Selasa, 12 Oktober 2010

Haji


Ibadah haji adalah perjalanan kasmaran dari seorang hamba terhadap Tuhannya, inilah pelajaran kuliah subuh yang saya hadiri pada pagi ahad ini. Ustadz Umar Ibrahim mengajarkan sebuah hakikat yang baru bagi saya tentang haji. Ibadah wajib yang urutannya ada pada posisi pamungkas. Seorang yang kasmaran tentu akan menikmati detik demi detik interaksinya dengan kekasih yang dipujanya, terlebih lagi jika kehadiran seorang hamba yang kasmaran itu terjadi atas undangan kekasih yang ia cintai. Oleh karenanya, prosesi demi prosesi, dari thawaf, sa’i, wukuf dan melempar jumrah akan dinanti-nanti. Setiap prosesi akan direguk nikmatnya, kenikmatan itu diresapi dengan hati-hati, setiap keringat yang menetes, setiap terik yang membakar kulit, setiap hembusan angin pada pagi dan petang, pada setiap tetes-tetes air zam-zam yang diteguk, setiap lari-lari kecil, setiap kecupan dan lambaian tangan pada hajar aswad, setiap hening dan renungan arafah, setiap lemparan kerikil pada jumrah dan pada setiap gerak serta hembusan nafas di tanah haram itu.

Haji menjadi topik yang selalu memenuhi ruang fikir saya beberapa waktu belakangan ini. Mengingat berdasarkan ikhtiar yang saya lakukan, Insya Allah, pada musim haji kali ini saya terjadwal akan berangkat bersama istri ke rumah Allah untuk memenuhi panggilan-Nya. Seringkali pula saya bertanya dalam fikir itu, apakah layak saya dipanggil menghadap oleh Allah, sementara saya masih jauh untuk disebut manusia baik. Untuk pertanyaan ini, saya menyerahkan sepenuhnya alasan pemanggilan ini pada Allah. Karena sepatutnya cukuplah saya bersyukur atas panggilan ini pada kondisi saya saat ini. Saya Cuma berharap Allah ingin menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Beliau masih sayang saya.

Kemarin pagi lepas subuh saya berbincang dengan istri (saya jadi tersadar, waktu yang saya punya untuk berbincang dengan istri hanyalah selepas subuh). Istri saya bertanya doa khusus apa yang saya sudah persiapkan untuk haji. Saya terdiam sebentar mendapat pertanyaan itu dari istri. Sekian detik saya teringat pada renungan saya sekitar satu tahun yang lalu selepas shalat dzuhur, dengan renungan itu saya jawab pertanyaan istri; mau doa panjang umur takut sisa usia penuh dengan dosa dan semakin panjang waktu kemaksiatan, ingin minta rizki khawatir tidak syukur nikmat dengan yang sudah dianugerahkan, mau minta jabatan dan karir takut tidak amanah seperti yang sudah-sudah. Akhirnya saya katakan pada istri, doa special saya hanya permintaan ampun, istighfar sebanyak mungkin. Mudah-mudahan ungkapan ini bukan juga pamer yang ingin menunjukkan bahwa diri saya sudah begitu bersahaja.

Bukankah tidak pernah ada cerita selepas haji orang akan panjang usianya, banyak rizkinya atau menjulang karirnya, yang selalu menjadi cerita adalah setelah haji seorang hamba akan menjadi manusia yang bersih. Jadi harapan saya dan istri pun tidak lebih dari cerita itu, ingin bersih, ingin dikasihani Tuhan dan kemudian diampunkan semua kesalahan dan kekhilafan, baik sengaja maupun tidak, baik dosa yang besar maupun kecil, baik dosa yang telah lewat maupun yang akan datang. Ibadah haji hanya sekali seumur hidup, sehingga saya mau doa ampunan meliputi seluruh usia hidup. Dan Allah kabulkan harapan itu nanti.

3 komentar:

Untung Kasirin mengatakan...

Selamat menunaikan ibadah haji ustadz...

Febri Hasan mengatakan...

Assalamu'alaikum....
Saya awalnya berniat menghadiri Studium General bersama Bapak pada Senin 11 Oktober lalu, tapi ternyata saya berhalangan hadir. Seorang teman sekelas memberikan alamat blog ini dan saya senang membacanya. :)
Thank you for sharing....

abiissam-admin mengatakan...

wilujeng kang...