Minggu, 15 Januari 2012

Seri Global Crisis: Credit Rating 9 Negara Eropa Amblas!


Sabtu dinihari saat sedang asyik mengikuti berita dunia di layar CNN dan Aljazeera, acara kedua stasiun berita itu di-interupt dengan breaking news, yaitu pengumuman downgrading untuk credit rating 9 negara Eropa oleh Standard & Poor. Wah, mengejutkan sekali. 2 negara Eropa terkemuka kena penurunan, Prancis dan Austria sebesar satu notch dari AAA menjadi AA+. Sementara 7 negara Eropa lainnya, seperti Malta, Slovakia dan Slovenia juga menderita satu notch downgrade sedangkan Portugal, Italia, Spanyol dan Siprus dipangkat dua notches. Yang cukup menjadi perhatian adalah credit rating Italia (BBB+) yang telah berada di kelompok rating paling bawah dari himpunan rating yang terklasifikasi investment grade. Sementara itu Portugal telah terpental dari investment grade atau dapat dikatakan masuk dalam klasifikasi “junk-bonds”.

Selain itu S&P juga memberikan informasi sisa dari 16 negara yang diawasi credit rating-nya tidak mengalami perubahan. Negara tersebut diantaranya adalahi Belgia, Estonia, Finlandia, Jerman, Irlandia, Luxembourg dan Belanda, dimana semua negara ini memiliki outlook yang negatif kecuali Jerman. Maknanya kedepan negara-negara tersebut memiliki potensi mengalami penurunan credit rating juga. Dalam siaran pers-nya, S&P mengatakan; "Today's rating actions are primarily driven by our assessment that the policy initiatives that have been taken by European policy makers in recent weeks may be insufficient to fully address ongoing systemic stresses in the euro zone,"

Meski sedikit membuat heboh Eropa, pengumuman S&P ini sebenarnya tidaklah mengejutkan. Mengingat pada bulan Desember S&P sudah mengingatkan ada potensi credit rating 15 negara Eropa akan mengalami downgrading berdasarkan perkembangan ekonomi mereka. Penurunan dan status credit rating 16 negara Eropa ini memiliki implikasi yang beragam. Tetapi yang akan lebih diperhatikan oleh pasar global adalah implikasinya pada upaya perbaikan kondisi Eropa. S&P seakan memberikan informasi kecenderungan yang ada di Eropa, bahwa perbaikan terhadap krisis belum lagi terjadi. Perbaikan apalagi pemulihan yang diharapkan, belum akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Indikasi itu, misalnya alih-alih menguatkan dan menopang negara-negara Eropa yang sedang krisis, Prancis sebagai negara ekonomi terkuat kedua Eropa setelah Jerman malah mengalami pemburukan kondisi keuangan, ini yang pertama sejak tahun 1975. Program bailout yang diandalkan untuk mengatasi krisis utang negara-negara Eropa akan terasa semakin berat dilakukan, dengan credit rating mereka yang baru ini. Credit rating yang rendah maknanya semakin tinggi risiko dan semakin mahalnya biaya, hal ini tentu membuat dealing dengan creditors semakin tidak mudah. Penurunan status ini juga memungkinkan tertekannya the euro zone's current bailout fund, yang berasal dari European Financial Stability Facility. Pesimisme saat ini sangatlah beralasan, karena jangankan mengupayakan negara-negara yang terinfeksi krisis lainnya, menyelesaikan masalah Yunani sebagai negara awal yang menderita krisis saja masih jauh dari berhasil. Bahkan sepertinya kondisi Yunani semakin dekat dengan kebangkrutan (meski secara de-facto Yunani sudah dapat dikategorikan bangkrut).

Kita akan lihat jurus apa lagi yang akan dikeluarkan oleh EU menyikapi kondisi seperti ini. Sebelumnya para pakar ekonomi dan politik sudah memprediksikan jika krisis ini tidak dapat tuntas dalam waktu cepat, maka potensi masalah akan menyebar bukan hanya ekonomi tetapi juga politik. Masalah serius yang “menakutkan” adalah pecahnya kongsi Uni-Eropa, dimana kondisi itu akan berpotensi berujung pada destabilitas kawasan Eropa.

Tidak ada komentar: