Rabu, 24 Juni 2015

Tantangan Industri Keuangan Syariah Oleh Pakar Internasional


Prof. Dr. Volker Nienhaus[1]

Dari krisis global yang terjadi, banyak pihak berharap bahwa penerapan Islamic Finance dapat mencegah terjadinya krisis, karena dalam operasional Islamic Financial Institution (IFI): (i) tidak ada interest-bearing debt contract; (ii) ada real asset backing of finance; (iii) ada risk sharing antara financier dan entrepreneur serta; (iv) tidak ada debt trading. Sehingga secara keseluruhan dalam Islamic Finance tidak ditemui excessive leverage dan risk accumulation, melainkan superior systemic stability (yg meliputi efficiency, stability dan justice). Dengan demikian melalui Islamic Finance diharapkan akan terjadi peningkatan wealth. Pada praktek Islamic Finance banyak ditemui structure products yang diklaim telah sharia compliance, namun pada dasarnya produk-produk tersebut tidak dapat diterima secara umum. Tetapi beberapa Sharia Board dan Sharia Scholar mengakui ke shariahan produk tersebut. Diantara produk-produk tersebut adalah: Tawarruq and Comodity Murabahah, Collateralized Debt Obligations, Short Selling, Profit Rate Swaps dan Total Return Swaps.

Pada kenyataannya ketika produk-produk Islamic Finance tersebut diterapkan akan mengakibatkan terjadinya unrestricted liquidity (Tawarruq and Comodity Murabahah), speculation (Collateralized Debt Obligations dan Short Selling) dan sharia conversion (Profit Rate Swaps dan Total Return Swaps), sehingga pada gilirannya tidak memberikan peningkatan wealth dan juga dapat mengakibatkan systemic anomalies dan systemic vulnerability.

Implikasi dari kondisi di atas dapat mengakibatkan arah perkembangan keuangan syariah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pada tahap awal akan terjadi Systemic Commingling, dimana Islamic Finance berinteraksi dengan Conventional Finance, yang dilanjutkan dengan Islamic Finance melakukan emulation (mimic / peniruan) akan produk-produk yang ada di Conventional Finance. Pada tahap selanjutnya akan terjadi Systemic Inclusion, dimana Islamic Finance berintegrasi dengan Conventional Finance, sehingga terjadi absorption Islamic Finance dalam operasi Conventional Finance, yang pada akhirnya sulit untuk membedakan antara produk Islamic Finance dan produk Conventional Finance. Hal ini terjadi karena beberapa hal, seperti: (i) adanya kompetisi dari bank-bank konvensional; dan (ii) adanya demand akan emulated products, lebih tingginya profit dari structure products, sharia scholar yang mengutamakan legalistic approach dari pada substansi ekonomi Islam dan unfavouravble regulatory environment.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas untuk menjaga Islamic Finance tetap sesuai dengan butir 1, maka kedepan perlu di pertahankan Systemic Coexistence dimana Islamic Finance tetap dapat berinteraksi dengan Conventional Finance, namun dengan tetap menjaga perbedaan yang ada (distinction). Systemic Coexistence dapat berlangsung dengan baik bila adanya global liquidity management infrastucture, adanya non-discriminatory regulations and tax rules dan corporate governance structure. Hal-hal yang dapat mendorong dipertahankannya Systemic Coexistence adalah: comparative disadvantage of emulation, demand for genuine Islamic financial innovations, higher risk of leverage products, nilai-nilai syariah dan substansi ekonomi Islam serta improved market and regulatory environment.


Dr. Muhammad Nejatullah Siddiqi[2]

Siddiqi menyebutkan pandangannya terhadap perkembangan industri keuangan syariah dunia sebagai berikut:

“Most of us have been busy competing with conventional economics on its own terms, demonstrating how Islam favors creation of more wealth, etc. We have had enough of that. It is time to demonstrate how modern man can live a peaceful, satisfying life by shifting to the Islamic paradigm that values human relations above material possessions”

Opini Siddiqi ini dengan sangat jelas mengharapkan agar integrasi nilai-nilai syariah berupa akhlak Islami cukup terlihat dalam praktek-praktek ekonomi syariah. Pertimbangan komersial yang focus pada orientasi profit yang secara materi tidak mendominasi motivasi aktifitas ekonomi syariah.

Dr. Mohammad Omar Faruuq

Koreksi orientasi aktifitas ekonomi, keuangan dan perbankan syariah dengan lebih rinci dikemukakan oleh Faruuq. Faruuq menjelaskan sekaligus merekomendasikan peralihan orientasi aktifitas ekonomi syariah:

1.       Dari legalism ke value orientation; maksudnya orientasi nilai-nilai moral lebih dikedepankan dibandingkan orientasi legalisasi hukum.
2.       Dari prohibition ke maqhasid orientation; maksudnya orientasi atau pendekatan kemanfaatan ekonomi (maqhasid) lebih diperhatikan dibandingkan pendekatan pelarangan.
3.       Dari form ke substance orientation; maksudnya lebih mengutamakan substansi dibandingkan bentuk atau symbol-simbol.
4.       Dari micro-juristic ke holistic; maksudnya lebih mengedepankan pendekatan menyeluruh daripada pendekatan parsial.
5.       Dari financialisation ke real economy orientation; maksudnya mengutamakan orientasi aktifitas produktif ekonomi riil daripada terbatas pada orientasi sektor keuangan semata.
6.       Dari risk avoidance ke risk sharing; maksudnya industri harus menggunakan konsep berbagi risiko daripada konsep menghindari risiko yang selama ini menjadi cirri kuat dari system konvensional, yaitu risk transfer.
7.       Dari development neutral ke development relevant; maksudnya pengembangan ekonomi syariah harus memperhatikan implikasi positif pada pembangunan ekonomi dibandingkan mengabaikan pembangunan ekonomi karena berorientasi pada sektor keuangan saja.
8.       Dari poverty neutral ke poverty sensitive; maksudnya aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah harus memiliki implikasi dalam pengentasan kemiskinan dibandingkan selama ini mengabaikan isu pengentasan kemiskinan akibat orientasi hanya pada aktifitas keuangan komersial.
9.       Dari debt ke equity orientation; maksudnya aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah harus mengedepankan orientasi bagi-hasil daripada orientasi aplikasi yang berbasis utang.
10.   Dari parochialism ke universalism; maksudnya aplikasi ekonomi, keuangan dan perbankan syariah jangan bersifat ekslusif hanya terbatas untuk kalangan tertentu tetapi bersifat inklusif yaitu dapat dimanfaatkan semua pihak.



[1] Prof. DR. Volker Nienhaus, Islamic Finance and Financial Crisis: Implications for Islamic Banking, International Seminar “Changing Landscape of Islamic Finance: Eminent Challenges and Future Directions”, Khartoum, Sudan 5 April 2010.
[2] Muhammad Nejatullah Siddiqi dalam artikelnya Muhammad Fahim Khan, Islamic Science of Economics: to be or not to be

Masih Layakkah Bank Syariah Untuk Diperjuangkan?

Saya tidak ingin memanjangkan argumentasi untuk menjawab pertanyaan pada judul diatas. Bagi saya memperjuangkan syariah bukan layak atau tidak layak, ini bukan masalah kita manusia begitu mulianya sehingga harus memilih-milah apa yang pantas atau tidak pantas untuk kita lakukan. Ini masalah kita manusia yang harus membuktikan diri pada Tuhan bahwa kita berusaha hadir pada setiap perbuatan baik, karena sejatinya kita sedang mencari posisi apakah kita layak untuk dicintai oleh Tuhan.

Jika Tuhan punya aturan pada semua sudut kehidupan, pada semua seluk beluk kejadian dan pada semua ruang dan waktu dimana kita ada di dalamnya, maka memperjuangkan tegaknya aturan itu bukan masalah apakah yang diperjuangkan itu layak atau tidak layak. Karena sesungguhnya yang benar adalah apakah kita layak terlibat dalam proses perjuangan itu.

Jadi, kembali pada pertanyaan di atas, pertanyaan itu menjadi keliru meski terlihat wajar. Bank syariah merupakan kemustian, perjuangan yang wajib dilakukan untuk memberikan jalan bagi manusia untuk bebas dari dosa pada urusan harta dan keuangan mereka. 

Kekecewaan pada prakteknya saat ini bukanlah alasan bahkan sedikitpun tak pantas untuk dijadikan alasan. Kekurangan bukanlah kekeliruan yang kemudian membenarkan tindakan mengabaikan usaha perjuangan. Itu semua adalah peluang yang terbuka bagi mereka yang sudah bersedia mengorbankan semua yang dia punya untuk kerja-kerja kebaikan.

Jadi jika Bank syariah belum betul, maka betulkanlah. Jika belum besar, maka besarkanlah. Jika belum sempurna, maka sempurnakanlah. Saya tidak menulis untuk mereka yang manja, yang berdiri menunggu dipinggir medan kehidupan dimana sesekali mereka masuk ke medan hanya untuk menikmati fasilitas-fasilitas kehidupan. Saya sedang menulis untuk pejuang kehidupan, pejuang kebaikan, yang setiap waktunya sibuk melayani manusia lain. jika ia selesai pada satu projek kebaikan ia beralih pada projek kebaikan selanjutnya. Ia bahkan seringkali tidak pernah sempat menikmati hasil kerjanya.

wallahu a'lam..

Senin, 08 Desember 2014

Ekonomi Islam Sejauh Ini

di Indonesia ekonomi Islam masih belum menemukan redaksionalnya yang lebih "ilmiah", masih belum menemukan komunitasnya yang mampu memadukan militansi dan kedalaman ilmu, masih belum mampu memiliki metodologi yang mapan untuk menggali potensinya sebagai ilmu, sistem dan ideologi. dengan kondisi itu, ekonomi Islam masih berada di langit puja-puji karena kesakralan Islam-nya. ekonomi Islam belum mampu membusungkan dada karena logika-logika rasionalnya, manunjukkan dominannya sebagai paradigma ekonomi yang sangat masuk akal, menampilkan teori-teori yang kuat dan dalam menjawab kebingungan manusia dalam berekonomi, menyediakan model yang lengkap sebagai rujukan dalam membangun spot-spot aktifitas muamalah manusia dengan manusia dan komunitas dengan komunitas.

ekonomi Islam masih ada dalam hegemoni para followers yang belum cukup memiliki kedalaman pengetahuan dan keluasan wawasan pada ekonomi. para followers masih terpaku pada simbol-simbol Islam dalam ekonomi, yang seringkali mengantarkan mereka pada konflik saling mendebat simbol-simbol tersebut. pengusung perbankan syariah meremehkan aktifis zakat, pengusung dinar meremehkan perbankan syariah, aktifis zakat mengabaikan kampanye dinar, begitu seterusnya. mereka lebih nyaman meninggi-ninggikan panji-panji simbol itu daripada mencoba merangkai semua simbol menjadi suatu sistem terintegrasi yang mengantarkan mereka pada gambaran menyeluruh tentang ekonomi Islam.akibatnya para pakar yang terbentuk juga terbawa dalam lingkaran-lingkaran yang terpisah, menjadi pakar parsial ekonomi Islam.

metodologi mengeksplorasi keilmuan Islam pun masih kikuk antara tuntutan kemapanan metodologi ilmu modern dan nostalgia keagungan sejarah masa lampau. akibatnya hasil eksplorasi terlihat seperti tambal sulam sekedar menjawab masalah yang mengemuka tanpa memiliki pijakan pada filosofi yang mapan dan benar. dari pendekatan sejarah, logika matematis, sampai dengan pendekatan firman Tuhan, belum tertata dan disepakati dalam sebuah prosedur standard yang teruji.

tapi jangan khawatir, setidaknya masih ada yang bisa mengidentifikasi kelemahan ini, dan pasti akan ada golongan yang tampil untuk memperbaiki. evaluasi - perbaiki - evaluasi - perbaiki...    

Minggu, 05 Oktober 2014

new episode of my only son

anak sulungku sudah tidak ada di rumah, dia sudah jauh di kediri sana. mencoba mencari ilmu di pondok pesantren yang hemat kami orang tuanya bermanfaat bagi pembentukan karakter dirinya. kami lakukan ini bukan karena tidak sayang padanya, justru karena kami sayang maka jalan ini harus dilakukan.

terlebih lagi saatnya menjadi tepat, ketika sesaat sebelum ia akil baligh, ia sudah berada ditempat yang akan mengajarkan bagaimana memahami Tuhan, perangkat-perangkat mengenal Tuhan, pelatihan ketaatan pada Tuhan dan lain sebagainya.

sehingga selepas sempurna akalnya (akil baligh) dia tahu harus bagaimana, memilih jalan untuk menjadi apa, bagaimana jalan itu ditempuh, dan yang terpenting ia sudah memiliki bekal yang cukup untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan terus dekat pada Tuhan.

ke pesantren bukan ingin membentuk dia menjadi ustadz, karena pendidikan disana bukan untuk itu. pesantren menjadi tempat yang tepat karena tempat itu ibarat "kepompong" bagi perubahan menuju kedewasaan dirinya.

tiap hari selalu basah lisan saya untuk mendoakan semua kebaikan, kemudahan dan kelancaran baginya,  serta perlindungan yang sempurna dari Tuhan. semoga Allah jaga dia di ujung timur pulau Jawa sana.

alhamdulillah, akhirnya...

alhamdulillah, akhirnya saya bisa lagi akses blog ini. sebelumnya berbulan-bulan tidak bisa akses karena terlupa passwords. semoga bisa maksimal kembali menuangkan ide dan sharing pemikiran.

Senin, 06 Januari 2014

kejujuran dalam ilmu

kejujuran ilmu, itu pokok ide tulisan ini. kejujuran ilmu bukan hanya jujur menyampaikan fakta pengetahuan tetapi secara mendasar ilmu yang baik akan menjaga pemiliknya untuk selalu jujur. ilmu dan kejujuran dengan begitu menjadi dua entitas yang saling menjaga. seperti saling menjaganya gunung dan lembah, kata dan makna, malam dan siang, cinta dan kasih sayang.

tulisan ini memang diinspirasi oleh film inside job yang saya lihat di youtube. mengejutkan bagi saya, ketika melihat professor-professor universitas terkenal larut dalam keserakahan industri keuangan yang meraksasa tanpa kendali. gelimang komisi yang melangit membutakan mata para guru besar itu, sampai-sampai mengangkangi kemahfumannya tentang apa itu ilmu ekonomi. buat anda yang belum pernah melihat film itu, selamat menikmatinya di youtube. akan anda lihat bagaimana laporan para guru besar itu tentang negara islandia yang mereka laporkan sehat namun beberapa hari setelahnya jatuh bankrut. ketika amerika bersiap terjun bebas dalam krisis keuangan terbesar setelah great depression, beberapa hari sebelumnya seorang guru besar yang dipercaya menjadi pembantu gubernur federal reserve, mengundurkan diri hanya karena alasan ingin merevisi buku ekonominya!!!

kejujuran untuk berkata benar dari ilmu yang benar, ilmu yang benar sepatutnya menjaga pemiliknya dalam kejujuran, semua itu tidak terlihat. yang disuguhkan malah sebuah fakta yang sangat pantas untuk dicibir. menyedihkan. pada saya, pertanyaan yang tak kalah pantas untuk disampaikan adalah, apakah ilmu yang mereka dapatkan itu benar? jika benar, kemana ilmu itu pergi?

sekali lagi ilmu dan kejujuran adalah dua entitas yang saling menjaga, mereka bersanding dan mengangkat pemiliknya pada derajad kemuliaan yang lebih tinggi. saya camkan kembali semua hikmah ini untuk diri saya. dan tentu untuk anda semua pencari ilmu dan yang sedang belajar jujur. ahlan.








Outlook Perbankan Syariah Indonesia: Menyongsong Otorisasi OJK


Ali Sakti

Melihat perkembangan industri perbankan syariah nasional terakhir, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati, diantaranya otoritas industri yang baru yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pencapaian market share psikologis industri 5% dan dimulainya periode krusial untuk persiapan implementasi mandat UU No 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan liberalisasi pasar regional Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jika dilihat secara sejarah industri perbankan syariah pada dasarnya terbagi menjadi 3 periode besar pertumbuhan, yaitu periode inisiasi dimana berdiri pertama kali bank syariah di Indonesia tahun 1992, periode pengembangan ditunjukkan dengan munculnya pelaku baru baik berupa Bank Umum Syariah (BUS) maupun Unit Usaha Syariah (UUS) sejak tahun 2000 dan periode pemapanan ditandai dengan disahkannya UU Perbankan Syariah tahun 2008. Ditandai dengan disahkannya UU No 21 tahun 2011 tentang OJK, kini industri ini akan memasuki periode baru dimana otoritas industri akan beralih dari Bank Indonesia kepada OJK, dan secara resmi peralihan itu akan dimulai tahun 2014.

Pada periode pertama hingga tahun 2000, tidak ada petumbuhan yang signifikan dari industri perbankan syariah, karena memang indusustrinya belum terbangun, dimana didalamnya hanya ada pelaku tunggal yaitu Bank Muamalat Indonesia. Namun prestasi bank syariah pertama tersebut yang mampu bertahan dengan baik pada masa krisis keuangan 1997-1998 ditambah dengan tuntutan masyarakat yang begitu tinggi, membuat keran kebijakan dan regulasi terbuka untuk muncul bank syariah baru pada tahun 2000. Sejak itu Industri perbankan syariah nasional memasuki periode kedua yaitu periode perkembangan, dimana muncul 2 BUS baru dan 3 UUS. Dapat dikatakan periode pengembangan adalah era UUS mengingat pertambahan UUS yang cukup menonjol dari 3 UUS tahun 2000 menjadi 26 UUS pada tahun 2008. Selanjutnya pesatnya pertumbuhan industri yang mampu tumbuh lebih dari dua kali lipat dari pertumbuhan perbankan nasional, memancing perhatian pemerintah untuk memapankan industri ini dengan munculnya UU Perbankan Syariah yang telah lama ditunggu. Industri pun merespon kemapanan ini dengan menaikkan status (spin-off) bank-bank syariah dari bentuk UUS menjadi BUS. Periode pemapanan ini ditandai dengan perubahan komposisi BUS-UUS dari 3 BUS dan 28 UUS menjadi 6 BUS dan 25 UUS. Saat ini komposisinya  telah berkembang menjadi 11 BUS dan 23 UUS dengan asset yang telah menembus lebih dari Rp 200 triliun (per Oktober 2013).

Dengan konstelasi seperti itu, menarik melihat dinamika yang akan terjadi pada tahun 2014. Diyakini bahwa pertumbuhan dan atmosfer ekonomi makro tahun 2014 akan lebih baik dari tahun ini. Banyak lembaga ekonomi baik domestik maupun internasional termasuk Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5-6% dengan tingkat inflasi yang relatif terkontrol pada kisaran 4,5 plus-minus 1%. Kestabilan ekonomi domestic tentu menjamin irama positif pertumbuhan industri perbankan syariah nasional. Bank Indonesia pada tanggal 16 Desember lalu telah mengeluarkan outlook perbankan Syariah 2014, dimana diperkirakan secara moderat pertumbuhan industri berdasarkan asetnya sebesar 19% - 29%. Perkiraan ini memang terkesan lebih pesimis dibandingkan dengan pertumbuhan dalam satu tahun terakhir yang mencapai rata-rata 38% dengan pertumbuhan terendah 34% pada bulan Januari dan tertinggi 46% pada bulan Mei. Dengan kondisi yang relatif sama, sebenarnya ruang pertumbuhan industri perbankan syariah nasional masih cukup terbuka ada di kisaran 30-35%. Namun dengan asumsi bahwa tahun 2014 merupakan tahun peralihan otoritas perbankan dari BI ke OJK, dimana industri perbankan khususnya dan industri keuangan nasional secara umum akan lebih terfokus pada pembenahan kelembagaan, sehingga implikasinya diperkirakan tidak ada kebijakan yang signifikan yang akan diambil untuk mengakselerasi pertumbuhan industri lebih tinggi.

Dengan demikian, sebagai konsekwensi yang juga wajar, maka diharapkan pembenahan kelembagaan meliputi pembenahan pondasi dasar yang dibutuhkan oleh industri perbankan syariah nasional, yaitu kebutuhan mendesak akan master-plan pengembangan industri perbankan syariah nasional. Momentum penyatuan kewenangan regulasi industri keuangan Indonesia dibawah satu payung OJK seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk memperoleh sebuah grand master-plan pengembangan system keuangan nasional yang kuat dan focus pada kemanfaatan maksimal bagi perekonomian Indonesia. Terlebih lagi OJK memiliki amanah tambahan dengan disahkannya UU No. 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM), maka sempurna pengawasan industri keuangan nasional yang dilakukan oleh OJK, dari industri keuangan mikro yang melayani segmen masyarakat usaha mikro-kecil sampai dengan industri keuangan menengah besar (dominan oleh perbankan dan pasar modal) yang melayani segmen masyarakat usaha menengah dan besar.

Menghadapi periode krusial untuk implementasi UU Perbankan Syariah dimana tahun 2023 seluruh pelaku perbankan syariah harus berbentuk BUS dan pemberlakukan liberalisasi keuangan atas kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2020 (khusus sektor keuangan), perlu mendapat perhatian yang lebih dari OJK. Kesiapan regulasi dan kebijakan yang menciptakan lingkungan industri yang kondusif, memfasilitasi pemenuhan kebutuhan SDM yang kompeten, kelengkapan infrastruktur yang mendorong pelayanan menyeluruh bagi semua segmen usaha dan mendorong kinerja dan jangkauan pelayanan lembaga keuangan pada seluruh segmen masyarakat usaha Indonesia. OJK masih memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan itu semua. Namun kebutuhan yang paling mendesak untuk segera disediakan adalah tersedianya grand master-plan pengembangan industri keuangan nasional. Tentu master-plan pengembangan industri tersebut disusun secara terencana dengan sistematis dan terukur. Sejauh ini dokumen resmi terkait ini sudah sering didiskusikan, baik berupa Blueprint Pengembangan Perbankan Syariah, Arsitektur Perbankan Indonesia (API) maupun Arsitektur Sistem Keuangan Indonesia (ASKI), namun road-map tersebut belum menjadi platform bersama yang secara resmi berlaku dandipahami dengan baik sehingga menyatukan visi dan strategi teknis pengembangan industri. Hal ini tentu menjadi tantangan awal bagi OJK. Sebagai lembaga otoritas dari hampir meliputi semua industri dalam system keuangan nasional, OJK tentu sangat membutuhkan road-map pengembangan industri.

Dengan demikian, tahun 2014 menjadi tahun yang didominasi oleh upaya konsolidasi industri keuangan khususnya industri perbankan syariah. Konsekwensi hukum dari berlakunya UU OJK harus diikuti dengan penyesuaian UU Perbankan termasuk UU Perbankan Syariah yang akan menjadi amanah OJK. Tantangan berat pengembangan industri keuangan syariah termasuk perbankan syariah didalamnya, memang akhirnya terletak pada harmonisasi kebijakan dan regulasi yang diintegrasikan dalam satu payung OJK. Tetapi diyakini bahwa keterpaduan ini akan memberikan efek akselerasi pertumbuhan industri perbankan syariah nasional karena diharapkan integrasi pengaturan akan mereduksi atau bahkan mengeliminasi hambatan yang selama ini ada. Gaung sosialisasi perbankan syariah akan lebih nyaring terdengar dengan baju kampanye industri keuangan syariah nasional, karena skala promosi akan relatif lebih massif dan impact-nya akan lebih signifikan. Konsekwensi turunan pada penyiapan SDM di sektor pendidikan akan lebih serius dilakukan karena akan merujuk pada skala industri keuangan syariah yang terlihat jauh lebih besar dan lebih nyata. Dan terakhir, skala besar yang mencerminkan peran dan kontribusi industri keuangan syariah nasional termasuk perbankan syariah, akan lebih menggugah pemerintah untuk lebih mengambil peran aktif dalam mendorong industri ini, seperti menyediakan insentif kebijakan seperti yang selama ini dinikmati industri yang sama di negara lain, misalnya insentif pajak, keberpihakan memanfaatkan industri keuangan syariah dalam pengelolaan treasury lembaga negara dan lain sebagainya. Semoga semua harapan ini tidak sekedar menjadi harapan.

*) tulisan ini sudah dimuat di Republika tanggal 25 Desember 2013