Minggu, 03 Februari 2013

Musibah yang Mengingatkan dan Memperbaiki

Guncang. Satu kata yang terlintas di benak semua kader yang berijtihad dan berikhtiyar untuk ada dalam satu barisan dakwah, ketika menyaksikan salah satu pemimpin tertingginya terpuruk dalam satu tuduhan perbuatan tercela. Beliau didakwa melakukan perbuatan tercela yang saat ini menjadi musuh bersama bangsa ini, korupsi! Sebagai pemimpin partai dakwah, beliau ibarat wajah dari partai dan representasi dari moral partai. Sehingga, ketika tuduhan itu disematkan kepada beliau, maka tuduhan itu seakan berlaku untuk semua kader partai.

Reputasi bersih dan profesional yang ada dibenak ummat sebagai hasil dari usaha sekian lama meyakinkan semua pihak akan kebersihan dan keprofesionalan partai ini, luntur seketika sesaat tuduhan itu bergulir. Tuduhan tidak perlu menunggu vonis untuk menghancurkan reputasi dan hasil jerih payah dari kerja-kerja dakwah bertahun-tahun. Bahkan tuduhan ini seperti bergelombang, karena ia seakan membangkitkan borok-borok lama pada semua aspek, yang memang sudah lama (disimpan) dialamatkan untuk partai dakwah ini.

Tuduhan ini memang musibah, dan ketika musibah datang, maka ia tidak datang dengan setengah-setengah. Musibah akan datang secara total. Jika tuduhan ini pembukanya, maka akan ada bentuk-bentuk musibah selanjutnya yang merupakan paket musibah yang harus diterima. Dan sesungguhnya musibah ini tidak akan reda sebelum tuntas semua musibah menghantam semua sisi ruang bergerak dari partai dakwah ini.

Saya tidak sedang ingin membedah dan mencoba memberikan gambaran seperti apa yang sedang terjadi. karena saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. saya hanya sedang mencari hikmah dari kejadian ini dan kemudian merubahnya menjadi semangat bagi saya dan bagi siapa saja yang masih percaya dengan jalan dakwah ini. Ya, saya sedang ingin menyemangati diri saya dan siapa saja yang sedang terluka akibat peristiwa ini.

Saya mulai!

Wahai diriku! Saudaraku yang kucintai karena Allah! Bukankah kita dahulu memulai bergabung dan memulai langkah dalam barisan dakwah ini dengan menyebut nama Allah, sehingga konsentrasi, arah melangkah dan peruntukan dari setiap kerja selalu tertuju kepada Dia! Karena memang dakwah ini milik Dia! Maka tidak ada satupun kuasa yang mampu memalingkan kekhusyukan itu, kecuali atas kehendak Dia!

Keberadaan pemimpin menjadi sebuah sunnah berjamaah, tetapi keyakinan, semangat berjuang dan hasil kerja bukanlah hak pemimpin. Oleh sebab itu, jangan pernah berkecil hati ketika pemimpin harus terhenti oleh musibah. Ingat-ingatlah kembali pada cerita-cerita kepahlawanan pendahulu kita yang kita tauladani, ketika pemimpin mereka gugur di medan tempur, baik karena kelengahan dirinya maupun karena musuh yang terlalu tangguh, prajuritnya pantang kocar-kacir apalagi sedikit mencuri waktu untuk mencari pembenaran mengapa pemimpinannya gugur, prajurit itu akan semakin bersemangat mengejar syahid atau kemenangan yang nyata. Bagi prajurit dan pemimpin setelahnya, kelengahan pemimpin terdahulu akan menjadi pelajaran yang tak ingin diulang, dan keunggulan musuh akan ditandingi dengan usaha yang lebih keras.

Hai diriku dan Saudaraku yang aku cintai karena Allah! Bukankah kita sudah dipahamkan bahwa tidak ada satupun daun kering yang jatuh ke bumi melainkan semuanya terjadi atas kehendak Allah. Dan ingatlah bagi hamba-hamba-Nya yang baik, apapun bentuk kehendak Allah, itu merupakan suatu yang terbaik bagi mereka. Dan yakinlah bahwa musibah ini adalah suatu yang terbaik bagi kita. Musibah ini merupakan azab yang menghapuskan dosa, merupakan cobaan yang menguatkan daya tahan, dan merupakan ujian yang menaikkan derajad kemuliaan. Maka mari ikuti ajakan pemimpin selanjutnya, mari kita mulai langkah ini dengan istighfar.

Karena memang perjalanan dakwah tidak melulu diisi oleh cerita-cerita kemenangan, tidak selalu dipenuhi oleh cerita indah yang menumpuk harapan pada masa depan yang lebih baik bagi kerja-kerja dakwah dan bagi punggawa-punggawanya. Cerita seperti itu seringkali melenakan, mengurangi kesungguhan atau bahkan mengikis kepedulian secara perlahan. Sehingga dibutuhkan pengingatan, dan musibah ini betul-betul menampar, bukan hanya wajah tetapi juga harga diri dan eksistensi. Musibah ini sepatutnya membuat semua kader dakwah diam sejenak di tempatnya dan berhenti dari kerjanya. Lalu mengambil cermin dan memandangi dirinya. Sesaat mungkin sekali lisannya dengan lirih akan berkata: siapa kamu? Kemana saja kamu? Apa yang sudah kamu lakukan?

Wahai diriku! Saudaraku yang kucintai karena Allah! Jikalau betul pemimpin telah melakukan kesalahan itu, boleh jadi ini menjadi balasan yang pantas bagi pemimpin dan pengingatan yang baik. Namun ini mungkin pula menjadi refleksi dari kondisi kader dakwah sebagai prajurit. Boleh jadi para prajuritnya telah salah karena membiarkan semua itu terjadi. Mungkin kepedulian semua kader ada pada titik terendah akibat kesibukan mereka sendiri. Padahal prinsip dakwah yang sudah diajarkan menyatakan; jika kita tidak sibuk dengan kerja-kerja dakwah, maka kita akan sibuk dengan kerja-kerja yang lain.

Namun jikalau pemimpin tengah menghadapi sebuah siasat kotor yang tak mampu ia mengatasinya, ketahuilah ini semua terjadi atas kehendak Allah. Jika tidak dengan cara ini, insya Allah akan ada cara lain yang memastikan musibah ini tetap terjadi. jika sudah menjadi kehendak Allah, maka musibah ini memang harus datang. Inti pesan dari musibah ini sangatlah jelas, kehendak Allah yang ingin mengingatkan dan memperbaiki. Jadi tidak usah gelisah dan gundah, inilah jalan perjuangan, inilah sisi kelam, periode badai yang harus kita lalui.

Tetapi; inilah waktunya dimana perut (kader dakwah) jauh dari pembaringan!! Tersentak, satu kalimat lantang itu terdengar membahana, memenuhi ruang akal yang sedang diam. Kini waktunya, saat dimana kerja-kerja harus dilakukan lebih keras, digerakkan oleh semangat yang lebih tinggi, oleh totalitas dan keseriusan dengan tingkat yang lebih besar, daya tahan dan kesabaran dengan kualitas yang lebih baik. Pertama kali yang harus dilakukan setelah istighfar adalah bersabar dengan ummat. Karena konsekwensi tamparan Tuhan adalah cemoohan ummat, baik mereka yang kecewa atau mereka yang sudah menunggu-nunggu momen ini. Tapi mari semua itu kita bayar dengan amal shaleh yang lebih banyak.

Ingatlah sejarah dan cerita-cerita ketauladanan! Bukankah kehinaan pernah menghampiri semua pejuang kebaikan? Hujatan dan cemoohan dianggap saja sebuah kekecewaan atas ekspektasi pada pejuang dakwah. Ummat sudah berharap banyak pada gerakan dakwah ini, setidaknya ditengah kekeringan moral dan pergaulan baik di sisi ekonomi, budaya, hukum dan politik, harapan perbaikan masih ada karena masih ada pejuang dakwah yang bisa diandalkan, masih ada gerakan moral yang masih dapat dijadikan sandaran, masih ada prilaku yang dapat dijadikan tolak-ukur bagi ummat, meski mereka sendiri tidak hidup dan sibuk dalam kerja-kerja kebaikan. Semangat Saudaraku, selama harapan mereka itu masih ada, berarti pejuang dakwah memiliki tempat diantara mereka. Karena kerja-kerja pejuang dakwah memang bertujuan mewujudkan harapan itu.

Kumpulkan pendapat para teman, tetangga atau siapapun yang mengenal kader2 dakwah, hitung pendapat itu, berapa banyak yang mengatakan kader itu baik dan berapa yang mengatakan buruk, kalau mereka masih dominan mengatakan baik, mengapa gundah akhi. Kebanyakan cemoohan pada pejuang dakwah berasal dari mereka yang tidak berinteraksi langsung dengan pejuang dakwah itu. Pemimpin memang memimpin jama’ah tetapi ia tidak bisa merepresentasikan jama’ah itu sendiri. Setiap manusia memiliki sisi pribadinya sendiri-sendiri, dan jamaah dakwah tidak memiliki kuasa untuk mengendalikan semua sisi.

Kepada Saudaraku yang aku juga cintai karena Allah! Mungkin kita dipisahkan oleh kendaraan perjuangan yang berbeda, tetapi jika anda yakin kita sedang berjuang menuju satu tujuan yang sama, maka inilah kalimat saya untuk anda: saya melihat anda dengan pandangan cinta karena Allah, oleh karenanya mari saling menasehati, bukan saling menunjuk-nunjuk aib kita sendiri. Mari saling takar lisan dan akal; lebih banyak mana kalimat yang keluar dari lisan kita, yang menasehati dan menyemangati saudara seperjuangan atau melayani prasangka musuh-musuh Allah? Lebih banyak mana prasangka buruk terhadap saudara seperjuangan atau prasangka baik pada musuh-musuh Allah? Ketahuilah, seorang ikhwah yang baik kritiknya dipenuhi oleh semangat kecintaan bukan oleh nafsu kebencian.

Dan kepada ummat secara umum, ini yang mungkin pejuang dakwah ingin katakan: kami memang bukan malaikat, kami adalah manusia yang penuh khilaf. Tetapi kami adalah manusia yang berusaha menjadi hamba Allah yang baik, yang ganjaran-Nya dapat membuat kami lebih mulia dari malaikat. Kami juga bukan orang shaleh tetapi kami saling menasehati dan berusaha untuk menjadi shaleh. Kami bukan orang yang beriman tetapi kami berupaya siang malam, sendiri atau bersama-sama untuk menjadi orang yang beriman.

3 komentar:

riyandi rahman mengatakan...

assalam.
kang damang? punten kang mau izin silaturahim kang, kira-kira bisa tak kalau tgl 16 atau 18 februari ini kita (beberapa tman2 ISEG) main ke rumah akang?
nuhun ya

pelamun mengatakan...

16 feb saya sudah ada agenda, kalau 18 itu hari kerja, mungkin ke BI Thamrin saja pada Jam istirahat Pk. 12-13.00 kita jumpa di Masjid?

riyandi rahman mengatakan...

afwan kang, maksud saya minggu tanggal 17 kang. gimana?
iya kang insyaallah nanti saya diskusikan saa teman2 dlu. nuhun kang :D