencukupkan komposisi, sehingga indah tertangkap oleh mata?

Gunung dan lembah tak tahu bahwa dia indah, pohon dan awan bahkan tidak peduli dengan keindahan, apalagi mentari yang tahunya hanya diam ditempatnya. Siapa yang menginginkan ini semua? Siapa yang berkehendak?

Bukan jawaban pertanyaan itu yang menjadi hikmah tulisan ini, tetapi kesadaran manusia untuk mau menjadi seperti gunung dan lembah itulah pelajarannya, menjadi pohon, awan dan matahari yang ikhlas diposisikan oleh Tuhan ditempat terbaik dan untuk kebaikan mereka sendiri. Sehingga semuanya menjadi adonan pemandangan yang harmoni dan indah untuk dipandangi.

Ya, pelajaran tentang penyerahan diri pada Tuhan, totalitas dan tanpa syarat. Kini saya pandangi diri saya lewat monitor komputer yang belum lagi saya hidupkan. Mampukah saya, karena ego saya tak kalah ngotot menuntut agar keinginannya dipenuhi, ia tak mau kalah dengan ikhlas yang sudah sampai di akal. Saya tahu setelah ini selalunya ego dan ikhlas akan berperang di hati, kita lihat saja siapa yang menang pada peristiwa-peristiwa sepanjang hari ini.

Selasa, 20 Maret 2012

Perbankan Syariah Tetangga: Pelajaran Berharga

Beberapa waktu lalu kami, Bang Cecep, Mbak Nyimas dan saya, dikunjungi tamu 2 dosen dari University of Malaya, Kuala Lumpur. Sebelumnya saya diberitahu oleh Bang Cecep kalau ada dua alumni IIUM, malaysian citizen yang ingin silaturahim, dan ketika berjumpa barulah saya tahu selain memang beliau berdua alumni IIUM (Universiti Islam Antarbangsa, UIA-biasa kami menyebutnya), mereka juga merupakan staf pengajar di UM-KL. Dan maksud mereka adalah untuk melakukan wawancara seperti apa pelaksanaan Islamic Auditing di industri perbankan syariah Indonesia.

Yang menarik perhatian saya bukanlah proses islamic auditing itu, tetapi beberapa informasi yang kami dapatkan beberapa style pengaturan perbankan syariah di Malaysia yang dilakukan oleh bank sentral yaitu Bank Negara Malaysia (BNM). Saya dengan sengaja ikut menggali informasi tersebut karena memang selama ini informasi terkait itu (best practices) sukar didapatkan.

Informasi pertama yang menarik adalah kebingungan para akademisi memahami produk-produk perbankan syariah Malaysia bahwa produk tersebut berbeda dengan konvensional, khususnya ketika dilihat dari sisi pandang ilmu akuntansi. Prinsip bahwa produk keuangan/perbankan syariah harus memiliki underlying transaction menjadi sukar dipahami untuk produk-produk perbankan syariah Malaysia, karena memang underlying-nya hanya terkesan mem-benchmark saja. Contohnya, produk mutakhir kijang emas (mungkin sama dengan produk murabaha emas di Indonesia), seorang nasabah yang ingin membeli hanya mendapatkan sertifikat kepemilikan sesuai jumlah yang ditransaksikan (ukuran yang digunakan adalah jongkong emas, dimana 1 jongkong sama dengan 100 gram), sementara ada tidaknya emas itu tidak jelas, karena jual-beli selanjutnya cukup menggunakan sertifikat tersebut.

Praktek serupa juga dilakukan pada beberapa produk klasik seperti murabaha atau bahkan produk sukuk di pasar keuangan. Sehingga disimpulkan bahwa kebanyakan produk perbankan syariah Malaysia bersifat paper based product. Hal ini diakui kedua kolega dari Malaysia ini, karena kondisi tersebut menyulitkan mereka dalam mengajarkan keuangan Islam dimana prinsip-prinsipnya secara substansial berbeda sekali dengan praktek yang dilakukan oleh industri. Terlebih lagi akuntansi (syariah) sebagai ilmu terapan (applied sciences) memang berharus sampai pada teknis penerapannya, dan akan menjadi tidak lucu kalau pada penerapannya tidak ditemukan perbedaan antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional dalam mengenali praktek keuangan syariah dengan keuangan konvensional.

Informasi kedua yang tidak kalah menarik adalah kontribusi akademisi yang minim dalam memberikan masukan, usulan dan kritisi pada pengembangan dan pengaturan perbankan syariah Malaysia. Selain karena media atau forum yang disediakan terbatas, style bank sentral yang begitu dominan membuat peran akademisi bersifat selected bagi mereka yang memang mendukung arah dan orientasi kebijakan pengembangan bank sentral (pemerintah?). Di Indonesia kondisi ini sudah sejak awal dihindari, atau bahkan dapat dikatakan bahwa pengembangan perbankan syariah memiliki pendekatan yang sebaliknya, yaitu membuka sebesar-besarnya peran akademisi dalam berkontribusi.

Pendekatan research based regulation tentu menuntut varian kajian dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang tinggi untuk mendapatkan satu set regulasi yang baik, selain mendapat pandangan practicability-nya dari praktisi perbankan. Peran akademisi selama ini diakomodasi dalam setiap hearing draft ketentuan, focus group discussion TOR dan hasil Kajian, sebagai konsultan atau co-writter dalam penyusunan kajian dan forum riset perbankan syariah yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Pendekatan ini sangat wajar mengingat pula sensitifitas dan tuntutan masyarakat yang tinggi terhadap kepatuhan syariah dari aplikasi perbankan syariah di tanah air. Atas kondisi itulah, pengembangan menggunakan pendekatan bottom-up ini betul-betul mempengaruhi orientasi dan arah kebijakan pengembangan industri perbankan syariah di Indonesia.

Tetapi perlu diakui, kelemahan pendekatan bottom-up ini sangat bergantung pada antusiasme pasar dalam membesarkan pasar dan derajat keberpihakan pemerintah dalam memperoleh fasilitas-fasilitas untuk akselerasi pengembangannya. Namun positifnya adalah proses pengembangan yang relatif terjaga secara sistem untuk in-line denganprinsip syariah dan teori keilmuan.

Di akhir pertemuan kedua kolega dari Malaysia itu antusias sekali untuk bisa berdiskusi lebih lanjut. Bahkan mereka berharap untuk bisa aktif dalam forum-forum akademisi di Indonesia. Well, semoga Allah SWT selalu beri petunjuk pada semua upaya ini, semoga apa yang salah segera diperbaiki dan yang telah benar dimudahkan pelaksanaannya.

Kamis, 15 Maret 2012

Jembatan Mikro dan Makro Ekonomi dalam Ekonomi Islam

Sudah menjadi pengetahuan umum dan menjadi masalah klasik ilmu ekonomi, bahwa ilmu ekonomi mikro dan makro dipisahkan oleh jurang teori dan logika. Dan jurang itu hingga kini belum dapat dijembatani oleh sebuah transmisi model ekonomi yang selama ini menjadi kekuatan pembelajaran pada masing-masing ilmu ekonomi tersebut. Sepintas akan terlihat bahwa basis analisis makro dan mikro ekonomi begitu berbeda. Meskipun banyak pakar akan memaksakan kesan saling melengkapi diantara keduanya, tetapi keduanya akan berbeda dalam memandang masalah ekonomi dan lucunya secara umum keduanya seakan-akan memiliki tujuan yang berbeda. Masa sih?

Mikro ekonomi dominan bicara tentang prilaku individual yang berorientasi pada pemaksimalan kepuasan dan keuntungan, dari prilaku ekonomi (konsumen dan produsen) sampai prilaku pasar (deman dan supply). Sementara pada makro ekonomi akan banyak bicara tentang dinamika ekonomi negara dengan orientasi pembangunan (pendapatan nasional), kesejahteraan (tingkat kesempatan kerja termasuk pemerataan) dan kestabilan sistem (tingkat harga dan laju inflasi. Namun dilihat dari dua pembahasan yang ada di mikro dan makro dengan kaca mata lebih dalam, akan terlihat ketidaksinkronan orientasi keduanya. Betul secara besaran variabel instrumen mikro dan makro terlihat berjenjang dan korelatif, tetapi jika dianalisis orientasi instrumen tadi akan terlihat tidak ada korelasinya, bahkan cenderung paradoksial.

Ketika instrumen makro bicara tentang upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan pencapaian stabilitas ekonomi dengan basis analisis makro (kolektif), mikro ternyata bicara tentang kepentingan individual dalam pemaksimalan kepuasan dan keuntungan yang relatif tidak peduli dengan pencapaian kolektif tadi. Dinamika makro ekonomi tentu akan menjadi lancar dan optimal ketika langkah-langkah kolektif berjalan sesuai dengan visi dan orientasi mikro ekonomi. Namun realitanya akan sulit dicapai jika melihat nature ilmu mikro ekonomi, yang visi dan orientasinya lebih bersifat individualistik. Contoh sederhana, bagaimana men-sinkronkan teori utility mikro ekonomi dengan misi wealth and income distribution-nya makro ekonomi?

Yang juga menarik, meski banyak membahas prilaku individual (baik perseorangan maupun unit bisnis), pada himpunan ilmu mikro tidak akan ditemukan pembahasan filosofi prilaku ekonomi seperti nilai-nilai hidup yang diyakini mampu mempengaruhi tingkat preferensi ekonomi, misalnya nilai akhlak dan moral atau nilai agama dan keyakinan. Pembahasan prilaku individu terkesan betul-betul bersandar pada human nature (fitrah) manusia, tanpa memperhitungkan faktor-faktor yang dapat men-shape human nature, seperti agama dengan nilai-nilai akhlak dan moralnya.

Boleh jadi disinilah letak jurang antara mikro dan makro ekonomi. Sekaligus, disinilah pula letak jembatan yang sepatutnya ada atau dibangun agar mikro dan makro menjadi satu teori yang tidak bisa dipisahkan atau bahkan sampai berkorelasi paradok secara orientasi. Nah, inti dari tulisan ini adalah sekedar ingin menawarkan bahwa dalam perspektif ekonomi Islam, jurang itu tidak ada, atau mungkin dapat secara moderat saya katakan ada jembatan antara mikro dan makro ekonomi, yaitu nilai Islam itu sendiri. Islam memiliki akidah dan akhlak yang lengkap untuk menjadi nilai bagi prilaku ekonomi pada ranah mikro ekonomi dan nilai-nilai itu harmonis dengan guidance syariah pada ranah makro ekonominya. Islam baik mikro dan makro menuntun ekonomi untuk konsisten dengan nilai dan parameter ekonomi yang bersifat kolektif. Kepentingan kolektif mendominasi aktifitas mikro maupun makro. Secara sederhana, instrumen yang melekatkan itu misalnya zakat, dimana zakat pada satu sisi mempengaruhi prilaku individual maupun pasar di level mikro dan mempengaruhi konstelasi ekonomi negara pada level makro.

Rabu, 07 Maret 2012

Kurva Indiferens dalam Ekonomi Islam


Ketika ingin memahami teori prilaku ekonomi, biasanya pada bagian awal akan disuguhkan penjelasan mengenai teori marginal utility function. Teori ini mencoba menjelaskan logika kepuasan seseorang yang akan selalu coba dimaksimalkan dan dapat berubah bergantung pada kemampuan orang tersebut. Kepuasan yang dilambangkan dengan unit utility (manfaat) dikembangkan secara paralel oleh William Stanley Jevons (1871), Karl Menger (1871), Leon Walras (1874) dan Alfred Marshall (1874 – meski bukunya baru dipublikasi tahun 1890).

Teori utility menyebutkan bahwa total utility (kepuasan) akan selalu bertambah dengan bertambahnya konsumsi suatu barang, tetapi penambahan (marginal) utility-nya pada titik tertentu akan semakin berkurang terhadap konsumsi barang tersebut. Meski begitu teori ini dipandang masih memiliki kelemahan karena; (i) kepuasan merupakan hal yang sangat subjektif sekali sehingga tidak dapat dikuantitatifkan; (ii) tidak berlaku untuk semua barang, misalnya barang yang dipakai sekali dan berusia panjang seperti rumah dan sejenisnya; dan (iii) sepatutnya mempertimbangkan faktor waktu, karena waktu secara signifikan menentukan tingkat kepuasan.

Teori utility ini memang cenderung berguna memahami prilaku ekonomi di sisi konsumsi. Namun karena aspek konsumsi begitu mendominasi dinamika ekonomi, teori utility otomatis menjadi krusial posisinya dalam ilmu ekonomi (mikro). Preferensi konsumen menggunakan teori ini relatif diseragamkan, artinya meski teori ini berbasis individual (bukan kolektif) setiap individual dinilai memiliki parameter sama untuk menilai kepuasan.

Namun ketika kelemahan pertama dari teori ini (subjektifitas sebuah kepuasan) ingin didalami, maka pada masa selanjutnya muncul pula teori utility yang menggunakan pendekatan indiferens. Pendekatan ini secara garis besar ingin mengatakan bahwa setiap orang dapat saja memiliki tingkat kepuasan yang sama tetapi berbeda kombinasi barang yang dikonsumsi. Nah titik-titik kombinasi barang yang berbeda namun memiliki tingkat kepuasan yang sama inilah yang disebut dengan kurva indiferens (kurva tingkat kesukaan/kepuasan yang sama). Teori ini dipelopori oleh Sir John R Hicks dalam bukunya Value and Capital (1939).

Berdasarkan teori utility menggunakan pendekatan indiferens ini, naik dan turunnya kepuasan dihubungkan dengan kemampuan beli (purchasing power) dari seorang konsumen, sehingga faktor yang menentukan kepuasan dalah hal ini adalah pendapatan (income-M) dan harga barang (price-P). Dan satu hal yang juga penting adalah kurva indiferens juga menjelaskan prilaku konsumen yang relatif akan rela berkorban lebih banyak untuk mendapatkan sedikit barang lain ketika konsumen telah memiliki barang itu dalam jumlah yang relatif banyak. Kecenderungan inilah yang disebut marginal rate of subtitution. Dan ini lah yang menjelaskan bentuk cembung kurva indiferens, dimana kedua ujungnya mendekati nol. Tetapi secara substansi teori utility tidak berubah, teori ini tetap berbasis individual dengan parameter konsumsi barang yang bersifat material. Bagaimana teori ini dipandang menggunakan perspektif Islam?

Tentu sebelum sampai pada teknis penjelasan menggunakan formula dan kurva, perlu dipahami secara mendalam filosofi prilaku ekonomi khususnya konsumen yang menggunakan nilai-nilai Islam. Moral Islam mengajarkan bahwa kepuasan seseorang dibangun tidaklah berbasis individual tetapi kolektif. Filosofi ini bersumber dari axiom yang diinspirasi oleh hadits “tidak beriman seseorang ketika ia bisa tidur nyenyak sementara ada tetangganya yang kelaparan.” Dengan filosofi ini kepuasan seseorang bukan hanya ditentukan oleh konsumsi pribadi dirinya tetapi juga belanja amal shaleh (charity-good deeds) bagi orang lain yang membutuhkan.

Jika ingin menjelaskan filosofi ini menggunakan instrumen bantu, mungkin dapat dilakukan menggunakan skema budget constrain dan kurva indiferensnya Hicks (1939). Namun perlu disesuaikan ukuran-ukuran pemuasannya. Misalnya kini kombinasi barang yang keduanya material diganti menjadi kombinasi barang kebutuhan dengan belanja amal shaleh. Dengan penyesuaian ini, nilai utama Islam berupa iman dapat dimasukkan dalam fungsi preferensi konsumen yang menentukan kombinasi barang dan amal shaleh yang ingin didapatkan. Iman yang semakin meningkat maka konsumsi akan cenderung membanyak pada belanja amal shaleh dari pada barang. Tetapi penurunan belanja barang (sebagai trade-off/kompensasi dari peningkatan belanja amal shaleh) akan terhenti pada titik minimum kebutuhan dasar (basic needs).

Dari skema ini akan banyak informasi yang didapatkan terkait prilaku konsumsi/ekonomi menggunakan perspektif Islam ini. Misalnya belanja amal shaleh ini akan berimplikasi pada penyediaan kesempatan pada masyarakat dhuafa untuk memiliki purchasing power, yang digambarkan dengan munculnya budget constrain baru dalam skema tersebut. Hal ini bermakna pula bahwa prilaku berbasis kolektif ini memang bertujuan untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk aktif dalam ekonomi. Atau dengan kata lain konsep ini ingin menjelaskan bahwa prilaku itu bertujuan memfasilitasi kesulitan sebanyak mungkin orang dhuafa, agar mereka tetap tidak terhambat secara ekonomi fungsi penghambaannya kepada Allah, ketika ada tuntutan-tuntutan ibadah ditengah kesulitan hidup mereka.

Namun pertanyaan selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah, apakah marginal rate of substitution yang ditunjukkan kurva indiferens akan tetap sama jika kombinasi dua barang material dirubah menjadi kombinasi barang material dan amal shaleh? Apakah dengan jumlah amal shaleh yang sudah banyak seseorang akan willing berkorban lebih banyak amal shaleh untuk mendapatkan sedikit barang material? Rasanya dengan iman yang selalu haus dengan amal shaleh instead of barang material, marginal rate of subtitution dalam perspektif Islam mungkin tidak akan sama. Sehingga kurva indiferens-nya tidak akan cembung khususnya pada pilihan belanja amal shaleh.

Masih perlu banyak perenungan dan analisis. Tetapi akan sangat berharga hasil perenungan dan analisis tersebut dalam memahami bentuk-bentuk ideal ekonomi yang ingin diwujudkan dalam bangunan ekonomi Islam ini. Selamat merenung.