Kamis, 20 November 2008

Global Financial Crisis: Bye America


Tagihan, tagihan, tagihan, ini yang akan terus menghantui warga Amerika Serikat dalam waktu-waktu kedepan, terutama golongan masyarakat menengah keatas. Sementara, pada ketika yang sama mereka terus dibayangi hantu lay-off yang saat ini menjadi tren pasar US. Laporan semalam (20 November 2008) menyebutkan angka pengangguran tertinggi dalam 16 tahun. Dow Jones dalam dua hari ini turun sekitar 900 basis poin dengan posisi indeks yang kini di bawah 7600, fakta fantastis dari sekian banyak rekor penurunan fantastis yang ada. Menulis paragraph inipun saya masih terus mengkoreksi angka penurunan yang masih terjun hingga closing bell di screen CNBC.

Joseph E. Stiglitz (Nobel Winner 2001) sampai mengatakan tak ada satupun khabar gembira dari kondisi saat ini kecuali penurunan harga minyak mentah dunia. Meskipun terakhir ini kekhawatiran muncul karena penurunan harga minyak mentah dunia trennya sudah di bawah USD50 per barrel. Fakta ini pada satu sisi mengancam stabilitas lain dari ekonomi, seperti harapan yang akan kosong kepada kawasan ekonomi timur tengah karena kekuatan mereka sedikit terganggu dengan kondisi harga minyak mentah saat ini.

Daripada mengatakan selamat tinggal kapitalisme, saya lebih tertarik mengatakan selamat tinggal Amerika. Mengapa? Hegemoni ekonomi Amerika yang perlahan-lahan rontok dalam beberapa bulan lalu dan dalam waktu-waktu kedepan ini menjadi tontonan menarik, ada triller disitu, drama, action apalagi horror. Ini mimpi buruk terutama bagi warga kelas menengah Amerika. Setiap malam mungkin lembaga keuangan menyita ratusan rumah dan kendaraan dari keluarga-keluarga Amerika karena gagal bayar. Tenda-tenda pengangguran dan tuna wisma semakin luas komunitasnya tentu. Wow, what a crisis.

Buat para pengusung American Style Economy (bukannya takut untuk mengatakan kapitalisme,tapi saya ingin sekali menulis bahwa kapitalisme saat ini sudah lebih dari sekedar isme ekonomi), lihatlah tanah suci ekonomi dunia (New Mecca of Economy) ia sedang menuju pada masa karamnya. Lihat simbol-simbol ekonomi yang menjadi kebanggaan mereka, sebentar lagi menjadi puing-puing usang. Wuih, jadi sedikit hiperbolis kalimat saya. Layaknya tubuh manusia, kesalahan system dan prilaku manusia telah menyebabkan kolesterol berikut penyakit-penyakit kronis telah menyebar di sekujur badan, asam urat, diabetes, darah tinggi hingga kanker sudah ada pada stadium tertingginya pada tubuh ekonomi Amerika.

Khabar baik saat ini bagi kita adalah beruntungnya kita diberikan Tuhan kesempatan untuk menjadi saksi dari hancurnya sebuah hegemoni ekonomi, dengan detil kehancuran itu kita saksikan setiap harinya. Alhamdulillah ya. Bagi saya sendiri ini merupakan excitement tersendiri atau bahkan menjadi ecstasy menulis paragraph-paragraf kehancuran ekonomi Amerika. Duh maaf kalau terkesan jadi psychopath economist dan tidak intelek. Tapi ya bagaimana lagi, fenomena ini seperti kejadian gerhana atau melintasnya komet bagi para astronom, peristiwa yang memberikan gairah karena ia telah diteorikan dan di tunggu-tunggu.

Ada kawan yang mengingatkan agar segera fokus berkontribusi dalam merumuskan detil teknis ekonomi-keuangan syariah sebagai alternative dari konvensional. Sementara kondisi pasar ekonomi dalam negeri juga tidak kalah rekor penurunannya, pasar modal sudah berada di bawah angka indeks 1200, sehingga pasar modal Indonesia menjadi “juara” dalam kejatuhan dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Tapi saya hanya katakan, “wait, I try to enjoying the moment here, sorry”.

Rabu, 19 November 2008

Global Financial Crisis: Amerika Semakin Remuk

Fantastis! Indeks Dow Jones nyungsep lebih dari 5%, terkapar di bawah 8000, artinya kondisi pasar mundur layaknya tahun 2003-an. Sehari sebelumnya testimoni tiga CEO perusahaan otomotif terkemuka; General Motors, Chrysler dan Ford Motors sudah menyampaikan jeritan hati industri otomotif Amerika, dan mereka menghiba kepada pemerintah untuk di bailout tidak kurang dari USD 25 billion, jika tidak guncangan industri ini akan melengkapi kesengsaraan domestik US yang sudah megap-megap dengan angka pengangguran 7,7%.

Meskipun jadi di bailout industri otomotif US tetap akan menambah panjang antrian penganggur dengan rencana me-lay off ratusan bahkan ribuan pegawainya pada tahun 2009. Sementara itu, respon pasar terhadap rencana PHK 53.000 pegawai Citigroup mempergelap awan badai yang masih menggantung di pasar keuangan US. Saham Citigroup terpuruk signifikan diiringi bayang-bayang deflasi pasar secara keseluruhan.

Amerika Serikat, nasibmu kini. Ups, maaf ini baru awal. Terjun bebas belum sampai di dasar krisis. Dengan begitu, diperkirakan khabar-khabar buruk masih akan terus kita dengan setidaknya hingga akhir semester pertama tahun 2009. Karena biasanya krisis keuangan dipasar modal akan berlanjut dulu ke perbankan dalam perjalannya menuju dasar krisis, dan di Amerika Serikat, krisis sudah menyentuh real sector.

Terlepas dari kisruh itu, saya masih penasaran dengan kondisi pasar credit card perbankan US. Berdasarkan info dan logika keuangan, sewajarnya kisruh likuiditas dan real sector akan menghantam pasar credit card perbankan dengan lebih telak. Bayangkan jika ternyata kondisi mortgage juga terjadi di pasar credit card ini, dengan kecenderungan accountibility dan transparency yang amburadul serta prilaku credit system yang complicated, Insya Allah badai akan semakin mengganas di belantara keuangan US. Ok then, fasten your seatbelt everybody.

Selasa, 18 November 2008

Diskusi Tentang Peluang Bisnis dalam Krisis

Pertanyaan
Pak Ali, kira2 saya harus usaha seperti apa ditengah crisis ini?
Abdulhadid

Jawab
Mas Abdulhadid, saya bukan pakar dalam konsultasi usaha, tetapi kalau boleh urun rembuk dalam hal ini, saya yakin formula: Harapan + Kemampuan + Peluang = Kenyataan bisa dijadikan pedoman. dengan kondisi yang ada kemampuan mas harus diidentifikasi dulu, kemudian harapannya berusaha apa dan tentu mempertimbangkan peluang yang ada. Selaraskan saja ketiganya (harapan, kemampuan dan peluang), insya Allah akan ada kenyataan yang terbaik dari Allah SWT.

Saya cuma bisa kasih info, usaha mikro seperti jajanan pasar, sayur, buah atau semua produk-produk kebutuhan primer akan bertahan di situasi krisis, sementara kebutuhan sekunder dan tersier akan sangat tergantung pada inovasi produk dan ketahanan (permintaan dan karakteristik) perekonomian domestik. Peralihan konsumsi masyarakat menengah keatas kepada kendaraan yang lebih irit atau motor, atau peralihan menkonsumsi barang-barang second dalam situasi krisis bisa dijadikan pelajaran yang sangat berharga. Bahkan bisnis barang bekas (second) menjadi bisnis favorit di negara manapun ketika krisis melanda. Tinggal menyesuaikan bisnis barang bekas untuk segmen pasar seperti apa; bawah, menengah atau atas (sesuai kemampuan dan harapan juga peluangJ). Sepanjang pengetahuan saya kecenderungan konsumsi akan relatif bergerak seperti itu ditengah krisis.

Namun jika ternyata kenyataannya nanti lebih kecil dari yang diharapkan, tidak perlu kecewa, karena apapun kenyataan yang diberikan oleh Allah itu adalah yang terbaik bagi Mas Abdulhadid, setidaknya Mas sudah dapat pahala begitu besar karena telah berusaha untuk mencari nafkah J. Dan ingat juga loh salah satu jalan melancarkan rizki adalah berinfak dan bersedekah. Maaf kalau tidak memuaskan.

Atau ada teman-teman yang lain yang mau memberikan saran?

Senin, 17 November 2008

Pasca G-20 Summit: Krisis Semakin Memburuk

Eurozone dengan beberapa negara di dalamnya seperti Belanda, Jerman dan Spanyol telah secara resmi masuk dalam situasi resesi, dimana kondisi resesi antara pertumbuhan stagnan (0%) seperti yang terjadi di Spanyol hingga penurunan kinerja ekonomi seperti yang dialami Jerman (-0,5%). Amerika Serikat lebih dulu dipastikan akan mengalami kondisi yang sama. Di Asia, Singapura menjadi negara yang cukup menonjol mengalami resesi. Dan yang terbaru adalah raksasa ekonomi Jepang secara resmi juga masuk dalam kelompok ekonomi resesi.

Berita paling akhir (17 November 2008) juga menyebutkan, Citigroup yang kini sebagai bank terbesar kedua di Amerika setelah Bank of America, mengumumkan akan memangkas staff-nya sebanyak 53.000 orang, industri otomotif Amerika sudah menjerit kesulitan likuiditas untuk produksi, situasi ini semakin menghantui angka pengangguran Amerika yang telah mencapai 7,7% saat ini (survey Fedres Bank of Philadelphia).

Kondisi ini menjadi fakta yang kontradiktif (jika tak mau dikatakan lucu), karena baru saja sehari pertemuan G-20 selesai dengan kesepakatan yang begitu ketat, ternyata banyak anggotanya "menjerit" setelah itu. Lihat saja kesepakatan yang disebut-sebut sebagai the bretton woods II, ternyata tidak meningkatkan kepercayaan diri pasar, bahkan membuat pasar dow jones kembali terjun 200-an basis poin.

Kita sekarang seperti sedang terjun bebas tanpa parasut, yang bisa kita lakukan cuma mengira-ngira seperti apa posisi jatuh yang paling "enak"; tengkurap, berdiri, duduk atau apa. Atau mungkin sedikit berdoa, kalau-kalau landasan mendarat kita terbuat dari matras yang paling empuk. tapi tetap saja pertanyaan kita saat terjun ini adalah, dimana dasar-nya dan kapan kita sampai di dasar?

Saya jadi ingat kalimat berbau syair-nya Emha Ainun Najib: kalo pohon sakit itu ada tiga kemungkinan penyikapannya; pertama, obati pohon itu jika masih memungkinkan untuk sembuh. Kedua, jika tidak bisa cabut saja pohon itu ganti dengan pohon baru, tapi mencabut pohon lama pasti menyakitkan. Ketiga, jika menyakitkan mencabut pohon, ya biarkan saja pohon itu mati dan membusuk, toh dari kebusukan pohon itu pasti akan ada organisme pohon baru yang tumbuh.

Nah, kita mau apakan krisis ekonomi ini, kita obati? Sudah beberapa bulan ini obatnya tidak membuat kondisi semakin baik; bailout, penjaminan, suku bunga sampai dengan komitmen, semuanya mentah! Bagaimana kalau kita cabut sistem yang ada, revolusi! Pasti banyak kapitalis yang pasang badan dan siap "perang". So, kita tunggu aja kebusukannya, kehancurannya, kemusnahannya...

Minggu, 16 November 2008

Solusi Krisis: Mari Belanja!

Pertemuan G-20 yang disebut-sebut sebagai “The Bretton Woods II” sudah selesai, rekomendasi sudah dapat ditebak, yang disepakati adalah pengetatan regulasi dan penciptaan lingkungan yang lebih baik bagi kebijakan pengetatan. Yang pasti, industri keuangan semakin menjadi industri yang semakin banyak regulasinya. Tetapi ibarat praktek judi yang meng-entertain kerakusan, dapatkah regulasi-regulasi itu menjinakkan prilaku rakus penjudi dan kemudian membawa pengaruh positif bagi ekonomi? Regulasi secanggih apa yang bisa mencegah kerakusan kecuali pelarangan?

Dari rekomendasi itu, terjawab sudah pertanyaan “apakah akan ada perubahan dramatis di dunia keuangan dunia?” Tidak ada yang berubah kecuali dunia keuangan semakin panjang list ketentuannya. Tidak ada yang berubah dengan wajah aplikasi, warna kebijakan, rezim nilai tukar dari dunia keuangan internasional. Dengan kepentingan proteksi ekonomi domestik sebagai respon umum terhadap krisis keuangan, masing-masing negara peserta meeting tersebut (terlebih lagi bagi negara non G-20) tentu memiliki interpretasi dan implementasi berbeda atas rekomendasi yang dihasilkan. Jika tidak diikuti koordinasi lanjutan, dikhawatirkan G-20 meeting akan menjadi sia-sia, dan bahkan tidak akan membendung krisis global ini untuk terus menuju dasarnya (bottom of the crisis) yang jauh lebih dalam dari perkiraan semula.

Dalam keadaan seperti ini, lumrah jika semua ekonom “menyanyikan lagu” rekomendasi yang sama, yaitu perkuat ekonomi domestik! Longgarkan fiskal untuk aktifitas ekonomi dalam negeri! Cegah capital outflow melalui kebijakan fiskal dan moneter yang satu nada! Lagu itu memang harus dinyanyikan bersama, oleh semua komponen ekonomi tanah air. Tetapi bagaimana dengan rekomendasi dari sudut pandang ekonomi Islam?

Mungkin nada dan iramanya sama tapi boleh jadi “liriknya” berbeda untuk solusi yang direkomendasikan oleh ekonomi Islam. Ekonomi domestik memang harus diperkuat, tetapi mungkin dapat dilakukan dengan menggeliatkan perekonomian mikro yang memang sampai saat ini jauh dari angka normal atau bahkan maksimalnya. Logikanya sederhana, populasi penduduk Indonesia begitu besar golongan penduduk miskinnya. Tentu mereka memiliki kontribusi konsumsi yang kecil bagi ekonomi. Sementara untuk meningkatkan volume ekonomi domestik dibutuhkan agregat konsumsi ekstra untuk menjaga kegiatan produksi dan merangsang kegiatan baru (yang pasar luar negerinya sedang tiarap).

Golongan masyarakat miskin yang begitu besar merupakan modal krusial untuk meningkatkan konsumsi agregat. Ingat uang ditangan orang miskin itu lebih efektif menjadi konsumsi daripada uang tersebut berada ditangan orang kaya. Sehingga, Upaya memberikan kemampuan beli kepada mereka dan program peningkatan status mereka menjadi pemain pasar yang aktif mutlak dilakukan. Nah, disinalah ekonomi Islam mampu melakukan tugasnya. Rekomendasinya mungkin menjadi seperti ini:

a. Kepada saudara-saudara yang diberikan lebih rizki berupa harta, berkonsumsilah, keluarkan uang anda untuk pasar, dan bentuk mengeluarkan uang yang paling baik bagi ekonomi adalah INFAK dan SEDEKAH. Namun tentu terlebih dahulu jangan lalaikan kewajiban ZAKAT anda. Jika tidak, investasikan uang anda pada usaha-usaha bisnis yang memang prospeknya baik. Jangan ragu, jangan tahan uang anda hanya karena tidak mau merugi. Yakinlah dengan cara-cara seperti ini, akhirnya uang anda akan aman karena masyarakat miskin dengan kesibukannya di ekonomi akan mengeliminasi potensi mereka menjadi pemain kriminal.

b. Kepada semua saudara yang berkonsumsi, berkonsumsilah di pasar tradisional, karena jumlah pelaku pasar disana besar dan multiplier efek bagi transaksi ekonomi selanjutnya jauh lebih besar. Karena memang pasar tradisional pula yang aksesnya dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat baik kaya dan miskin, baik menjadi pembeli maupun penjual.

c. Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, kenali para warga kaya dan miskin, lancarkan dana-dana sosial antara mereka, yang pada akhirnya membesarnya daya beli masyarakat miskin. Tetapi ikuti pula dengan program pemberdayaan masyarakat miskin tersebut, seperti program pembangunan infrastruktur desa, kelurahan, atau diwilayah yang lebih tinggi.

d. Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, buka peluang pembentukan pasar seluas-luasnya di lapangan-lapangan, lorong desa, alun-alun kota, perumahan-perumahan dan tempat-tempat yang strategis. Dengan pengelolaan profesional tentu saja, pasar dapat berupa pasar-pasar malam, pasar kaget, pasar week-end morning selanjutnya bahkan ia bisa berkembang menjadi tempat-tempat wisata malam bagi penduduk lokal.

e. Kepada semuanya, ingat, jantung ekonomi adalah pasar, maka upaya memperlancar dan merangsang aktifitas pasar adalah hal yang terbaik yang dapat dilakukan untuk keluar dari krisis dalam situasi pasar yang semakin mengkerut akibat aliran kredit yang semakin mengering. Dan mari “belanja!” belanja untuk kebutuhan pokok atau belanja kebajikan dengan perbanyak infak dan tingkatkan sedekah.

Jumat, 14 November 2008

Islamic Finance News: Viability is the Challenge

Dear Ali Sakti,

Today, the Islamic financial system is being viewed with a measure of envy and respect. There is growing appreciation of its symbiotic link to real economic activities. As the financial crisis reaches out to even more areas around the globe, some Islamic financial and related institutions are being affected, though not to the extent that has crippled many of their conventional counterparts.

This naturally means that the Islamic finance community should not be complacent; rather, it must continue to critically evaluate itself. Malaysian Prime Minister Abdullah Ahmad Badawi asks: “Have we truly established an alternative system, or are we still very much mimicking the established conventional system?” His challenge: Prove to the global market that the Islamic financial system is truly a robust and viable alternative to the conventional system.

The current financial crisis provides that opportunity. As it is, despite the crisis, new Shariah compliant banks continue to emerge in various places (Sudan, the Gulf and Malaysia); they continue to record strong profits (ABC Islamic Bank’s net profit for the first nine months of 2008 increased by 60% over the same period last year); Britain, despite being in the thick of the crisis, remains committed to launch the first Sukuk by a western government; and Gulf Finance House is embarking on its latest Energy City project, in Libya, worth US$5 billion. Additionally the International Swaps and Derivatives Association is to launch standards for over-the-counter (OTC) Islamic derivative contracts early next year that will be a key tool in Shariah compliant risk management.

As part of efforts to add depth to Islamic finance, the International Shariah Research Academy for Islamic Finance (ISRA) has been set up to foster collaboration between Muslim scholars in different countries to develop knowledge in areas of specific interest to the global Islamic finance community. In particular, it will help find a middle ground for the standardization of Islamic finance practices.

At the same time, Malaysia has embarked on an initiative to promote a more consistent application for Islamic financial contracts. The central bank’s “Shariah parameters” project is aimed at determining the essential features of Islamic financial products derived from underlying Shariah contracts such as Murabahah, Istisna, Mudarabah, Musharakah, Ijarah and Wadiah. These features will serve as a guide for Shariah contracts pertaining to Islamic financial products, and can be applied when designing new products or enhancing existing ones.

Even as these moves take shape in bringing about a certain level of standardization and uniformity in Islamic finance, a debate is ongoing: According to some scholars, binding legal standards for the industry would challenge the Islamic concept of Ijtihad, or reasoning, that continuously re-assesses Shariah law. Standardization, they argue, will also limit the diversity of Islamic finance products. On the other hand, regulators and industry practitioners contend that legally enforced standards are required to enhance investment certainty and reduce transaction costs.

Finally some of the largest pension plans in the US are reported to be restructuring their entire portfolio to venture into infrastructure investment in a major way. Experts estimate that infrastructure spending will average US$2 trillion a year through 2015 as emerging markets build and expand rapidly while developed markets are upgrading their existing infrastructure.

Opportunities beckon for Islamic finance!

Best regards,IFN team

Kamis, 13 November 2008

Negeri Islam yang Bahagia

Membaca posting seorang teman tentang paradigma pembangunan yang dimiliki oleh nagara Buthan; “Gross National Happiness is more important than Gross National Product”, yang didengungkan oleh Raja Buthan, membuat Buthan kini memiliki pencapaian cukup menari sebagai negara. Dengan pendapatan perkapita USD 1,400, Buthan menjadi negara paling berbahagia peringkat 8 di dunia (Penelitian Universitas Leicester UK tahun 2006), 9 tingkat lebih tinggi daripada Amerika Serikat yang memiliki pendapatan perkapita USD 41,800. 97% rakyat Buthan menyatakan bahagia, APBN-nya tidak dibebani pembiayaan militer karena lebih difokuskan pada program pelayanan medis dan pendidikan gratis bagi seluruh warga negara yang mengambil porsi 30% dari APBN-nya.

Mimpinya negeri Islam nan berkah ya mungkin seperti itu, negeri yang digerakkan oleh kesadaran pada pemberian maksimal kemanfaatan diri bagi manusia lain. Pembangunan ekonomi akhirnya dimotivasi oleh keshalehan diri dan kolektif. Kata Nabi, harta yang terbaik adalah harta yang berada di tangan orang shaleh, nah bayangkan kalau warga negara banyak yang shaleh. Pemimpinnya shaleh, orang kayanya shaleh, orang miskinnya shaleh, pemimpin akan menempatkan diri sebagai orang yang terakhir merasakan kenikmatan dan orang pertama yang merasakan kepahitan (sehingga ia menjadi pemimpin yang adil, pemimpin yang adil hingga syurga pun merinduinya, kata Nabi), orang kaya memaksimalkan kekayaannya untuk memberikan kemanfaatan buat orang lain dan terus bersemangat untuk menjadi manusia yang terbaik (manusia yang terbaik diantaramu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain, kata Nabi), orang miskin dengan kemiskinannya tetap menjaga izzah dan marwah dengan keterbatasannya, bahkan qona’ah untuk tetap dalam keadaan itu karena teringat sabda Nabi, ada segolongan manusia yang utama dan pertama masuk syurga di akhirat nanti, yaitu golongan miskin yang istiqomah (Islam dan Iman).

Bila ya negeri itu ada...