Senin, 04 Januari 2010

Tarbiyah


Tarbiyah. Kata ini memiliki banyak dimensi saat ini. Di Indonesia kata tarbiyah bahkan sudah tidak secara bebas lagi digunakan, akibat kata tersebut telah dinisbahkan pada satu gerakan dakwah atau bahkan gerakan social-politik tertentu. Negative atau positif persepsi terhadap gerakan itu sedikit banyak juga berpengaruh pada persepsi terhadap kata tarbiyah, yang berujung pada sikap skeptis yang kurang beralasan bagi mereka yang mendengar atau bersinggungan dengan kerja-kerja tarbiyah.

Pada tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan persepsi saya tentang tarbiyah. 19 tahun yang lalu saya mulai mengenal kerja-kerja tarbiyah, baik saya sebagai objek kerjanya dimana saya diposisikan sebagai sasaran tarbiyah, maupun sebagai subjek dakwah yang diamanahkan melakukan kerja-kerja tarbiyah. Naik turun iman membuat kerja-kerja tarbiyah yang saya lakoni tak jarang jauh dari motivasi kerelaan. Tapi saya sadar, terpaksa atau rela kerja-kerja tarbiyah ini sudah cukup dominant mempengaruhi saya (kalau tidak ingin dikatakan telah membentuk karakter saya). Tarbiyah hingga saat ini, sudah meminta separuh usia saya. Dan mumpung masih sadar saya ingin katakana, dengan semua kebaikan yang saya sudah nikmati dari tarbiyah (baik terpaksa maupun rela) saya mau tarbiyah mengambil semua usia yang saya punya.

Bagi saya tarbiyah khusus tentang Islam yang dilakukan secara regular (minimal pekanan) dengan kurikulum yang standard, pembahasan yang menyeluruh dan mendalam, serta bentuknya yang menyentuh semua potensi manusia (akal (aqliyah), jiwa (ruhiyah) dan fisik (jasadiyah)), merupakan pendidikan yang terbaik untuk membangun keimanan saya. Upaya peningkatan iman oleh kebanyakan orang dilakukan dengan sporadic, gerilya, bahkan bisa menghasilkan iman yang jalan di tempat atau bahkan mundur teratur, akibat upaya maju kemudian dipangkas oleh amal buruk akibat iman yang turun. Mereka maju dengan amal shaleh satu langkah tapi mundur dua langkah akibat maksiat dan dosa.

Tarbiyah dengan segala perangkat yang dimilikinya akan berfungsi menjaga irama upaya memajukan iman dan mereduksi penurunan iman yang terlalu drastic. Tarbiyah juga ingin menyelaraskan pengetahuan dengan amal, karena melalui tarbiyah orang tidak hanya diberikan wawasan pengetahuan keislaman dan kehidupan, tetapi juga disediakan ladang-ladang amal baik kolektif maupun individual. Bahkan proses evaluasi (mutaba’ah) kemudian menjadi nasehat lain yang mengingatkan peserta tarbiyah untuk menjaga irama keimanan itu.

Jika upaya peningkatan keimanan itu dilakukan secara mandiri (sendiri), terbayang oleh saya bagaimana susahnya menata, menjaga dan mengupayakan majunya iman. Karena semuanya betul-betul tergantung manusia itu secara sendirian. Kepada beberapa sahabat, saya katakan bahwa tarbiyah pekanan itu ajang saya untuk mengevaluasi kerja-kerja amal saya satu pekan kebelakang dan mempersiapkan semangat dan rencana baru untuk amal satu pekan kedepan. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapa saja yang membaca buah pikiran ini, temukan dan ikutilah majelis-majelis rutin tarbiyah dimana saja, dengan symbol apa saja, selama panji yang diusungnya adalah Islam, insya Allah ada kebaikan yang lebih besar di dalamnya bagi kita semua.