Jumat, 21 November 2008

Peradaban Kapitalisme

Banyak yang telah menunjukkan euphoria kemenangan, dengan mengatakan bahwa saatnyalah kehancuran ekonomi kapitalis, sampai-sampai, gringo-gringgo dan kamerad-kamerad ekonomi sosialis di Amerika Latin dan sisa-sianya di Eropa Timur, turun kejalan merayakan euphoria itu. Hugo Chaves Presiden Venezuela memimpin langsung perayaan itu di jalan-jalan ibukota Venezuela, bahkan khabarnya menetapkan hari kehancuran keuangan Amerika/Kapitalis yang ditandai dengan likuidasi Lehman Brothers sebagai hari libur nasional.

Betulkah kapitalisme segera menutup usianya? Sejauh mana sih kehancurannya? Pertanyaan ini yang tidak sedikit membuat perdebatan baru dikalangan oponen Kapitalisme. Mereka terbagi menjadi dua golongan ekstrem; golongan realistic dan golongan militant. Golongan realistic merasa bahwa kapitalisme terlalu raksasa untuk tumbang, yang akan terjadi akhirnya hanyalah restrukturisasi kapitalisme, dimana at the end of the day kapitalisme tetap akan berdiri tegak tapi wajah dan aromanya telah berganti. Sementara golongan militant yakin bahwa ekonomi kapitalisme akan hancur-sehancur-hancurnya, seperti hancurnya hegemoni golongan gereja dalam bernegara sebelum revolusi industry di Eropa.

Saya mungkin terlalu lama merenung dan memikirkan ini, sebelum secara jelas mengambil posisi ada dimana; realistic atau militant. Saya mulai percaya bahwa kapitalisme saat ini tidak sekedar hanya sebagai system ekonomi, tetapi ia telah menjelma menjadi raksasa yang sangat besar. Kapitalisme telah menjadi peradaban bagi manusia modern saat ini. Karena perannya sudah melintas batas, bukan hanya ada di ranah ekonomi. Tetapi kapitalisme eksis dan membumi di wilayah politik, hukum, budaya dan pendidikan. Tidak salah memang jika ekonomi digelari sebagai Queen of Science.

Kapitalisme merubah wajah politik monarki dan musyawarah menjadi politik pasar yang kita sebut demokrasi. Pemimpin dipilih melalui mekanisme pasar berdasarkan pertemuan kekuatan demand rakyat dan supply politikus partai politik. Betul-betul wilayah politik berubah menjadi pasar atau sektor “ekonomi” jenis baru dalam imperium ideologi kapitalisme. Politik tidak menjadi alat pelayanan terhadap rakyat, politik berubah menjadi lahan mencari nafkah, bahkan pembukaan jurusan di perguruan tinggi terkesan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan laborforce di wilayah ini.

Pada wilayah hukum, ayat-ayat hukum dirumuskan dan dikembangkan menggunakan patern yang sama dengan apa yang sudah kapitalisme lakukan pada wilayah politik. Ayat-ayat hukum terformulakan berdasarkan kebutuhan pasar dan kecenderungan pasar. Sampai-sampai proses hukum mutakhir terkesan hanya berfungsi bagi mereka yang secara ekonomi terpinggirkan. Bagi mereka yang berdiri gagah memegang kendali pasar, para konglomerat dan politikus, hukum tidak memiliki taring.

Bagaimana dengan budaya? Lihatlah, budaya yang bertahan di semua belahan dunia adalah budaya yang diterima dan masuk dalam mekanisme pasar. Budaya yang memiliki nilai jual, memiliki demand di pasar, itulah yang budaya yang bertahan. Budaya pada lagu menjadi industri yang cukup besar, tapi hampir semuanya bukanlah lagu-lagu pada ajakan kebajikan. Budaya pakaian, industrinya yang berkembang adalah industri yang bersandar pada mekanisme pasar, dimana pasar cenderung meminta pakaian-pakaian berbahan baku terbatas alias pakaian umbar aurat.

Kapitalisme juga jelas terlihat jejaknya di dunia pendidikan. Lihat kurikulum pendidikan, lihat disiplin ilmu dan jurusan-jurusan yang ditawarkan. Lihat dunia pendidikan yang kini perlahan-lahan berubah menjadi industri. Sekolah pada semua jenjang berubah menjadi pabrik untuk mengeluarkan manusia-manusia robot atau buruh yang diminta pasar. Paradigma orang tua terhadap kesuksesan anaknya mengacu pada standard-standard kesuksesan materi kapitalisme, sehingga jurusan-jurusan terkemuka/terpandang di perguruan tinggi adalah jurusan-jurusan yang menjanjikan kesuksesan kapitalisme.

Jadi, lengkaplah kapitalisme menguasai semua subsistem peradaban manusia. Atau lebih tepatnya kapitalisme itulah peradaban modern ummat manusia saat ini. Dengan pemahaman seperti ini, mungkin keruntuhan ekonomi Amerika dan Eropa yang saat ini tengah berlangsung, sangatlah prematur untuk dijadikan landasan argumen bahwa kapitalisme akan runtuh. Kalaupun keruntuhan ekonomi betul terjadi, kapitalisme akan mampu membangun lagi, karena kapitalisme telah menjadi worldview dalam diri manusia, telah berubah menjadi norma masyarakat, telah melebur dalam kurikulum-kurikulum pendidikan. Artinya kehancuran kapitalisme secara utuh harus juga diikuti dengan kehancuran generasi dan sistem penopang peradaban kapitalisme.

Dengan demikian, prediksi yang paling logis dari skenario kehancuran kapitalisme salah satunya adalah peperangan. Tetapi sebelum itu terjadi, jikapun peradaban kapitalisme harus hancur, sepatutnya telah ada benih generasi dan sistem peradaban penggantinya. Saat ini yang sangat kuat menjadi kandidat itu adalah Islam. Sehingga hipotesanya jika peperangan itu terjadi, adalah peperangan peradaban kapitalisme dan peradaban Islam. Perseteruannya telah nampak saat ini, tetapi entah kapan pertempuran final akan terjadi.

Buat rekan-rekan aktifis dakwah, mujahid ekonomi syariah dan para pemerhati, saya yakin terlibat atau tidak terlibat anda dalam “pertarungan” itu, gerbong peradaban Islam ini tetap akan melaju menuju pada tujuannya yaitu mengambil alih kuasa peradaban manusia. Akan muncul nanti generasi “genuine” Islam yang memiliki kapasitas minimal dan menanggung amanah itu. Generasi inilah sebenarnya yang pula menjadi prerequisite eksistensi ekonomi Islam.

Jalan menuju terbentuknya generasi itu sudah terlihat, lihatlah kebangkitan golongan menengah muslim di banyak negara muslim, semangat keislaman tergambar dalam prilaku konsumsi dan produksi serta bentukan industri-industri ekonomi, buku-buku Islam menjadi buku terlaris, budaya Islam mengkristal pada setiap aspeknya, politik Islam mulai memunculkan kesadaran kebersamaan Islam (ukhuwwah Islamiyah) seiring dengan tumbangnya pemimpin-pemimpin muslim yang otoriter. Dalam ekonomi negeri-negeri Islam mulai berposisi kuat dan punya bargaining power. Lebih detil lagi, keluarga-keluarga muslim mulai mengenalkan Islam kepada anak-anak mereka sejak dini, mengenalkan baca tulis Al Qur’an, adab Islam, menggunakan nama-nama Islam dan lain sebagainya.

Ya, generasi Islam mulai tumbuh. Sudah dekat masanya bagi putra-putra Islam akhir zaman untuk menunjukkan keberadaannya. Bersiaplah rekan-rekan, jika anda sudah bersedia maju dalam gerbong peradaban ini, jangan malu-malu, jangan setengah-setengah, wakafkan semua yang kita punya. Islam tidak akan tegak dengan piknik dan senda-gurau. Mulailah kita berhitung, lebih banyak kita gunakan untuk apa harta, waktu, tenaga dan pikiran kita? Kita bukan hanya sekedar ingin menegakkan ekonomi Islam, yang kita ingin kibarkan adalah panji-panji peradaban Islam. Oleh sebab itu ia butuh ketekunan dan disiplin, butuh waktu dan konsentrasi, butuh perjuangan dan pengorbanan. Above all, ia butuh kebersamaan, butuh jamaah yang satu langkah dan satu tujuan. Dan yakinlah itu semua bukanlah beban, itu semua adalah kemuliaan dan kehormatan, yang telah juga diusung oleh generasi Islam mulia terdahulu. Wallahu a’lam.

Ali Sakti

1 komentar:

hapiz mengatakan...

Memangnya habis depresi ekonomi selalu ada perang ya???