Minggu, 02 Desember 2007

HAKIKAT EKONOMI

Banyak yang berfikir bahwa belajar ekonomi adalah belajar memahami mekanisme ekonomi, belajar memecahkan masalah ekonomi dengan mengetahui berbagai cara kemudahan mendapatkan harta, mendapatkan kekayaan. Hal ini tidak dapat disalahkan mengingat sejak awal ilmu ini lekat dengan persepsi bahwa ilmu ini mampu membuat manusia dapat memaksimalkan kepuasannya terhadap harta dan segala bentuk kenikmatan. Tak dapat dipungkiri, kecenderungan dan kecintaan manusia pada semua bentuk kenikmatan semakin memperkuat persepsi dan akhirnya fungsi ilmu ekonomi bagi orang mempelajarinya. Apakah betul demikian? Bagaimana Islam memandang ilmu ini?

Dalam Islam, ilmu ekonomi pada dasarnya merupakan ilmu yang tidak terpisahkan dengan agama. Dengan kata lain ekonomi adalah Islam itu sendiri dengan wajah ekonomi, dengan bahasa dan wilayah bahasan ekonomi. Ekonomi merupakan bahasa Islam atas semua aktifitas, pengetahuan dan apa saja yang terkait dengan penyikapan manusia terhadap kenikmatan dunia, terhadap faktor produksi atau sumber daya ekonomi. Oleh sebab itu kegunaan ekonomi sudah semestinya tidak lepas dari fungsi Islam itu sendiri.

Apa fungsi Islam? Ya sederhananya, Islam merupakan instrumen agar manusia menjadi manusia yang diinginkan Tuhan, yaitu manusia yang selalu menyembah, mengabdi dan tunduk pada-Nya. Dengan demikian, Ekonomi dapat difungsikan sebagai alat bagi manusia untuk tetap menjadi manusia dalam segala aktifitas yang terkait dengan harta, dengan segala kenikmatan dunia. Aktifitas seperti apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia yang diinginkan Tuhan?

Jika tadi sudah kita klarifikasi bahwa persepsi manusia secara umum yang menganggap ekonomi adalah alat untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya dalam rangka memaksimalkan kepuasannya atas segala jenis kenikmatan, maka dalam Islam fungsi ekonomi boleh jadi bermakna sebaliknya. Ekonomi yang dikenali sebagai jalan untuk mengenal harta dan kemudian mendapatkannya, dalam Islam tidak bermakna berlebihan hingga memuaskan diri tanpa batas. Bahkan terkesan ekonomi dalam Islam adalah alat untuk mengenal harta dengan segala tabiat harta, daya tariknya, kecenderungan manusia padanya untuk kemudian tidak terjebak dan terlena dengan semua itu. Cukup saja mengenal dan kemudian dapat mengambil apa yang cukup bagi manusia untuk menjalankan aktifitas utama kemanusiaan yaitu ibadah. Jikapun ada kesempatan dan kemudahan untuk mendapatkan harta, sepatutnya dilihat sebagai kasih sayang Tuhan pada manusia agar ia dapat memaksimalkan ibadahnya pada Tuhan dengan memberikan kesempatan manusia lain untuk bisa terpenuhi kebutuhannya sehingga mereka terlepas dari kendala ekonomi yang pasti menghalangi aktifitas utama kemanusiaan mereka yaitu beribadah kepada Tuhan.

Ya dengan kata lain, mempelajari ekonomi bukan untuk berdekat-dekat dengan harta dan akrab dengannya, sehingga terlena dengan segala kenikmatan yang menjadi tabiatnya, tetapi malah menjauhi, memutuskan segala kecenderungan dan keterikatan dengan harta. Kecintaan padanya harus diputuskan dengan pengetahuan tentang tabiatnya dan pengetahuan karakteristik manusia itu sendiri yang kecintaannya amat sangat pada harta. Oleh karena itu, kesuksesan ekonomi seseorang bukan dilihat dari semakin banyaknya harta pada orang tersebut tetapi semakin jauhnya ia dari harta. Manusia sukses secara ekonomi itu jauh dari harta bukan karena kondisi yang bersifat terpaksa, tetapi karena memang secara sadar ia mengambil pilihan untuk jauh dari harta dengan segala kenikmatannya. Terkesan mitos? Teori? Tidak mungkin? Tidak, sama sekali tidak. Sudah pernah bukan hanya seorang tetapi sekelompok manusia pernah hadir di dunia ini dengan memilih sikap hidup seperti itu. Mereka menorehkan sejarah dengan tinta emas dalam peradaban manusia. Mereka mengantarkan manusia pada derajad kemanusiaan tertinggi di mata Tuhan dan manusia itu sendiri.

Dan akhirnya kemakmuran ekonomi memiliki definisinya sendiri, yaitu kasih sayang Tuhan pada mereka yang mengantarkan mereka pada keselamatan dunia dalam definisi yang sebenarnya. Ya pada akhirnya, ekonomi bukan mewujudkan peradaban kehidupan manusia dengan bentuk kemegahan fisik tetapi keluasan hati yang selalu tunduk pada Tuhan, keharmonisan hidup yang selalu terjaga rasa persaudaraan dan berbagi diantara manusia. Dan puncaknya ekonomi mengantarkan manusia pada obsesi tunggalnya yaitu syurga.

1 komentar:

Rifki Ahmad Zailani Siddik mengatakan...

islam itu indah loh...
bayangkan saja dengan zakat 2,5% itu akan banyak sekali orang tertolong.

simple:
penghasilan 1 juta
zakat 2,5% sama dengan 25rb.

Jika dalam 1 kota aja 1 juta orang.
dikumpulkan berarti total zakat 25 milyar/ bulan.

uang segitu untuk 1 bulan bisa apa aja
1. ratusan ribu orang berobat gratis
2. puluhan ribu orang terbantu biaya sekolahnya hingga S1 di bulan itu
3. bisa bangun banyak mesjid, sekolah, perbaikan fasilitas publik berapa banyak di bulan itu juga
4. bisa beli jutaan kilo makanan 4 sehat 5 sempurna yang bisa kita bagikan ke ratusan ribu orang kelaparan.

itu baru sebagian kecil ane tulis...
itulah indahnya hidup berbasis hukum islam..sayangnya indonesia hanya jumlah penduduknya yang dominan islam tapi cara hidup tidak islami.

rifki casablanca realty
www.info-condotel.blogspot.com