Sabtu, 24 Oktober 2009

Validitas Ekonomi Islam sebagai Ilmu

Beberapa catatan dari diskusi klasik tentang validitas ekonomi Islam sebagai ilmu atau sciences:


1. Ekonomi Islam pada dasarnya relative tidak memiliki kepentingan untuk diakui sebagai science (mengikuti definisi yang dimiliki dunia ilmu pengetahuan) modern, karena:


a. Induk ilmu ekonomi Islam adalah Islam itu sendiri, Islam sebagai sebuah pedoman hidup manusia, kebenaran mutlak dari Tuhan, agama yang menyelaraskan manusia dengan alam dalam pengabdiannya kepada Tuhan.


b. Ekonomi Islam harus tunduk pada kaidah Islam yang baku, berlaku pada semua ruang dan waktu dunia


c. Ekonomi Islam konsisten dengan prinsip unity of science, dimana ekonomi memiliki benang merah yang sama dengan disiplin ilmu lain terkait dengan tujuan (penghambaan kepada Tuhan), kaidah dan prinsip (tidak bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan, selaras dengan kemampuan manusia.


d. Ilmu akan memiliki keabsahannya ketika ilmu telah mampu menghantarkan manusia semakin dekat dengan Tuhan, bukan sebaliknya, dimana ilmu semakin membuat pemiliknya takabur dan sombong


2. Penafsiran manusia terhadap Islam hanyalah sebuah upaya untuk menerjemahkan atau mengejawantahkan Islam dalam semua aspek kehidupan manusia. Dan ekonomi Islam merupakan perwujudan dari salah satu upaya itu. Upaya manusia dalam menafsirkan sepatutnya tidak kemudian membuat Islam, dalam hal ini Ekonomi Islam, menjadi hilang keabsahannya. Karena tentu saja penafsiran akan mengikuti kaidah-kaidah baku yang diyakini menjaga kesakralan Islam sebagai ajaran, kehendak dan kebenaran Tuhan


3. Karakteristik ekonomi Islam yang tidak hanya mengakomodasi kepentingan dunia tetapi juga kepentingan akhirat, membuat ekonomi Islam memiliki ruang lingkup dan pondasi keilmuan yang unik dan relative lebih kompleks/luas.


4. Ukuran-ukuran utility, happiness atau welfare ekonomi modern, banyak coba disepadankan dengan nilai/value added yang dibawa ekonomi Islam hingga Ekonomi Islam dinilai merupakan bagian atau cabang dari ilmu ekonomi modern yang telah ada, atau ekonomi Islam sering dihakimi sekedar menjadi upaya sia-sia, karena pada hakekatnya upaya itu hanya reinventing the wheel. Ukuran utility, happiness dan welfare dalam Islam memiliki beberapa karakteristik yang tidak dimiliki oleh ekonomi modern:


a. Ruang lingkup atau kepentingan akhirat (hereafter), sehingga utility, happiness dan welfare harus mengacu pada definisi yang tepat/betul sesuai dengan ukuran-ukuran Islam dimana akhirat memiliki peran yang sangat krusial.


b. Keyakinan bahwa dunia hanyalah sementara dan menjadi tempat transit membuat ukuran-ukuran utility, happiness dan welfare memiliki kedalaman makna yang tidak sama dengan ukuran ekonomi modern.


Utility, happiness dan welfare tidak menjadi tujuan akhir dari usaha-usaha ekonomi, mengingat ekonomi telah dikurung dalam ruang keduniaan saja. Misalnya utility sepatutnya menjadi ukuran kepantasan untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi setelah mati. Atau happiness dan welfare hanya akan memiliki makna ketika ditujukan pada kondisi kehidupan setelah mati. Sehingga dunia diposisikan bukan sebagai tempat penikmatan, tetapi tempat usaha untuk melayakkan diri pada anugerah bahagia setelah mati. Dengan kata lain, didunia ekonomi tidak focus pada posisi penikmatan tetapi lebih concern dengan proses-proses usaha.


5. Ukuran-ukuran sciences dalam Islam seharusnya mempertimbangkan tujuan keilmuan yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sebagai agama, dimana unsure akidah, akhlak dan syariah menjadi tiga elemen mutlak yang harus terangkum dalam keilmuan Islam.


6. Scientific methodology yang selama ini menjadi filter tunggal untuk menyaring segala pengetahuan agar dinobatkan sebagai science, menjadi tidak fair untuk dijadikan alat mengukur tingkat scientific ekonomi Islam, ketika landasan, filosofi dan logika dalam membangun scientific methodology itu tidak sesuai dengan Islam. Scientific methodology relative lebih sesuai dengan keilmuan alam bukan ilmu tentang prilaku manusia. Prilaku manusia sangat tergantung pada paradigma berfikir, keyakinan dan karakter dasar/alami manusia. Contohnya, prilaku manusia terdidik berbeda dengan manusia tak terdidik, manusia beriman tidak sama dengan manusia yang tidak beriman, sehingga sebuah bentuk pengujian tertentu terhadap prilaku manusia akan memberikan hasil yang berbeda, jika model pengujian tertentu itu ditujukan pada dua kelompok manusia yang memiliki karakter berbeda.

2 komentar:

Basrul mengatakan...

Assalamualaikum. Salam kenal, pak. Boleh tukar link ? saya sudah pasang link blog ini di widget "Thanx To" web S2 Ekonomi Islam Azzahra.
Terima kasih sebelumnya. Wass

uii profile mengatakan...

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
:)
twitter : @profiluii