Rabu, 30 Desember 2009

bermimpi...


Mari bermimpi tentang Indonesia. Bermimpi tentang masa depannya. Mimpi masa depan tentang alamnya, tentang pemimpin-pemimpinnya, tentang masyarakatnya, dan tentang kedudukannya nanti di akherat. Bermimpi tentang masa depan sebenarnya adalah mencoba mendefinisikan tujuan dan arah hidup, mengidentifikasi cara dan strategi menuju kesana. Bermimpi bukanlah berangan-angan panjang dan kosong, karena inti kebaikannya ada pada semangat dan proses bermimpi, bukan pada apa yang diimpikan.

Harga Diri



saya temukan cartoon yang menarik di web 1muslimnation.wordpress.com, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. ayo, percaya dan yakin dengan Islam yang telah diamanahkan pada kita. mari, tegakkan panjinya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita punya. bismillah.

Selasa, 29 Desember 2009

inilah kehidupan normal demokrasi

Inilah kehidupan normal demokrasi. Riuh rendah tuding-menuding, hiruk pikuk fitnah dan tuduh-menuduh, gegap gempita bongkar aib dan tebar pesona. Kasihani kami Tuhan Yang Maha Agung, kembalikan akal sehat kami. Kami tahu, wabah penyakit, musibah dan bencana tidak mampu menyadarkan kami...

sosok manusia ekonomi Islam yang ideal


Tidak membosankan bagi saya membaca dan memaklumatkan kisah-kisah orang mulia terdahulu. Dimana kisah itu menghimpun prilaku-prilaku "aneh" dari kaca-mata budaya akhir zaman. Rasa aneh itu sebenarnya merefleksikan tingkat kualitas keimanan atau kuatnya ikatan hati manusia dengan dunia, dengan logikanya dan dengan kemegahannya.

Kisah di bawah ini saya cuplik dari web eramuslim.com. Kisah tentang seorang yang pernah menggetarkan manusia dan menggentarkan syetan, meskipun ia bukanlah Nabi. Karena ia bukan Nabi, maka beliau menjadi pembantah bagi argumen bahwa kemuliaan manusia tidak bisa segitu tinggi, karena ternyata manusia biasa yang bukan Nabi mampu mencapai kemuliaan itu, dimana harum namanya baik bagi penghuni bumi maupun langit.

Beliau adalah Umar bin Khattab. Padanya anda akan lihat semangat kuat mencari harta tetapi pada saat yang sama beliau menunjukkan sifat kezuhudan tiada tara. Inilah satu dari banyak keanehan yang anda akan rasakan. Bagaimana mungkin satu pribadi memiliki cerita yang bertolak belakang, kontradiktif pada fakta-fakta hidupnya. Satu sisi ia kaya raya, tetapi pada satu sisi lainnya ia begitu sederhana sampai-sampai makannya hanya dengan roti dan garam atau minyak zaitun. sementara pakaiannya bertambal-tambal, dan alas tidurnya hanyalah tikar.

Inilah sosok manusia ekonomi Islam yang ideal yang harus menjadi contoh manusia akhir zaman, khususnya bagi mereka yang sudah mewakafkan dirinya untuk perjuangan Islam di medan ekonomi.

Silakan baca:

Seberapa Kaya Umar bin Khattab?

Selama ini, kita hanya mengetahui bahwa hanya ada dua sahabat Rasul yang benar-benar sangat kaya, yaitu Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan. Namun sebenarnya, sejarah juga sedikit banyak seperti “mengabaikan” kekayaan yang dipunyai oleh sahabat-sahabat yang lain.

Ingat perkataan Umar bin Khattab bahwa ia tak pernah bisa mengalahkan amal sholeh Abu Bakar? Itu artinya, siapapun tak bisa menandingi jumlah sedekah dan infaqnya Abu Bakar As-Shiddiq.

Lantas, bagaimana dengan kekayaan Umar bin Khattab sendiri? Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.

Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan.

Umar ra memiliki 70.000 properti. Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.

Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.

Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah! Semoga kita bisa meneladani Umar bin Khattab. (sa/berbagaisumber/Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab/khalifa)

Sabtu, 26 Desember 2009

pahlawan sejati


Anda tahu siapa itu pahlawan sejati? mereka adalah manusia-manusia yang berjiwa besar, yang memiliki sama kualitas senyum dan bahagianya meski yang sukses bukanlah dirinya.

Ekonomi Islam dan Bertetangga

Dalam banyak prinsip-prinsip kehidupan Islami, ukhuwah merupakan salah satu prinsip penting dalam berinteraksi. Dan salah satu aplikasinya yang saat ini semakin hilang adalah adab bertetangga. Nabi dalam beberapa pesan dalam Hadits-nya mengungkapkan bagaimana bertetangga menjadi salah satu indicator keimanan seseorang. Jika bertetangga dipraktrekkan dengan baik berdasarkan nilai-nilai akhlak Islam, maka banyak masalah kemasyarakatan dapat diselesaikan dengan baik termasuk masalah ekonomi Islam.

Nabi pernah mengatakan, tidak beriman seseorang jika ia bisa tidur nyenyak ketika ada tetangganya yang kelaparan. Pesan Nabi ini menjelaskan peran atau bahkan pentingnya tetangga dalam menentukan keimanan seseorang. Perlu diingat menuju interaksi bertetangga yang baik ada tahapan yang harus dilewati terlebih dahulu. Tahapan pertama tentu saja adalah mengenal siapa saja tetangga anda.

Tahapan kedua adalah mengetahui keadaan tetangga khususnya kondisi ekonomi mereka. Kondisi ekonomi tetangga dapat diketahui bisa melalui informasi langsung dari tetangga, tetapi terkadang hal itu diketahui dari suasana bertetangga yang cair. Karena tak selalunya tetangga berkenan menyampaikan kesulitan keadaan ekonominya. Jadi untuk tahapan kedua ini kuncinya adalah kepekaan terhadap keadaan tetangga mereka.

Tahapan ketiga adalah memastikan tersedianya tatacara/media untuk membantu tetangga yang berada dalam kondisi membutuhkan. Hal ini diperlukan untuk menghindari ketersinggungan, kesalahpahaman, nuansa belas-kasihan dan tetap menjaga kehangatan dalam bertetangga. Tahapan ketiga ini sebenarnya dapat dilakukan melalui media masjid, sebagai pusat aktifitas masyarakat. Karena memang sudah seharusnya Masjid menjadi medium untuk merajut ukhuwah menuju interaksi bertetangga yang diinginkan oleh Islam.

Setidaknya ada lima waktu shalat wajib yang dapat dijadikan ajang untuk mempertajam interaksi bertetangga. Apalagi jika dipertajam dengan acara-acara pengajian, taklim atau kegiatan ibadah-ibadah yang berpusat di masjid yang diikuti oleh semua warga. Oleh sebab itu, perlu selalu diingat bahwa masjid menjadi media yang krusial dalam mewujudkan dan menghidupkan interaksi bertetangga yang islami. Kalau begitu, pertimbangkan keberadaan masjid jika anda sedang memilih rumah sebagai tempat tinggal.

Keberadaan tetangga, pada perspektif lain mampu menjadi objek atau bahkan “alat” untuk meningkatkan keimanan. Sehingga sangat-sangat wajar jika kita mulai saat ini memandang penting untuk memiliki lingkungan tempat tinggal yang hangat. Artinya, mulai saat ini pula, mulailah mengenal tetangga anda satu demi satu. Kenali mereka dan pahami keadaan mereka.

Carilah lingkungan rumah tinggal yang memiliki interaksi bertetangga yang baik, atau setidaknya mampu mewujudkan lingkungan tempat tinggal menjadi lingkungan yang memiliki interaksi bertetangga yang baik. Hidupkanlah sunnah-sunnah bertetangga seperti yang sudah Nabi contohkan, misalnya shalat jamaah di masjid, silaturrahim, memberi salam dan menyapa, mengajak berkenalan terlebih dahulu, berkirim makanan atau hadiah, dan saling mendoakan tentu saja.

Coba anda bayangkan alangkah indahnya jika tempat tinggal kita memberikan suasana yang menyenangkan, nyaman dan tentram untuk ditinggali, karena suasana bertetangga yang sejuk dan hangat. Akhirnya, bertetangga semakin melengkapi kehidupan islami yang anda mulai tata satu demi satu; kehidupan keluarga yang islami, lingkungan kerja yang juga islami dan interaksi bertetangga yang islami. Percayalah, ketika anda dapatkan ketiga suasana islami itu, sebuah kebahagiaan tersendiri yang akan anda rasakan ditengah gejolak dan hiruk-pikuk cobaan dan ujian dunia/kehidupan. Bahkan pada satu kondisi tertentu kondisi islami diketiga lingkungan itu akan mempermudah anda untuk menjalani hidup ini. Semoga Allah mudahkan.

Ekonomi Islam dan Hijrah

Seorang Ustadz dalam satu pengajian ba’da isya di masjid saya memberikan penjelasan dan pelajaran makna hijrah dalam Islam. Dan dari pemaparannya saya mengambil banyak hikmah dari perspektif ekonomi Islam. Beliau mengawalinya dengan satu ayat dalam surat An Nisaa dalam Al Qur’an, dimana Tuhan mengabarkan:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa: 100)

Dari ayat ini secara eksplisit disebutkan pula bahwa fungsi hijrah salah satunya adalah memperbaiki kondisi ekonomi. Keluasan tempat dan rizki untuk hijrah sudah dijanjikan Allah bagi mereka yang melakukannya dengan niat karena Allah SWT. Niat yang paling mulia dimana tujuan utama dari hijrah adalah menegakkan din-Nya setinggi mungkin dan menyebarkannya seluas mungkin.

Secara bahasa hijrah bermakna berubah, tetapi dalam hal ini makna hijrah ada dalam ruang lingkup hijrah yang karena Allah. Perubahan dari satu status ke status yang lain dapat saja dikatakan hijrah namun yang dinginkan Islam adalah perubahan pada keadaan atau kondisi yang lebih baik atas niat karena Allah SWT.

Dalam perspektif lain, pelajaran yang sangat jelas dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW beserta keluarga dan Sahabat beliau bagi kita penggerak ekonomi Islam, adalah pelajaran keyakinan bahwa rizki, harta, kekayaan itu adalah kekuasaan Allah SWT. Contoh-contoh prilaku sahabat yang meninggalkan kemewahan harta, status social, pekerjaan dan kemapanan lainnya di kota Makkah, tidak kemudian mengendorkan idealismenya dalam perjuangan Islam.

Jadi, inti pelajaran dari hijrah ini adalah, jika memang sebuah kebaikan itu bisa dilakukan dengan melakukan perubahan (hijrah), baik kebaikan bagi diri maupun keluarga,, jangan kemudian kekhawatiran pada kesempitan harta, nafkah, kerja atau kesulitan fasilitas dunia lainnya menghalangi kita menuju pada kebaikan itu. Bismillah saja.

Bukankah menuju sesuatu yang lebih baik dan lebih diridhai Allah, tentu akan mendapatkan pertolongan Allah SWT. Sehingga kekhawatiran pada apa-apa yang tadi disebutkan sangatlah tidak beralasan. Bahkan sebaliknya janji Allah pada mereka yang berhijrah berupa keluasan tempat dan rizki, sepatutnya menjadi semangat dan modal dalam menjalani kehidupan. Dengan begitu, keyakinan pada janji-janji Allah menjadi kekuatan bagi manusia beriman, terlebih lagi bagi punggawa dakwah dalam menjalani amanah Allah dari sebagai seorang pribadi, penyampai risalah Islam hingga sebagai khalifah di muka bumi.

Oleh sebab itu, semangat perubahan perlu selalu dijaga, kapan saja dimana saja. Anjuran Nabi yang mengatakan hari ini harus baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini pada semua aspek kehidupan dan dimensinya, menjadi sebuah pesan yang tidak terlepas dari semangat hijrah. Semangat berubah menuju pada kondisi yang lebih baik hakikatnya adalah perubahan agar status kita semakin baik dihadapan Allah SWT. Dan perlu diingat janji-janji Allah tersebut berlaku sepanjang tujuan hijrah tetap terpelihara pada sasaran perubahan dijalan Allah, agar semakin mulia dipandangan Allah.

Kampanye Hidup Sederhana: Menghidupkan Ekonomi Islam

Dalam sebuah training saya menjadi penasaran seperti apa saja bentuk-bentuk aplikasi ekonomi Islam yang dapat menjadi indicator tahapan implementasinya menuju sebuah masyarakat yang ideal dan sejahtera dalam bingkai ekonomi Islam. Melihat beberapa aplikasi berdasarkan kualitas dan kuantitasnya yang mempertimbangkan kondisi masyarakat, baik secara pribadi maupun kolektif, maka saya mengklasifikasikan aplikasi ekonomi Islam dalam tiga kelompok, yaitu kelompok pengenalan (basic), standard (ideal) dan lanjutan (advanced).

Tiga kelompok tersebut secara rinci adalah sebagai berikut:
A. Basic
• Diversifikasi transaksi keuangan dengan portfolio syariah; meskipun masih melakukan transaksi keuangan menggunakan jasa keuangan konvensional, tetapi sudah mulai melirik produk-produk keuangan syariah
• Peduli dengan outlet belanja muslim; dimana seorang pecinta ekonomi Islam mempertimbangkan outlet muslim sebagai tempat untuk membeli kebutuhan hidupnya
• Belanja barang-jasa meskipun sudah membatasi pada barang-jasa yang halal saja, tetapi masih belum bisa membedakan keinginan dan kebutuhan
• Zakat sudah disiplin dilakukan, Infak dan sedekah rajin tetapi belum terencana

B. Standard
• Transaksi keuangan hanya menggunakan portfolio syariah; disiplin untuk menjaga diri dari transaksi-transaksi keuangan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
• Membatasi diri untuk membeli dan menjual barang dan jasa yang halal saja dan sedapat mungkin hanya bertransaksi dengan outlet-outlet muslim yang ada, dalam rangka membangun kemandirian ummat
• Meski masih melayani keinginan-keinginan tetapi prilaku belanjanya dominant memperhatikan motivasi pelayanan kebutuhan
• Selain zakat yang sudah rutin, infak-sedekah telah masuk dalam perencanaan anggaran

C. Advanced
• Transaksi keuangan hanya hanya pada portfolio investasi syariah yang dibutuhkan saja; pengelolaan harta tidak lagi terfokus pada profit (halal) tapi lebih pada kemanfaatan bagi orang lain. Misalnya karena begitu yakin dengan prinsip bahwa Allah tidak pernah memberikan bencana diluar kemampuan manusia, meski asuransinya syariah tetapi ia tidak menjadi pilihan transaksi, premi dipandang lebih bermanfaat dikeluarkan untuk mereka yang membutuhkan
• Membeli barang-jasa sebatas apa yang dibutuhkan; sehingga kelebihan harta dapat semaksimal mungkin ditujukan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan atau dengan kata lain memaksimalkan kemanfaatan diri
• Belanja disiplin pada outlet-outlet muslim dalam memenuhi kebutuhannya
• Pengeluaran disiplin untuk focus pada kebutuhan daripada keinginan
• Dalam memaksimalkan kemanfaatan diri, infak-sedekah dan hadiah juga hibah serta wakaf menjadi alat utama
• Zakat boleh jadi tidak menjadi instrument mengingat hartanya tidak pernah ada pada skala besar (nishab) akibat prilaku dermawan yang cukup tinggi.
• Menjauhkan dan menjaga diri dari utang
• Keyakinan pada rizki Allah menjadi semangat untuk selalu membantu orang lain

Karakteristik rinci di atas hanya beberapa cirri dari mereka yang mengaplikasikan ekonomi Islam berdasarkan kuantitas dan kualitasnya. Identifikasi ini sekedar ingin membantu siapa saja yang ingin terus memperbaiki prilakunya dalam menghidupkan ekonomi Islam, sekaligus memperbaiki kemuliaan dirinya dihadapan Allah dalam aspek aktifitas ekonominya.

Aplikasi yang menjadi karakteristik kelompok basic dan standard, pada dasarnya baru merupakan aplikasi-aplikasi ekonomi Islam yang berorientasi pada kehalalan. Aplikasi pada dua kelompok itu belum pada aplikasi yang sampai mempertimbangkan nilai-nilai akhlak Islam (tidak cukup sekedar halal tetapi juga mempertimbangkan kualitasnya berdasarkan kemanfaatannya, etikanya atau ke-thoyyiban-nya. Kualitas aplikasi baru tampak pada kelompok ketiga, dimana pelakunya memang pelaku yang dengan optimal telah mengenal betul prinsip-prinsip sekaligus memiliki keyakinan yang begitu kuat dan mantap pada Islam.

Ingat, aplikasi ekonomi Islam ideal khususnya pada pencapaian kualitas, sangat tergantung pada pemahaman pelakunya. Pemahaman itu yang kemudian membuat aplikasi ekonomi Islam terlihat tidak melulu sekedar mematuhi hokum syariat tetapi mempertimbangkan nilai-nilai akhlak Islam.

Akhlak dan GDP

Mendiang Begawan ekonomi Indonesia, Mr. Sumitro djojohadikusumo pernah mengatakan bahwa sedikitnya 30% belanja pemerintah bocor akibat budaya korupsi, pungli dan praktek tak terpuji lainnya. Sebelumnya juga saya pernah mengungkapkan potensi ekonomi yang terbuang percuma akibat prilaku-prilaku tak terpuji yang telah menjadi kanker dalam perekonomian. Ekonomi telah terhambat kelajuan dan kemajuannya akibat transaksi perjuadian, korupsi, narkotika dan pelacuran.

Intinya dalam ekonomi ternyata terdapat transaksi-transaksi “bawah tanah” yang industrinya telah tercipta, mekanisme demand supply-nya telah berjalan, produk-produknya bahkan tidak kalah bervariasi dan semakin inovatif, tetapi sayangnya meskipun volumenya cukup besar aktifitas transaksi itu tidak pernah masuk dalam perhitungan Gross Domestic Product (GDP). Tidak diperhitungkan dalam GDP perekonomian karena memang tidak layak, mengingat aktifitasnya merupakan aktifitas yang tidak dibenarkan secara moral dan agama serta ditolak oleh nilai-nilai kebaikan universal.

Lihat saja bagaimana besarnya transaksi narkotika di Indonesia ini. BNN sudah mengeluarkan data bahwa terdapat 3,6 juta pengguna narkotika (drug addict) di Indonesia, bukankah jumlah itu suatu jumlah customer yang cukup besar bagi industri narkotika? Terlebih lagi dengan karakteristik customernya (pecandu narkotika) yang cukup agresif dalam berkonsumsi. Begitu pula dengan pelacuran, dengan perkiraan terdapat kurang lebih 12 juta pelanggan di tanah air, tidak heran industri pelacuran semakin menarik untuk digeluti oleh supplier atau investor. Bahkan tidak jarang banyak pejabat, baik local maupun nasional, yang tertarik untuk melegalkan industri ini.

Sementara itu, industri perjudian memiliki cerita yang hampir sama dengan pelacuran, namun bedanya industri ini ternyata memiliki karakteristik yang berbeda dengan pelacuran. Industri perjudian memiliki dua sisi, dimana satu sisi masih di-illegal-kan, sedangkan sisi yang lain sangat dilegalkan bahkan telah meraksasa dan menggurita keseluruh pelosok bumi. Yang illegal adalah praktek-praktek perjuadian vulgar seperti judi lotre, judi kartu, dan lain sebagainya. Sementara, yang legal adalah praktek-praktek spekulasi di pasar-pasar modal, uang dan derivative. Berapa raksasa industri ini? Menurut satu data NGO Amerika Serikat perbandingannya mencapai ratusan kali-lipat dibandingkan volume transaksi barang-jasa (sector riil).

Bagaimana dengan korupsi? Speechless rasanya melihat industri korupsi di negeri ini. Karena industri ini meskipun ia begitu raksasa dan meliputi semua industri yang ada, meliputi semua sektor ekonomi, meliputi semua tingkatan pelaku dan strata ekonomi, tetapi ia tidak pernah masuk dan membesarkan GDP. Industri ini bahkan eksis bukan hanya di ranah ekonomi, tetapi (bahkan lebih subur) di ranah politik dan hukum. Berapa besar industri ini telah menyia-nyiakan potensi ekonomi tanah air? Kalau saja perkiraan mendiang Pak Sumitro tadi benar, itu baru mencerminkan volume industri korupsi sector public, belum termasuk sector swasta. Jadi jawaban untuk pertanyaan berapa besarnya industri ini, cukup dijawab sangat besar.

Semakin buruk dan membesar industri-industri negative di atas tadi, maknanya semakin besar pula potensi ekonomi yang terbuang sia-sia. Artinya akan semakin menganga saja jurang antara GDP riil dengan GDP potensialnya. Kalau kita hitung menggunakan logika sederhana, maka perkiraan gap-nya seperti ini:

Jika saat ini diketahui GDP Indonesia mencapai USD 400 million-an, dan kebocoran ekonomi akibat industri tak terpuji sebesar 30% dari potensi GDP, maka gap potensinya:

GDP potensial = USD 400 million/70% = USD 571 million
Gap potensi = USD 571 milllion – USD 400 million = USD 171 million

Artinya, kalau saja akhlak ekonomi masyarakat indosnesia lebih baik, akibat moral dan agama begitu riil mampu diaplikasikan dalam ekonomi, maka transaksi-transaksi negative diatas akan masuk dalam ruang-ruang legal ekonomi dalam bentuk yang lebih baik. Maknanya dengan akhlak masyarakat yang lebih baik, maka ekonomi dapat membangun size sekaligus kualitas pada skala yang lebih besar. Dengan begitu volume ekonomi yang direfleksikan oleh angka GDP, akan menunjukkan angka yang mendekati potensinya.

Selasa, 22 Desember 2009

Indeks Ketakwaan Bangsa


Mencermati data yang disampaikan Ust. Dr. Salim Segaf Al Jufri, Menteri Sosial RI, yang menyebutkan saat ini angka kemiskinan Indonesia mencapai 76 juta dimana penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mencapai 20 juta kepala keluarga, artinya telah terjadi penurunan persentase rakyat miskin jika dibandingkan tahun lalu yaitu dari 20% menjadi 14% pada tahun ini. Melihat data ini, saya tergelitik untuk bertanya, “Jikalau pun kemiskinan dapat dihapuskan atau diturunkan, apakah masalah ekonomi serta merta akan hilang?”

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa kemiskinan menjadi penyebab utama permasalahan-permasalahan ekonomi dan sosial. Permasalahan kemiskinan memiliki korelasi yang kuat dengan permasalahan-permasalahan sosial, seperti premanisme, gelandangan, pengemis, pelacuran dan lain sebagainya. Permasalahan sosial ini selalunya berujung pada permasalahan hukum seperti masalah-masalah kriminalisme.

Bagaimana mengelola kemiskinan atau mengentaskannya? Diyakini dalam ekonomi Islam bahwa kemiskinan merupakan keniscayaan. Kemiskinan muncul bukan hanya karena sebab-sebab yang disengaja atau salah, tetapi kemiskinan merupakan anomali-anomali wajar dalam dinamika ekonomi, sehingga perlu disikapi dengan baik dengan tidak berpandangan negatif, curiga dan skeptis terhadap kemiskinan. Kemiskinan pada seseorang atau sekelompok orang boleh jadi menjadi akibat dari sistem dan prilaku ekonomi yang salah, tetapi ia juga dapat muncul begitu saja melalui bencana, melalui takdir dan kehendak Tuhan yang tidak berhubungan dengan kesalahan sistem dan prilaku ekonomi manusia lain.

Dengan perspektif seperti itu, maka yang tidak kalah penting adalah bagaimana menyiapkan sistem dan mendidik manusia agar mampu mengantisipasi kondisi-kondisi miskin yang menjadi salah satu bentuk ujian bagi seorang individu dan masyarakat. Islam mengajarkan sistem standard (minimal) yang harus ada dalam mengantisipasi kemiskinan, yaitu sistem zakat, dimana dengan zakat setiap individu miskin akan terjamin kebutuhan dasarnya sehingga kewajiban ibadahnya tidak terganggu. Tetapi ditanamkan sebuah nilai kepada mereka yang miskin bahwa “tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah”.

Disamping itu, untuk mencegah kelompok masyarakat kaya tenggelam dengan keserakahan, kekayaan dan egoisme mereka, Islam melarang praktek-praktek curang dan zhalim dalam interaksi ekonomi, seperti riba, gharar dan maysir. Ketentuan ini juga mencegah timbulnya kemiskinan secara sistemik.

Apakah cukup dengan zakat dan pelarangan Riba? Tidak. Islam memberikan ruang gerak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi dalam mengelola kemiskinan atau bahkan mengentaskannya, seperti infak, sedekah dan wakaf.

Dengan rambu-rambu dan instrumen-instrumen di atas, diharapkan masalah kemiskinan mampu dikelola dengan baik agar tidak berhujung pada masalah-maslah sosial apalagi kriminal. Keberadaan instrumen-instrumen itu kemudian dapat dijadikan indikator-indikator apakah pengelolaan kemiskinan telah dilakukan dengan baik atau tidak. Misalnya rasio koleksi zakat dengan muzakki, rasio distribusi zakat dengan mustahik, tingkat/rata-rata infak per-populasi kaya/PDB, tingkat/rata-rata sedekah per-populasi kaya/PDB atau tingkat/rata-rata wakaf per-populasi kaya/PDB.

Parameter sosial ini perlu dikembangkan dan diidentifikasi. Bahkan pada tingkat tertentu parameter ini dapat dijadikan indikator ketakwaan bangsa yang merepresentasikan baik-buruknya tingkat pengelolaan kemiskinan nasional. Atau pada skala makroekonomi, parameter ini bahkan dapat saja dikembangkan menjadi indikator kesuksesan ekonomi yang berorientasi pada tingkat keimanan bangsa. Artinya dengan berpedoman pada standard-standard hidup sukses yang sudah digariskan oleh Islam (Tuhan), dimana kesuksesan hidup disandarkan pada tingkat ketakwaan, baik individu maupun kolektif, maka parameter-parameter sosial dapat dijadikan indikator kesuksesan ekonomi nasional. Alangkah indahnya jika Indonesia menjadi negara sukses, maju dan terdepan bukan hanya kemajuan fisik ekonominya tetapi juga karena tingkat keimanannya, tingkat kedekatannya dengan Tuhan.

Senin, 21 Desember 2009

Bangunan Teori Prilaku Ekonomi Islam


Ketika berdiskusi dalam sebuah sesi training tentang prilaku ekonomi Islam, tidak terasa kami membahas filosofi dasar terbangunnya model atau teori prilaku ekonomi. Teori prilaku ekonomi pada hakikatnya terikat pada ruang, waktu dan objek model prilaku. Teori prilaku ekonomi sederhananya adalah prilaku konsisten dari pelaku ekonomi merespon peristiwa/keadaan/masalah ekonomi mereka.

Teori tersebut terbangun dan tersusun dari observasi pada prilaku sama manusia secara mayoritas. Jika asumsi ini yang dijadikan dasar, maka teori tersebut memiliki limitasi yang sangat jelas. Yaitu teori prilaku tersebut sangat bergantung pada karakteristik observasinya. Karakteristik observasi itu meliputi wilayah (ruang) pelaku ekonomi, waktu observasi dan pelaku sebagai objek observasi.

Wilayah tertentu memiliki budaya prilakunya sendiri-sendiri, nuansa kolektifitas dan individualis bervariasi mengikuti perbedaan wilayah observasi. Dengan begitu, boleh jadi prilaku ekonomi akan berbeda jika dilakukan observasi di tempat yang berbeda. Perlu juga diingat bahwa prilaku ekonomi itu juga bisa digolongkan sebagai budaya atau nilai, dimana nilai-nilai bisa tertransfer antar komunitas yang kemudian membuat hasil observasi menjadi bias. Artinya prilaku ekonomi tidak menjadi teori yang genuine. Misalnya agresi budaya barat pada seluruh pelosok bumi melalui kolonialisme atau kecanggihan teknologi informasi membuat budaya satu tempat tertentu (barat) menjadi budaya umum (dunia).

Sementara itu, waktu atau zaman tertentu memiliki pula budaya atau prilaku ekonominya sendiri. Sehingga perubahan zaman akan merubah pula karakteristik lingkungan, bentuk interaksi, nilai-nilai, dan lain sebagainya, yang kemudian mempengaruhi pola prilaku ekonomi. itu mengapa, sadar atau tidak teori prilaku ekonomi terus mengalami perubahan seiring dengan bergulir dan bergantinya zaman. Misalnya teori prilaku ekonomi klasik yang muncul pada masa merkantilis yang kental dengan nilai-nilai materialisme, sehingga nuansa teori prilaku ekonomi klasik kental pula dengan orientasi materialisme. Sementara pada zaman modern, isu humanis melalui nilai-nilai simpati dan empati mulai menginspirasi dan mempengaruhi teori-teori prilaku ekonomi modern.

Adapun pelaku yang menjadi objek observasi juga menentukan seperti apa teori prilaku, bahkan faktor inilah yang paling menentukan bentuk ekonomi secara general. Nilai-nilai umum dari sifat alami manusia yang bersandar pada kefitrahan mereka sebagai manusia menjadi asumsi dasar penyusunan teori prilaku ekonomi. Tidak heran, warna dan bentuk teori prilaku ekonomi bernuansa sama dengan kecenderungan alamiah manusia. Nilai-nilai itu dapat dianggap sebagai nilai-nilai internal manusia, tidak ada intervensi nilai eksternal yang mempengaruhi prilaku ekonomi mereka.

Coba bayangkan, bagaimana jika yang menjadi objek observasi penyusunan teori prilaku ekonomi itu adalah manusia-manusia mulia Islam terdahulu, para sahabat Rasul dan para aulia yang mampu menghadirkan kemakmuran ekonomi bersandar pada nilai-nilai akidah, akhlak dan syariah Islam. Bayangkan teori prilaku ekonomi seperti apa yang terbentuk. Bagaimana jika yang menjadi objek observasi penyusunan teori prilaku ekonomi adalah manusia-manusia seperti Salman al Farisi, Umeir bin Saad, Barra bin Malik atau Abdurrahman bin Auf? Boleh jadi akan ada perubahan 180 derajad dari teori prilaku ekonomi yang ada saat ini di dunia modern. Teori utility yang berorientasi pada pemaksimalan kepuasan melalui okupasi materi berubah menjadi teori kebahagiaan yang berorientasi pada pemaksimalan kemuliaan diri melalui optimalisasi kemanfaatan sumberdaya ekonomi.

diamlah sejenak (2)

Ketika kita letih dengan semua dosa, apa yang paling ingin kita lakukan? Atau ketika kita letih dengan semua kerja amal shaleh, apa yang paling ingin kita lakukan? Penat dengan dosa karena apa? Karena sadar, menyesal atau hanya sekedar letih saja? Atau penat dengan amal shaleh karena monoton, tidak nikmat atau sekedar bosan? Apapun itu, sebaiknya yang kemudian anda lakukan adalah diam sejenak. Dengan diam, kumpulkan tenaga melalui mencermati alam semesta, mencari hikmah dari embun dan hujan, dari pesona keindahan alam dan dahsyatnya bencana-bencana, dari disiplinnya benda-benda langit serta tertatanya penghuni-penghuni bumi. Himpun kebijaksanaan dengan memahami manusia di hidup dan kematiannya, merenungi kemuliaan dan kehinaan mereka. Jika belum anda dapatkan tenaga dan kebijaksanaan itu, tetaplah diam setidaknya anda tidak menambah dosa. Wallahu a’lam.

Hartamu adalah Pedangmu


Hartamu adalah pedangmu untuk menakhlukkan dunia, bukan pedang dunia untuk menakhlukkanmu. Jangan semakin banyak harta yang kau punya, semakin tersita waktu-waktu pribadimu bersama Tuhan, semakin sibuk dan akrab kamu dengan harta-hartamu, semakin hilang akal sehatmu untuk menjaga kesadaran pada kerja-kerja kebaikan.

Harta sepatutnya tidak membuat kita mati rasa dengan kebaikan dan kerja-kerja mewujudkannya. Jangan lihat gemerlap kenikmatan di balik harta, tetapi lihatlah melimpahnya kemanfaatan dan kemuliaan yang meliputinya. Jangan gelap mata dan hati karena silaunya harta, yang akhirnya menyingkirkanmu dari barisan pejuang amal shaleh

Agar tetap ada dalam kesadaran, dimana hati selalu terjaga, jiwa terhindar dari gelapnya kebenaran, maka selalu disiplinlah pada rutinitas ibadah; shalat, shaum, qiyam, dzikir pagi dan petang serta perbanyaklah infak sedekah. Lakukan apa saja untuk mensucikan jiwa dan harta. Jual keduanya pada pembeli yang paling berhak, yaitu Allah dengan imbalan syurga yang maha indah. Berdoalah kepada Allah agar hatimu selalu condong pada-Nya, mintalah kemudahan pada semua usahamu. Setelah itu, semoga kesadaran selalu bersama kita.

Ingat-ingat juga dengan cerita-cerita orang-orang mulia terdahulu. Cermati sikap mereka terhadap melimpahnya harta yang mereka punya. Ada yang lebih rela meninggalkan anak keturunannya bersama Allah dan Rasulnya daripada ia tinggalkan diatas tumpukan harta. Ada yang secara lantang dan dengan keyakinan tanpa cacat, mengatakan ia tak butuh belas kasihan untuk kehidupan ia dan keluarganya esok hari, karena ia masih yakin pada rizki Allah yang melimpah bagi seluruh hamba-Nya. Bahkan ada yang sudah menutup dunianya dari harta-harta yang menggoda, sampai-sampai lidahnya yang telah diakui Nabi selalu diijabah doa yang keluar darinya, tidak pernah meratap meminta kemegahan harta, beliau hanya minta mati dengan cara yang paling terhormat.

Kepada anda yang belum mengenal harta, belum akrab dengannya, belum begitu kenal dengan godaan dan ujiannya, bersyukurlah dan kemudian latihlah hati dan jiwa agar kuat menghadapi godaan dan ujian-ujiannya. Dengan kekuatan hati dan jiwa serta keshalehan, harta akan menjadi alat menuju kemuliaan, menjadi sebaik-baik harta. Kalaupun harta tidak pernah melimpah ditangan anda, itu adalah kemuliaan lain yang Allah takdirkan, tersenyumlah karena Allah tidak berikan fitnah yang akan mampu menghancurkan dunia anda.

Kepada para pemegang amanah harta-harta dunia, pastikan keshalehan ada pada dirimu. Kekayaan materi berupa harta harus diimbangi dengan kekayaan iman berupa keshalehan, sehingga semua yang berada di sekitar harta dunia akan merasakan kesejukan, ketentraman dan kenyamanan. Dan dengan itu, mereka menghamba dengan sepenuh kemampuan dan kesanggupan. Sungguh pada kekayaan dan kemiskinan masing-masing memiliki kemuliaannya sendiri-sendiri. Kezuhudan orang kaya akan selalu membuatnya ada dipuncak piramida manusia-manusia mulia, dan qona’ah orang miskin akan menempatkannya pada barisan terdepan jama’ah akherat menuju syurga. Bingkai keduanya adalah ketakwaan pada Allah SWT.

Kepada para mujahid dakwah, berikan ketauladanan seperti apa harta harus disikapi. Latih terus diri anda untuk menjadi manusia yang terbaik menyikapi fitnah dunia yang satu ini. Harta tidak boleh mengurangi gerak-gerak dakwah yang telah diamanahkan padamu, atau bahkan menghentikan langkah dakwahmu. Bagi seorang mujahid dakwah, sekedar diam saja adalah kesia-siaan yang merusak dakwah. Kewajiban dakwah begitu besarnya. Ia membutuhkan mujahid untuk menuntaskan dan menyelesaikan amanah dakwah ini, agar Islam kembali memberikan manusia keselamatan. Oleh karena itu, jangan sibuk dengan hartamu. Semangat mencari harta adalah semangat menyebarkan kemanfaatan diri, bukan untuk menikmati dan tenggelam dalam kemewahannya. Mari kita hantarkan manusia pada takdir yang semestinya, yaitu kemuliaan diatas semua makhluk Tuhan, menjadi penikmat syurga yang abadi.

Senin, 14 Desember 2009

Makassar


Kali ini saya diamanahkan untuk "berdakwah" di tanah leluhur saya, tanah Ujung Pandang, tanah Makassar yang indah. Semoga ada hikmah yang dapat disampaikan, dan ada kemuliaan di dalamnya.

Rabu, 09 Desember 2009

Nasionalisme dan Kebanggaan Bangsa


Kali ini saya ingin bicara tentang nasionalisme. Akhir-akhir ini beberapa peristiwa nasional telah dapat menjadi indikasi bahwa bangsa ini memiliki potensi besar untuk maju. Peristiwa heroik kebersamaan dan nasionalisme dari gerakan berbatik, gerakan simpati Bibit Chandra, gerakan anti korupsi sampai gerakan dukungan Prita Mulyasari, menunjukkan bahwa bangsa ini mampu bersatu merubah keadaan, memaksakan kebaikan dan kebenaran menjadi rasionalitas hukum positif-formal.

Peristiwa-peristiwa itu harus menjadi cermin semua warga bangsa, pada semua posisi mereka sebagai pemimpin, pejabat publik, profesional, tokoh atau sekedar rakyat jelata. Peristiwa itu menjadi inspirasi yang sangat genuine bahwa kebersamaan dan perjuangan bersama tidak akan sia-sia. Pelajaran lain adalah jangan coba-coba menzalimi atau menganiaya jika tidak ingin dizalimi dan dianiaya oleh kebenaran melalui gerakan rakyat menggunakan senjata mematikan saat ini, media informasi.

Sekali lagi kita jangan coba-coba menzalimi atau menganiaya, kalau tidak ingin istri malu keluar rumah, anak-anak malu bekerja atau sekolah, atau bahkan semua kenalan dan handai-taulan sebisa mungkin membantah mengenal kita. Mekanisme penghukuman sosial ini seakan-akan menjadi jawaban Tuhan bagi semua warga negara yang selama ini selalu tertindas oleh hukum yang dikendalikan oleh pejabat-pejabat yang laknat, orang-orang kaya yang durhaka atau siapa saja yang sudah mati hati dan rasa untuk melakukan apa saja demi kepuasan dirinya.

Tetapi ada 2 kekhawatiran yang muncul di fikiran saya; pertama, logika masyarakat yang menjadi landasan keputusan penghukuman sosial sangat dipengaruhi oleh pola berfikir mayoritas rakyat. Dengan begitu, keyakinan, latar belakang pengetahuan dan suasana hati menjadi faktor penentu pola fikir dan logika massa. Oleh sebab itu saya berdoa agar logika rakyat tidak pernah berbenturan dengan logika Tuhan. Semakin dekat mayoritas rakyat dengan kehendak Tuhan (beriman), maka semakin dekat kemauan masif atau penghukuman sosial dengan dengan kebaikan dan kebenaran.

Kedua, saya khawatir kecenderungan penghukuman sosial merubah mekanisme berbangsa, dimana keputusan-keputusan penting berbangsa dan bernegara tidak lagi dilakukan dan diputuskan oleh pemimpin, tetapi oleh mekanisme kampanye masif melalui media informasi, baik nyata maupun maya. Kan ga enak aja, sidang-sidang terhormat pengadilan harus digantikan oleh mimbar-mimbar cyber di facebook dan twitter. Ujung-ujungnya boleh jadi kita tidak perlu wakil rakyat sekaligus pemilunya, karena kepentingan kita sudah langsung kita tuangkan dalam forum-forum milis dan blog.

Uniknya kemungkinan-kemungkinan itu menjadi solusi paling memungkinkan bagi rakyat menuntut keadilan dan haknya, dimana selama ini kepentingan mereka hanya dijadikan alat tawar-menawar politik, hukum dan ekonomi oleh para tokoh, pengusaha, politisi dan pejabat negara. Hmmm cara yang aneh... cara aneh ini mungkin paling pas untuk negeri kita yang juga terkenal keanehannya di segala bidang.

Selasa, 08 Desember 2009

Hukum dan Persidangan Underground yang Kreatif

Kini para penganiaya, penzalim dan perusuh, seperti koruptor dan sebangsanya, harus berhati-hati melakukan hobby-nya, karena jika mereka mampu memperdaya pengadilan dan institusi hukum formal lainnya, mereka akan berhadapan dengan “hukum informal” berupa hukuman sosial melalui sidang-sidang kreatif masyarakat.

Sudah menjadi pengetahuan bersama bagaimana akhirnya sidang facebook dan sidang melalui media lainnya menjatuhkan vonis pada kepolisian dan kejaksaan negara ini. Reputasi negatif akhirnya menjadi hukuman sosial permanen bagi mereka. Hukuman dan fakta ini bahkan kemudian mampu menggerakkan hukum positif-formal untuk seiya sekata agar tidak sehina dan semalu dengan terdakwanya.

Kasus lain seperti kasus Prita Mulyasari yang “dizhalimi” oleh RS Omni, juga tengah berlangsung sidang kreatif-nya, sidang yang digerakkan oleh masyarakat secara mandiri. Sidang ini bukan hanya mendudukkan RS Omni sebagai terdakwa tetapi juga institusi pengadilan sebagai pesakitan.

Hikmahnya pada hakikatnya adalah jangan coba-coba bermain dengan rasa keadilan manusia. Meskipun manusia terbatas inderanya untuk memahami sebuah perkara, mereka tetap dibekali Tuhan dengan hati. Dan dengan hati seringkali manusia menilai sebuah perkara dengan sangat akurat.

Nabi saja dulu pernah berpesan jika kita tidak temukan hujjah (dalil hukum) pada Qur’an, Hadits, Ijma’ Ulama dan Qiyas, maka referensi terakhir adalah “apa yang menentramkan hati”. Semoga penilaian-penilaian hati menjadi inspirasi bagi pemimpin-pemimpin negeri ini, jika mereka kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Gaya Hidup


Subuh tadi selepas shalat, terlintas dalam fikiran saya tentang kelaziman prilaku kebanyakan orang khususnya para profesional muda. Budaya akrab dengan handphone telah menjadi rutinitas mereka baik saat sibuk maupun ketika mereka sendirian. Lihat saja dipinggir-pinggir jalan, di dalam bus, di meja kantornya, di belakang stir mobilnya, di halte bis, di mana-mana, semua asyik utak-utik handphone mereka. Budaya modern ini 10 – 15 tahun yang lalu tidak pernah ada. Mengapa ini pantas untuk dibahas?

Kepedulian saya adalah budaya semisal itu yang menghinggapi profesional muda dikhawatirkan mengikis waktu-waktu kesadaran kita untuk fokus pada kebaikan. Gaya hidup lepas kantor, berpakaian, pergaulan, menyantap makanan dan lain sebagainya disekitar kita, menyadarkan semua bahwa gaya materialisme semakin kental saja.

Gaya perlente, intelek, tidak kampungan, modern, cenderung membuat orang mengkhianati keadaan atau kondisi dirinya. Demi menampilkan gaya hidup modern seperti itu, akhirnya orang menampilkan dirinya secara artificial, penampilan yang mereka paksakan mengikuti tuntutan budaya. Bukan penampilan jujur tentang dan bagaimana dirinya.

Pada satu sisi gaya hidup ini membuat orang tidak peduli dengan sesama. Orang-orang semakin asyik dengan diri dan dunianya sendiri. Fasilitas-fasilitas hidup modern bukan menjadi alat bantu untuk semakin fokus dengan kebaikan, tetapi semakin melalaikan mereka dari kewajibannya bukan hanya kewajiban sebagai hamba Tuhan tetapi juga kewajibannya sebagai khalifah alam semesta.

Gaya dan fasilitas hidup bahkan mengalihkan mereka dari kemuliaan dan kehormatan yang Tuhan ingin sematkan di dada-dada mereka. Ironisnya, merekalah yang secara sengaja “menolak” kemuliaan dan kehormatan itu demi memilih gaya hidup modern yang mengangkat status sosial mereka di mata manusia yang lain.

Pada sisi yang lain, gaya ini mengaburkan gaya dan budaya hidup Islam yang sepatutnya dihidupkan. Nah. Inilah inti yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini. Saya ingin mengajak saudara-saudaraku para profesional muda muslim yang lain untuk mengenali gaya-gaya hidup Islam dan kemudian menjadikannya budaya modern. Mari kita berikan pengenalan dan ketauladanan gaya hidup yang sebenarnya.

Islam memberikan tuntunan bagaimana makan, belanja, memperlakukan harta, berpakaian, bergaul, dan semua sisi hidup dan kehidupan. Contoh-contoh dari para Sahabat Nabi dan orang-orang shelh terdahulu menjadi referensi yang pertama dan utama bagi kita dalam menghidupkan budaya-budaya hidup Islam. Sebuah keistimewaan bagi kita, ketika semua orang sedang mabuk dengan dunia, kita maju untuk tampil berbeda. Kita tampil dengan Islam dan budayanya. Perjuangan ini tentu sangat berat, selain berat oleh tantangan luar, kita juga pasti menghadapi tantangan dari nafsu dan keinginan-keinginan pribadi. Tapi percayalah, disitulah letak keistimewaan perjuangan ini. Keistimewaannya ada pada perjuangan dan pengorbanan. Bismillah.

Peduli



Murah sekali jiwa ummat Islam ya. Ledakan bom di Baghdad, Mogadishu, Islamabad, Peshawar, Mindanao dan pemboman di Gaza, sudah menjadi berita keseharian. Yang saya khawatirkan hati kita menjadi mati rasa dengan berita-berita seperti itu. Dan akhirnya pesan Nabi tentang “ummat Islam itu bersaudara dan seolah satu tubuh” menjadi tidak memiliki makna di akhir zaman ini.

Harus ada yang tampil mengingatkan ummat yang “ga mau tau” ini. memberikan mereka contoh seperti apa seharusnya seorang muslim peduli dengan muslim lain. Mereka bisa bantu menggunakan kekuasaannya, hartanya, lisannya atau hanya dengan doanya. Yang penting ada kekhusyukan dalam memikirkan muslim yang lain.

Konsep peduli ini bahkan menjadi nilai yang sangat mendasar dalam ekonomi Islam. Praktek niaga bagi hasil, jual-beli dan sewa-menyewa didasari penuh oleh konsep saling kenal, saling paham, saling percaya dan saling peduli. Bahkan dalam akhlak pergaulan hidup konsep saling peduli menjadi parameter kita beriman atau tidak. Dengan peduli kita akan tahu mana tetangga yang lapar dan memerlukan bantuan.

Konsep peduli yang semakin terbangun dengan baik, pada satu titik akan mendorong kuantitas transaksi-transaksi ekonomi sekaligus kualitas ekonomi. Atas motif peduli seseorang dapat saja menanamkan modal kerja pada orang lain, meminjamkan kebunnya, menghibahkan tanahnya, menginfakkan uangnya dan lain sebagainya. Dengan peduli sebagai dasarnya, banyak orang yang tadinya tak aktif berekonomi, dapat menjadi pelakunya secara rutin dan berkembang.

Nah, sekarang pertanyaannya, dari mana kepedulian itu datang. seorang Ustadz mengajarkan; dimana saja, kapan saja, jika kau temui orang yang tidak kau kenal, maka perkenalkanlah dirimu. Ya, pintu gerbang peduli adalah perkenalan. Dari perkenalan, harapannya akan muncul benih-benih saling memahami dan akhirnya saling tahu kapan saatnya harus saling membantu, saling peduli.

Mudah ya sebenarnya membangun peradaban Islam ini. Tetapi saya sepakat, yang susah itu menjaga konsentrasi kesadaran pada niat-niat tadi, konsentrasi pada kepedulian atas dasar berbagi kemanfaatan dan kebaikan, konsentrasi untuk tidak selalu fokus pada kepentingan-kepentingan pribadi.

Itu mengapa sering saya sampaikan pada sahabat-sahabat saya, teman-teman mahasiswa atau siapa saja yang saya kenal, bahwa saya butuh mereka untuk saling menjaga konsentrasi, untuk saling menjaga kepedulian. Hmmm bukankah itu hakikat kita bersaudara dalam Islam.

Senin, 07 Desember 2009

Diam Sejenak

Ikhwatifillah, melihat kemarau yang berkepanjangan dalam kehidupan manusia, dimana perbuatan baik dan ketauladanan semakin hari semakin kering dan hampir-hampir tidak ada, seharus membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan kita saat ini. Letakan pena, tutup laptop, kantongkan blackberry, matikan komputer, sisihkan perkakas anda dan diamlah.

Mari renungkan, sudah berapa lama wajah tak tersentuh air wudhu, berapa lama dahi tak menyentuh ujung sajadah, berapa lama buku-buku tarbiyah teronggok berdebu di sudut ruang, berapa lama kaki tak melangkah ke majelis-majelis ilmu dan hikmah, berapa lama bibir tidak khusyuk berdzikir dan berapa lama dakwah sudah kita tidak serius tekuni.

Ikhwatifillah, manusia disekitar kita butuh hujan amal shaleh dan ketauladanannya. Sudah lama rasanya keshalehan tidak menjadi denyut peradaban. Ia butuh dihidupkan. Dan kita, putra-putra Islam yang tersisa di akhir zaman ini, yang paling berhak sekaligus wajib menunaikan tugas kehidupan, tugas mulia yang telah menjadi garis sejarah, yaitu menjadi penyeru dan pejuang.

Mari ingatkan diri untuk sadar pada amanah, untuk kembali merapat pada barisan, untuk kembali melakukan perbaikan dan penyelamatan. Banyak amanah yang sudah menunggu, menunggu putra-putra Islam akhir zaman, yang bisa menghantarkan manusia dan seluruh dzat alam semesta pada fitrahnya yang sejati, yaitu menghamba dengan sepenuh kehambaan pada Tuhan.

Nah, sekarang bangkitlah dari posisi duduk dan berbaring anda, pekikkan satu kali takbir dan kita mulai kesadaran ini dengan Basmallah. Selanjutnya ambil air wudhu dan mulailah perjuangan. Kita bisa mulai dengan shalat, telpon sahabat tanyakan bila majelis ilmu dan hikmah dapat diikuti kembali, ingatkan saudara-saudara untuk kembali memimpin taklim-taklim pagi dan sore, buat catatan-catatan dari bacaan-bacaan tarbiyah yang dulu kita akrabi. Mari lakukan dengan tekun dan bersama-sama. Tampilkan kebaikan pada semua bentuk tindakan dan perkataan secara perlahan-lahan, bertahap dan terus membaik. Selepas itu, kita serahkan semua hasil upaya dakwah ini kepada pemilik segala takdir. Dan kini, bersabarlah. Kematian tak lama lagi akan datang.

Sebuah Kesadaran


Jikalau malaikat syurga Ridwan tiba-tiba hadir di depan kita, dan bertanya, “menurutmu alasan apa yang melayakkan dirimu pantas menghuni syurga?” Apa jawab kita? Mungkin reaksi pertama kita akan tersipu malu, atau terpesona melihat wujud dan membaui wewangian syurga yang masih melekat pada sosok malaikat Ridwan.

Setelah itu mungkin diingatan kita sekelebat muncul semua perbuatan-perbuatan shaleh yang pernah kita lakukan. Atau setidak-tidaknya perbuatan yang kita anggap shaleh, terlepas ia terbungkus oleh niat riya, terpaksa atau mungkin tidak sengaja. Dan pada saat yang sama seakan-akan terhapus dari sejarah ingatan kita perbuatan dosa, maksiat atau aniaya.

Ketika hilang ketakjuban kita pada sosok malaikat Ridwan, dan setelah selesai kita mengumpulkan memori keshalehan, dengan bangganya kita katakan ini dan itu tentang betapa shalehnya kita.

Saya menuliskan ini, sekedar ingin mengajak kepada semuanya untuk menyelami emosi masa lalu, kini dan nanti, masa-masa yang pasti kita hadapi. Tulisan ini bukan tulisan tentang angan-angan, tetapi tentang kesadaran. Saya mulai dengan imajinasi berjumpa Ridwan, malaikat yang semua orang pasti terpesona dengan tampilannya, dan akan dengan ringan hati menghadapinya.

Bagaimana jika keadaannya kita berjumpa dengan Nabi? Tidak cukup malukah kita jika Beliau tahu semua kelakuan kita? Mengaku-ngaku ummatnya tetapi seringkali malah menghina-hina sunnah Beliau. Jangankan ibadah-ibadah sunnah, ibadah wajib saja kita sulit untuk disiplin.

Ahad kemarin ketika seorang Ustadz memaparkan ayat-ayat tentang kiamat, dan ketika saya tidak konsentrasi dengannya, tangan saya membolak-balik lembar-lembar Qur’an saya mencoba membaca ayat-ayat lain yang menarik hati. Dan berjumpa dengan ayat di bawah:

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila kembali pada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, ‘sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat’. Padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin). Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. At-Tatfif, 83: 29-34)

Rasanya ayat itu tidak membutuhkan tafsir yang lebih detail untuk menyampaikan maksudnya, karena apa yang tertulis sudah cukup menampar kita-kita manusia akhir zaman, dimana keshalehan yang melekat pada seseorang seringkali kita tidak hargai. Alih-alih keshalehan orang lain menjadi pelajaran dan semangat untuk menjadi shaleh, malah menjadi objek yang pantas untuk dihina-hina. Ada kasus dimana orang-orang bergelimang harta yang merendah-rendahkan seorang pengelola mushalla miskin. Dan banyak kasus lain yang senada dengan itu. Kemuliaan seseorang kini dilihat dari banyak harta, gelar akademis dan kebangsawanan. Tidak heran semua orang melakukan apa saja demi mendapatkan kemuliaan itu.

Saudaraku, berhati-hatilah, jaga kesadaran akhirat, syurga dan neraka kemanapun kita pergi. Fokus, konsentrasi, dan jangan bosan untuk kembali pada Allah. Seorang Sahabat Nabi sampai-sampai selalu membawa kafan di tasnya kemanapun ia pergi, sekedar untuk menjaga kesadarannya pada Allah SWT.

Minggu, 06 Desember 2009

Puncak Emosi dan Rasa

Memuncak perasaan dan emosiku di hari kemenangan (Aidil Fitri 1430 H) kali ini. Aku banyak lihat orang bicara tentang kebaikan hanya dalam kemasan-kemasan dunia bukan lagi tuntutan hati. Aku lihat dicermin diriku pun masih melakukan hal yang tidak berbeda. Lihatlah kita yang ada di majelis-majelis kebaikan, diatas-atas mimbar dan di acara-acara televisi, bicara tentang kemiskinan dan kedermawanan sementara tangan mereka bergelimang harta dan kemegahan. Mereka bicara tentang kezuhudan dan qona’ah sementara mulutnya juga masih penuh dengan makanan dan minuman yang belum terkunyah.

Aku lihat kehancuran ummat ini perlahan-lahan. Bahkan aku lihat kehancuran itu seiring dengan tawa dan canda mereka. Ya mereka tidak menyadari kalau diri mereka tengah menghancur. Sendi-sendi kehidupan mereka semakin rapuh tak memiliki tenaga. Karena mereka semakin jauh dari Tuhan mereka. Mereka terlena dengan hasutan syetan dan bala tentaranya, mereka fikir mereka sedang berdoa, padahal sedang bersidekap dengan dosa. Mereka fikir amal mereka sudah menggunung, padahal dosa sudah meliputi alam semesta.

Saat-saat seperti inilah kita semua memerlukan akal sehat yang lebih dari biasanya. Akal sehat yang sekedar membuat kita tidak larut dalam kepalsuan masal. Diluar sana, banyak orang yang telah menyerah dengan keadaan. Mereka fikir arus kehancuran adalah kebaikan bagi mereka. Kalaupun ada yang mampu melihat hakikat kerusakannya arus ini terlalu deras untuk mereka bendung. Dan akhirnya kepalsuan menjadi nilai dan keyakinan. Kepalsuan menjadi gaya hidup yang secara perlahan semakin susah dikenali keburukannya. Karena semakin masif semakin berubah ia menjadi kebenaran.

Bentuk keburukan inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi dakwah ekonomi Islam. Perjuangan menegakkan islam dalam aktifitas ekonomi harus berhadapan dengan masalah terbesarnya, yaitu prilaku manusia itu sendiri. Mendidik dan membina manusia menjadi kerja-kerja awal dalam pembangunan system ekonomi. Sementara itu pengorbanan menjadi konsekwensi yang wajib bagi para pejuang-pejuangnya. Hal inilah yang kemudian membuat perjuangan penegakkan atau sekedar melambatkan arus kehancuran semakin berat. Perjuangan berhadapan dengan ketidaksadaran mayoritas manusia, sikap artificial mereka, kondisi mabuk dunia dan kerikil-kerikil jalan bagi pejuang-pejuang dakwah.

Jumat, 04 Desember 2009

Kemiskinan




Kali ini saya ingin bicara sedikit tentang kemiskinan. Data kemiskinan terakhir menyebutkan ada kurang lebih 45 juta orang dari populasi bangsa ini yang hidup dalam kemiskinan. Pemerintah sendiri tahun ini mengalokasikan sekitar Rp60-an triliun sebagai anggaran untuk mengatasi masalah kemiskinan. Angka total bagi kemiskinan tentu jauh lebih besar jika dihitung pula angka pengeluaran sector swasta dan program pemerintah lain yang terkait masalah kemiskinan.

Tetapi mengapa kemiskinan belum juga berubah posisinya, misalnya sedikit lebih sejahtera gitu? Kualitas dan kuantitas orang kaya semakin-hari semakin meningkat. Gaya-gaya hidup mereka yang kaya disekitar saya menunjukkan gejala itu. Symbol-simbol gaya hidup kaya semakin bervariatif dan cenderung meninggi. Sementara manusia miskin, tetap seperti itu, tak punya apa-apa. Definisi kaya semakin hari semakin mewah dan megah, sementara definisi miskin tidak mengalami perbaikan.

Ditulisan ini saya tidak ingin memecahkan semua masalah kemiskinan, dan tidak juga ingin memberikan gambaran utuh peta kemiskinan yang ada, sehingga rekomendasinya akan valid bagi upaya-upaya pengentasannya. Saya hanya ingin menulis fenomena kontras yang saya bias tangkap melalui mata dan rasa.

Kemiskinan saat ini pada saya tidak lagi hanya sekedar fenomena akibat dari sebuah dinamika dan interaksi kehidupan, Tetapi telah ada kecenderungan secara perlahan yang disengaja, bahwa kemiskinan telah menjadi salah satu sector ekonomi. Kemiskinan telah berubah menjadi industri utuh, dimana elemen-elemen industri telah lengkap dalam sebuah industri yang kita sebut dengan kemiskinan.

Dalam industri ini, mekanisme demand dan supply sudah terbentuk dan berlangsung secara sempurna. Ya betul, kemiskinan telah membentuk pasarnya sendiri. Permintaannya dipenuhi oleh orang-orang mampu yang memiliki belas kasihan, sementara orang-orang miskin dan orang mengaku miskin menjadi kekuatan supply yang berusaha keras me-utilisasi rasa belas kasihan orang-orang mampu. Dalam pasar kemiskinan produk kemiskinan semakin bervariatif. Bahkan kemasannya semakin canggih, dari kemasan tradisional seperti pengemis pinggir jalan sampai kemasan rumit seperti makelar anak yatim-piatu, yang menyediakan bagi siapa saja anak-anak yatim-piatu untuk memeriahkan hari ulang tahun dan acara hari-hari besar Islam, agar acara mereka menjadi lebih terlihat shalehnya.

Duh, tulisan saya ini memiliki kesan su’udzan yang sangat kental, wallahu a’lam. Maafkan saya jika ini terbaca kasar. Tetapi saya ingin bilang apa yang saya tulis di atas, karena gemas ketika melihat itu di sekitar lingkungan saya.

Kembali pada kemiskinan, bahwa kemiskinan tidak lagi menjadi sebuah kehinaan yang dihindari oleh semua manusia yang ingin hidupnya terhormat, baik di mata manusia lain maupun di hadapan Tuhan. Kemiskinan telah menjadi jalan keluar bagi mereka untuk mendapatkan income. Logika manusia kemudian menjadi begitu sederhana. Orientasi hidup manusia cenderung tunggal, yaitu orientasi kekayaan materi, tidak peduli caranya baik, buruk atau bahkan bermaksiat dihadapan Tuhan.

Ironisnya, semua manusia seakan menutup mata dengan apa yang saat ini tengah berlangsung. Yang miskin semakin asyik dengan kemiskinannya. Mereka malah semakin sibuk dengan upaya-upaya bagaimana melakukan inovasi-inovasi produk kemiskinan yang semakin canggih. Semakin bagus kemasan kemiskinan, maka akan semakin tinggi rasa iba dan semakin banyak returnnya. Dalam cost-benefit analysis, investasi di sector kemiskinan ini rasio biaya dan pendapatannya sangat menggiurkan. Biaya mengemas kemiskinan cenderung kecil, sementara profitnya bias sangat tinggi.

Sedangkan yang kaya juga semakin asyik dengan kekayaannya. Mereka tidak peduli dengan hal ini, sepanjang keadaan ini tidak mengganggu aktifitas mereka menumpuk keserakahan dan menikmatinya. Mereka cukup nyaman, setelah memberikan seribu perak dari bermiliar-miliar hartanya.

Hasil perenungan di atas inilah yang semakin menguatkan saya untuk menyimpulkan bahwa sentral masalah ekonomi adalah kualitas manusia. Manusia shaleh menjadi solusi yang sangat ampuh untuk menyelesaikan persoalan ekonomi melalui dua golongan manusia dalam masyarakat, yaitu masyarakat miskin dan masyarakat kaya. Bayangkan, begitu indahnya jika diantara kita masyarakat kaya dan masyarakat miskinnya shaleh-shaleh.

Sibuk


Kalau kita tidak sibuk dengan masalah-masalah dakwah, tentu kita akan sibuk dengan urusan dunia yang lain. Seperti inilah hikmah yang akhirnya saya maklumi ketika menyadari bahwa saya tidak jarang susah mendapatkan waktu untuk dinikmati sendiri.

Ikhwatifillah, mungkin diantara kita sudah ada yang telah lama mengambil jalan dakwah ini, mewakafkan diri, waktu, tenaga dan hartanya bagi kerja-kerja dakwah. Atau anda yang baru saja mengenali dan baru bergabung dalam jalan kebaikan ini, tentu akan menghadapi momen-momen dimana diri sedikit menuntut untuk dapat menikmati dunia dengan semua fasilitas kenikmatan yang ada. Tetapi selalu saja ada rasa hati dan jiwa yang tak nyaman. Dan pertentangan itu selalu mengisi waktu-waktu hidup secara rutin. Kadang kita bisa atasi dengan memutuskan pilihan secara tepat, tetapi tak jarang kita salah dan lebur dalam arus keburukan baik sadar maupun tidak.

Itu mengapa, ikhwatifillah, selain membutuhkan kekuatan jiwa dan ruhani agar mampu bertahan pada idealisme dan kita juga membutuhkan belas kasihan Tuhan, kasih sayang-Nya yang luas dan total yang tak tergantung pada dekatnya kita pada-Nya, agar Tuhan tidak pernah memberikan ujian jiwa dan ruhani yang membuat kita asyik pada kesibukan lain selain dakwah dan kebaikan.

Jika kita tidak sibuk dengan masalah dakwah dan kebaikan lainnya, kita akan sibuk dengan harta-harta kita, kita akan sibuk dengan anak-anak dan keluarga kita, kita akan sibuk dengan apa-apa yang diinginkan oleh perut dan lidah, kita akan sibuk dengan nafsu dan keinginan yang batasnya tak terhingga.

Seorang teman pernah mengingatkan, kesibukan kita menunaikan amanah dakwah tak jarang korelasinya kuat dengan terpeliharanya kesehatan dan kenyamanan keluarga. Ketika kita sibuk menegakkan agama Allah ini yang kemudian menyita waktu-waktu yang kita punya, maka Allah-lah yang dengan kasih-sayang-Nya menjaga dan memelihara anak-istri kita.

Sebaliknya ketika amanah (baca juga sebagai kemuliaan) itu kita abaikan, maka tentu kita akan sibuk dengan urusan-urusan dan masalah-masalah keluarga, ekonomi, pergaulan dan lain sebagainya. Misalnya kita akan sibuk dengan kesehatan anak memburuk, harta yang hilang, handphone yang rusak, tetangga yang tidak ramah, kerabat yang bermasalah, tugas kantor yang menumpuk atau sekedar sibuk dengan keinginan-keinginan yang terpendam.

Ikhwatifillah, mari ingatkan diri kita masing-masing, bahwa kemuliaan yang sudah Tuhan amanahkan pada kita ini berupa tugas-tugas dakwah, akan menyelamatkan diri kita, anak-anak kita, istri-istri kita (sengaja saya tulis plural ) dan semua yang ada disekitar kita. Kita Bantu tegakkan agama Allah, maka tentu Allah akan Bantu dan mudahkan semua urusan kita.

syair tentang aku..

siapa aku

mau tahu berapa banyak kebaikanku?
ia laksana telaga yang merasa seperti samudra
mau tahu seperti apa keburukanku?
ia mengira seperti setetes embun padahal seluas alam semesta

bianglala di cakrawala hidupku, tapi tak kulihat warnanya
air telah melepaskan dahagaku, tapi tak kurasa segarnya

mau tahu siapa aku?
aku yang tahu syurga diujung jalan
tapi dengan sadar melangkah mundur ke neraka

13 Oktober 2007, 22:15 WITA, Balikpapan

siapa aku (2)

Ingin kubelah langit dengan kata-kata
kuaduk-aduk bintang dengan kalimat-kalimat sastra
Tidak ada yang kucari kecuali satu saja
Sekedar takdir masa depan yang tak kutahu apa

Aku ini pelamun bukan pujangga
Tapal batas pelamun sejauh batas yang pernah ada
Sementara batas pujangga sepanjang goresan pena pada kata
Sehingga pelamun bukanlah pujangga

Beda pelamun dan pujangga laksana imajinasi dan sastra
Tetapi dunia mereka sama, dunia para perenung dan penyendiri
Aku bukan pujangga karena aku tidak suka mempermainkan kata
Aku hanya pelamun yang mencari kata untuk diri dan sepi

14 Oktober 2007, 12:00 WITA, Balikpapan

siapa aku (3)

Hening di sana sepi di sini
Seluas-luas bumi ingin kucari
Karena dengan hening kunikmati dunia
Oleh sebab sepi kudapatkan bahagia

Aku tidak pernah bermimpi
Semua mimpiku sudah menjadi imajinasi
Aku pun tak memiliki cinta untuk dijadikan obsesi
Karena kutahu bersama takdir selalunya ia pergi

Yang kupahami aku hanya seorang pelamun pencari sepi
Yang selalu mencari inti dari semua peristiwa dan rasa
Senyap-senyap pula kutemukan siapa diriku ini
Manusia yang penuh dengan tipu daya dan dosa

Duhai Tuhan pemilik segala-gala
Inilah aku makhluk kreasi-Mu
Menyelam disamudra dunia mencari makna
Berdiri disini mencari hakikat cinta-Mu

14 Oktober 2007, 16:18 WITA, Balikpapan

bukan siapa-siapa

terlalu banyak manusia di dunia ini yang tidak dikenali sejarah tetapi kemuliaannya laksana nabi dan para aulia. jangankan sejarah dunia, sejarah bertetangga saja ia tidak dikenali. ia hanya dikenali oleh malaikat setia karena sepanjang hidupnya ia menyibukkan malaikat-malaikat itu untuk mencatat amal kebaikannya berbuku-buku. tinta harus berganti untuk terus menuliskan kebaikan pada lembar demi lembar... siapa dia? dia bukan siapa-siapa, dia boleh jadi kita. karena kita bisa melakukan kemuliaan itu semua, langkah demi langkah dihiasi dengan kebaikan yang terjaga ketekunannya, terpelihara kualitasnya. menyingkirkan batu dari jalan, ramah pada sesama, ringan membatu pada siapa saja, jauh dari rasa prasangka, menyambung silaturahim kepada saudara dan siapapun yang dikenalinya... ringan bukan? ujian dan cobaan dihadapinya dengan sabar dan rasa cinta. harapnya hanya satu... bila tiba masa berjumpa dengan kekasihnya di Syurga...

14 Oktober 2007, 07:45 WITA, Balikpapan

Kerja Nafkah Vs Kerja Dakwah




Saudaraku, jika saat ini kita terjebak pada angan-angan panjang tentang kerja dan karir, jika saat ini kita terobsesi dan menghabiskan energi untuk kerja-kerja bermotivasi nafkah, yang akhirnya ia mengurangi waktu kita “bersama” Allah, maka berhentilah sejenak. Fikirkan kembali apa hakikat dunia ini, renungkan kembali hakikat diri kita ini.

Kita memang butuh nafkah, untuk melangsungkan kehidupan, untuk memelihara kehormatan dan harga diri, untuk mewujudkan semua harapan atau bahkan angan-angan. Tetapi tidak jarang kerja nafkah terasing dari orientasi hidup yang sejati, mengganggu konsentrasi kehidupan yang hakiki, yaitu orientasi dan konsentrasi penghambaan kepada Tuhan.

Kita sudah diajarkan oleh para ustadz kita, bahwa kerja adalah salah satu bentuk ibadah terbaik. Menyediakan penghidupan bagi anak dan istri atau siapapun yang ada di bawah tanggung-jawab kita, merupakan kemuliaan yang sangat tinggi. Sampai-sampai Nabi mengutamakan tangan-tangan kasar akibat kerja daripada tangan lainnya.

Oleh sebab itu, pertentangan kerja nafkah dan kerja ibadah atau dakwah sepatutnya tidak ada. Kerja nafkah yang halal akan menjadi mulia dia ketika dimulai dengan niat yang mulia. Bahkan kemuliaannya bertambah-tambah ketika proses dan hasilnya bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan tetapi juga mampu mengajak lingkungan disekitar kita mendekat kepada Tuhan bersama-sama.

Saudaraku, orientasi hidup harus selalu ada dalam hati dan ingatan. Orientasi penghambaan harus senantiasa mengisi ruang dan waktu dari hidup dan kehidupan. Itu mengapa kerja dakwah menjadi kerja utama yang didalamnya terdapat kerja-kerja nafkah. Keduanya tidak dipisahkan, tidak bisa didikotomikan. Keduanya memiliki fungsi yang saling bergantung, baik dalam definisi dan fungsi.

Kerja nafkah tanpa orientasi kerja dakwah, menjadi kerja-kerja para zombie dunia. Sedangkan kerja dakwah tanpa nafkah adalah kerja tanpa kehormatan yang tak akan memberikan hasil yang optimal. Hasil dari kerja kombinasi keduanya akan memberikan kemuliaan puncak, memberikan makna dan semangat yang tepat dari semua aktifitas hidup. Dan keduanya harus menjadi kerja-kerja kita sebagai seorang individu dan sebagai jamaah manusia Islam. Wallahu a’lam.

Rabu, 02 Desember 2009

Kemegahan Dubai dan Cita-Cita Ekonomi Islam



Kehancuran ekonomi Dubai, menjadi buah bibir banyak orang saat ini. Kekhawatiran pada nasib ekonomi Islam muncul di permukaan, mengingat dubai menjadi kompetitor penting dalam pasar sukuk bagi negara terkemuka di daerah Timur Tengah yaitu Bahrain. Sentimen negatif dicemaskan akan muncul terhadap perkembangan keuangan Islam yang saat ini sudah mengemuka sebagai salah satu alternatif solusi kekacauan sistem keuangan global.

Sebelum ini kemegahan Dubai seakan-akan menjadi simbol dari ketangguhan dan kedigdayaan ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi masa depan. Bahkan Dubai perlaan-lahan menjadi landmark dunia atas semua devinisi agung peradaban manusia modern. Gedung yang megah dan mewah, fasilitas hidup yang lengkap dan canggih dan tata kehidupan kelas atas yang hampir dinikmati semua penghuni kota, menjadi indikator utama dari kemegahan Dubai sebagai kota maha karya manusia.

Pada satu kesempatan, saya sempat mengunjungi Dubai dan mendapat cerita bagaimana ambisi, obsesi dan usaha keras penguasa Dubai untuk menjadikan kota itu, kota terkemuka dunia. Menyadari ketidakmampuan Dubai dalam sumberdaya alam kecuali tanah kosongnya, membuat penguasa Dubai mengambil strategi utama pembangunan ekonominya melalui pembukaan free trade zone dan free tax area. Singkat cerita, menjelmalah Dubai sebagai kota tujuan imigrasi utama pengusaha, pekerja dan perusahaan asing khususnya Eropa dan Asia, sampai-sampai penduduk asli Dubai hanya 18% dari populasi Dubai saat ini.

Mungkin mengacu pada tingginya imigrasi dan melesatnya aktifitas bisnis-ekonominya, Dubai percaya diri membangun kotanya dengan infrastruktur, real estate dan mega property lainnya. Tapi apa dinyana, badai krisis ekonomi global melumerkan hingar-bingar bisnis diseluruh pelosok bumi, termasuk Dubai. Krisis keuangan global telah berubah menjadi krisis ekonomi (riil).

Negara dengan populasi kecil yang merefleksikan tingkat demand (konsumsi) yang kecil dan tergantung pada aktifitas ekonomi internasional akan merasakan hantaman ini. Dan Dubai sebagai negara berkarakteristik seperti itu ditengarai menjadi korban akibat krisis ekonomi yang cenderung berlarut-larut. Dan kini kemegahannya mulai dicibir.

Pelajaran yang sangat mahal! Ini komentar spontan yang saya punya. Saya jadi menerawang dalam dunia idealisme saya. Cita-cita ekonomi Islam bukanlah tergambar oleh kemegahan gedung dan kemewahan hidup. Cita-cita ekonomi Islam adalah kemegahan manusianya, manusia-manusia Islam yang shaleh, manusia Islam yang “kekayaan”nya dihitung dari amalnya, bukan dari harta dan kemuliaan status sosialnya.

Boleh jadi keterpurukan Dubai ini belum seberapa. Mungkin ini baru permulaan dari kehancuran yang lebih buruk. Karena jika ini sebuah kehendak Tuhan, maka kehancuran bukan hanya akibat keserakahan Dubai tetapi juga karena ketidakpedulian mereka dengan saudara mereka beberapa ratus kilometer dari Dubai, Palestina!

Minggu, 22 November 2009

Perbankan Syariah 2009 - 2010: Pesimis/Optimis?


Mencermati data perkembangan perbankan syariah nasional, hati saya sangat pesimis, mengingat angka perkembangannya sepanjang tahun 2009, boleh jadi, akan menjadi angka pertumbuhan terendah selama ini. Kinerja keuangan perbankan syariah juga menunjukkan angka yang kurang bisa membuat kita tersenyum, misalnya angka NPF yang relatif meningkat dan posisinya melebihi rata-rata nasional pada hampir semua sektor ekonomi, kecuali pertanian.

Hantaman krisis global pada perekonomian Indonesia, menjadi dalih utama menjawab pertanyaan; mengapa bisa begitu? Tapi apa dalih ini cukup membuat kita berlepas tangan dari capaian "pas-pasan" tahun 2009 ini? Meskipun pencapaian pertumbuhan perbankan syariah 2009 ini masih jauh di atas pencapaian pertumbuhan perbankan umum secara nasional, tetapi tetap saja trend pertumbuhannya ada pada trek penurunan.

Harapannya 2009 menjadi tahun perbankan syariah ada di dasar siklus bisnis, dan artinya 2010 harus menjadi tahun bangkitnya perbankan syariah nasional. tahun 2010 akan menjadi tahun yang memberikan bukti apakah perbankan syariah mampu mengambil momen-momen pengembangan.

Apa itu? Krisis keuangan global sepatutnya menjadi angin segar bagi percepatan keuangan syariah termasuk Indonesia. Disahkannya UU No. 42 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) seharusnya menjadi milestone bersejarah bagi tumbuh dan berkembangnya perbankan syariah nasional pada tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, suhu politik pasca Pemilu seharusnya membuat tensi sektor riil meningkat lebih baik, akibat kepastian usaha, arah kebijakan pemerintah telah jelas terlihat serta kondisi makro lebih mapan terwujud. Kondisi ini harusnya membuat siklus bisnis perbankan syariah meningkat. Jadi 2010 seperti apa wajah perbankan syariah kita?

Berdasarkan analisis beberapa variabel makro dan kecenderungan industri, harapan-harapan diatas sangat mungkin untuk diwujudkan. Mulai bertambahnya Bank Umum Syariah (BUS) baru yang dimulai tahun 2008 seharusnya menjadi sinyal atas kepercayaan diri pada tahun 2010.

Momentum dikeluarkannya UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah telah menghasilkan 2 BUS baru; BRI Syariah dan Bukopin Syariah. Bagaimana tahun depan? Pada beberapa kesempatan pimpinan DPbS Bank Indonesia menyebutkan ada beberapa BUS baru yang akan muncul tahun 2009 sampai 2010, seperti Panin Syariah, Jabar-Banten Syariah, Victoria Syariah, BNI Syariah dan BCA Syariah.

Sementara itu untuk UUS, khabarnya OCBC NISP dan Sinar Mas tak lama lagi akan bergabung dalam "jama'ah" perbankan syariah. Sedangkan Maybank rencananya juga akan bergabung, meskipun khabar ini perlu ditabayun validasinya. Meskipun begitu perlu diketahui jumlah lembaga bank syariah memang harus menyusut juga akibat merger, likuidasi dan peralihan bentuk lembaga, seperti UUS Lippo syariah yang merger dengan Niaga menjadi UUS CIMB Niaga Syariah, UUS IFI harus tutup karena likuidasi dan UUS BEI yang tutup karena peralihan BEI menjadi lembaga bukan bank.

Tanda-tanda geliat industri juga diindikasikan oleh agresifnya perbankan syariah mengembangkan jaringan kantornya tahun ini dan tahun depan. Persaingan yang ketat, di level size bisnis juga SDM diharapkan membuat pertumbuhan perbankan syariah memasuki area "next level of growth".

Diluar analisis organik industri diatas, diharapkan industri ini mendapat mesin baru untuk tumbuh melalui kebijakan-kebijakan pemerintah, seperti adanya bank BUMN yang menjadi syariah atau keberpihakan pada Bank Syariah dalam pengelolaan perbendaharaan negara dan publik; misalnya pengelolaan eksklusif dana haji oleh bank syariah.

Hmmm... entah kapan ya... mimpi saya Bank Syariah menjadi trend setter industri perbankan terkait dengan size industri, pelayanan, produk, transparansi dan variabel lainnya dalam industri perbankan nasional.

Selasa, 17 November 2009

Ekonomi Islam dan Syurga

Syurga. Kata yang memiliki berbagai makna pada semua tingkatan emosi. Syurga adalah tempat yang menjadi cita-cita, tujuan atau bahkan obsesi. Syurga merupakan salah satu elemen konsep hidup yang meyakini keberadaan kehidupan setelah mati. Konsep yang melimitasi keinginan manusia dan membaginya menjadi dua orientasi; hidup dan mati. Syurga juga kemudian membuat kematian menjadi bagian yang penting dalam pengambilan keputusan-keputusan hidup.

Dalam ekonomi, syurga juga tidak bisa dikesampingkan. Meskipun kesannya memiliki hubungan yang sangat jauh, tetapi menggunakan kaca-mata ekonomi Islam, keberadaan syurga menjadi sangat penting dan vital. Dengan adanya syurga, orientasi dan motivasi berekonomi menjadi terdefinisikan dengan lebih jelas. Kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah (Tuhan) dalam aktifitas ekonomi menjadi memiliki alasan yang kuat dan rasional dengan wujudnya syurga.

Kenikmatan maha dahsyat yang ditawarkan oleh syurga yang bersifat kekal, menjadi “iming-iming” yang membuat manusia mematuhi segala persyaratan agar layak masuk syurga dalam hal ekonomi. Disiplin menyisihkan sebagian harta berupa zakat dan konsisten menjauhi riba menjadi persyaratan mutlak untuk dilayakkan mendapatkan sebidah lahan di syurga dengan segala fasilitanya.

Namun sangat disayangkan kebanyakan manusia tidak menggunakan logika-logika diatas. Syurga ditempatkan dilain sisi kehidupan, sehingga syurga seakan-akan dilupakan dalam aktifitas keseharian mereka. Syurga seakan-akan menjadi alasan yang terlalu berlebihan dalam ekonomi. Menyandingkan syurga dengan ekonomi dinilai terlalu memaksakan kondisi. Syurga terlalu sakral dan suci untuk dikait-kaitkan dengan kerja-kerja ekonomi, yang dipercayai sebagian manusia penuh dengan tipu daya dan muslihat.

Namun jejak-jejak keyakinan dan pengharapan pada syurga terlihat pada prilaku manusia. Lihat saja bagaimana kebanyakan manusia berusaha keras untuk mewujudkan syurga dalam hidup dan kehidupannya. Mereka membangun rumah, istana, kebun dan semua fasilitas hidupnya sedekat mungkin sama dengan obsesi syurga yang mereka persepsikan. Mereka ingin mewujudkan syurga dimuka bumi.

Namun yang menjadi masalah adalah dalam upayanya mewujudkan impian-impian itu di muka bumi, mereka tidak memperdulikan rambu-rambu yang diperkenankan oleh pemilik syurga. Yang nampak sangat jelas dari upaya itu adalah keserakahan.

Minggu, 15 November 2009

Ekonomi Islam: Sistem Sederhana untuk Manusia Sederhana

Pilar utama ekonomi yang disebutkan Tuhan dalam firman-Nya, yaitu jual-beli, mengindikasikan kesederhanaan bentuk sistem ekonomi dalam Islam. Jual-beli menjadi pedoman atau referensi pengembangan ekonomi dengan semua aktifitasnya. Jual-beli bahkan harus menjadi acuan atau ukuran dalam menilai konsistensi ekonomi dalam menjalankan prinsip-prinsip Islam.

Jual-beli menjadikan warna ekonomi begitu sederhana. Bahwa ekonomi harus bermuara pada aktifitas jual-beli, termasuk aktifitas pendukung ekonomi di sektor keuangan; investasi, menjadikan ekonomi tidak rumit dan kompleks. Bagi anda yang tidak suka berpikir rumit, mengenali transaksi ekonomi Islam mudah saja, lihat akhir transaksi, apakah ada jual-beli di ujung aktifitasnya.

Kompleksitas terjadi di perekonomian modern, karena ekonomi tidak concern terhadap underlying transaksi ekonomi. Ekonomi modern hanya memperhatikan prosesi-prosesi dan outlet-oulet "how make money more money". Akhirnya menggunakan konsep bunga dan spekulasi inovasi terjadi membabi-buta dengan "penerimaan pasar" (free market mechanism) sebagai wasitnya.

Dan kesederhanaan sistem ekonomi ini, ternyata pas sekali bagi manusia. karena manusia (Islam) yang diinginkan Tuhan adalah manusia yang sederhana pula, manusia yang 'ngga' muluk-muluk, manusia yang menjadikan ekonomi sebatas alat bantu dalam menunaikan tugasnya sebagai hamba Tuhan; beribadah semaksimal mungkin, semampunya, menggunakan semua yang dimiliki termasuk hartanya (kemampuan ekonominya).

Manusia sederhana itu menyadari sepenuh hati, bahwa kerja nafkahnya tidak hanya bergantung pada kemampuannya, tetapi ada kehendak Tuhan yang di sandari. begitulah, manusia sederhana yang menggunakan sistem ekonomi yang sederhana.

Rabu, 11 November 2009

Kemuliaan dan Kehinaan


Duhai saudaraku, pernahkah kita merenung barang sejenak keadaan kita nanti di padang mahsyar? Tempat dimana masing-masing manusia harus menghadapi maha sidang dari semua perkara dunia yang telah dilaluinya. Padang mahsyar adalah saat dimana kecemasan dan kegelisahan menjadi pengisi penuh benak semua orang. Bagaimana keadaanmu saat itu?

Tiba-tiba lintasan fikiran ini muncul di benak saya, tidak tahu kenapa. Pertanyaan selanjutnya yang menyentak adalah; siapkah kamu? Duh saudaraku, siapkah kita. Kalau saja pertanyaan yang muncul itu; keadaan apa yang kau inginkan nanti di padang mahsyar? Mungkin dengan mencoba merendahkan hati, saya ingin menjawab seperti ini.

Saya ingin di padang mahsyar lisan yang menjawab semuanya dengan jujur, tidak perlu minta tangan, kaki, mata atau jari-jemari. Kalau memang saya berdosa saya ingin akui itu, saya ingin saya yang menghinakan diri, saya tidak ingin diwakili oleh siapapun termasuk semua panca indera yang saya punya. Karena sayalah yang paling bertanggung jawab menjaga amanah badan ini. Karena boleh jadi pengakuan di padang mahsyar itulah kebaikan satu-satunya yang saya mampu lakukan.

Duhai saudaraku, lihatlah dunia saat ini, mungkin banyak yang mengutuki saudaranya yang lain atas perbuatan dosa dan maksiat mereka. Tetapi pernahkah kita bayangkan, boleh jadi itu hanya tontonan dari Tuhan, begitu mudahnya Allah hinakan seseorang. Tuhan hanya buka tabir aibnya pada sekelompok orang dan akhirnya disaksikanlah oleh seluruh alam.

Bagaimana jika Allah angkat tabir aib kita? Masih mampukah kita mengangkat tangan dan jari telunjuk untuk menuding-nuding kebusukan dan kehinaan seseorang? Duhai saudaraku, itu mungkin alasan Tuhan ajarkan pada kita doa shalat dimana diselipkan satu permintaan yang mungkin selama ini kita remehkan, yaitu doa duduk diantara dua sujud; ya Allah tutuplah aibku (...wajburni...).

Semua panca indera yang kita punya dari ujung rambut hingga ujung kaki boleh jadi sudah pernah bermaksiat, tapi ternyata manusia masih melihat kita sebagai manusia yang terhormat, hanya karena tabir aib kita tidak dibuka. Mari istighfar...

Selasa, 10 November 2009

Logika Langit dan Logika Bumi


Kombinasi kemampuan kerja (ikhtiar) dengan pertolongan Allah (tawakkal) dalam prinsip kerja manusia shaleh mencerminkan penyatuan logika bumi dan logika langit dalam rasionalitas mereka. Keyakinan pada kehendak Allah atas semua realita hasil kerja sama kuat dan sama pentingnya dengan kerja-kerja mewujudkan sesuatu.

Bahkan kehendak Allah telah memiliki rambu-rambu atau bahkan mekanisme dan arahan yang spesifik. Kehendak Allah itu bahkan sudah begitu vulgarnya, misalnya Beliau sudah janjikan bahwa barangsiapa yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, Allah akan lipatgandakan rizkinya, barangsiapa yang menolong agama Allah Allah akan tolong dia dan masih banyak lagi.

Keyakinan pada Allah berikut kehendak dan janji-janji-Nya, sudah sepatutnya menjadi kekuatan manusia shaleh. Janji Tuhan harus menjadi logika yang sama shahihnya dengan logika dunia. Janji Tuhan bahwa sedekah melancar dan melipatgandakan rizki seharusnya menjadi keyakinan yang sama atau bahkan lebih besar dari keyakinan mendepositokan uang di bank syariah akan memberikan keuntungan bagi hasil.

Meyakini logika-logika langit memang membutuhkan energi ekstra. Karena keyakinan pada Tuhan dan percaya pada janji-janji-Nya membutuhkan kondisi hati dan jiwa yang spesial. Keyakinan ini merupakan hasil dari pelatihan dan tempaan pada hati dan jiwa.

Menurut saya keyakinan itu dapat diterima oleh seorang manusia dengan utuh ketika ia mampu memelihara kebersihan hati dan kecerdasan akal dengan baik. Dua modal ini menjadi syarat agar manusia menerima dengan lapang dada kehendak-kehendak Tuhan, dan kemudian ia jadikan pedoman dalam bekerja dan menyikapi hasil kerja.

Mengapa ini penting? Karena kerja-kerja kebaikan pada dasarnya kerja yang mengkombinasikan harapan manusia dan kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak hanya fokus dan hanya bersandar pada usaha-usaha yang dilakukan, tetapi ia juga harus bersandar pada keinginan Tuhan. Karena manusia shaleh tahu betul bahwa hanya kehendak Tuhanlah yang terbaik bagi dirinya.

Ingat firman Tuhan dalam sebuah hadits Qudsi:

Wahai hamba-Ku engkau berkeinginan Akupun berkeinginan
Jika engkau tidak sandarkan apa yang engkau inginkan pada-Ku
Maka akan aku berikan kamu keletihan dan kesengsaraan
Jika engkau sandarkan apa yang engkau inginkan pada-Ku
Maka akan aku cukupkan apa yang engkau butuhkan
Sesungguhnya yang terjadi itu apa-apa yang Aku inginkan

Senin, 09 November 2009

Bisakah Riba Musnah?


Dalam seminar Fossei di Purwolerto, terlontar sebuah pertanyaan sederhana yang menuntut jawaban yang komprehensif dan meyakinkan. Pertanyaan itu: “apakah mungkin Riba hilang dari bumi Indonesia?” Anda sendiri mau menjawab seperti apa. saya yakin setiap anda memiliki versi sendiri-sendiri dalam merespon pertanyaan ini. Dan saya ingin menyampaikan opini saya terkait pertanyaan ini.

Ketika itu saya hanya menjawab singkat (karena waktu yang terbatas); dengan logika ekonomi menghapus riba sangat dimungkinkan, lakukan dengan menggunakan prinsip demand-supply, untuk menghilangkan peredaran suatu produk di pasar dapat dihilangkan dengan cara menghilangkan demand-nya, harapannya supply terhadap barang tersebut terhenti.

Menghilangkan riba sebagai sebuah produk pasar sepatutnya tidak dengan cara menciptakan produk subtitusi sebagai tandingan (competitor product), karena hakikatnya tak ada subtitusi produk kemaksiatan dalam pasar kebaikan. Meskipun begitu pendekatan inilah yang saat ini banyak ditempuh. Konsekwensinya adalah, banyak energi yang harus dikeluarkan untuk menciptakan produk tandingan, atau bahkan sedikit tak terkendali karena produk yang tercipta sekedar menduplikasi riba.

Sementara itu, jika strategi menghapus riba melalui mekanisme demand-supply yang diambil, diperlukan upaya-upaya keras dalam mengedukasi pasar agar demand-nya terpengaruhi. Dakwah dan tarbiyah menjadi kunci dalam pemenangan pasar dan pencapaian misi itu. Edukasi secara tepat menggunakan materi pengajaran (dakwah dan tarbiyah) yang benar menjadi penting dalam perjuangan memerangi riba.

Bagi saya, mau-tak mau prosesi upayanya harus mengikuti kaidah dakwah dan tarbiyah yang memang telah terbukti nyata dalam pembangunan peradaban Islam. Beberapa kaidah itu adalah; (i) bertahap (marhalah); (ii) menyeluruh dan dalam (syaamil mutakammil); dan (iii) berkesinambungan (istimroriyah). Mematikan demand harus dimulai dengan mematikan preferensi dan motivasi, sehingga kemusnahannya (demand) menjadi abadi (kuat). Itu mengapa edukasi melalui dakwah dan tarbiyah harus dilakukan bertahap, menyeluruh dan berkelanjutan.

Disamping itu, perlu dipahami bahwa mematikan demand melalui preferensi dan motivasinya, bermakna menghidupkan preferensi dan motivasi baru. Apa itu? Islam! Memberikan pengetahuan hakikat Islam, hakikat Tuhan, fungsi Nabi, posisi Kitab atau kepastian Akhirat, sejatinya menghidupkan preferensi dan motivasi ekonomi yang berbeda, yaitu Ekonomi Islam.

Bagaimana tantangannya? Tentu saja sangat besar dan begitu berat. Kita lihat saja dakwah dan tarbiyah hedonisme begitu bergelombang, masif, terjadi setiap saat dimana-mana tempat, bahkan dengan kefitrahannya, manusia terkesan menyambut dengan lapang dada dakwah dan tarbiyah hedonisme daripada dakwah dan tarbiyah Islam dan ekonominya.

Jikalau gelombang hedonisme diikuti oleh kelemahan jiwa yang semakin memburuk, maka tidak ada metode dakwah dan tarbiyah Islam apapun yang mampu membendungnya, kecuali Allah membantu dengan kehendak dan kasih-sayang-Nya. Itu mengapa saudara-saudara, saya meyakini ditengah kesibukan kita berjuang ini, perlu waktu kita sediakan untuk dekat dengan Allah, agar Allah selalu memudahkan jalan, memberi petunjuk dan mencurahkan kasih sayang-Nya. Mari disiplinkan shalat wajib tepat waktu, qiyam dan shiam serta disempurnakan dengan dzikir dan sedekah pagi.

Inipun belum termasuk tantangan pada pribadi-pribadi kita sebagai seorang hamba Tuhan; ujian dan cobaan yang tidak jarang membuat langkah perjuangan menjadi tersendat. Ketika maksiat dan dosa berhasil syetan paksakan pada kita, maka hal itu seringkali mematahkan atau bahkan mematikan semangat perjuangan. Tapi percayalah saudara-saudara, kita ini jamaah manusia, tidak akan pernah ada manusia yang suci, yang luput dari salah dan dosa. Tuhan sudah kabarkan bahwa Beliau sangat berbahagia dengan manusia yang selalu bertobat meminta ampun dari setiap dosa yang dilakukannya, bahkan bahagia-Nya melebihi bahagia seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.

Mari benahi hati, agar kita semakin berhati-hati. Mari titi jalan perjuangan dengan segenap kuasa dan semangat, jikapun ada dosa di sela-sela perjuangan ini, semoga Allah memberikan belas kasihan-Nya. Mari saling mendoakan dan membantu, karena memang kekuatan kita terletak pada kebersamaan. Dan riba pasti bisa kita kalahkan!!

Jumat, 06 November 2009

Kehancuran untuk Kelahiran

Kisruh KPK Vs POLRI kian hari menunjukkan kacaunya prilaku pemimpin-pemimpin bangsa, dan kekacauan itu terjadi pada pilar utama negara, aparat penegak hukum. Kekacauan di tingkat pemimpin bangsa secara perlahan semakin mempolarisasi dua kekuatan, dan mirisnya dua kekuatan itu adalah kekuatan rakyat dan aparatur negara. Bukankah sejarah sudah memberikan pelajaran berulang-ulang kali, bahwa perseteruan rakyat dan pemimpinnya hanya akan berakhir pada kehancuran. Meski memang selanjutnya yang terjadi adalah kelahiran generasi baru dari bangsa. Jika kehancuran menjadi syarat dari munculnya kebenaran dan keadilan pada bangsa ini, maka hancurlah.

Selasa, 03 November 2009

Kesadaran


Ada saat dimana kesadaran menguasai jiwa, sehingga semua konsentrasi dan kemakluman, seseorang betul-betul mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Pada saat itulah musuh sejati manusia adalah syetan-syetan yang berada di luar dirinya, baik berupa jin maupun manusia. Ketika ia kalah dengan syetan itu, maka buruklah hasil pikiran, ucapan dan perbuatan orang tersebut. Tetapi dengan kondisi ini, seseorang lebih memiliki potensi memenangkan “pertempuran” dengan syetan, karena ia sudah memiliki kesadaran. Itu mengapa manusia-manusia sadar ini hidupnya lebih banyak memiliki kebaikan dibandingkan keburukan.

Tetapi ironisnya adalah kebanyakan manusia sulit mendapatkan kesadaran itu, atau fatalnya, tidak memiliki kesadaran ketika ia dibutuhkan. Pada kondisi yang ekstrem Ini yang mungkin disebut oleh Tuhan hati yang ditutup oleh-Nya, hati yang membatu, atau hati yang mati. Nah kita lihat dengan sangat jelas peristiwa-peristiwa yang mempertontonkan matinya hati dari banyak orang setiap harinya. Salah satunya adalah drama kriminalisasi KPK ini.

Betul matinya hati, sama saja memadamkan kesadaran, dan mengacaukan kehidupan. Ekonomi yang ingin ditegakkan di bawah panji-panji Islam adalah ekonomi yang bermodalkan kesadaran, ekonomi yang dijalalankan oleh hati-hati yang hidup. Dan ekonomi itu membersihakan hati yang kotor atau bahkan ekonomi yang menghidupkan hati yang mati.

Ya Muqallibal qulub tsabbit qulubana aladdinika...

Senin, 02 November 2009

Kesantunan di Ujung Zaman


Drama kehidupan yang dipertontonkan saat ini, seperti korupsi, rekayasa hukum, gugat menggugat, semakin memperjelas wajah Indonesia sebagai bangsa. Wajah yang jauh dari suasana sejuk apalagi sejahtera. Prestasi ekonomi boleh jadi banyak yang menyanjung Indonesia, tetapi prestasi sosial dimana harmonisasi kolektif bangsa sebagai parameternya, masih jauh dari cita-citanya.

Kesantunan, itu yang tak ada. Kesantunan yang digambarkan oleh prilaku lemah lembut, bersahaja, saling membantu, saling menjaga, tenggang rasa dan prasangka baik, menjadi nilai prilaku yang sangat dibutuhkan Indonesia.

Bila kondisi ini tidak berubah, sektor sosial berpotensi mengancap pembangunan ekonomi yang telah secara berhati-hati dibangun dan dipertahankan perkembangannya. Sektor sosial masyarakat sendiri pada akhirnya tidak akan memiliki ukuran-ukuran kebaikan dalam interaksi sosialnya. Padahal ruh sebuah kesejahteraan dari suatu komunitas bangsa terletak pada harmonisasi sosialnya. Bagaimana mungkin harmonisasi itu tercipta, jika upaya menuju kesana tidak dilakukan, bahkan yang terjadi adalah kehancuran sendi-sendi sosial yaitu ketiadaan kesantunan.

Bangunan ekonomi Islam yang menjadi mimpi semua orang terbangun oleh dua jenis batu-bata, yaitu kekuatan sistem aplikasi ekonomi yang bersumber dari prinsip-prinsip syariat yang bersih dan keharmonian sosial yang berasal dari nilai-nilai prilaku yang luhur dan terpuji.

Dengan demikian, upaya pembangunan ekonomi Islam secara utuh tidak hanya ada diranah pembangunan sistem, tetapi juga di wilayah pembentukan prilaku (individual dan kolektif). Bahkan pembangunan prilaku ini menjadi titik krusial keberhasilan pembangunan ekonomi Islam secara keseluruhan.

Mungkin perlu penataan yang lebih sistematis, terukur dan terpadu pada sistem pendidikan nasional, agar sistem pendidikan bukan hanya menelurkan sarjana-sarjana penuh ilmu tetapi juga sarjana penuh moral dan kesantunan. Ironisnya pendidikan moral masih dilakukan secara informal, pendidikan itu hanya ada di majelis-majelis taklim pada ruang dan waktu yang marginal dari bangsa ini.

Tetapi yakinlah kalau generasi bermoral itu pasti akan muncul tak peduli dari sistem pendidikan apa ia terbentuk, jika memang generasi saat ini terus bergelut dengan kondisi sosial yang kacau akibat ulah mereka sendiri. Dan kita harus pastikan bahwa kita menjadi bagian dari mereka yang akan muncul itu.

Akidah Ekonomi Islam: Realisasi Kalimat Syahadat




Syahadat sebenarnya memiliki posisi yang sentral dalam diskursus ekonomi Islam. Syahadat menjadi sebab utama ekonomi dijalankan menggunakan prinsip-prinsip ketuhanan. Karena memang fungsi syahadat memperjelas pilar-pilar prinsip ketuhanan yaitu Allah sebagai tujuan hidup, Islam sebagai pedoman hidup dan Nabi sebagai model (contoh) hidup.

Ekonomi dalam semua aspek dan aplikasinya menggunakan tiga prinsip (tujuan, pedoman dan contoh) ini sebagai kaidah yang menjaga dan memeliharanya dalam ruang-lingkup Islam. Dengan demikian, ekonomi Islam secara jelas telah menjadi konsekwensi logis dari syahadat. Memahami kerangka pemikiran ini, tentu saja signifikan pengaruhnya dalam rangka mengembangkan ekonomi Islam agar ia bermanfaat maksimal pada semua sisi kehidupan ekonomi manusia.

Kerangka fikir ini juga kemudian menjadi parameter kebersihan hati dan cerdasnya akal. Tanpa pemahaman yang jelas apa itu tujuan, pedoman dan contoh hidup, maka bersihnya hati dan akal yang cerdas tidak akan memiliki standard atau tolak ukur. Hati yang bersih dan akal yang cerdas merupakan syarat penting dari pengembangan ekonomi Islam, baik pada aplikasinya, perjuangan menegakkannya, sosialisasinya dan pembelajarannya.

Hati yang bersih akan memelihara konsentrasi fikir dan gerak pengembangan ekonomi Islam tetap focus pada Allah, melalui suasana hati yang selalu berharap kasih-sayang Allah, takut pada azab-Nya dan penuh kecintaan pada Allah. Dengan nuansa hati seperti itulah akidah yang sehat bagi ekonomi terpelihara. Dan darinya muncul niat ikhlas yang menjadi pondasi penting bagi aplikasi, penegakan, sosialisasi dan pembelajarannya.

Begitu pula dengan akal yang cerdas. Akal yang cerdas adalah akal yang selalu fokus pada kebenaran Tuhan, dimana dalam rangka menuju kebenaran proses kerja akal selalu bersandar pada firman Tuhan (revelation) dan mentafakuri alam semesta (observation). Dan kecerdasan akal seorang manusia parameternya adalah orientasi pada kematian. Memahami konsekwensi-konsekwensi hidup setelah kematian membuat akal selalu bekerja untuk menjaga jiwa dan jasadnya berada di jalan keselamatan.

Dengan karakteristik akal yang seperti itulah terbentuk pemikiran yang Islami, dimana akal dapat berperan sebagai pedoman dalam proses aplikasi, penegakan, sosialisasi dan pembelajaran ekonomi Islam.
Berdasarkan logika ini, terlihat bagaimana syahadat memiliki peran sentral bagi arah dan bentuk aplikasi, penegakan, sosialisasi dan pembelajaran ekonomi Islam. Logika ini begitu penting dimengerti, terutama bagi mereka yang berusaha memahami nature dari ekonomi Islam. Intinya adalah bahwa ekonomi Islam pada dasarnya adalah refleksi dari ketauhidan, aplikasi ketundukan manusia pada kekuasaan Tuhan atau prosesi penghambaan manusia pada Tuhan. Inilah yang saya klaim sebagai akidah ekonomi Islam.