Minggu, 30 November 2008

Bait Al Hikmah

Muangkin ada yang betanya-tanya mengapa saya tayangkan gambar di samping ini yang bertuliskan Bait Al Hikmah. Tidak ada maksud-apa-apa sebenarnya, kecuali hanya ingin menunjukkan mimpi atau mungkin obsesi, tentang keberadaan lembaga yang menjadi rujukan para pencari ilmu, pencari kebijaksanaan, pencari hikmah, yaitu The House of Wisdom atau Bait Al Hikmah.

Saya memfungsikan blog ini sebagai Bait al Hikmah bagi saya. Karena renungan yang "pop-up" di kepala saya dalam jangka waktu tertentu dan tertuang dalam tulisan dapat memberikan hikmah baik bagi saya sendiri maupun bagi orang lain. Atau tulisan-tulisan pihak lain yang sejalan dengan misi blog ini menjadi hikmah buat semua.

Entah kapan, saya memang memimpikan satu tempat atau lembaga Bait Al Hikmah berdiri, dimana orang didalamnya bergaul dan berinteraksi murni untuk mencari ilmu. Mereka berkumpul bukan mencari nilai, sertifikat atau kompetensi atas motifasi lain kecuali kepuasan mendapatkan "wisdom". Dari wisdom itu, mereka akan lebih nyaman menjalani hidup yang didalamnya terdapat banyak cobaan, ujian dan kenikmatan. Dengan wisdom mereka bisa tampil menjadi manusia terbaik dari manusia baik yang ada.

Oleh sebab itu, misi dari Bait Al Hikmah itu adalah "mewujudkan manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain".

Dalam mimpi saya, Bait Al Hikmah terkumpul para pakar dari disiplin ilmu apapun yang saling membagi keilmuannya, dalam diskusi, dalam informal lectures, dalam kelas-kelas reguler dan ireguler. Di Bait Al Hikmah terdapat perpustakaan dengan buku-buku yang lengkap, tempat itu tepat untuk menyepi mencari hikmah. Tetapi juga tepat bagi siapa yang membutuhkan komunitas untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman.

Bait Al Hikmah pada perspektif lain dapat menjadi knowledge cafe, tempat persinggahan orang yang ingin melepaskan kepenatan fikiran dan hati, dengan mendengarkan hikmah-hikmah dari lectures berbagai disiplin ilmu atau sekedar syair-syair Islami.

Hmmm... adakah yang bermimpi sama?

Konsep Tabungan dalam Islam

Keteladanan merupakan bentuk tafsir dari pemahaman terhadap suatu prinsip atau nilai-nilai. Dalam hal ini keteladanan Rasulullah SAW dan para Sahabat beserta ulama-ulama terdahulu dapat dijadikan referensi shahih dalam mencari definisi dan interpretasi atas suatu konsep Islam (khususnya ekonomi) dalam kehidupan modern. Keteladanan ini yang bagi saya dapat menjelaskan banyak hal mengenai banyak isu dalam bidang Ekonomi Islam.

Banyak yang bertanya kepada saya, seperti apa konsep tabungan dalam Islam ketika saya banyak memberikan contoh keteladanan para Sahabat dalam memperlakukan hartanya. Banyak Sahabat yang terkesan tidak melakukan aktifitas "saving" dalam definisi modern yang sangat terkait dengan potensi investasi. Para Sahabat lebih banyak memperlihatkan prilaku zuhud dan qona'ah dalam bentuknya yang ekstrem, yaitu tidak meninggalkan sisa hartanya dalam bentuk "saving".

Alasannya akan sangat tidak relevan, jika kita mengajukan dalih bahwa aplikasi fund intermediary belum berkembang pada masa itu. Dengan begitu, alasan yang sangat mungkin dikedepankan adalah, bahwa penyisihan harta (deposit - D)) dalam prilaku Islam memiliki dua motif; berjaga-jaga (saving - S) dan investasi (Investment - I), diluar konsumsi dan amal shaleh.

D = S + I

bukan seperti yang selama ini diformulakan konvensional:

D = S = I


Selain itu, alasan yang juga cukup valid untuk di ajukan adalah begitu ketat dan tingginya prilaku para Sahabat yang percaya dengan janji-janji Allah SWT. Janji-janji yang menjadi pedoman tersebut diantaranya: Allah SWT akan lipat-gandakan rizki seseorang yang membelanjakan hartanya di jalan kebajikan atau Allah tidak akan memberikan cobaan (yang berisiko memakai harta, jiwa dan tenaga dimasa yang akan datang) kepada seseorang di luar kemampuan orang tersebut.

Dengan demikian, salah satu jalan untuk melancarkan rizki (harta) dalam perspektif para sahabat bukan malah menyimpannya tetapi MEMBELANJAKANNYA! Tentu saja dalam bentuk belanja kebajikan. Disamping itu, penyisihan harta dalam bentuk tabungan tidak akan berlebih-lebihan karena mereka percaya bahwa Allah SWT tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan dirinya.

Kamis, 27 November 2008

Islamic Finance News: Islamic Banking in Bahrain

Dear Ali Sakti,

Monetary Authority of Singapore managing director Heng Swee Keat says one of the most significant lessons about the ongoing financial crisis is also the most basic, that is, finance needs to return to its basic function of allocating scarce capital to the most productive uses, with the capital earning an appropriate risk-adjusted return.

In this regard, the underlying precept in Islamic finance of not using capital for speculation but to build productive capacity and generate sustainable economic growth takes on great relevance. He is confident that by adhering to this basic precept, Islamic finance will assume a more prominent role in the coming years.

He also feels that regulators, financial institutions and investors all have a role in bringing about an effective regulatory regime. Singapore has taken a further step: it has placed the primary responsibility for sound risk management and oversight of each institution on the board and senior management, which, Heng says, must set the right tone and culture.

At this week’s World Islamic Banking Conference which Heng attended, Hari Bhambra, senior partner at Praesidium, spoke of Islamic finance products having potential take-up in markets like the US, where they may be repackaged as ethical or moral products, like the “green” or Christian funds already on offer.

In supporting ethical finance, Fair Capital CEO Iqbal Ahmed Khan welcomed the idea of “an alliance of goodness” with other ethical products around the world. Islamic finance needs to be an agent for “democratized wealth, to bring more people into the banking system”, he said. “It could create a major force of goodness, and hopefully will address the needs of the most vulnerable members of society."

That’s a rosy picture. But the reality is that Islamic finance has a long way to go even in the basic requisites of education, communication and acceptance. On top of that, according to this week’s DIFC Forum, the Islamic banking industry has a confidence problem. It won’t become a major force in the GCC until current investors gain confidence in their own regional structures, and sovereign wealth funds are invested locally, rather than in markets like New York or London, the panelists said.

Another point of view was from Ahmed Khan, CEO of Fajr Capital. He felt that Islamic finance should play a role in finding solutions to support people who belong to the most vulnerable sections of society. “The financial crisis will affect poverty reduction budgets around the world and there is a risk of increased polarization between the rich and the poor. Islamic finance can play a role in helping the poorest sections of society by finding creative solutions to support them.”

Bahrain Central Bank governor Rasheed Al Maraj meanwhile reminded the Islamic financial industry on the importance of risk diversification, good liquidity management and sound corporate governance if it is to continue to enjoy a framework for stability against the background of global financial turmoil. He suggested that the industry develop a greater diversity of business models, more diverse and stable income sources, and more robust risk management and stress testing techniques.

It certainly was a week of brainwaves.

The next issue will be available from Friday 5th December 2008.

Best regards,
IFN team

Senin, 24 November 2008

Harga Mahal Suatu Kebosanan

Mana yang kita beli, ketika ada dua pilihan dihadapan kita, membeli handphone biasa atau blackberry. Tentu yang menjadi constrain utama kita adalah budget, bagaimana kalau budget tidak menjadi masalah, apa yang menjadi constrain setelah itu? Bila norma dan pertimbangan kepekaan sosial tidak menjadi masalah pula, maka ukuran kepuasan dari sisi prestise atau gengsi tentu akan lebih dikedepankan. Ya blackberry pasti yang akan dipilih, meskipun penggunaan featurenya juga sama saja dengan yang ada pada handphone biasa; telephone dan sms saja.

Masih banyak lagi pilihan yang dilakukan manusia di dunia ini, yang jauh dari pertimbangan kemanfaatan, sehingga akhirnya uang "terbuang" percuma dalam rongsokan barang-barang mewah. Atau uang-uang lebih banyak terkurung digudang-gudang berupa barang-barang tak terpakai entah karena lecet, tak enak dipandang atau hanya karena bosan.

Pernah anda bayangkan di satu sisi ada orang yang terseok-seok sekedar untuk mencari sesuap nasi sementara pada sisi yang lain tak sedikit orang mencampakkan barang yang dibelinya hanya karena BOSAN?! bosan warnanya, bosan modelnya, bosan ini, bosan itu...

Saya berangan-angan setiap orang kaya amanah dengan harta dan keinginannya. Mereka berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka lebih mengedepankan azas kemanfaatan dalam berkonsumsi, lebih mendahulukan apa yang mereka butuhkan daripada keinginan. Tetapi pada saat yang sama, ringan tangannya untuk memberikan charity bagi mereka yang tidak mampu.

Saya perkirakan potensi ekonomi dari prilaku tidak amanah pada harta ini begitu besar. Karenanya saya perkirakan "uang idle" berupa onggokan barang-barang mewah digudang-gudang, atau barang biasa yang tidak digunakan karena kebosanan pemiliknya tidak kalah besarnya dengan "uang idle" yang terkonsentrasi di pasar-pasar keuangan.

Pernahkah kita berhitung-hitung berapa usia barang yang kita beli. Usianya tentu diukur dari berapa lama anda menggunakannya. berapa usia baju dalam anda? berapa usia kemeja, jam tangan, tas, kacamata, laptop, HP, sepatu, sendal, mobil, sepeda motor, stik golf, raket tenis, atau sekedar berapa usia kesukaan anda pada barang apapun? Bukankah harga kebosanan itu mahal?

Tidak terasa ya, pernik-pernik harta yang melekat dan dekat dengan kita semakin hari semakin banyak. Akhirnya tanpa sadar perhatian kita habis tersita untuk pernik-pernik itu, bagaimana kalau kemeja kita tertumpah tinta, laptop kena virus, jam tangan pecah kacanya, HP tak bisa on, mobil tergores catnya, raket tenis putus senarnya. Waktu luang habis untuk membetulkan itu, kalau sudah letih, buang saja, taruh di gudang dan beli yang baru.

Kalaupun kita memberikan charity, berbuat baik kepada orang lain, kita pada dasarnya hanya "membuang" barang -barang yang membosankan bagi kita, karena kita juga ingin mengurangi isi gudang rumah kita. Ya, akhirnya tidak ada itu kepentingan orang lain, semuanya adalah untuk kepentingan kita, sekalipun untuk memberikan charity.

Minggu, 23 November 2008

Global Financial Crisis: Psikologi Bangsa Amerika

Melihat perkembangan krisis keuangan Amerika Serikat yang tidak membaik, membuat saya tertarik untuk menulis perubahan psikologis Amerika sebagai bangsa. Kehancuran industry keuangan yang mulai meluas dan mendalam kekacauannya menjadi krisis ekonomi tentu mempengaruhi kredibilitas profesionalisme pekerja Amerika di kancah internasional. Cerita tentang profesionalisme, kompetensi, keahlian dan integritas bangsa Amerika tentu jatuh dan saat ini mungkin menuju pada tingkat reputasinya yang terendah.

Kondisi ini jadi mengingatkan saya pada kritik Joseph E. Stiglitz yang pernah mengatakan bahwa professional Amerika diuntungkan oleh reputasi Amerika sebagai Negara dalam menilai kemampuan profesionalisme mereka, baik reputasi yang berasal dari politik, ekonomi maupun sosial budaya. Stiglitz secara pedas mengatakan dengan reputasi itu professional Amerika menerima keuntungan pada apapun keadaan perusahaan yang mereka tangani. Jika perusahaan berjalan dengan baik, maka akan ada justifikasi bagi mereka untuk mendapatkan bonus special atas alasan kinerja perusahaan yang stabil, namun kalaupun perusahaan tidak berjalan baik, tetap saja ada justifikasi bagi mereka untuk mendapatkan bonus special, denan alas an bahwa karena merekalah perusahaan tidak terpuruk lebih dalam.

Tidak berapa lama lalu kita saksikan arogansi Amerika dalam kampanye “war on terror” mereka, yang memojokkan hampir semua negara di dunia dengan kalimatnya yang terkenal: “anda bersama kami atau anda bersama teroris.” Kini kita lihat di forum apapun, posisi Amerika berubah menjadi negara yang terpaksa tahu diri dengan kondisi yang ada. Kini Amerika begitu lemah (kalau tidak mau dikatakan hina), bahkan terkesan menghiba kepada the rest of the world, meminta keterlibatan semua negara di dunia untuk ikut menyelesaikan krisis keuangan global yang notabene akibat ketidakbecusan mereka mengelola ekonomi.

Di pertemuan G-20 summit di Washington - US, pertemuan Apec di Lima - Peru, dan forum-forum lainnya, pada hakikatnya merupakan forum-forum downgrading status keadidayaan Amerika. Karena di forum itulah semakin terlihat ketidakmampuan Amerika untuk berbicara lebih lantang khusus dalam bidang ekonomi. Penurunan reputasi dan ketidakprofesionalitasan ekonomi akan berimbas pada sector-sektor terkait seperti sector pendidikan. Ketidakbecusan ekonomi diperkirakan akan membuat reputasi sekolah atau universitas-universitas Amerika akan semakin memburuk, dan boleh jadi akan menurunkan minat pelajar internasional untuk menimba ilmu disana. Dan ini dapat saja merembet pada minat studi politik, hokum dan disiplin ilmu lainnya.

Khusus untuk George W. Bush, di penhujung karirnya, kondisi ini menjadi situasi yang sempurna mempermalukan dirinya. Hingga akhir tahun 2008 ia menanggung hari-hari yang memalukan bagi dirinya dan bagi bangsa Amerika. Administrasi yang buruk di dalam negeri, penanganan bencana, banjir, badai, kebakaran hutan menjadi ukuran untuk itu. Politik luar negeri yang represif semakin membangkitkan kebencian dan dendam, bukan hanya pada Negara musuhnya tetapi juga membuat apatis para sekutu Amerika. Mungkin ia menjadi presiden yang berhasil membenamkan reputasi Amerika, ia menjadi sejarah hitam bagi bangsanya. Mungkin pula ia tidak menyangka reputasinya dipenghujung karirnya buruk seperti ini. Beginilah harga sebuah arogansi dari pemimpin sebuah bangsa, yang malu bukan hanya dirinya tetapi juga bangsa yang dia pimpin.

Kondisi ini, tentu akan juga sangat mempengaruhi industry film Amerika, yang selama ini menjadi alat propaganda dalam meningkatkan image mereka di dunia. Dengan industry filmnya, Amerika berhasil membentuk persepsi dunia bahwa mereka adalah bangsa yang unggul dan tangguh. Kini dan kedepan nanti, boleh jadi tema-tema film Hollywood akan berganti menjadi tema yang lebih realistic dalam menampilkan negaranya. Kritikan melalui film ini sudah mulai muncul melalui tema-tema film yang berlatar belakang perang timur-tengah dan satir politik negeri Paman Sam.

Sementara itu image negative pun mulai disematkan kepada warga Amerika dimanapun mereka berada di seluruh sudut dunia, baik ia sebagai pekerja, diplomat maupun sekedar menjadi turis. Tak jarang mereka juga tidak sungkan-sungkan mempermalukan negaranya di depan bangsa lain terkait dengan arogansi Negara mereka yang ditunjukkan oleh pemimpin-pemimpinnya. Di dalam negeri, fenomena ketimpangan, prilaku amoral, kriminalitas dan diskriminasi rasial semakin nyata dan ditonton dunia. Pemandangan yang kontradiktif atau mungkin paradox dengan gembar-gembor diplomasi mereka. Akhirnya Amerika sekedar menjadi Negara yang menarik untuk di saksikan tetapi tidak untuk diikuti, dicontoh atau bahkan direplikasi.

Jumat, 21 November 2008

Peradaban Kapitalisme

Banyak yang telah menunjukkan euphoria kemenangan, dengan mengatakan bahwa saatnyalah kehancuran ekonomi kapitalis, sampai-sampai, gringo-gringgo dan kamerad-kamerad ekonomi sosialis di Amerika Latin dan sisa-sianya di Eropa Timur, turun kejalan merayakan euphoria itu. Hugo Chaves Presiden Venezuela memimpin langsung perayaan itu di jalan-jalan ibukota Venezuela, bahkan khabarnya menetapkan hari kehancuran keuangan Amerika/Kapitalis yang ditandai dengan likuidasi Lehman Brothers sebagai hari libur nasional.

Betulkah kapitalisme segera menutup usianya? Sejauh mana sih kehancurannya? Pertanyaan ini yang tidak sedikit membuat perdebatan baru dikalangan oponen Kapitalisme. Mereka terbagi menjadi dua golongan ekstrem; golongan realistic dan golongan militant. Golongan realistic merasa bahwa kapitalisme terlalu raksasa untuk tumbang, yang akan terjadi akhirnya hanyalah restrukturisasi kapitalisme, dimana at the end of the day kapitalisme tetap akan berdiri tegak tapi wajah dan aromanya telah berganti. Sementara golongan militant yakin bahwa ekonomi kapitalisme akan hancur-sehancur-hancurnya, seperti hancurnya hegemoni golongan gereja dalam bernegara sebelum revolusi industry di Eropa.

Saya mungkin terlalu lama merenung dan memikirkan ini, sebelum secara jelas mengambil posisi ada dimana; realistic atau militant. Saya mulai percaya bahwa kapitalisme saat ini tidak sekedar hanya sebagai system ekonomi, tetapi ia telah menjelma menjadi raksasa yang sangat besar. Kapitalisme telah menjadi peradaban bagi manusia modern saat ini. Karena perannya sudah melintas batas, bukan hanya ada di ranah ekonomi. Tetapi kapitalisme eksis dan membumi di wilayah politik, hukum, budaya dan pendidikan. Tidak salah memang jika ekonomi digelari sebagai Queen of Science.

Kapitalisme merubah wajah politik monarki dan musyawarah menjadi politik pasar yang kita sebut demokrasi. Pemimpin dipilih melalui mekanisme pasar berdasarkan pertemuan kekuatan demand rakyat dan supply politikus partai politik. Betul-betul wilayah politik berubah menjadi pasar atau sektor “ekonomi” jenis baru dalam imperium ideologi kapitalisme. Politik tidak menjadi alat pelayanan terhadap rakyat, politik berubah menjadi lahan mencari nafkah, bahkan pembukaan jurusan di perguruan tinggi terkesan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan laborforce di wilayah ini.

Pada wilayah hukum, ayat-ayat hukum dirumuskan dan dikembangkan menggunakan patern yang sama dengan apa yang sudah kapitalisme lakukan pada wilayah politik. Ayat-ayat hukum terformulakan berdasarkan kebutuhan pasar dan kecenderungan pasar. Sampai-sampai proses hukum mutakhir terkesan hanya berfungsi bagi mereka yang secara ekonomi terpinggirkan. Bagi mereka yang berdiri gagah memegang kendali pasar, para konglomerat dan politikus, hukum tidak memiliki taring.

Bagaimana dengan budaya? Lihatlah, budaya yang bertahan di semua belahan dunia adalah budaya yang diterima dan masuk dalam mekanisme pasar. Budaya yang memiliki nilai jual, memiliki demand di pasar, itulah yang budaya yang bertahan. Budaya pada lagu menjadi industri yang cukup besar, tapi hampir semuanya bukanlah lagu-lagu pada ajakan kebajikan. Budaya pakaian, industrinya yang berkembang adalah industri yang bersandar pada mekanisme pasar, dimana pasar cenderung meminta pakaian-pakaian berbahan baku terbatas alias pakaian umbar aurat.

Kapitalisme juga jelas terlihat jejaknya di dunia pendidikan. Lihat kurikulum pendidikan, lihat disiplin ilmu dan jurusan-jurusan yang ditawarkan. Lihat dunia pendidikan yang kini perlahan-lahan berubah menjadi industri. Sekolah pada semua jenjang berubah menjadi pabrik untuk mengeluarkan manusia-manusia robot atau buruh yang diminta pasar. Paradigma orang tua terhadap kesuksesan anaknya mengacu pada standard-standard kesuksesan materi kapitalisme, sehingga jurusan-jurusan terkemuka/terpandang di perguruan tinggi adalah jurusan-jurusan yang menjanjikan kesuksesan kapitalisme.

Jadi, lengkaplah kapitalisme menguasai semua subsistem peradaban manusia. Atau lebih tepatnya kapitalisme itulah peradaban modern ummat manusia saat ini. Dengan pemahaman seperti ini, mungkin keruntuhan ekonomi Amerika dan Eropa yang saat ini tengah berlangsung, sangatlah prematur untuk dijadikan landasan argumen bahwa kapitalisme akan runtuh. Kalaupun keruntuhan ekonomi betul terjadi, kapitalisme akan mampu membangun lagi, karena kapitalisme telah menjadi worldview dalam diri manusia, telah berubah menjadi norma masyarakat, telah melebur dalam kurikulum-kurikulum pendidikan. Artinya kehancuran kapitalisme secara utuh harus juga diikuti dengan kehancuran generasi dan sistem penopang peradaban kapitalisme.

Dengan demikian, prediksi yang paling logis dari skenario kehancuran kapitalisme salah satunya adalah peperangan. Tetapi sebelum itu terjadi, jikapun peradaban kapitalisme harus hancur, sepatutnya telah ada benih generasi dan sistem peradaban penggantinya. Saat ini yang sangat kuat menjadi kandidat itu adalah Islam. Sehingga hipotesanya jika peperangan itu terjadi, adalah peperangan peradaban kapitalisme dan peradaban Islam. Perseteruannya telah nampak saat ini, tetapi entah kapan pertempuran final akan terjadi.

Buat rekan-rekan aktifis dakwah, mujahid ekonomi syariah dan para pemerhati, saya yakin terlibat atau tidak terlibat anda dalam “pertarungan” itu, gerbong peradaban Islam ini tetap akan melaju menuju pada tujuannya yaitu mengambil alih kuasa peradaban manusia. Akan muncul nanti generasi “genuine” Islam yang memiliki kapasitas minimal dan menanggung amanah itu. Generasi inilah sebenarnya yang pula menjadi prerequisite eksistensi ekonomi Islam.

Jalan menuju terbentuknya generasi itu sudah terlihat, lihatlah kebangkitan golongan menengah muslim di banyak negara muslim, semangat keislaman tergambar dalam prilaku konsumsi dan produksi serta bentukan industri-industri ekonomi, buku-buku Islam menjadi buku terlaris, budaya Islam mengkristal pada setiap aspeknya, politik Islam mulai memunculkan kesadaran kebersamaan Islam (ukhuwwah Islamiyah) seiring dengan tumbangnya pemimpin-pemimpin muslim yang otoriter. Dalam ekonomi negeri-negeri Islam mulai berposisi kuat dan punya bargaining power. Lebih detil lagi, keluarga-keluarga muslim mulai mengenalkan Islam kepada anak-anak mereka sejak dini, mengenalkan baca tulis Al Qur’an, adab Islam, menggunakan nama-nama Islam dan lain sebagainya.

Ya, generasi Islam mulai tumbuh. Sudah dekat masanya bagi putra-putra Islam akhir zaman untuk menunjukkan keberadaannya. Bersiaplah rekan-rekan, jika anda sudah bersedia maju dalam gerbong peradaban ini, jangan malu-malu, jangan setengah-setengah, wakafkan semua yang kita punya. Islam tidak akan tegak dengan piknik dan senda-gurau. Mulailah kita berhitung, lebih banyak kita gunakan untuk apa harta, waktu, tenaga dan pikiran kita? Kita bukan hanya sekedar ingin menegakkan ekonomi Islam, yang kita ingin kibarkan adalah panji-panji peradaban Islam. Oleh sebab itu ia butuh ketekunan dan disiplin, butuh waktu dan konsentrasi, butuh perjuangan dan pengorbanan. Above all, ia butuh kebersamaan, butuh jamaah yang satu langkah dan satu tujuan. Dan yakinlah itu semua bukanlah beban, itu semua adalah kemuliaan dan kehormatan, yang telah juga diusung oleh generasi Islam mulia terdahulu. Wallahu a’lam.

Ali Sakti

Kamis, 20 November 2008

Islamic Finance News: Resilience and Stability are the Key

Dear Ali Sakti,

The recent G20 meeting hosted by the US had an urgent agenda: Figure out measures to help better regulate international finance and take steps to stabilize the current turbulent markets. After unprecedented global cooperation in bank bailouts and stimulus packages, there was much anticipation of concrete action at a global level. Some measures were needed without delay but it has become apparent that little substantive work was accomplished at the meeting.

Instead, the buck has been passed to the finance ministers to work on this over the next several months despite the real possibility of the crisis worsening and recession becoming more widespread. Despite broad support for economic stimulus, the leaders were not able to agree on a coordinated global effort.

Another issue which arose but was neglected at that meeting is the impact of the turmoil on many emerging markets and developing countries. With the US and Europe struggling economically and consumed by efforts to stabilize their banks, China, Japan and Saudi Arabia have emerged as the likeliest candidates to help distressed countries.

The reality is that global challenges posed by the current international financial crisis necessitate global engagement. Both reforms and measures need to be global in nature to restore soundness and stability to the international financial system. Can Islamic finance play an effective role in this respect? The key for the Islamic financial industry is to ensure that it will not be a source of such financial instability and is able to achieve a level of resilience that will ensure its sustainability.

The Islamic financial system has the inherent ability to deal with crises such as the current one. The main selling point is that the requirements of Islamic finance are in fact consistent with the international best practices and standards in the conventional financial services industry. This enhances its prospects for soundness and stability.

There are, of course, potential risks for Islamic finance in a crisis environment. The increased globalization of Islamic finance and its greater integration with the international financial system increases its exposure to the spillover effects from adverse economic and financial conditions.

Which is why Malaysian central bank governor Zeti Akhtar Aziz has this piece of advice for industry players: “As innovation of Islamic financial products and services intensifies and as Islamic finance becomes more integrated with the international financial system, it becomes imperative that the foundations upon which Islamic finance has been built remain intact. This will be the key to sustaining the resilience of the Islamic financial system in this more challenging international financial environment.”

She also wants to see an integrated crisis management framework to ensure that any emerging crisis in the Islamic financial system will be promptly managed. These should include mechanisms to preserve short-term liquidity, remove troubled assets from the balance sheets of financial institutions and recapitalize Islamic financial institutions.

This obviously means a need for more concerted efforts at the international level to avert any worsening of a crisis. And, of course, a crisis prevention and management framework that also ensures the preservation of the essential features of Islamic finance so as to retain its inherent resilience and stability.

To read any of the above sections, you may download the specific article or full issue from our website. To do so, you may request for a trial subscription at no-charge.

However, you will not be able to take advantage of our extensive archived section - now containing in excess of 5,000 articles and reports. Why not take this opportunity to subscribe today!

The next issue will be available from Friday 28th November 2008.

Best regards,
IFN team