Selasa, 28 April 2009

Balada Orang Kaya & Orang Miskin: urgensi orang kaya yang zuhud dan orang miskin yang qona'ah

pagi ini saya agak tertegun dan merenung lebih jauh ketika membaca satu ayat yang dibahas dalam sebuah buku kecil yang bercerita tentang nafkah, ayat tersebut surah Al Mukminun ayat 64, dimana Tuhan berfirman:

"Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong."

menerawang saya pada kondisi perekonomian global terakhir ini, krisis keuangan telah membuat khabar kesusahan muncul dimana-mana. tapi kalo ingin sedikit lugu, dan kemudian bertanya, siapa sih yang susah? siapa sih yang terus rugi karena pasar mortgage tiarap, pasar modal rontok, bank-bank tumbang? hmmm... orang-orang kaya bukan?!

saksikanlah bagaimana sentilan Tuhan pada ayat di atas secara ringan betul-betul dipertontonkan oleh dunia saat ini. orang-orang kaya susah (kalau tidak ingin dikatakan diazab oleh Tuhan), dan teriakan mereka memekakkan telinga semua orang di dunia. kesusahan mereka menyusahkan semua penghuni bumi. padahal susah itu definisinya cuma kekayaan mereka berkurang, bukan nasi mereka tidak tersedia lagi di meja. setiap kali krisis terjadi, orang-orang kaya itu yang membuat sibuk semua pihak, dari pemerintah, praktisi, akademisi sampai dukun-dukun di pelosok desa.

padahal sepanjang waktu atau bahkan zaman, mereka yang miskin sudah teriak sekuat-kuatnya sampai suara terakhir yang mereka punya. mereka teriak karena mereka tak temukan sesuap nasi selama berhari-hari. namun teriakan mereka tenggelam oleh canda tawa kaum kaya. teriakan mereka seperti pantun-pantun jangkrik di waktu petang, tidak layak di perhatikan karena mungkin tidak penting. teriakan mereka dianggap sebagai suara lumrah kehidupan.

dan akhirnya, wajah ekonomi adalah wajah keserakahan orang-orang kaya. kalau sudah seperti itu jangan mengernyitkan dahi, jangan pula keluar tanya dari lisan; kenapa sih ada orang jahat yang nyolong laptop di mobil saya? alasannya sederhana kata iwan fals, para pencuri itu timbul karena nasinya di curi.

tidakkah ini cukup membuat ekonomi sepatutnya konsisten memihak pada kebutuhan mereka yang miskin. sementara mereka yang cukup dan kaya tergerak untuk berakrab-akrab dengan mereka yang miskin. percayalah arah ekonomi Islam ingin mengarahkan prilaku manusia dan sistem untuk ada di garis kecenderungan itu. sampai nanti bisa kita saksikan dan dunia akui, wujudnya secara masif orang-orang kaya yang zuhud dengan hartanya dan jikapun ada orang-orang miskin, mereka qona'ah dengan keadaan mereka. dengan begitu orientasi semua penduduk alam hanya tertuju pada Tuhan mereka. wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: