Rabu, 12 November 2008

Diskusi Tentang Bentuk Pasar Investasi

Pernyataan:
bayangan saya institusi pasar modal yg islami mungkin tidak harus besar seperti saat ini, mengingat frekuensi jual-beli nya pun tidak banyak....kemudian lembaga keuangan islam yg ada bisa menggantikan peran broker saat ini, karena data base para pemodal sudah ada di lembaga keuangan islam itu....

Diskusi:
Sepakat dengan "bayangan" anda Mas Backpackers, bahwa volume transaksinya mungkin tidak akan banyak, karena pemain spekulatifnya dieliminasi. tetapi kemanfaatannya lebih banyak bagi perekonomian; kestabilan sistem, reduksi ketimpangan sektoral, reduksi misalokasi produksi dan kapital.

Di pasar keuangan yang lain, kejadiannya pun sama, bahwa keseimbangan investasi harus berorientasi pada projek investasi yang berakhir pada peningkatan volume (transaksi) barang dan jasa.

Dengan begitu kita akan tahu bahwa sebenarnya moneter syariah hanyalah pasar investasi yang posisinya tidak sejajar dengan sektor riil (classical dichotomy-nya konvensional). sektor moneter Islam adalah sektor pendukung sektor rill, yang eksistensinya tergantung pada eksistensi sektor riil. Jika sektor riil (underlying transaction) ada maka sektor moneter ada.

Selasa, 11 November 2008

Akar Krisis dan Solusi

Krisis yang berulang tidak kemudian membuat daya tahan ekonomi terhadap krisis semakin meningkat seiring dengan semakin baiknya sistem ekonomi akibat pembenahan-pembenahan yang dilakukan. Padahal sejatinya krisis-krisis yang terjadi, berada dalam lingkungan sektoral ekonomi yang hampir selalu sama dengan gejala dan bentuk krisis yang juga sama, tetapi tetap saja krisis menampar ekonomi semakin hari semakin keras.

Merujuk pada kontinuitas krisis ekonomi yang didominasi oleh krisis keuangan sejak perekonomian dunia mewujud dalam bentuk modern (akhir abad 19), dan kekerapan atau intensitas krisis yang semakin tinggi ketika integrasi ekonomi dunia terjadi, membuat kecurigaan bahwa penyebab utama krisis terletak pada kesalahan penggunaan konsep ekonomi semakin menguat.

Kesalahan penggunaan konsep menjadi lebih beralasan daripada menunjuk kesalahan kebijakan sebagai kambing hitam. Kalau kebijakan yang salah, mengapa krisis ini selalu terjadi. Mengapa krisis di Amerika dan Eropa itu dapat terjadi lagi, apakah mereka tidak belajar dari krisis keuangan Asia Tenggara 10 tahun silam. Karena ternyata apa yang mereka (Amerika & Eropa) lakukan dalam merespon krisis, persis sama dengan apa yang dilakukan negara-negara Asia Tenggara ketika itu.

Disamping itu, apakah tidak cukup canggih metode pengelolaan risiko, good governance, transparency, business conduct dan segala instrumen penjaga di indusri perbankan dan keuangan dunia? Kemana pelajaran yang diambil dari krisis-krisis terdahulu? Tidakkah cukup puluhan atau bahkan ratusan krisis yang telah terjadi, dalam memberikan pengalaman dan wawasan untuk membangun industri yang lebih robust and resilience?

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa krisis-krisis dalam ekonomi dominan bersumber dari kekacauan di sektor keuangannya. Krisis-krisis tersebut merupakan akumulasi dari kesalahan konsep (sistem ekonomi) dan prilaku manusia. Interaksi antara kesalahan sistem dan prilaku bermuara pada kewujudan krisis yang secara reguler menghantam perekonomian dunia.

A. Kesalahan Konsep (Sistem Ekonomi)

Paradigma bahwa sektor keuangan merupakan sektor mandiri dalam perekonomian, boleh jadi merupakan paradigma yang keliru, yang menyebabkan perkembangan ekonomi selalu dihadapkan pada fakta-fakta (konsekwensi) ketimpangan antara sektor keuangan dan riil. Sektor keuangan sepatutnya menjadi sektoral yang berfungsi mendukung pertumbuhan ekonomi melalui aktifitas riil. Oleh sebab itu, semua elemen dan instrumen dalam sektor keuangan sepatutnya dipelihara dan dijaga untuk mendukung penuh aktifitas riil. Dengan demikian, kecenderungan penggelembungan sepihak sektor keuangan yang kerap terjadi akan dapat dihindari.

Ketimpangan sektor keuangan dan riil yang diakibatkan oleh penggelembungan sektor keuangan, secara sistem disebabkan oleh:

Interest base activities; men-drive arus uang lebih menuju pada sektor yang menjanjikan return tetap yang relatif lebih cepat, mudah dan tidak berisiko. Disamping itu, penggunaan konsep ini dalam mekanisme perbankan akan mendorong aktifitas money creation.

Fractional Reserve System; praktek ini dalam dunia perbankan akan menyebabkan pelipatan jumlah uang beredar, atau dapat dikatakan sebagai praktek yang berakibat pada penciptaan uang beredar. Penyisihan sejumlah dana oleh bank dari penempatan yang dilakukan oleh depositor dalam mekanisme perbankan yang saling berkoneksi akan menyebabkan penggelembungan jumlah uang beredar secara total lebih besar dari jumlah uang yang ada.

Speculative motives activities: praktek ini tentu akan mendorong sejumlah uang beredar tertahan berada pada aktifitas tak produktif (money whirlpool). Secara total praktek spekulasi akan semakin menyedot uang beredar yang berpotensi untuk memproduksi barang dan jasa, sehingga sektor riil akan semakin menyusut seiring dengan semakin berkembangnya aktifitas spekulasi yang umumnya bereda di sektor keuangan (Money Concentration).

Non-intrinsict Money Regime: penggunaan jenis uang yang tidak memiliki nilai intrinsik atau memiliki nilai intrinsik lebih rendah daripada nominalnya, cenderung akan meningkatkan potensi pertambahan uang beredar tanpa diimbangi dengan pertumbuhan penciptaan barang dan jasa (sektor riil), seperti munculnya seignorage dalam penciptaan uang kertas.

Ada dua konsekwensi alamiah dari praktek-praktek diatas ini, yaitu pengelembungan sektor keuangan yang berakibat pada ketimpangan sektoral ekonomi. Kedua, praktek tersebut akan menyebabkan terpeliharanya inflasi akibat penyusutan sektor riil (sisi supply) akibat alokasi modal atau investasi lebih terkonsentrasi pada sektor keuangan. Jadi dapat dikatakan sebelum kebijakan moneter (keuangan) konvensional ingin mengentaskan masalah ketimpangan ekonomi dan inflasi, secara tak sadar sebenarnya mekanisme sistem konvensionallah yang menyebabkan fenomena negatif tersebut selalu ada.

B. Prilaku Manusia yang Rakus

Berdasarkan pendapat Prof. Dr. Alex Lanur[1], Jeremy Bentham (1748-1823) sebagai Bapak Utilitarianisme, cukup tegas dalam menjelaskan motivasi dan batasan berprilaku manusia (tentu saja dalam pandangan konvensional). Menurut Lanur, dasar Benthanisme adalah hedonisme psikologis yaitu bahwa setiap manusia menurut kodratnya berusaha untuk mengejar kesenangan (pleasure) dan menghindari rasa sakit (pain).[2] Pernyataan Bentham yang sangat terkenal berkaitan dengan hal ini adalah “alam menempatkan manusia di bawah dua kekuasaan yang berdaulat, yakni rasa sakit dan kesenangan”.

Dengan demikian, asumsi yang digunakan oleh Bentham adalah; pertama, kesenangan yang paling besar adalah yang jumlahnya paling banyak (the greatest happiness of the greatest number). Kedua, tindakan yang baik adalah segala tindakan yang mengarahkan manusia menambah jumlah kesenangan, sementara tindakan yang tidak mengarah kepada kesenangan atau yang mengurangi jumlahnya adalah tindakan yang tidak baik. Pada akhirnya asumsi ini membentuk prinsip yang oleh Bentham disebut sebagai prinsip manfaat atau Prinsip Etis Terakhir (ultima principia).

Selanjutnya Bentham menjelaskan faktor-faktor yang dapat menjadi ukuran dari kesenangan ini (cara menentukan, menilai atau menghitung), yaitu meliputi intensitasnya, lamanya, pasti-tidak pastinya dan jauh dekatnya kesenangan atau rasa sakit untuk seseorang. Ternyata Bentham juga tidak membatasi prinsip manfaat pada wilayah individual tapi juga kepentingan umum, dimana faktor yang dapat menjadi ukurannya adalah faktor luasnya atau besar jumlah atau banyaknya orang yang mengalami kesenangan ataupun rasa sakit itu. Penerus pemikir Benthamisme yang paling dikenal adalah John Stuart Mill, dimana Mill mencoba untuk menjelaskan perbedaan kualitatif intrinsik pelbagai macam kesenangan.

Tidak lengkap rasanya jika membahas filosofi dasar kapitalisme tanpa menyinggung apa yang menjadi pemahaman Adam Smith (1776) tentang prinsip-prinsip dasar ekonomi kapitalis. Adam Smith sebagai Bapak ekonomi, dalam buku Spencer J. Pack[3], disebutkan berkeyakinan bahwa kapitalisme berkembang berdasarkan kepentingan pribadi pelaku ekonomi. Smith mengidentifikasi bahwa sentimen, perasaan dan nafsu adalah motivator utama manusia dalam bertindak. Bahkan Smith berkeyakinan bahwa teologi (agama,) dalam hal ini Smith merujuk pada Bible, bukanlah merupakan sumber yang terjamin kebenarannya. Oleh sebab itu menurut Smith, kapitalisme muncul dan berkembang secara dominan akibat proses respon kolektif masyarakat terhadap prilaku-prilaku individual (the constant feedback of society to the actions of the individual) bukan karena hasil dari proses sistematis yang terencana (conscious planning).

Penjelasan di atas merupakan rangkuman latar belakang logika yang digunakan perekonomian modern dalam upaya membangun sistemnya. Logika diatas merupakan asumsi prilaku manusia sebagai objek dalam suatu mekanisme ekonomi, dan ini yang kemudian menjadi rasionalitas kapitalisme. Setiap orang akan memaksimalkan kepuasannya dalam mendapatkan atau menikmati sumber daya dan faktor produksi. Dan setiap orang tidak wajib mempertimbangkan keadaan manusia lain dalam menjalankan rasionalitas kapitalisme itu, karena jika ia lakukan itu dapat saja logika ekonominya menjadi tidak rasional.

Oleh karena itulah, fenomena krisis ekonomi yang tercipta karena kesalahan sistem semakin diperparah oleh prilaku ekonomi dari manusia sebagai pelakunya. Ketimpangan sektoral antara sektor keuangan dan riil pada setiap gejala krisis ekonomi, selain disebabkan oleh praktek money creation dari aplikasi interest base activities, fractional reserve dan seignorage, dipicu pula oleh rangsangan melakukan money concentration (money whirpool) yang diciptakan oleh sistem yang kemudian disambut dengan prilaku manusia yang konsisten menjalankan rasionalisme kapitalismenya yaitu “maximizing pleasure minimizing pain”, dengan cenderung meletakkan dananya di sektor keuangan.

Solusi

Jangka Panjang

Program secara jangka panjang sepatutnya menjawab masalah yang telah diidentifikasi sebagai akar masalah. Artinya upaya yang dilakukan adalah upaya-upaya perbaikan pada sistem dan prilaku manusia (moral hazard).

Sistem:
Mencari alternatif konsep untuk menggantikan interest base system
Fokus pada aktifitas investasi dengan meminimalkan praktek spekulasi
Konsep aplikasi dan kebijakan moneter dengan instrumennya yang fokus pada sektor riil

Prilaku:
Pembangunan sistem sosial yang mapan
Peningkatan emosi kolektifitas dalam warga ekonomi

Jangka Pendek
Program yang diambil adalah upaya-upaya yang mempertimbangkan keadaan realistis, dalam rangka melindungi perekonomian nasional dari krisis keuangan/ekonomi yang faktanya berasal dari eksternal. Dengan asumsi bahwa pasar domestik yang besar dan saat ini pencapaiannya masih jauh dari angka potensialnya, upaya tersebut dapat berupa:

Kebijakan moneter dan fiskal yang mendukung aktifitas riil domestik; penetapan tingkat suku bunga yang kondusif dan penentuan jenis serta tingkat pajak yang merangsang sekaligus melindungi aktifitas riil domestik

Kebijakan yang mengakomodasi masyarakat golongan bawah agar terlibat aktif dalam ekonomi melalui program-program sosial dan informal yang bertujuan pada peningkatan sisi permintaan. hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan volume ekonomi domestik. Akomodasi masyarakat marginal yang sebelumnya tidak memiliki akses, tentu awalnya akan meningkatkan agregat demand, namun akhirnya akan meningkatkan volume ekonomi.

Kebijakan yang mendorong UMKM karena kontribusinya pada penyerapan tenaga kerja dan output ekonomi. Upaya pada program-program sosial dan pembiayaan/kredit mikro akan sangat dibutuhkan.


[1] Alex Lanur, Pengantar Edisi Indonesia, On Liberty: Perihal Kebebasan, John Stuart Mill, Yayasan Obor Indonesia, 2005, pp. x – xxiv.
[2] Menurut Lanur, pendapat ini bukanlah hal yang baru karena telah juga diutarakan Epicurus (341-271 SM), Claude (Adrian) Helvetius (1715 – 1771) dan David Hartley (1705 – 1757). Namun Bentham membuat teori ini menjadi monumental.
[3] Spencer J. Pack, Smith’s Moral…

Things To Ponder: Keberhasilan Perbaikan Ekonomi Tergantung Pada Keberhasilan Perbaikan Prilaku Manusia

Ekonomi bukanlah sistem tanpa nilai. Ketika ia tidak memiliki nilai, maka ekonomi akan berawal dengan kebingungan dan berakhir pada kehancuran. Karena ekonomi pasti akan tidak memiliki obat berupa kebijakan untuk memperbaiki krisis ekonomi akibat prilaku-prilaku rusak manusia. Oleh sebab itu, perekonomian harus mengkonfirmasi terlebih dahulu kebenaran nilai yang menjadi pedoman pengembangannya.

Dengan nilai, ekonomi akan lebih tepat mendefinisikan diri, karena nilai juga secara tak langsung telah memberikan informasi tentang sasaran dan tujuan dari mekanisme-mekanisme ekonomi. Dengan nilai, ekonomi akan memiliki pedoman arah dalam berkembang dan berfungsi. Namun yang tak kalah krusial tentu saja adalah menentukan nilai yang tepat.

Ekonomi konvensional modern, suka tidak suka ternyata memiliki nilai. Nilai yang konsisten ada dalam dirinya adalah nilai materialistik, dimana sasaran dan tujuan ataupun berkembang dan berfungsi ekonomi menuju pada arah yang satu, yaitu pencapaian materi sebanyak mungkin oleh manusia secara individual. Oleh sebab itu, jika melihat peristiwa krisis saat ini di dunia ekonomi konvensional modern, akar permasalahnya berada pada kesalahan penggunaan nilai. Nilai yang salah akan menghasilkan kerusakan prilaku pada manusia. Dan kekacauan sistem ekonomi merupakan hasil kreasi dari prilaku manusia manusia yang rusak.

Ekonomi Islam, sejak awal telah memitigasi risiko diatas. Sejak awal segala sesuatu yang dimaksudkan untuk mengatur manusia diserahkan kepada Dzat diluar manusia. Nilai yang dianut adalah nilai yang diyakini merupakan kreasi Tuhan. Nilai itulah yang kemudian dijadikan pula pedoman berprilaku. dan akhirnya sistem ekonomi yang terbentuk merupakan kombinasi dari nilai Tuhan dan prilaku manusia dalam menjalankannya.

Kepada Putra-Putra Islam Akhir Zaman

Semakin memburuknya kondisi perekonomian Amerika, yang ditandai dengan peningkatan dramatis jumlah pengangguran (angka tertinggi selama 14 tahun terakhir), tumbangnya kembali beberapa bank besar, downgrade status dan memburuknya kondisi keuangan beberapa lembaga keuangan (seperti American Express & AIG), semakin menegaskan arah kebangkrutan negara adidaya ekonomi dunia.

Ketidakberdayaan juga ditunjukkan oleh Eropa, ditandai dengan tournya pemimpin-pemimpin Eropa ke beberapa negara (khususnya negara muslim kaya di Timur Tengah), mereka tidak lagi segan dan malu meminta bantuan dana untuk menyelamatkan perekonomian Barat melalui IMF. Keangkuhan yang selama ini mereka pertontonkan melalui intervensi ekonomi menggunakan pendiktean kebijakan di negara-negara berkembang, seakan tak berbekas, mungkin mereka sudah sadar perekonomiannya sudah ada di tepi jurang kehancuran, bahkan peradaban mereka sudah di ujung tanduk kekacauan.

Kebangkrutan ekonomi Amerika dan Eropa merefleksikan banyak makna. Kehancuran itu dapat saja berarti kegagalan sistem ekonomi kapitalis, setelah sekian abad ia berkibar tanpa tanding. Atau kekacauan ekonomi ini pula dapat dijadikan tanda awal keruntuhan satu peradaban modern yang dipimpin oleh masyarakat Barat (Amerika & Eropa). Jika saja benar ini berakhir pada melenyapnya satu peradaban berikut sistem-sistem kehidupannya, maka tak lama lagi akan muncul peradaban baru menggantikan Barat.

Peradaban baru akan tiba! Saya bermimpi, peradaban itu adalah peradaban ISLAM. Kemunculannya akan dimulai dan ditandai dengan bangkitnya generasi pengusung peradaban itu. Ya generasi Islam baru akan datang! Putra-putra Islam akhir zaman sedang tumbuh menuju takdirnya, menuju singgasana yang dijanjikan. Kehadiran mereka telah dinanti bukan hanya oleh para orang tua tetapi segenap alam raya.

Mereka akan menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya, karena terlebih dahulu mereka akan tunjukkan seperti apa manusia Islam itu sebenarnya. Mereka akan hadir dengan jasad-jasad yang prima, emosi yang penuh kematangan dan akal yang optimal kecerdasannya. kerja mereka 10 lipat ganda dari manusia biasa. Satu panji yang mereka usung, yaitu panji kebenaran Islam.

Putra-Putra Islam Akhir Zaman, waktu kalian sudah tiba!
Terimalah warisan dunia bersama kekacauannya, perbaiki ia dengan Islam, makmurkan ia dengan iman dan pertemukan manusia dengan kampung halamannya, yaitu Syurga.

Senin, 10 November 2008

Islamic Financial Trainings

Dear Ali Sakti,

Featured courses:

Shariah Coordination for Financial Institutions 16th - 18th December 2008, KUALA LUMPURA unique and important 3-day training program to enable you and your institution to better understand and coordinate the Shariah advisory process. Understand what is required of your institution and how Shariah advisors work and think during the product development and approval stage. Learn also how to avoid the common challenges associated with Shariah advisory and avoid costly delays.


Takaful Products, Markets & Operations 21st - 23rd December 2008, MANAMA This course will examine crucial differences and similarities between Takaful and conventional insurance, and Takaful and mutual insurance. Also covered in detail will be important operational, legal, accounting, financial and risk management issues, as well as key subjects such as investment of surplus. Delegates will gain an understanding of how Takaful contracts are structured to observe the rules and regulations of Shariah, as well as a comparison of Takaful business models.





Other upcoming programs:

Principles of Islamic Finance & Investment1st December 2008, KUALA LUMPURA 1-day program covering, in a nutshell, the important principles of Islamic finance relevant to capital markets. A preparatory session for the course below.



Sukuk & Islamic Capital Markets: Products & Documentation2nd - 4th December 2008, KUALA LUMPURCoverage of the latest structures, applications and challenges facing the Islamic capital markets. Live case studies include recent Malaysian and GCC transactions. Includes an update of the latest position of AAOIFI with regards to Sukuk structures.



Islamic Financial Engineering and New Product Development30th November - 3rd December 2008, DOHAA detailed program that will enable delegates to understand the structure of innovative Islamic financial products. Delegates will be equipped to structure new products for themselves and develop a detailed understanding of core products such as Sukuk and Ijarah, as well as requisites for Islamic financial engineering.



Modern Islamic Finance & Financial Products18th - 21st January 2009, ABU DHABIAn intermediate, exercise and case-study driven program. The course assumes a good understanding of Islamic finance principles and concepts and will build on this in developing more complex financial products. Key concepts throughout the course will be product development as well as liquidity and risk management issues.



For training information:
Derrick Lee Senior Account Manager 603 2162 7800 ext 14
Indran PanneerselvemAccount Manager603 2162 7800 ext 25
Hatem Almasri Account Executive 603 2162 7800 ext 28

Company Address:21/F, Menara KUB,12, Jalan Yap Kwan Seng, 50450 , Malaysia Tel: +603 2162 7800 Fax: +603 2162 7810

Rabu, 05 November 2008

Presiden Bernama Hussein dan Negara Super Power yang Santun

Melihat berita di CNN yang menginformasikan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang baru membuat saya tersenyum karena merenungkan satu hal yang spontan muncul dalam fikiran saya. Beberapa tahun yang lalu Amerika memulai perang untuk menumbangkan seorang presiden bernama Hussein (Saddam Husein), kini Amerika sendiri memiliki presiden bernama Hussein (Barack Hussein Obama). Meskipun memang Amerika mungkin tak ada intensi untuk menumbangkan presiden karena namanya, tetapi fakta ringan ini cukum membuat saya tersenyum. Takdir-takdir ringan seperti ini pula yang membuat kita “terhibur”, ternyata alam dan zaman memiliki kadar “humor”-nya dengan caranya sendiri.

Tetapi dilain sisi, terlepas dari fakta bahwa Amerika merupakan musuh Islam berdasarkan rezim, tetap saja banyak yang berharap di bawah Obama Amerika sedikit tidak “galak” pada Islam (atau sedikit berharap pada “tuah” kata Hussein dalam nama Obama yang artinya lekat dengan kebaikan). Figure yang relative terkesan humanis begitu menonjol pada diri Obama, sehingga harapan seperti tadi layak muncul di setiap orang yang berposisi besebrangan dengan Amerika.

Harapan pada sosok Amerika yang lebih santun, menjadi Negara super power bukan karena kekuatan militernya (karena nanti sama saja dengan preman yang ditakuti karena kekuasaannya mengintimidasi), tetapi karena kesantunan, kedermawanan dan rendah hati, sehingga manusia-manusia Amerika dimanapun ia, mereka dihormati karena selalu ingin membantu dan melayani.

Hampir tidak ada Negara yang berorientasi kesana, menjadi Negara besar karena kesantunan kolektif sebagai bangsa. Ekonomi, politik, social-budaya dan pertahanan dan keamanan dibangun dalam orientasi visi yang sama, yaitu kesantunan. Negara seperti ini tentu harus lebih dulu memiliki kesantunan itu secara internal, pribadi-pribadi anak bangsa, system sosio kemasyarakatannya serta hokum dan mekanisme kenegaraanya. Bahkan pada satu titik pencapaian puncak idiologi itu bukan saja memberikan kesantunan pada Negara dan mensuperpowerkannya, tetapi juga memunculkan peradaban yang santun.

Diyakini bahwa kesantunan yang mensuperpowerkan suatu Negara, berawal dari idiologi manusia, bangsa dan Negara. Berdasarkan sejarah dan fakta-fakta yang ada, peradaban santun itu pernah hadir dan dirasakan ummat manusia pada satu zaman. Zaman ketika Tuhan dijadikan idiologi pada setiap jengkal aktifitas manusia. Zaman ketika Islam bukan sekedar menjadi agama, ketika Islam menjadi idiologi dan menjadi referensi puncak atas setiap prilaku manusia, baik secara kolektif maupun pribadi.

Namun Allah SWT-lah yang berkuasa atas segala peristiwa, dan maha tahu terhadap apa-apa yang ada di setiap dada manusia. Amerika tetap Amerika, Barack Obama tetap barrack Obama, kenyataan bahwa mereka menyatu dalam system yang berada di luar Islam, bahkan cenderung menganiaya Islam, tentu tak akan membuat mereka special di mata Islam.

Minggu, 02 November 2008

Salam Dari Dubai

Assalamu'alaikum wR.wB.

Saat ini saya sedang di Dubai, menjalankan amanah kantor untuk memberikan presentasi tentang pengalaman BI dalam mengembangkan Islamic Microfinance di Indonesia pada sebuah Seminar yang diselenggarakan oleh International Finance Corporation - World Bank. Seminar Islamic Microfinance itu sendiri dilaksanakan di Hotel Novotel yang letaknya bersebelahan dengan Hotel Jumeirah Emirates Tower tempat saya menginap.

Sejak awal pertanyaan yang menggelitik saya adalah, mengapa seminar yang membicarakan program poverty alleviation harus diselenggarakan di tempat-tempat yang mewah, khawatir sensitifitas para peserta menjadi tidak begitu tajam terhadap apa yang sebenarnya terjadi di sektor Microfinance dan Micro Enterprises, sehingga resolusi yang kemudian dihasilkan lebih mencerminkan kepentingan lain selain kepentingan mereka yang berada di sektor marginal tersebut. Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik.

Ada satu pengalaman menarik yang saya alami kemarin, ketika melakukan check in di hotel megah Jumeirah Emirates Towers. Meskipun akomodasi dan transportasi hotel telah ditanggung oleh pihak IFC - WB, namun pihak hotel tetap meminta saya untuk memberikan deposit terhadap expences yang mungkin saya keluarkan untuk mini bar dan lain-lain. Mereka meminta kartu kredit saya untuk keperluan deposit itu.

Dengan tersenyum saya katakan; I do not have credit card, i'm using debit. Front Desk officer hotel itu mengernyitkan dahi sembari mengulangi apa yang saya katakan dengan penuh keheranan: you don't have credit card? saya jawab dengan tetap tersenyum; yupe! sembari bersiap menyerahkan debit card dari satu bank syariah tanah air (meskipun saya tidak yakin itu bisa digunakan). Officer itu menuju supervisornya, mengkonfirmasi keadaan. Sementara saya membalikkan badan tersenyum sendiri, dalam hati saya berkata; kejadian seperti di hotel waktu di Bali sepertinya akan berulang, hahahaha...

Tak lama supervisor front desk itu yang kemudian mengambil alih dan mencoba konfirmasi kembali pada saya. ia katakan bahwa memerlukan deposit untuk keperluan yang tadi saya sebutkan. Saya kemudian mencoba memberikan alternatif; may I use cash money for deposit? Sure! dia menjawab mantap, akhirnya saya serahkan hampir semua uang saku yang kantor berikan pada saya. Beres, dalam hati saya.

Sampai di kamar saya terus memikirkan kejadian tadi; idealisme membangun ekonomi/keuangan syariah memang memerlukan pengorbanan. Dan idealisme saya untuk tidak menggunakan instrumen utang seperti credit card membuat saya harus sedikit "susah" dalam beberapa urusan. Tapi ini harus dijalani.

Saya lihat kemegahan Dubai dari jendela kamar, Subhanallah... semoga kemegahan dunia ini tidak melenakan saya, kaum muslimin, dan semua saudara yang tengah berjuang menegakkan Islam. Beberapa ratus kilometer dari tempat saya, saya membayangkan tanah suci para Nabi, tanah para syuhada, tanah Palestina tercinta. Kemegahan Dubai tentu jauh dari bayangan mereka...

Dubai, 3 November 2008