Kamis, 06 Agustus 2009

Seperti Apa Kematianmu: Merenungi Kematian Michael Jackson, Mbah Surip & WS Rendra


Ada yang mengatakan salah satu indikator kesuksesan hidup adalah kematian. Mungkin ada benarnya. Karena kematian adalah saat dimana orang akan dikenang buruk atau dikenang baik. Mungkin yang luput, kenangan itu sifatnya penilaian bumi dan dunia, bagaimana dengan penilaian langit dan akhirat?

Dalam Islam kesuksesan adalah keharuman nama di bumi dan keharuman nama di langit. Ada manusia yang reputasinya begitu megah di dunia, tetapi terpuruk di akhirat. Sebaliknya, ada yang hancur di dunia tetapi begitu dihormati kelak di akhirat. Namun ada juga yang rusak dikeduanya atau harum dikeduanya.

Baru-baru ini kita lihat prosesi kematian beruntun dari orang-orang yang dikenal luas, Michael Jackson, Mbak Surip dan malam tadi WS Rendra. Semoga mereka dapatkan akhirat yang terbaik.

Tapi jika ingin berkaca, lihat kematian Sahabat Rasulullah Barra bin Malik, yang sebelumnya berdoa dengan penuh harap agar kematiannya dengan cara yang terhormat dan mulia, yaitu syahid. Beliau ditemukan para sahabatnya terbaring di medan jihad dalam keadaan saling menusuk dengan musuhnya. Allah kabulkan doa dari lisan yang sudah dimohonkan oleh Rasulullah, bahwa setiap doa dari lisan Barra akan diijabah Allah SWT. Beliau tidak minta harta, kuasa atau bahkan wanita, beliau hanya minta kematian dengan cara yang mulia.

Lihat kematian Salman al Farisi, yang menangis tersedu-sedu dalam sakaratul mautnya, karena merasa memiliki harta melimpah yang beliau khawatir tidak sanggup mempertanggung jawabkannya. Padahal harta yang melimpah itu hanya berupa tongkat, sorban dan bejana air. Ketika detik-detik menjelang ajal, beliau sempat meminta istrinya untuk membuka semua pintu dan jendela di rumahnya, dengan alasan dia ingin menyambut malaikat pencabut nyawa, Izrail dengan sukacita.

Lihat kematian Ahmad Yasin, pemimpin spiritual Gerakan Pembebas Palestina Hamas, yang harus menghadap Penciptanya dengan cara dirudal oleh helikopter apache Israel sekeluarnya beliau dari masjid usai menunaikan shalat subuh. Meskipun tewas, jasad beliau ditemukan utuh sedang bersandar di dinding masjid.

Nah sekarang lihat kematian Kemal al Taturk, manusia yang digelari Bapak Modern Turki. Prosesi kematiannya ternyata menyedihkan. Setelah sekian lama dihinggapi penyakit yang tak kunjung sembuh dan menyakitkan; penyakit kulit dan kelamin, akhirnya kematian menjemputnya. Tetapi jasad jenazahnya tak diinginkan oleh bumi ketika hendak ditanam, sehingga jenazah Al taturk harus ditindih berton marmer agar dapat dikuburkan.

Atau lihat prosesi kematian mantan pemimpin Ariel Sharon yang saat ini masih berlangsung. Sharon yang dikenal sebagai Penjagal dari Shatila, harus menderita dengan penyakit yang tidak diketahui sebabnya. Organ perutnya telah membusuk namun nyawa masih terus ada dalam jasadnya.

Bercermin dengan itu semua, sudahkah kita rencanakan, kematian seperti apa yang kita ingin dapatkan? Ingatlah saudaraku, masa depan yang sudah pasti kita temui hanyalah kematian!

2 komentar:

pujo mengatakan...

Orang terkenal, meninggal didatangi banyak orang wajar...tapi klo orang biasa meninggal didatangi orang2 terkenal (apalagi ulama dan ustadz),subhanallah....
Pernah menyaksikan ikhwah, seorang biasa (bahkan satu kelurahan aja saya kurang kenal)..tapi pas meninggalnya yang datang ulama, ustadz besar, anggota DPR..Tokoh2 tersebut datang pastinya tidak lain untuk penghormatan dan mendo'akan, sebagai pengakuan atas eksistensi ikhwah yang meninggal ini, meskipun dia bukan siapa-siapa..Nyaris mustahil ada motivasi2 lain, seperti harta dsb..Semoga setidaknya bisa menyamainya...
Sekalian minta ijin copy artikel ini ustadz, untuk ana tampilin di blog...

PENGURUS mengatakan...

silakan akhi, semoga bermanfaat