Rabu, 16 Februari 2011

Berdebar-debar…

Saat ini saya ada di negeri Persia, menjalankan tugas yang diamanahkan pada saya. Tetapi ada yang terus memenuhi benak saya sepanjang perjalanan menuju ke tanah Persia ini. Yaitu saat-saat genting yang tengah berlangsung di tanah para Nabi, Mesir. Ketika transit di Dubai saya mendapatkan berita yang dinanti itu, yaitu mundurnya dictator salah satu ikon tiran kawasan timur tengah, yaitu Muhammad Hosni Mubarak.

Ketidaksabaran saya mendapat semua berita kemunduran dictator itu terbayar begitu saya sampai di penginapan di Tehran. Bahkan sepanjang malam TV yang saya lihat hamper semua channel memberitakan peristiwa bersejarah itu. Dalam hati saya, peristiwa ini bukan hanya besar bagi bangsa dan rakyat Mesir, tetapi sangat besar bagi semua muslim dimana saja mereka berada.

Menarik tadi saya mendengarkan komentar seorang warga Tunisia di saluran PressTV Iran, menyikapi apa yang baru saja terjadi di negerinya dan di Mesir. Ia katakana, perlahan-lahan tapi pasti semua tiran dan dictator negeri arab akan menghadapi nasib seperti Bin Ali dan Mubarak, dan setelah itu kita akan mendapatkan negeri Arab yang berbeda. Komentar itu ia sampaikan dengan senyum yang sangat dalam dan jelas maknanya.

Di TV yang sama saya melihat komentar SMS dari muslim di seluruh dunia yang menyambut suka cita keruntuhan dictator kuat timur tengah itu. Dunia islam memiliki iklim yang baru, yang boleh jadi membuat dada pemimpin-pemimpin tiran negeri arab lain berdebar-debar. Begitu juga negara-negara barat yang selama ini ingin dipersepsikan sebagai negara maju, beradab dan terhormat, kini dipermalukan dengan peristiwa revolusi negeri arab ini.

Dan kita yang telah lama menunggu sambil bekerja mewujudkan kehormatan Islam mendapatkan angin penyejuk, atau bahkan mendapatkan kobaran api semangat yang baru, karena dibalik peristiwa revolusi Arab ini, mengintip paristiwa-peristiwa yang lebih nyata untuk menunjukkan bahwa tibalah waktunya Islam menuju pada kejayaannya. Karena setelah ini, api perubahan juga sudah menyala di Aljazair, Yaman dan Yordania. Mungkin api juga akan menjalar ke jantung negeri yang lebih strategis seperti Arab Saudi dan Syria (Suriah).

Negeri arab secara perlahan sudah menjadi pusat dunia dalam ekonomi, ini sudah ditunnjukkan dengan mengeliatnya perekonomian beberapa Negara arab seperti Qatar, Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab. Tetapi menjadi pusat politik dengan kekuatannya memerlukan effort yang jauh lebih mahal dari aspek ekonomi. Dan peristiwa serta kecenderungan yang terjadi saat ini menunjukkan arah menuju pada pembentukan kekuatan politik itu. Begitu dramatis, jika peristiwa dan fenomena terakhir dunia pada aspek ekonomi dan politik dirangkaikan dalam satu scenario. Dimulai dengan krisis keuangan global yang meruntuhkan kekuatan ekonomi negera-negara barat, dimana keruntuhan sector itu sangat signifikan menggoyang kekuatan politik mereka. Pada saat yang sama kekuatan ekonomi timur tengah menjulang di episentrum semenanjung arab. Dan kini keruntuhan Negara-negara boneka barat tentu akan berlanjut pada bermulanya pembangunan kekuatan politik negeri arab yang lebih terhormat. Dan Islam sangat beralasan untuk dijadikan objek dari ujung kebangkitan aspek ekonomi dan politik ini. Sentiment kearah sana sangatlah terbuka dan lebih relevan dibandingkan dengan sentiment yang lain.

Saya tidak bisa menutupi berbunga-bunganya hati saya melihat peristiwa ini. Meskipun bunga-bunga hati itu masih diganggu oleh kegelisahan akibat dosa saya sendiri yang masih terus menggantung di hati, yang masih saya lakukan dalam tindakan dan lisan. Karena sepatutnya saya tidak berhak memiliki rasa itu jika saya sebenarnya ada dibarisan looser dalam peristiwa-peristiwa besar ini. Semoga semuanya dimudahkan Allah. Wallahu a’lam.

1 komentar:

Dayani putri mengatakan...

postingan yg bagus, trims