Rabu, 14 April 2010

Akal Sehat dan Logika Pemimpinku


Komisi dan gratifikasi dianggap hibah dan hadiah, rekayasa dan kriminalisasi kasus dianggap penyelidikan dan penyidikan kasus, lepas tangan terhadap masalah rakyat dianggap tidak mengintervensi proses hukum, tidak rela mundur karena gagal memimpin dianggap tidak ingin lepas dari tanggung jawab, kekayaan tidak normal akibat korupsi dianggap sebagai rizki dari jerih payah, inilah logika yang digunakan pemimpin-pemimpinku saat ini. Logika yang susah diterima oleh akal sehat rakyatnya.

Pemimpin-pemimpinku sudah hilang akal sehatnya. Rakyatnya berharap mereka memimpin negeri menuju tempat yang sejahtera, tetapi ternyata mereka menjarah apa-apa yang menjadi mimpi rakyatnya. Pemimpin-pemimpinku menolak untuk menjadi manusia-manusia yang dirindui oleh syurga, yang menuju kebahagiaan akhirat tidak perlu melalui pengadilan Tuhan, mereka menolak keistimewaan itu. Mereka lebih suka mewujudkan kebahagiaan itu di dunia, bagi diri mereka, anak istri mereka dan semua kerabat-kerabatnya.

Pada mereka yang menggunakan logika-logika itu, berhati-hatilah jika sampai satu masa lisan-lisan rakyat semakin basah oleh do’a-do’a memohon kehinaan atas kalian. Dan lebih berhati-hatilah, karena satu masa itu adalah saat ini! Tidakkah sudah kalian dengarkan senandung do’a-do’a itu sayup-sayup telah berkumandang dipelosok negeri? Dan Tidakkah kalian sadari perlahan-lahan Tuhan kabulkan do’a-do’a itu kini?

Duh Tuhanku, jika memang kehancuran dan porak-poranda negeriku adalah tumbal bagi munculnya generasi pemimpin yang lebih baik, maka hancurkanlah negeri ini sehancur-hancurnya...

Bagi kalian mahasiswa dan mereka generasi muda yang belum terkontaminasi idealisme kebenarannya dengan polusi kuasa dan nama, limbah riya dan harta, bertahanlah, waktu kalian akan tiba!!! Do’aku tidak putus-putus bagi kalian, pemimpin-pemimpin dahsyat masa depan. Semoga Tuhan menjaga dan memelihara kalian. Kami-kami ini sudah tak pantas untuk maju menampilkan diri, karena kami sudah menjadi generasi cacat yang tak layak untuk memimpin kalian. Kami yang tersadar, hanya mampu membuka jalan bagi kalian dengan berharap Tuhan ampuni semua kesalahan kami.

2 komentar:

Suhaimi mengatakan...

Assalamualaikum wbt.
Sejak berbulan-bulan lamanya mengunjungi blog Saudara, inilah kali pertama saya meninggalkan komentar.
Saya mulakan dengan salam perkenalan saya yang jauh dari tanah seberang, dari Shah Alam, Selangor, Malaysia. Dan saya amat berterima kasih kepada Saudara atas tulisan-tulisan yang sering menyentuh jiwa dan sukma saya. Saya memang dahaga akan tulisan bernuansa Islami, apalagi yang bagus gaya penulisannya seperti yang Saudara nukilkan. Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas segala kebaikan Saudara, amin.
Tulisan Saudara kali ini amat kena juga dengan situasi di Malaysia. Pemimpinnya beralasan seperti yang Saudara tuliskan. Matlamat menghalalkan cara - itulah yang diamalkan mereka. Dan tidak kurang pula yang menyokong dan dipimpin mereka itu mengaku Islam juga seperti pemimpinnya. Kepada pemimpin dan penyokong sedemikian, saya pohon Allah memberikan petunjuk dan hidayah untuk mereka. Seperti Saudara juga, saya berdoa dengan sesungguhnya agar generasi muda, baik di Malaysia mahupun di Indonesia tidak terikut-ikut dan terpengaruh oleh segala gejala keji dan mungkar yang dipertunjukkan. Semoga mereka ini sentiasa terpelihara - fizikal dan spiritual - dan ditunjukkan jalan yang lurus oleh Allah Taala.
Sekian.

PENGURUS mengatakan...

wa'alaikumussalam...

Salam kenal juga untuk antum Bro. Suhaimi. Tak ada yang saya harapkan jika tulisan-tulisan singkat saya bermakna, kecuali saya minta Tuhan ampunkan segala dosa yang telah saya lakukan.

Selama ini saya fikir, saudara di Malaysia yang mengakses tulisan saya adalah teman-teman Indonesia yang sedang study atau tinggal di Malaysia, tetapi beberapa respon menunjukkan bahwa saudara saya Malaysian juga aktif mengakses. Salam kenal saya pada antum semua.

Benar apa yang antum katakan, intinya, pemuda-pemuda Islam harus ada dalam satu barisan kebaikan, dalam satu shaf perjuangan. Karena arus kehidupan di luar sana sudah begitu kuat menghanyutkan. Mari kita bantu mereka untuk mengenal Din ini, tanah mereka, bangsa mereka, dan tentu saja tanggung jawab mereka terhadap diri dan manusia lain, tanggung jawab atas bumi dan langit.

Semoga Allah pertemukan kita semua yang bersedia memberikan jiwa dan harta ini dalam medan perjuangan. Kesedihan, ketidaknyamanan, kekecewaan atau apapun bentuk kesusahan yang telah, sedang atau nanti kita alami, adalah seutama-utama pengorbanan dari pemuda-pemuda Islam akhir zaman. Bersabarlah, kita sudah digelari oleh Nabi sebagai Saudara Beliau, sudah digelari oleh Nabi sebagai makhluk Allah yang paling beriman, mari tunjukkan bahwa kita pantas disematkan gelar seperti itu.

Semoga Allah mudahkan segala usaha kita...