Rabu, 02 Desember 2009

Kemegahan Dubai dan Cita-Cita Ekonomi Islam



Kehancuran ekonomi Dubai, menjadi buah bibir banyak orang saat ini. Kekhawatiran pada nasib ekonomi Islam muncul di permukaan, mengingat dubai menjadi kompetitor penting dalam pasar sukuk bagi negara terkemuka di daerah Timur Tengah yaitu Bahrain. Sentimen negatif dicemaskan akan muncul terhadap perkembangan keuangan Islam yang saat ini sudah mengemuka sebagai salah satu alternatif solusi kekacauan sistem keuangan global.

Sebelum ini kemegahan Dubai seakan-akan menjadi simbol dari ketangguhan dan kedigdayaan ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi masa depan. Bahkan Dubai perlaan-lahan menjadi landmark dunia atas semua devinisi agung peradaban manusia modern. Gedung yang megah dan mewah, fasilitas hidup yang lengkap dan canggih dan tata kehidupan kelas atas yang hampir dinikmati semua penghuni kota, menjadi indikator utama dari kemegahan Dubai sebagai kota maha karya manusia.

Pada satu kesempatan, saya sempat mengunjungi Dubai dan mendapat cerita bagaimana ambisi, obsesi dan usaha keras penguasa Dubai untuk menjadikan kota itu, kota terkemuka dunia. Menyadari ketidakmampuan Dubai dalam sumberdaya alam kecuali tanah kosongnya, membuat penguasa Dubai mengambil strategi utama pembangunan ekonominya melalui pembukaan free trade zone dan free tax area. Singkat cerita, menjelmalah Dubai sebagai kota tujuan imigrasi utama pengusaha, pekerja dan perusahaan asing khususnya Eropa dan Asia, sampai-sampai penduduk asli Dubai hanya 18% dari populasi Dubai saat ini.

Mungkin mengacu pada tingginya imigrasi dan melesatnya aktifitas bisnis-ekonominya, Dubai percaya diri membangun kotanya dengan infrastruktur, real estate dan mega property lainnya. Tapi apa dinyana, badai krisis ekonomi global melumerkan hingar-bingar bisnis diseluruh pelosok bumi, termasuk Dubai. Krisis keuangan global telah berubah menjadi krisis ekonomi (riil).

Negara dengan populasi kecil yang merefleksikan tingkat demand (konsumsi) yang kecil dan tergantung pada aktifitas ekonomi internasional akan merasakan hantaman ini. Dan Dubai sebagai negara berkarakteristik seperti itu ditengarai menjadi korban akibat krisis ekonomi yang cenderung berlarut-larut. Dan kini kemegahannya mulai dicibir.

Pelajaran yang sangat mahal! Ini komentar spontan yang saya punya. Saya jadi menerawang dalam dunia idealisme saya. Cita-cita ekonomi Islam bukanlah tergambar oleh kemegahan gedung dan kemewahan hidup. Cita-cita ekonomi Islam adalah kemegahan manusianya, manusia-manusia Islam yang shaleh, manusia Islam yang “kekayaan”nya dihitung dari amalnya, bukan dari harta dan kemuliaan status sosialnya.

Boleh jadi keterpurukan Dubai ini belum seberapa. Mungkin ini baru permulaan dari kehancuran yang lebih buruk. Karena jika ini sebuah kehendak Tuhan, maka kehancuran bukan hanya akibat keserakahan Dubai tetapi juga karena ketidakpedulian mereka dengan saudara mereka beberapa ratus kilometer dari Dubai, Palestina!

2 komentar:

aa mengatakan...

Setau saya,masyarakat dubai kbanyakan bukan pribumi asli,jd terlalu membanggakan diri untuk menyatakan dubai sbg slhsatu ekonomi islam

aa mengatakan...

Setau saya,masyarakat dubai kbanyakan bukan pribumi asli,jd terlalu membanggakan diri untuk menyatakan dubai sbg slhsatu ekonomi islam